
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
Dengan dibantu oleh beberapa warga yang melintas, Panehamo mengevakuasi dua wanita cantik yang kini sudah tidak cantik lagi karena telah menjadi mayat. Ternyata salah satu warga mengenali salah satu mayat.
“Loh! Walangkeket! Bukankah ini Pengantin Tanpa Suami, yang waktu Duel Pendekar Butogilo kalah oleh Pendekar Gendut Budiman?” pekik salah satu warga pedagang salak hijau.
“Kau kenal, Kikil?” tanya Panehamo, orang yang pertama menemukan kedua mayat yang saling bunuh. Maksudnya, sebelum jadi mayat keduanya saling bunuh.
“Iya. Aku menonton pertandingan di Buangbiang. Pengantin Tanpa Suami bersayembara, siapa yang bisa mengalahkannya, dia bersedia jadi suaminya. Ternyata Pendekar Rugi yang menang. Jadi, Gusti Demang yang membiayai pernikahan mereka. Waaah walangkeket, masih pengantin baru kok sudah mati,” kata Kikil dengan ekspresi berapi-api yang berujung keprihatinan.
“Jadi bagaimana ini?” tanya Panehamo.
“Bawa saja ke Gusti Ronggo Beduk agar nanti Gusti Ronggo yang memulangkannya kepada Pendekar Rugi,” saran Kikil.
“Lalu, pendekar perempuan satunya siapa?”
Namun, tiga warga lain yang hadir di lokasi tidak ada yang tahu. Maka diputuskan untuk membawa keduanya menggunakan pedati Panehamo menuju kediaman Kepala Desa Buangsial.
Namun, di tengah jalan, Panehamo berpapasan dengan Rugi Sabuntel yang memacu kudanya dengan kencang.
“Eh, Pendekar Rugi! Pendekar Rugi!” teriak Panehamo cepat sambil melambaikan tangan karena Rugi terlihat hendak melewatinya begitu saja.
Rugi Sabuntel sontak menarik kencang tali kekang kudanya untuk berhenti mendadak. Panehamo pun menghentikan pedatinya. Pertemuan mereka terjadi di tengah-tengah jalan Desa Buangsial yang tidak jauh dari pasar, tempat Nyi Unyu berada.
Rugi Sabuntel mengerutkan kening. Dia melihat kepada orang yang memanggilnya. Dia tidak kenal, tapi dia cepat maklum karena dia memang terkenal se-Kademangan Butogilo. Namun, dia curiga dengan apa yang terlihat di atas bak pedati, seperti mayat.
Rugi Sabuntel segera mendekati pedati tersebut. Ketika semakin dekat, semakin terbeliak mata Rugi dan jantungnya mendadak syok. Apalagi melihat tubuh yang masih ditancapi pedang dan berlumur darah
“Ra ... ra ... rambatiii!” ucap Rugi tergagap dan dari lirih naik ke nada tinggi lagi panjang.
Sontak lelaki gendut itu buru-buru melompat meninggalkan kudanya dan berlari pendek ke sisi pedati. Semakin jelaslah bahwa salah satu dari orang mati itu adalah istri tercintanya.
“Rambati! Rambati! Rambati! Istriku Sayang!” ucap Rugi Sabuntel bergetar sambil buru-buru meraih tubuh istrinya. Air matanya menetes dari dua matanya.
Dia tarik tubuh mati itu agar lebih dekat kepadanya, lalu menarik bahunya agar tegak dan memeluk erat tubuh yang sudah tidak bisa merespon.
“Rambatiii!” ratap Rugi Sabuntel pelan.
Sambil berlinang air mata, Rugi Sabuntel mengangkat jenazah istrinya dan dia turun duduk di tanah di sisi pedati sambil memangku dan memeluk jasad istrinya. Dia bersandar pada roda kayu pedati.
“Huuu! Huuu! Huuu...!”
Rugi Sabuntel menangis tersedu-sedu. Suaranya pelan tapi terdengar memilukan. Melihat itu, Panehamo juga jadi terbawa sedih, bahkan turut meneteskan air mata pada mata kirinya.
__ADS_1
Rugi terus menangisi Rambati seperti anak yang kalem. Sangat kontras dengan gaya tangisnya sewaktu kecil.
Tanpa Rugi sadari, warga datang berkerumun untuk menyaksikan apa yang telah terjadi.
“Ada apa, Ki Pane?”
“Bukankah itu Pendekar Rugi?”
“Kenapa Pendekar Rugi menangis di sini?”
“Itu istrinya mati, Bodoh!”
“Kasihan Pendekar Rugi.”
“Siapa yang mati?”
“Kenapa ada pedang di badannya?”
“Siapa, siapa?”
“Istri Pendekar Rugi mati.”
“Maksudmu Pengantin Tanpa Suami mati?”
“Aku jadi sedih. Hiks hiks!”
“Aku juga. Aku mau tertawa agar tidak ikut sedih, tetapi tetap saja aku ikut menangis.”
