Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 7: Pilihan Rambati


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


Sebagai ketua dari Kelompok Ular Pembunuh, Gurat Satria bertindak tegas kepada Rambati yang dianggap telah melanggar aturan kelompok. Pasal yang paling bisa menjerat Rambati adalah “upaya untuk mengkhianati kelompok” dengan dinikahi oleh orang asing. Kelompok itu memang memiliki aturan bahwa anggota kelompok harus menikah dengan anggota yang lain.


Jadi, jika ada anggota Kelompok Ular Pembunuh yang jatuh cinta dengan orang di luar kelompok, orang asing itu harus menjadi anggota kelompok terlebih dulu, barulah boleh menikahinya.


Selama ini, Gurat Satria menganggap Rambati adalah kekasihnya dan status itu diamini oleh Toreh, ayah Rambati. Semua orang di dalam kelompok atau di Kampung Ular juga sangat mengira bahwa Rambati adalah kekasih sang ketua.


Karena dianggap melanggar itulah, Rambati kini dikurung di sebuah kerangkeng besi berwujud seperti kamar ganti di swalayan. Kurungan teralis besi itu unik.


Keberadaan ribuan semut hitam besar-besar yang memadati setiap teralisnya, membuat kurungan itu unik. Penuhnya semut-semut pada teralisnya, membuat Rambati yang terkurung di dalamnya tidak berani menyentuh batang teralis. Sementara teralis yang menjadi lantainya, tidak demikian. Teralis pada bagian itu bersih dari semut. Uniknya pula, tidak ada semut-semut yang genit untuk pergi merayap di tubuh cantik Rambati.


Kurungan itu disebut Penjara Pembunuh Sukma. Biasa digunakan oleh sang ketua kelompok untuk menghukum anggotanya tanpa maksud membunuhnya.


Jika semut-semut pada teralis itu diusik, dia akan pergi menyerang ramai-ramai. Semut itu tidak membunuh, tetapi menyakiti dengan gigitannya. Selain sakit yang akan bertahan selama setengah purnama, bengkak-bengkaknya akan bertahan selama sebulan. Bisa dibayangkan jika orang secantik Rambati menderita bengkak-bengkak di seluruh tubuh, terutama pada wajah.


Kurungan teralis itu ada di tengah-tengah Kampung Ular. Jadi, semua warga bisa melihat Rambati dihukum di dalam Penjara Pembunuh Sukma.


“Kau akan menikah dengan Ketua lima hari lagi, Rambati,” kata Toreh dari luar kurungan.


“Tidak. Itu tidak bisa. Aku sudah menjadi istri dari suamiku,” tegas Rambati.


“Pernikahanmu tidak sah. Kau melanggar aturan Kelompok Ular Permbunuh,” kata sang ayah.


“Jika Ayah dan Gurat menganggapku telah berkhianat, lalu kenapa kalian mempermasalahkan apa yang aku lakukan di luar Kelompok?” protes Rambati. “Suamiku pasti akan datang menjemputku.”


“Dia akan mati jika datang ke mari,” kata Toreh.


“Gurat tidak bisa membunuhnya. Dia akan kalah jika bertarung dengan suamiku. Jika dia tidak ingin mati, lebih baik jangan menggangguku,” kata Rambati.


“Jika kau tidak mau menikah dengan Gurat, lalu untuk apa kau mau kembali ketika aku ajak pulang?” tanya Toreh.

__ADS_1


“Aku ingin membuktikan cinta suamiku kepadaku. Jika dia datang, berarti dia benar-benar mencintaiku. Aku mau diajak oleh Ayah, karena aku menghormatimu sebagai ayahku. Namun sayang, ayahku justru tidak menghormatiku,” kata Rambati.


Terbeliak Toreh mendengar kata-kata putrinya itu.


“Ayah tahu bahwa selama ini aku tidak pernah suka dengan Gurat, tetapi Ayah selalu menjodoh-jodohkan aku dengannya, seolah-olah aku memang jodohnya. Ingat Ayah, aku berada di sini karena aku hanya memiliki Ayah sebagai satu-satunya keluargaku,” kata Rambati lagi.


“Tapi Ketua hanya mengharapkanmu. Dia tidak melirik wanita-wanita cantik lainnya, Rambati,” tandas Toreh.


