Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 38: Kabar Duka


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


“Hahaha!” tawa Bendong yang asik bakucanda dengan Ageng di teras rumah Nyai Demang.


Pada saat yang sama, Campani sedang mengangkat jemuran di samping rumah, tidak jauh dari Ki Robek yang menulis kitab sambil main ayunan seperti orang tua.


Berbeda sendiri dengan Mak June, dia asik makan sendiri dengan lahap. Makanannya spesial, yaitu nasi sambel kunyit Mak Gendong. Tadi spesial dibelikan oleh Blikik. Sekarang Blikik sudah pulang ke rumah calon istri keduanya. Libur kerja di gudang jagung Nyai Demang membuatnya punya banyak waktu untuk berbagi kasih.


Drap drap drap!


Tiba-tiba terdengar suara lari kuda dari arah jalan depan. Bendong dan Ageng yang pertama merespon kedatangan kuda itu.


“Nyi Unyu!” pekik Bendong terkejut saat mengenali penunggang kuda yang cantik. Maksudnya yang cantik adalah penunggangnya, bukan kudanya.


Namun, tetap saja yang disambut oleh centeng penjaga halaman rumah Nyai Demang adalah sang kuda. Itulah tidak habis pikirnya.


Buru-buru Bendong berlari meninggalkan Ageng dan mendatangi Nyi Unyu yang segera turun dari kudanya. Bendong meninggalkan Ageng bukan karena Nyi Unyu lebih cantik daripada Ageng, tapi karena Bendong memang sangat kenal dengan wania berbibir ungu itu.


Campani memandangi wanita yang datang karena dia tidak kenal. Tidak berapa lama, Nyai Demang keluar dari dalam rumahnya dengan kondisi rambut tergerai di depan dada seperti anak perawan. Sementara Ki Robek hanya melirik. Karena dia pun tidak kenal dengan Nyi Unyu, dia memilih tetap di ayunan menikmati masa tuanya.


“Cantik sekali, jangan-jangan kekasih lain Rugi,” pikir Nyai Demang.


Dia bergegas mendatangi Nyi Unyu pula.


Melihat ibunya datang mendekati tamu asing itu, Campani pun ikut mendekat dengan tetap membawa setumpukan jemuran. Sementara Ageng memilih tetap di teras. Dia tidak mau cemburu karena Bendong begitu akrab dengan wanita tersebut.


“Bagaimana kau bisa sampai ke sini, Nyi?” tanya Bendong.


Nyi Unyu menekuk kedua lengannya ke atas bergaya kuat, lalu membuat garis cembung di perut yang menyimbolkan gendut.


“Maksud Nyi Unyu Rugi?” terka Bendong.


Nyi Unyu mengangguk membenarkan.


“Dia bisu?” tanya Nyai Demang dengan kening mengerut serius.


“Iya, Nyai. Wanita ini adalah penjahit di pasar Desa Buangsial. Namanya Nyi Unyu. Aku dan Rugi mengenalnya karena memesan baju kepadanya,” jelas Bendong.


“Apakah Rugi yang menyuruhmu datang ke mari?” tanya Nyai Demang.


Nyi Unyu mengangguk.


Mendengar nama Rugi disebut, Ki Robek tahu-tahu sudah datang mendekat pula. Melihat Ki Robek sudah mendekat, giliran Ageng yang juga mendekat. Dia juga penasaran.


Nyi Unyu lalu mencari sesuatu. Dia menemukan sebatang kayu di pinggiran. Dengan kayu itu dia lalu menulis di tanah halaman.

__ADS_1


“Rambati mati dibunuh kakaknya Ketua Kelompok Ular Pembunuh.”


Itu kalimat yang ditulis oleh Nyi Unyu di tanah.


“Hah!” kejut mereka serentak tanpa sepakat lebih dulu. Jika sepakat lebih dulu, keterkejutan mereka bisa diatur, siapa suara satu, siapa suara dua dan tiga.


“Kau tidak bergurau, Nyi?” tanya Bendong.


Nyi Unyu menggeleng.


“Hah! Menantuku mati?” pekik Mak June yang merapat belakangan dengan mulut yang masih penuh oleh makanan, sampai-sampai tumpah-tumpah. “Aku belum akrab dengan menantuku, kenapa sudah mati? Haaa...!”


Mak June menangis kencang sampai semua makanan di dalam mulutnya terburai. Dia jatuh terduduk di tanah.


Sementara Nyai Demang dan Campani terdiam dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.


Meski Nyai Demang kurang begitu setuju Rugi dan Rambati menikah, tetapi kematian Rambati adalah cerita yang terlalu menyedihkan.


“Lalu di mana Rugi?” tanya Ki Robek yang tidak terlihat sedih, tetapi lebih kepada serius.


