
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Rugi Sabuntel telah membawa pedati berkuda itu ke tempat yang agak jauh dari jalan. Sementara wanita Desa Lorogundik yang bernama Karani masih terduduk di bak pedati dengan bersandar pada peti kayu.
Rugi Sabuntel sedang memijit-mijit kedua betis Karani yang tidak mulus. Maklum wanita berusia kepala tiga itu suka memanjat pohon, jadi suka tergores kulitnya.
Itu bukan upaya Rugi dalam melecehkan Karani hanya karena dia perempuan, tapi Rugi berupaya mengobati betis wanita itu yang sakit dan lemas karena kram. Dengan mengalirkan tenaga dalam sedikit-sedikit dalam pijitannya, Rugi membuat Karani merasa nyaman, sampai-sampai wanita itu tersenyum dalam layanan.
“Apakah sudah lebih baik?” tanya Rugi Sabuntel kepada Karani.
“Eh, iya,” jawab Karani agak terkejut karena dirinya terpaku dalam andai-andai sambil memandangi Rugi Sabuntel. Sepertinya dia berandai-andai jika Rugi Sabuntel bertubuh kurus dan proporsional.
“Yang mana lagi?” tanya Rugi Sabuntel memberi tawaran.
“Pahaku dua-duanya,” jawab Karani antusias.
Terbeliak Rugi Sabuntel mendengar jawaban itu.
“Ah, aku tidak akan berani, melakukannya. Nanti ada yang melihat, aku bisa disangka berbuat cabul kepada istri orang. Kau sudah bersuami?” kata Rugi Sabuntel.
“Aku ... aku seorang janda,” jawab Karani ragu sembari tersenyum malu.
“Oooh!” desah Rugi, tapi dia tidak mau berpikir aji mumpung. Dia berpikir dirinya bukanlah seroang predator orang cantik, meski Karani tidak cantik-cantik amat, terlebih Amat tidak pernah cantik.
“Karena itulah, aku harus bekerja sendiri memanjat pohon kelapa, mencabut singkong dan memancing ikan,” kata Karani.
“Kau sudah punya anak?” tanya Rugi sambil terus memijit betis Karani.
“Sudah, tapi sudah lama meninggal. Karena kematian suami dan putraku, aku dianggap wanita celaka oleh warga desa. Jadi, tidak ada lelaki yang mau menikahiku lagi,” kisah Karani.
“Kau kasihan sekali, Karani. Tapi jangan memintaku untuk menikahimu,” kata Rugi Sbuntel.
“Aku juga takut jika menikah denganmu. Kau pembunuh,” kata Karani.
“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel. “Meski aku pembunuh, tetapi aku membunuh karena cinta dan kebenaran.”
“Benarkah?” tanya Karani jadi terkagum.
“Hahaha! Kau mulai tertarik kepadaku. Orang gendut adalah lambang kemakmuran. Siapa yang menikah dengan orang gendut pasti akan bahagia dan sejahtera. Apakah kau percaya?” kata Rugi Sabuntel.
__ADS_1
“Mungkin aku percaya, karena suamiku dulu kurus,” jawab Karani.
“Nah itu,” seru Rugi Sabuntel. “Oh ya. Apakah kau pernah ke Kampung Ular?”
“Tidak. Tapi aku pernah masuk ke dalam hutan,” jawab Karani.
“Kau mau dapat kepeng banyak?” tawar Rugi.
“Tentu sangat mau,” jawab Karani.
“Jika kau mau mendapat kepeng yang banyak, kau bawakan pesan ke Kampung Ular.”
“Aku tidak mau. Nanti aku bisa dibunuh.”
“Kau hanya membawa pesan, bukan mau bertarung.”
Rugi Sabuntel lalu berdiri dan membuka penutup peti kayu yang disandari oleh Karani.
Srek!
Rugi Sabuntel lalu meraup kepeng dengan kedua tangannya. Harta yang teraup lalu ditunjukkan ke depan wajah Karani.
“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel melihat wajah Karani. Lalu katanya, “Aku akan memberikan dua kali lebih banyak jika kau mau mengantar pesan ke Kampung Ular.”
“Aku mau, aku mau!” kata Karani antusias. “Tapi mereka tidak akan membunuhku?”
“Aku jamin tidak. Kata guruku, utusan itu tidak boleh dibunuh atau disakiti. Jika seandainya kau dibunuh, aku yang akan membalas,” tandas Rugi.
