Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 29: Pengakuan Pembakar Gudang


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


Warga Desa Buangsetan sangat menghormati mendiang Demang Segara Gara. Selain sang demang memang adalah pemimpin mereka di wilayah Kademangan Butogilo, warga juga menilainya sebagai sosok baik yang memerhatikan warganya, tidak seperti di kademangan tetangga atau lainnya.


Karena itulah, ketika gudang jagung milik mendiang Demang Segara Gara terbakar di tengah malam itu, maka berduyun-duyunlah warga Desa Buangsetan keluar dari rumah dan bahu-membahu berupaya memadamkan api.


Sumber kebakaran yang tidak berada di lingkungan padat penduduk dan juga tidak jauh dari akses air, membuat api bisa cepat dipadamkan. Hasil dari perjuangan Kudi Sando dan Panukan bersama warga desa, membuat dua per tiga dari bangunan bisa diselamatkan. Jagung-jagung yang ada di dalamnya pun selamat meski harus basah. Untung air yang disiramkan bukan air got, tapi air sumur dan air irigasi.


Rambati yang telah menggagalkan upaya lima lelaki asing yang melakukan pembakaran, hanya duduk di pedati menyaksikan perjuangan warga. Di sisi pedati ada lima lelaki berpakaian hitam yang diikat kuat dengan tali dalam kondisi lemas, lebih lemas dari seorang suami pengantin baru.


“Eh, Pengantin Bersuami?” sebut Blikik terkejut sambil menunjuk kepada Rambati yang kini julukannya adalah Pengantin Bersuami.


Blikik adalah sahabat Rugi Sabuntel dan sama-sama buruh di gudang jagung yang dipimpin oleh Nyai Demang. Perawakannya hampir sama seperti Rugi, tetapi kebuncitan perutnya kalah bersaing dari Rugi. Maksudnya perut Rugi lebih gendut dan keras.


Blikik datang terlambat seperti polisi Negeri Bolly. Maklum dia sudah memiliki istri.


Rambati pun mengenali Blikik sebagai sahabat suaminya. Dia hanya tersenyum kepada lelaki besar itu.


Seolah-olah kebakaran tempat kerjanya tidak begitu penting, Blikik pun berteriak.


“Woooi! Istri Rugi ada di siniii!” teriaknya kepada warga yang masih berkumpul di sekitar gudang.


Mendengar teriakan Blikik, seketika warga menjadi riuh, seperti baru saja mendengar kabar gembira.


Jadi, seperti ini ceritanya.


Rugi Sabuntel adalah warga dan pendekar Desa Buangsetan yang menikah dengan Rambati di Desa Buangbiang. Selain sahabat dan keluarga, hanya beberapa warga Desa Buangsetan yang hadir di acara pernikahan Rugi dan Rambati.


Jadi, ketika terjadi musibah terhadap pernikahan Rugi Sabuntel, sebagian besar warga Desa Buangsetan hanya mendengar cerita bahwa istri cantik jelita Rugi telah diculik oleh kelompok yang membunuh Demang Segara Gara.


Maka itu, ketika mereka mendengar teriakan Blikik, yang muncul di dalam benak warga adalah rasa penasaran dan ingin tahu. Mereka sangat ingin melihat sosok istri Rugi Sabuntel dan mereka sangat ingin tahu seberapa cantik istri Rugi.


Warga Desa Buangsetan segera berduyun-duyun datang mengerumuni pedati. Mereka bahkan berebut posisi dan berdesak-desakan dan bergesek-gesekan, karena mereka bukan hanya kaum batangan yang berkeringat usai bekerja keras memadamkan api, tetapi juga ada kaum wanita yang hadir sebagai penonton dan peramai kondisi.


“Mana? Mana istri Rugi yang katanya secantik bidadari?”


“Mumun, geser sedikit kepalamu! Mataku terhalang kondemu!”

__ADS_1


“Eh eh eh! Jangan udik, jangan udik! Kasih jalan, centeng Demang mau lewat!”


“Akk! Kakiku! Kita sama-sama mau lihat istri Rugi, jangan main injak kaki!”


“Weleh weleh! Cantik sekali seperti bulan perawan!”


“Wuaaah! Lebih cantik dari istriku!”


“Secantik calon anakku!”


“Rugi pintar sekali memilih istri. Padahal dia tidak pandai memilih jeruk yang manis.”


“Jangan-jangan Rugi main pelet sampai dapat istri secantik bidadari.”


Itulah sebagian dari komentar para warga yang begitu senang melihat perempuan cantik tersebut. Mereka seperti sedang melihat seorang artis mega bintang.


“Aak! Akk! Akk...!” jerit kelima penjahat yang diikat karena mereka diinjak-injak oleh warga yang mengerumuni pedati tersebut. Dalam kondisi lemah dan terikat, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menjerit.


Diperlakukan seperti seorang artis, Rambati hanya terus tersenyum.


Drap drap drap...!