“Membawa mayat Rambati kepada ayahnya.” Itu tulisan yang diukir oleh Nyi Unyu di tanah sebagai jawaban.


“Ke kelompok Ular Pembunuh?” terka Ki Robek.


Nyi Unyu mengangguk.


Mak June dibiarkan meratap tanpa ada yang menghibur.


“Lalu bagaimana dengan orang yang membunuh Rambati?” tanya Bendong.


“Mati,” tulis Nyi Unyu.


“Rugi yang membunuhnya?” tanya Bendong lagi.


Nyi Unyu menggeleng. Lalu menulis lagi di tanah.


“Sama-sama mati.”


“Apa yang harus kita lakukan, Guru?” tanya Bendong.


“Tidak ada. Hanya menunggu anak itu pulang. Mungkin istrinya akan dikubur di sana,” jawab Ki Robek.


“Jadi semakin lama kita pergi ke Kerajaan untuk melapor,” keluh Nyai Demang.


“Apa mau dikata, Nyai. Ini jelas musibah besar bagi Rugi,” kata Bendong.


“Kau pikir aku tidak mengalami musibah besar dengan dibunuhnya suamiku?” kata Nyai Demang dengan wajah merengut, lalu menyeka air matanya yang terlanjur jatuh.

__ADS_1


“Mari, Nyi. Istirahat dulu,” ajak Campani sambil meraih tangan Nyi Unyu dan menariknya.


Mau tidak mau, Nyi Unyu ikut. Dia dibawa ke teras yang luas, yang bisa dipakai guling-gulingan. Namun, Campani tidak bermaksud menyuruh Nyi Unyu untuk guling-gulingan.


Ki Robek, Bendong dan Ageng ikut pergi ke teras.


“Ayo, Mak. Kotor duduk di tanah,” kata Nyai Demang lembut sambil meraih tangan Mak June. Akhirnya ada yang peduli dengannnya. “Jika menantumu mati, masih ada calon menantu yang lain.”


“Siapa?” tanya Mak June sambil bangkit berdiri. Sepertinya dia terhibur oleh perkataan Nyai Demang.


“Yang sekedar cantik ada. Yang cantik dan berharta juga ada. Emak June pilih yang mana?” kata Nyai Demang.


“Ya jelas yang lengkap, Nyai,” jawab Mak June.


“Nanti biar aku yang atur. Jadi Mak June tidak usah terlalu bersedih ditinggal mati oleh Rambati,” kata Nyai Demang. “Lebih baik Mak June lanjutkan makannya. Kasihan Blikik jika makannya tidak dihabiskan, dia sudah mengorbankan tenaga, waktu dan uang untuk membelikan Mak June nasi sambal kunyit.”


“Iya, iya,” ucap Mak June patuh.


Ibunya Rugi itupun menurut untuk kembali ke posisinya.


“Kau memiliki hubungan apa dengan Rugi, Nyi? Sehingga kau bersedia melakukan permintaan Rugi?” tanya ki Robek.


Nyi Unyu menggambar di udara dengan jarinya, melukis bentuk segi empat.


“Aku paham,” kata Bendong cepat.


Pemuda bertangan lumpuh satu itu segera beranjak dan pergi ke sisi belakang rumah. Di sana dia mengambil selembar papan, lalu dibawa ke teras. Papan itu diberikan kepada Nyi Unyu.


Nyi Unyu mengeluarkan pisau kecilnya. Dengan pisau itu, dia menulis dengan lancar di papan, selancar menulis di atas kertas. Tulisannya kecil-kecil untuk menghemat ruang tulis.


Ki Robek, Bendong, Nyai Demang, Campani dan Ageng bersabar menunggu hasil ukiran pisau Nyi Unyu.


Setelah selesai, Nyi Unyu menunjukkannya kepada Ki Robek.


“Rugi membantu mendapatkan Pedang Petir Naga warisan guruku.” Yang membaca tulisan itu justru Bendong.


“Oh, jadi kau murid Dang Dangga?” tanya Ki Robek terkejut.


Nyi Unyu mengangguk.


“Lalu di mana Pedang Petir Naga?” tanya Bendong.


Nyi Unyu menjawab dengan menunjuk dadanya, membuat Ki Robek dan Bendong mau tidak mau memandang ke dada membusung Nyi Unyu. Meski pada akhirnya mereka gagal paham.


“Nyi, apakah kau juga jatuh hati kepada Rugi?” tanya Nyai Demang tiba-tiba.


Nyi Unyu dibuat terkesiap oleh pertanyaan bernada curiga seperti itu. Namun, Nyi Unyu tidak langsung menjawab dengan anggukan atau gelengan. Dia bingung menjawabnya. Jika dia mengangguk, khawatir berbuntut masalah. Jika dia menggeleng, dia mendustai kata hatinya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2