Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 40: Mengalahkan Penyerang


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


“Hiaaat!” teriak Panglima Muda Arit Batik murka sambil mencabut pedangnya, lalu berlari agak sempoyongan ke arah Nyi Unyu yang baru saja menendang kepalanya. Bagaimana tidak marah jika kepala yang difitrai ditendang diam-diam dari belakang?


Sempat sempoyongan karena efek pusing dari tendangan tadi, Arit Batik tetap bisa menyerang Nyi Unyu. Hanya saja jadi tidak terlihat keren awalannya.


Pertarungan antara Nyi Unyu dan Arit Batik pun terjadi.


Sementara itu, para prajurit yang sempat terpental bersama dan jatuh bersama karena terkena gelombang energi ilmu Pendaratan Dewa Goyang level satu, segera berbangkitan sambil meringis-ringis. Maklum, yang namanya jatuh itu sakit, kecuali jatuh cinta.


Tak tak tak...!


Bak bik buk...!


Ki Robek dikeroyok oleh para prajurit yang jumlahnya puluhan orang. Untuk sementara dia mengandalkan tongkatnya guna menangkis dan menggebuk. Kelas prajurit kadipaten lawan seorang master jelas bukan tandingan.


Sementara itu, tiga centeng Nyai Demang juga bertarung dengan heroik, meski mereka terdesak. Namun, kerja sama yang bahu-membahu membuat mereka bisa bertahan. Itulah kekuatan dari persatuan.


“Bersatu kita kuat, bercerai kita mati.” Itulah slogannya.


Di teras yang lapang, Bendong dan Ageng berduet tidak mesra menghadapi para prajurit. Tanpa sungkan-sungkan mereka membunuh para prajurit satu demi satu dengan tikaman-tikaman pisau. Pedang-pedang tajam para prajurit tidak menjadi ancaman berarti bagi kedua pendekar itu.


Bertarung dengan satu tangan, tidak membuat Bendong kesulitan. Dia sudah terbiasa. Sesekali dia melempar pisaunya yang menancap di dahi atau leher prajurit, yang kemudian dia ambil kembali. Maklum stok pisau terbatas.


Sementara itu Nyai Demang, Campani, Mak June dan para pelayan masih aman di dalam rumah dalam kondisi tegang menegangkan. Pintu dan jendela rumah aman.


Melihat rekan-rekan mereka bertumbangan satu demi satu, para prajurit yang lain jadi ciut nyali. Baru saja mereka hendak memilih mundur, Panglima Muda Arit Batik sudah berteriak.


“Munduuur!” teriak Arit Batik kencang.


Legalah para prajurit. Ibarat pepatah mengatakan, “di saat sedang haus-hausnya, banjir pun datang”. Di saat para prajurit sedang ciut-ciutnya, panglima pun menyuruh mundur.


Arit Batik tidak bisa melawan Nyi Unyu. Wanita itu terlalu tangguh baginya. Kejagoannya dan pedangnya tidak bisa melawan dua pisau kecil Nyi Unyu yang begitu cepat gerakannya. Yang cepat sebenarnya gerakan tangannya, bukan pisaunya. Semoga tidak salah paham.


Terbukti, kedua tangan kekar Arit Batik sudah berdarah-darah karena terkena sejumlah sayatan pisau Nyi Unyu. Sementara wanita penjahit itu masih terlihat cantik dan tenang, meski sudah berkeringat atas dan bawah. Maklum banyak gerak, bukan faktor yang lain.


Pasukan kadipaten segera menghentikan pengeroyokannya dan bergerak mundur sambil siagakan senjata.


Nyi Unyu tidak mau membiarkan Arit Batik pulang lengggang kangkung. Dia pun melesatkan sesuatu yang tidak terlihat.

__ADS_1


Set!


“Aaak!” jerit Arit Batik dengan tubuh terlempar ke belakang dan terjengkang. Untung dia bercelana.


Dia memegangi lengan kirinya yang terkena beberapa jarum Nyi Unyu. Namun, setelah itu dia tidak bisa menggerakkan tangan kirinya. Jika dipaksa akan sangat sakit.


Dengan terhuyung-huyung, Arit Batik berlari kepada kudanya, yang menjadi harapan satu-satunya untuk selamat.


Sebagian pasukannya sudah berlari kabur duluan tanpa peduli dengan pimpinannya.


“Hoi! Naikkan aku, naikkan aku!” teriak Arit Batik kepada anak buahnya yang berlarian melewatinya. Kondisi tangan kiri yang tidak berfungsi membuatnya sulit naik ke kuda, apalagi kedua tangannya itu banyak menderita luka sayatan dan berdarah-darah.


Bersyukur Arit Batik tanpa terharu, ternyata masih ada anak buahnya yang peduli membantunya naik ke kuda dengan cara membantu angkat bokong.


“Hati-hati, Panglima,” pesan prajurit yang membantu Arit Batik naik ke punggung kuda.


Namun, Arit Batik terkejut mendengar suara prajurit yang membantunya. Kok suara lelaki tua? Dia cepat menengok dan melihat Ki Robek berdiri di samping bokong kudanya.


“Huak!” pekik Arit Batik saat melihat wajah tua yang rusak meyeramkan milik Ki Robek. Ternyata lelaki tua itu yang membantunya naik ke kuda.