“Tapi pijiti dulu pahaku agar aku bisa berjalan,” kata Karani.
“Tidak apa-apa?” tanya Rugi ragu.
“Supaya aku bisa cepat dapat kepeng banyak dan keinginanmu juga bisa aku kerjakan,” jawab Karani.
“Baiklah kalau begitu,” ucap Rugi.
“Tapi jangan kurang ajar!” kata Karani mengingatkan.
“Iya,” jawab Rugi sembari tersenyum canggung.
__ADS_1
Maka mulailah Rugi menyentuh paha Karani dengan jantung yang berdebar. Namun, itu perlu dia lakukan demi bisa mengutus Karani ke dalam hutan dan mencari Kampung Ular.
Yang perlu dimengerti adalah Rugi memijit paha Karani dalam kondisi bercelana. Maksudnya Karani yang bercelana. Itupun Rugi memijitnya pada paha di dekat lutut. Orang besar itu tidak berani kalau pijitannya menari-nari bergeser posisi. Jadi, jangan salah paham.
Sementara Karani sebagai seorang janda, merasa asik-asik saja karena pijitan Rugi Sabuntel memang enak dan membuatnya nyaman. Pelayanan yang diberikan oleh Rugi membuatnya menilai pemuda itu sebagai orang baik. Buktinya, Rugi yang orang sakti bersedia menolongnya dengan rendah hati.
Bayangan menjadi juragan wanita bergelimang kepeng, membeli banyak pakaian bagus, membeli bahan-bahan kecantikan paket lengkap, dan makan enak, kini bermain-main di dalam kepalanya.
“Di barat desa ini ada jurang. Jurang apa namanya?” tanya Rugi Sabuntel di sela-sela pijitannya.
“Tidak ada namanya,” jawab Karani. “Mungkin namanya Jurang Lorogundik, seperti nama desa ini.”
Pada akhirnya, kram dan otot lemas Karani teratasi dengan baik. Dia pun bisa berjalan dengan normal.
Setelah sebelumnya melewati waktu yang membuatnya merasa ngeri dan takut, akhirnya dia menyimpulkan bahwa hari itu adalah hari paling bahagianya setelah hari pernikahan pertamanya dulu.
Rugi Sabuntel lalu memberikan dua gagang pedang yang sudah tidak memiliki bilah kepada Karani. Gagang pedang itu adalah milik Rok Gandir dan Rok Gebrak.
“Berikan dua gagang pedang ini kepada orang Kampung Ular. Kepeng ini juga,” kata Rugi Sabuntel, tambah memberikan sekepeng perak ke tangan Karani. “Jika kau bertemu dengan mereka, katakan bahwa kau adalah utusan suami Rambati. Aku ingin menukar Rambati dengan harta satu peti ini. Jika tidak, harta ini akan aku buang ke Jurang Lorogundik.”
“Eh jangan, Rugi! Kau gila?” pekik Karani yang sudah diberi tahu nama Rugi Sabuntel. “Daripada kau buang, lebih baik kau berikan kepadaku.”
“Jika aku berikan kepadamu, para pendekar dari Kampung Ular itu akan mengambil kepengnya dan membunuhmu. Jika aku berikan kepadamu, istriku bisa-bisa tidak kembali,” kata Rugi.
“Baiklah, aku akan membawa ini ke Kampung Ular,” kata Karani.
“Tapi kau tidak takut di sana banyak ular?” tanya Rugi.
“Aku tidak takut dengan ular. Aku bisa mengatasi ular. Tapi jangan menakut-nakutiku, nanti aku malah takut dan tidak berani masuk hutan,” kata Karani.
“Iya, iya, iya. Hahaha!” ucap Rugi lalu tertawa sendiri.
“Aku pergi. Tapi kau jangan pergi, karena kau belum membayarku!” kata Karani.
“Iya. Aku akan menunggumu di kamar pengantin,” kata Rugi setengah menggombal.
“Hihihi!” tawa Karani yang gampang tergoda oleh gombalan.
Dengan perasaan bahagia campur rasa berdebar-debar, Karani berjalan pergi menuju ke hutan. Dia tidak bisa memanfaatkan kelebihan kuda yang ada karena dia tidak bisa berkuda.
__ADS_1
Sementara Rugi akan menunggu sambil melakukan sesuatu. (RH)