Warga pun memalingkan wajah ke sumber suara. Mereka melihat kedatangan kereta kuda yang ditarik dua kuda dan dikawal oleh dua kuda. Kereta itu membawa lentera minyak yang digantung di sisi luar bilik kereta.


“Nyai Demang datang! Nyai Demang datang!” kata beberapa warga, seolah-olah hanya mereka yang mengenali kereta kuda Nyai Demang.


Adapun dua orang yang berkuda, mereka tidak lain adalah Bendong sahabat Rugi dan Ajeng centeng Nyai Demang. Berita tentang kebakaran gudang jagung telah sampai kepada Nyai Demang.


“Bubar! Bubar!” teriak Kudi Sando sambil kedua tangannya mengayun-ayun seperti mengusir bebek.


Warga pun segera bergerak merangsek membubarkan diri dalam arti membuka ruang, sehingga kerumunan itu mengurai.


Akhirnya, kuda dan kereta berhenti. Blikik, Kudi Sando dan Panukan segera menyambut kereta kuda yang dikusiri oleh Buntet, lelaki kurus yang telah lama menjadi kusir pribadi Nyai Demang.


Kudi Sando segera membuka pintu bilik kereta. Membuka pintu bilik kereta Nyai Demang adalah perkara yang menggembirakan bagi Kudi Sando dan Panukan, karena sudah pasti mereka akan melihat satu atau dua kecantikan, yaitu kecantikan Nyai Demang dan kecantikan Campani yang belakangan suka ikut ke gudang jagung.


Pada malam itu, Kudi Sando mendapati dua wajah cantik, yaitu Nyai Demang dan putrinya. Gelapnya di dalam bilik yang tanpa pencahayaan, tidak membuat wajah cantik kedua wanita itu berubah menyeramkan.

__ADS_1


Kudi Sando hanya bertugas membuka pintu bilik kereta. Ketika Nyai Demang turun, Buntet yang memegangi tangan majikannya. Ketika Nyai Demang keluar dari kereta, maka terlihat jelaslah wajah cantiknya yang tegang. Ternyata status jandanya tidak mengurangi kecantikannya. Rambutnya sedikit berantakan karena memang dia usai tertidur.


“Siapa yang melakukan ini, Kudi?” tanya Nyai Demang bernada marah.


“Aku tidak tahu, Nyai,” jawab Kudi Sando dengan posisi berdiri menunduk dan kedua tangan bertemu di bawah perut gendutnya. Kondisinya basah oleh keringat dan air sumur yang dia gunjal selama berjuang memadamkan api.


“Tidak tahu?” sebut ulang Nyai dengan tatapan yang membuatnya seperti setan cantik.


“Maaf, Nyai,” ucap Rambati menengahi.


Nyai Demang dan yang lainnya menengok kepada Rambati yang masih duduk di posisi kusir pedati.


“Merekalah pelakunya,” kata Rambati sambil menunjuk kelima orang di sisi pedati.


“Biar aku yang menghajar mereka, Nyai!” kata Kudi Sando cepat lalu berlari geol-geol mendatangi kelima lelaki berpakaian hitam. Dia terlihat sangat marah.


Dak! Bak bik buk! Bak bik buk!


Sepakan Kudi Sando langsung menghajar wajah salah satu dari tawanan itu. Kemudian dia menonjok membadak buta semua tawanan sampai mereka berjatuhan terbaring di tanah.


“Rambati, di mana Rugi?” tanya Nyai Demang segera kepada Rambati.


Orang-orang yang tahu tentang penculikan terhadap Rambati merasa heran dengan keberadaan istri Rugi tersebut di tempat itu.


Ternyata Nyai Demang lebih memprioritaskan untuk mengetahui keberadaan Rugi Sabuntel daripada alasan Rambati bisa berada di tempat itu, atau kenapa gudang jagungnya dibakar, atau siapa yang menyuruh orang-orang itu.


“Suamiku bertarung dengan Kelompok Ular Pembunuh, Nyai,” jawab Rambati.


“Lalu kau? Kenapa ada di sini?” tanya Nyai Demang lagi.


“Aku mencari rumahmu, Nyai. Kakang Rugi datang membebaskanku, lalu menyuruhku datang ke desa ini dan mencari rumahmu, Nyai. Aku sampai di sini dan memergoki mereka membakar tempat jagung itu dan ingin membunuh dia,” jawab Rambati yang berujung menunjuk kepada Panukan.


Terbeliak Panukan. Dia baru teringat bahwa sebelumnya dia memergoki orang berpakaian hitam ingin membunuhnya dengan golok dari belakang.


“Siapa yang memerintah kalian?” tanya Bendongan sambil menempelkan satu pisaunya ke leher salah satu tawanan.


“Gu-gu-gusti Adipati,” jawab lelaki yang diancam tersebut. Jelas dia tidak mau mati.

__ADS_1


Mendengar pengakuan tersebut, terkejutlah Nyai Demang dan yang lainnya. (RH)


__ADS_2