“Tapi aku tidak mengharapkannya,” balas Rambati dengan wajah yang kaku.


“Jadi kau mengharapkan lelaki gendut yang tidak kau kenal selama ini sebagai pendamping hidupmu? Kau bisa hidup dengan lelaki asing?” tanya Toreh bermaksud menyudutkan putrinya.


“Lelaki asing yang membuat Gurat terluka dalam dan memaksa Gurat mengeluarkan Pedang Petir Naga,” jawab Rambati. “Aku yakin, jika suamiku bertarung adil dengan Gurat, Gurat tidak akan ada apa-apanya.”


“Kau sekarang jadi begitu benci dengan kelompok ini,” kata Toreh.


“Apa yang harus aku sukai dari kelompok ini? Membunuh orang yang telah membiayai pernikahanku. Demang Segara Gara adalah orang baik, tapi kalian membunuhnya.”


“Bukan kita yang jahat, tetapi orang yang membayar kita yang jahat. Ingat, selama ini kau adalah bagian dari kelompok ini.”


“Jadi sekarang kau menganggap kehidupan ini begitu hina bagimu. Apa yang kita lakukan bukan untuk kehidupan seorang diri, tapi untuk menghidupi semua warga Kampung Ular,” kata Toreh.


“Tidak semua orang memiliki perasaan dan pikiran yang sama, Ayah. Jika dalam sepekan suamiku tidak datang menjemputku, maka aku akan pergi mencari kehidupan yang lain,” tegas Rambati.


“Jadi kau akan meninggalkan Ayah?”


“Lebih baik Ayah ikut denganku. Kita bisa mencari hidup baru yang lebih baik dan terhormat,” kata Rambati.


“Tidak, kau tetap harus menikah dengan Ketua,” tandas Toreh.


“Aku sudah ikut Ayah pulang. Aku tidak akan ikut lagi untuk kedua kalinya,” kata Rambati.

__ADS_1


“Kita lihat saja nasibmu di tangan Ketua nanti,” kata Toreh.


Sang ayah lalu meninggalkan Rambati dengan perasaan marah.


Setelah kepergian Toreh, seorang wanita ganti mendatangi Rambati. Wanita itu tidak lain adalah Kulum Ratih.


“Rambati, apakah benar Ketua akan menikahimu?” tanya Kulum.


“Tidak. Dia berdusta. Bagaimana bisa dia menikahi istri orang lain?” jawab Rambati.


“Semua warga Kampung Ular sudah mendengar rencana itu,” kata Kulum Ratih.


“Maka kalian semua akan tertipu.”


“Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan? Untuk apa kau setuju pulang jika tidak mau menuruti perintah Ketua?”


“Aku hanya ingin menggugurkan kewajibanku kepada ayahku. Dan aku ingin mengetahui, apakah suamiku adalah pendekar yang mencintaiku atau seorang pendekar penakut,” jawab Rambati.


“Seharusnya kau tidak melakukannya. Seharusnya kau tidak ikut pulang. Itu sama saja kau membahayakan nyawa suamimu,” kata Kulum Ratih.


“Suamiku bertaruh nyawa demi mendapatkanku. Maka sudah seharusnya dia mempertaruhkan nyawanya pula untuk mempertahankanku,” kilah Rambati, meskipun sebenarnya Rugi Sabuntel menikahinya sebagai bonus dari kemenangan turnamen Duel Pendekar Butogilo.


“Bagaimana jika suamimu tidak datang karena takut mati. Kita adalah kelompok pembunuh ternama yang sudah belasan tahun malang melintang membunuh orang,” kata Kulum Ratih.


“Aku akan tetap pergi,” tegas Rambati. “Penjara Pembunuh Sukma ini tidak bisa memenjarakanku. Aku hanya menunggu hingga suamiku datang.”


Dia lalu mengalihkan topik pembicaraan.


“Siapa yang membayar kalian untuk membunuh Demang Segara Gara, Ratih?”


“Adipati Bawel Semara,” jawab Kulum Ratih.

__ADS_1


“Seorang pejabat membunuh bawahannya, seharusnya tidak sulit. Kanapa harus memboroskan uang untuk membayar kita?” pikir Rambati.


“Pastinya Adipati tidak mau namanya tersangkut,” kata Kulum Ratih. (RH)


__ADS_2