Suara kasak kusuk itu membuat Rugi yang sedang larut dalam tangisan lembutnya jadi mengangkat wajahnya dan melihat ke sekitar. Terlihat wajah Rugi Sabuntel bersimbah air mata dan menjadi lebih jelek, tapi semakin menarik rasa empati orang yang melihatnya.
“Istriku mati, padahal kami belum malam pertama. Huuu...!” kata Rugi Sabuntel kepada warga, lalu dia kembali membenamkan wajahnya ke tubuh istrinya.
Semakin hebohlah warga desa itu. Tangis Rugi yang lembut dan kalem, tapi terdengar sangat menyedihkan, membuat sebagian warga ikut sedih dan menitikkan air mata, terutama kaum emak-emak yang hatinya lebih lembut.
Salah satu wanita yang turut menangis adalah Nyi Unyu yang berdiri di antara warga, tapi dia bukan golongan emak-emak. Namun, kehadirannya belum sempat terlihat oleh Rugi.
Ramainya sejumlah warga di pasar yang segera berlarian menuju ke lokasi, memancing Nyi Unyu ingin tahu juga. Jadi dia pun pergi meninggalkan lapak jahitnya untuk melihat keramaian apa di tengah jalan desa.
Cukup lama Rugi Sabuntel duduk seperti itu sambil menangis meratapi kematian istrinya. Juga meratapi nasib pernikahan dan rumah tangganya.
Tiba-tiba....
“Minggir! Beri jalan buat Gusti Ronggo!” seru seorang lelaki.
__ADS_1
Dengan terpaksa, sejumlah warga segera bergeser, membuka kerumunan untuk memberi jalan kepada Ronggo Beduk, kepala desa. Dua centengnya bekerja membuka jalan agar lebih lebar.
Ronggo Beduk yang berjalan tiba, terkejut melihat pemandangan itu.
“Pendekar Rugi?” sebut Ronggo Beduk saat mengenali Rugi dan mayat istrinya.
Rugi Sabuntel jadi kembali mengangkat wajahnya untuk melihat siapa orang yang menyebutnya.
“Istriku mati, Ki. Huuu...!” kata Rugi memberi tahu, lalu menangis lagi, tidak peduli dengan wajahnya yang terlihat jelek.
“Iya, iya, iya. Yang sabar, Pendekar. Orang sabar itu disayang banyak orang,” ucap Ronggo Beduk mencoba menghibur. “Tapi, kenapa kedua perempuan ini bisa mati?”
“Aku tidak tahu, Gusti. Aku menemukan keduanya dalam kondisi sudah mati dua-duanya,” kata Panemaho.
“Siapa? Siapa yang membunuh istriku, Ki?” Barulah Rugi Sabuntel bertanya dan memandang kepada Panehamo yang sudah berdiri di sisi pedatinya juga, tidak jauh dari Rugi.
“Aku tidak tahu, Pendekar. Aku menemukan mereka berdua sudah mati. Karena kenal dengan istri Pendekar, jadi aku bawa untuk diserahkan ke Gusti Ronggo,” jawab Panehamo.
“Kenapa mau kau bawa kepadaku, Panehamo?” tanya Ronggo.
“Karena Gusti Ronggo yang berkuasa dan pasti mengenal Pendekar Rugi,” kilah Panehamo.
“Lalu siapa wanita satunya?” tanya Ronggo Beduk.
“Aku tidak kenal, Gusti,” jawab Panehamo.
“Nyi Unyu!” sebut Rugi Sabuntel saat melihat Nyi Unyu yang datang mendekatinya. “Istri tercintaku mati, Nyi. Huuu...!”
Rugi Sabuntel kembali menangis terisak, bahkan lebih keras. Seolah-olah minta perhatian lebih kepada Nyi Unyu. Wanita cantik bergincu ungu itu hanya mengangguk, karena dia juga bingung harus berbuat apa untuk menghibur Rugi.
Akhirnya Nyi Unyu memilih memerhatikan mayat wanita satunya. Matanya agak terbeliak ketika dia mengenali pendekar wanita tersebut.
Nyi Unyu lalu mengambil sebilah papan yang ada di bak pedati. Dia lalu menulis di papan itu dengan pisaunya.
“Wanita itu Pendekar Dua Pedang, kakak dari Ketua Kelompok Ular Pembunuh.”
Itu bunyi tulisan di papan yang kemudian ditunjukkan kepada Rugi Sabuntel.
Membaca tulisat tersebut, terbeliak Rugi Sabuntel.
Pendekar gendut itu lalu bangkit berdiri sambil menggendong mayat istrinya dengan pedang masih bersarang di tubuh sang istri. Dia memandangi mayat wanita satunya yang masih ada di pedati sembari sesegukan.
“Aku akan membawa istriku kepada ayahnya,” ujar Rugi kepada Nyi Unyu. “Tolong sampaikan kejadian ini kepada guruku di rumah Nyai Demang di Desa Buangsetan.”
__ADS_1
Nyi Unyu hanya mengangguk. Dia pun tidak mungkin menolak permintaan lelaki yang ditaksirnya itu. (RH)