
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Malam ini, di sebuah gubuk reot, di atas sebuah dipan yang kakinya sudah miring, ditambah beban berat tubuh Rugi Sabuntel yang sulit dihitung beratnya seberapa ekor anak domba, Nyi Unyu menangani luka si gendut dengan benar.
Rugi Sabuntel kini berbaring di atas dipan dengan bertelanjang dada, perut dan kaki. Maksudnya hanya ujung kakinya yang tidak berkasut.
Nyi Unyu membaluri robekan kulit dan daging pada dada besar dan kekar Rugi Sabuntel. Meski sebagai seorang pasien, Rugi Sabuntel merasa diperlakukan istimewa oleh Nyi Unyu. Ini untuk kedua kalinya Rugi Sabuntel diperlakukan oleh seorang wanita sedemikian telaten. Perlakuan pertama adalah ketika dia pup di celana saat masih bayita dan diceboki oleh Mak June, ibu kandungnya.
Dilihat dari kepiawaiannya membuat obat dari dedaunan dan bumbu dapur, jelas sekali bahwa Nyi Unyu benar-benar menguasai ilmu pengobatan. Selain cantik, pandai menjahit, pandai bertarung, pandai mengobati, pandai berkuda, dan pandai memasak, disimpulkan bahwa Nyi Unyu adalah wanita yang multi talenta.
Nyi Unyu juga pandai mengurut. Kaki Rugi Sabuntel yang bengkak karena masuk ke lubang, diurut pelan-pelan. Seperti judul lagu band masa depan, “Pelan-pelan Saja”. Yang terpenting membuat nyaman Rugi Sabuntel, meski sakit-sakit sedikit.
Aktivitas perawatan luka itu, semua dilakukan di bawah penerangan dua dian sederhana. Suasana temaram memberi feel yang romantis.
“Empat puluh dua, empat puluh tiga, empat puluh empat, empat puluh lima, empat puluh empat, empat puluh lima....”
Di sudut lain, terdengar suara seorang wanita sedang menghitung satu demi satu.
Dia adalah Karani, janda desa yang kaya mendadak. Dia sedang menghitung jumlah kepeng yang dia dapat dari Rugi Sabuntel sebagai hadiah.
Dia menghitung-hitung uangnya yang sudah dia lakukan lima kali. Namun, karena belum yakin dengan jumlah hitungannya, Karani kembali mengulangnya. Itulah sebabnya dia masih di dalam gubuk reotnya tanpa adanya barang mewah. Dia belum sempat shopping beli televisi, kulkas, handphone atau seperangkat make up make over di Bangkok.
Meski demikian, menghitung kepeng adalah kegiatan yang membahagiakan.
Sebelumnya, karena hari telah petang usai melawan Kelompok Ular Permbunuh, ditambah luka yang harus ditangani dengan segera, Rugi Sabuntel memutuskan pergi menemui Karani yang saat itu sedang menghitung kepengnya di belakang pohon kedondong.
Maklum dia seorang janda. Orang banyak mengatakan, janda itu sukanya kedondong dari pada om-om atau anak ingusan.
Karena Rugi Sabuntel telah memberinya banyak kepeng, Karani pun melayani keinginan sang pendekar. Diajaknya kedua pendekar itu ke gubuknya. Seperti itu latar belakangnya.
Akhirnya, penanganan luka Rugi Sabuntel selesai. Nyi Unyu menepak-nepak bahu keras Rugi Sabuntel dengan maksud menyuruh pendekar hebat itu beristirahat.
Ketika Nyi Unyu bangkit hendak pergi, Rugi Sabuntel cepat mencekal tangan wanita cantik pendiam itu. Hal itu membuat Nyi Unyu berhenti bergerak dan beralih memandang kepada Rugi Sabuntel lagi.
“Terima kasih, Nyi,” ucap Rugi Sabuntel lembut dan tulus, dengan sedikit senyum.
Nyi Unyu membalas dengan gelengan wajah. Dia lalu menunjuk dada Rugi Sabuntel, lalu menunjuk gagang pedangnya yang ada di belakang bahunya, lalu menunjuk ke dadanya sendiri.
__ADS_1
Maksud Nyi Unyu, “Tidak. Justru kau yang membantuku dan berkorban demi mendapatkan Pedang Petir Naga untukku.”
Rugi Sabuntel hanya tersenyum lebar. Jantungnya berdebar kencang karena agak lama mereka berdua beradu pandang. Kecantikan Nyi Unyu menyipratkan rasa ke dalam hati Rugi Sabuntel. Sebaliknya, Nyi Unyu tidak menilai ketampanan Rugi Sabuntel karena memang sulit jika menakar fisik, tetapi dia menilai wajah itu begitu baik dan tulus.
Nyi Unyu akhirnya tersadar bahwa dia tidak boleh lama-lama berperilaku seperti orang yang jatuh cinta. Konon katanya, kalau jatuh itu sakit.
Nyi Unyu lalu berbalik dan melangkah lewat di depan Karani yang duduk lesehan di tanah kering lantai rumahnya. Dia berjalan keluar.