Tab!


Ehehehek!


“Hoyeee!” sorak gembira warga Desa Buangsetan yang berkumpul menyaksikan kejadian itu dari zona aman. Mereka sampai loncat-loncat, tapi tidak tinggi-tinggi. Maklum ada orang hamil di antara mereka.


Para prajurit yang terluka saling bantu-membantu untuk pergi dari kediaman Nyai Demang.


“Hahaha! Kita menang, Ageng,” ucap Bendongan tertawa rendah sambil satu tangannya merangkul bahu pendekar wanita itu dan mata memandang jauh ke depan.


Ageng terkejut. Dia melirik tangan Bendong di bahu kanannya, lalu ganti melirik wajah pemuda itu di sisi kirinya.


“Eh, maaf, Ageng!” pekik Bendong terkejut saat sadar apa yang telah dia lakukan.


Buru-buru pemuda itu menarik kembali tangannya dan geser menjauh satu langkah. Dia jadi salah tingkah sendiri. Dia jadi malu kepada Ageng yang jauh lebih malu. Maklum ke-malu-an wanita terkadang lebih besar daripada yang dimiliki oleh lelaki.


“Maaf, aku terbawa kegembiraan,” ralat Bendong lagi.


Ageng hanya tersenyum manis dan memerah wajahnya. Merah itu bukan karena malu-malu ayam, tetapi karena panas usai bertarung. Namun yang pasti, hatinya berkembang-kembang sampai berbuah-buah saat itu.

__ADS_1


Tiga centeng Nyai Demang yang namanya masih dirahasiakan, juga merasa gembira bisa menang, meski mereka menderita luka yang berdarah-darah. Itu luka baru, bukan luka yang berdarah lagi.


Ada lebih dari dua puluh mayat prajurit yang tergeletak di mana-mana, separuh dari pasukan yang datang.


Setelah dipastikan aman, Nyai Demang dan para wanita akhirnya memutuskan keluar dengan wajah yang mengerenyit ngeri melihat pemandangan yang seperti medan perang.


“Bagaimana ini, Bendong?” tanya Nyai Demang dengan suara yang bergetar.


“Kita sekarang menjadi musuh pemerintah, Nyai,” jawab Bendong.


“Iya aku tahu, tapi bagaimana mayat-mayat ini?” tandas Nyai Demang.


“Jika mayatnya tidak mau dikubur, lebih baik dibakar saja, Nyai,” jawab Bendong enteng.


“Kejam sekali jika sampai dibakar,” kata Nyai Demang.


“Iya. Jika mayatnya kepanasan, bagaimana?” celetuk Mak June pula dengan wajah mode serius.


Ki Robek, Nyi Unyu dan ketiga centeng Nyai Demang datang mendekat ke teras.


“Kalian terluka,” kata Nyai Demang kepada ketiga centengnya yang jarang mendapat perhatian lebih dari Nyai Demang, apalagi gaji lebih.


“Tidak apa-apa, Nyai. Asalkan Nyai selamat, kami lega,” jawab centeng yang paling muda dan agak gantengan, apalagi kalau berkeringat seperti itu.


“Bayeman, cepat pergi panggil tabib!” teriak Nyai Demang dengan suara yang nyaris normal kembali.


Nyi Unyu segera melakukan gerakan tangan, mengatakan sesuatu kepada Nyai Demang.


“Tidak usah, Nyai. Biar aku yang merawat luka mereka.” Kira-kira seperti itulah terjemahan bahasa isyarat Nyi Unyu.


“Maksud Nyi Unyu, biar dia yang menangani luka mereka,” kata Bendong yang memahami maksud Nyi Unyu.


“Tidak usah, Bayeman!” teriak Nyai Demang lagi kepada pelayan perempuannya yang bernama Bayeman.


“Biar aku bantu, Nyi,” kata Campani segera menawarkan diri.


Nyi Unyu lalu mengajak ketiga centeng itu untuk duduk di teras yang lapang dari mayat. Nyi Unyu meminta sejumlah sesuatu dengan memberinya tulisan resep. Campani segera pergi mengambilkannya.


Ageng juga ikut membantu Nyi Unyu. Dia lebih akrab dengan ketiga centeng itu, jadi harus terdepan untuk membantu.

__ADS_1


“Minta bantuan warga untuk membersihkan mayat-mayat itu. Kubur mereka di satu lubang saja. Untuk sementara kita harus bersembunyi, Nyai. Jika kita menunggu kedatangan Rugi, kita tidak tahu kapan dia akan pulang. Dan jika terus menunggu di sini, kita juga tidak tahu siapa lagi yang akan dikirim oleh Adipati untuk membunuh kita. Apalagi kita sudah menjadi musuh pemerintah di mata Adipati. Atau Nyai Demang mau langsung berangkat ke Istana untuk mengadukan kejahatan Adipati? Lebih cepat lebih baik. Jangan sampai Adipati yang lebih dulu melapor ke Istana bahwa kita adalah kelompok pemberontak,” tutur Ki Robek.


“Tidak, Ki. Aku tetap mau menunggu Rugi. Aku hanya mau pergi jika dikawal oleh Rugi,” tandas Nyai Demang. (RH)


__ADS_2