Lewatnya Nyi Unyu membuat Karani menghentikan hitungannya dan mendongak melihat tamunya itu lewat. Namun, ketika dia hendak menghitung lagi, jumlah hitungannya telah raib. Dia lupa sudah berapa hitungannya.
Karani menyentil sendiri bibirnya sebagai hukuman atas kelupaannya. Ia kembali mencampur semua kepengnya dan mulai menghitung dari angka satu.
“Satu, dua, tiga, empat, tujuh, delapan....”
“Empat, lima, enam!” kata Rugi Sabuntel meralat hitungan Karani.
“Ah?” Karani malah melongo memandang kepada Rugi Sabuntel yang berbaring di dipan.
“Hitunganmu jangan lompat. Setelah empat itu lima, bukan lompat ke tujuh. Lima dan enamnya ke mana? Pergi ke kakus?” ralat Rugi Sabuntel.
“Memangnya aku salah hitung?” tanya Karani tanpa sadar telah salah berhitung.
Karani pun menghitung ulang sambil menggeser kepengnya satu demi satu dengan jari.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Apakah salah hitunganku?” hitung Karani lalu bertanya kepada Rugi Sabuntel.
“Yang itu tidak, tadi lompat dari empat ke tujuh. Coba kalau kau menghitung sambil memikirkanku, pasti lompat lagi,” kata Rugi Sabuntel.
“Hehehe!” kekeh Karani. Pikirnya, pendekar gendut itu tahu saja isi pikirannya.
Lalu ke mana Nyi Unyu? Jangan jawab!
Nyi Unyu pergi mandi di sungai malam-malam. Dia tidak takut dengan binatang malam atau makhluk malam. Tanpa ada penerangan, dia mandi dan main air, semata-mata untuk membersihkan diri. Jangan tanya apakah dia mandi dengan berpakaian atau tidak. Bayangkan sendiri.
Singkat cerita.
Nyi Unyu pulang ke gubuk milik Karani. Ternyata, janda itu belum selesai menghitung kepengnya, karena selalu dia ulang.
“Eh, cantik sekali kau, Nyi!” pekik Karani saat melihat Nyi Unyu yang usai mandi basah, padahal dia dalam proses menghitung. Itu membuat jumlah hitungannya ambyar.
__ADS_1
Nyi Unyu yang mendapat pujian hanya tersenyum.
“Kau habis mandi?” tanya Rugi Sabuntel kepada Nyi Unyu.
Wanita penjahit itu hanya mengangguk.
“Benar kata Karani, kau sangat cantik usai mandi. Jika sering mandi, kau pasti akan selalu tambah cantik,” puji Rugi Sabuntel yang membuat gadis itu kian tersenyum lebar.
“Jangan lupakan istri cantikmu di rumah, Rugi!” sahut Karani.
“Iya, aku tidak akan lupa,” ucap Rugi Sabuntel setengah kesal. “Lebih baik kemarikan kepengmu, biar aku bantu hitung.”
“Hihihi! Tidak mau. Kau pasti mau ambil kesempatan dariku, padahal di sini ada Nyi Unyu!” tukas Karani dengan lirikan curiga kepada Rugi Sabuntel.
“Ya sudah jika tidak mau, berhitunglah sampai pagi!” rutuk Rugi Sabuntel.
Nyi Unyu lalu pergi ke pojokan. Di atas sebuah dipan yang lebih kecil, dia duduk di sana. Dari sikap duduknya yang bersila sempurna, ditambah memangku Pedang Petir Naga, sepertinya dia mau melakukan sesuatu.
Ritual itu diawali dengan olah napas yang teratur. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan tangan yang bertenaga dalam dan lambat.
Sreetsz!
Nyi Unyu lalu menarik keluar Pedang Petir Naga pelan-pelan dari sarungnya. Pamornya langsung bersinar hijau yang menyelimuti bilahnya, di tambah liukan-liukan petir kuning yang membuatnya lebih menyeramkan dan juga lebih indah.
Hal itu membuat Karani memandang serius dengan tegang. Dua bibirnya sampai membuka celah.
Setelah pedang pusaka itu dipegang dengan dua genggaman, dengan posisi bilah tegak berdiri di depan wajah, Nyi Unyu lalu menempelkan pedang itu ke dada.
Rugi Sabuntel memerhatikan dengan seksama dari tempatnya berbaring. Dia tidak memerhatikan seksama dada Nyi Unyu, tetapi kepada pedang pusaka itu.
Zerzzz!
Suara omelan listrik tegangan tinggi terdengar jelas.
Zlepss!
Tiba-tiba pedang yang bersinar itu lenyap masuk ke dalam tubuh Nyi Unyu. Sangat kentara terlihat jelas bergerak masuk ke dalam badan depan wanita itu. Hal itu membuat Rugi Sabuntel terus menatap dada Nyi Unyu, tetapi bukan apa yang dilihat itu yang dia pikirkan.
Sesuatu yang sangat hebat bisa memasukkan Pedang Petir Naga ke dalam badan.
__ADS_1
Rugi Sabuntel segera membuyarkan pandangannya setelah Nyi Unyu bergerak bangkit. Kini sarung pedang tinggallah seorang diri tanpa pasangan. (RH)