Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 44: Janda Rasa Gadis


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


Karena berangkat agak sore hari dari rumah, maka Rugi Sabuntel, Nyai Demang, Buntet dan kelima tawanan mereka bertemu dengan malam di tengah jalan. Ramahnya malam, mereka diajak untuk menginap, meski di sebuah tempat berbatu.


Mereka tidak punya tenda untuk berkemah, jadi terpaksa istirahat di alam terbuka dengan langit malam yang juga tidak berbaju.


Rugi Sabuntel menyalakan api unggun. Buntet kebagian tugas bakar talas untuk sekedar makan malam.


Malam itu terasa begitu dingin, padahal tempat yang mereka duduki tidak begitu banyak pohon. Namun, angin malam cukup kencang. Terlihat tarian api unggun bergerak liar.


Meski sudah duduk tidak jauh dari api, Nyai Demang tetap saja duduk dengan memeluk dadanya.


Melihat itu, Rugi Sabuntel berinisiatif melepas jubah ungunya. Dia lalu bangkit menghampiri Nyai Demang dan meletakkan jubah besar itu di punggung majikannya.


“Maaf, Nyai,” ucap Rugi Sabuntel.


Tersenyum lebarlah Nyai Demang mendapat perlakuan mesra seperti itu, seiring mekarnya perasaan cinta dan bahagianya. Jika tidak ada Buntet, mungkin dia sudah memeluk pemuda gendut itu dan mencium pipi bakpaonya sebagai pemberian hadiah.


“Terima kasih, Rugi,” ucap Nyai Demang lembut dan terdengar sedikit mendesah.


Entah kenapa suara Nyai Demang terdengar begitu merdu di telinga Rugi. Dia juga merasa bahagia melihat Nyai Demang tersenyum lebar. Sepertinya Rugi mengadopsi prinsip “Senyummu adalah bahagiaku”, tapi khusus untuk kaum wanita saja.


Rugi kembali duduk di tempatnya, berseberangan api dengan Nyai Demang. Tanpa jubahnya, kini dia terlihat lebih besar dan gendut.


“Rugi!” panggil Nyai Demang.


“Iya, Nyai?” sahut Rugi.


Buntet yang sedang membakar talas di pinggiran api juga angkat wajah memandang kepada Nyai Demang.


“Duduklah di sisiku!” pinta Nyai Demang.


“Di sini saja, Nyai. Nanti jika aku duduk di sisi Nyai, aku tidak bisa memandangi kecantikan Nyai,” tolak Rugi yang berujung muatan gombalan. Apakah jiwa menggombal Rugi sudah kembali kepada performanya? Jangan dijawab!


“Hihihi!” tawa cekikikan Nyai Demang mendengar itu. Dia tertawa sambil menunduk dan menutup mulutnya dengan beberapa jarinya.


“Hahaha!” tawa Buntet pula.


Sementara Rugi hanya tersenyum lebar karena merasa berhasil membuat Nyai Demang terhibur. Baru-baru saja dia berpikir bahwa dirinya dan juga Nyai Demang perlu dihibur, agar tidak larut dalam kesedihan karena ditinggal oleh orang yang dicintai.

__ADS_1


Setelah dibuat tertawa dengan perasaan melayang-layang ke langit berbintang, Nyai Demang menatap tidak berkedip wajah Rugi seraya senyumnya awet tanpa formalin atau boraks.


“Tidak tampan, tapi menggemaskan. Tidak langsing, tapi perkasa. Mudah-mudahan Rugi tidak subur, agar aku tetap cantik di matanya,” batin Nyai Demang dalam durasi tatapan syahdunya kepada Rugi.


Ditatap lekat-lekat seperti itu, ternyata membuat Rugi gagap perasaan.


“Nyai!” panggil Rugi.


Namun, Nyai Demang bergeming. Dia tetap memandang wajah Rugi sambil awet tersenyum seperti orang yang sedang terbang bahagia.


“Weeek!”


“Aaak!” jerit tertahan Nyai Demang terkejut seperti melihat penampakan setan, saat Rugi tiba-tiba mendelik sambil menjulurkan lidahnya.


“Hahahak...!” tawa terbahak Rugi melihat keterkejutan Nyai Demang.


“Hihihik...!” Nyai Demang akhirnya tertawa kencang dan panjang.


Tinggallah Buntet yang terdiam heran melihat kedua orang itu. Dia tidak tahu apa yang keduanya tertawakan karena keduanya tidak berbuat apa-apa. Lelaki kurus itu segera memeriksa dirinya. Dia menduga Nyai Demang dan Rugi tertawa kencang karena ada yang lucu pada dirinya. Namun, Buntet tidak menemukan sesuatu yang lucu pada dirinya. Ia pun merabah wajahnya. Namun semua normal, wajahnya tetap tampan, menurutnya.


“Hahaha...!” Kian tertawa Nyai Demang dan Rugi melihat tingkah Buntet.


“Kenapa kau, Buntet?” tanya Nyai Demang kepada kusirnya itu.


“Kalau kau salah, aku akan memarahimu, bukan menertawaimu. Hihihi!” jawab Nyai Demang, lalu melirik cantik kepada Rugi.


Rugi masih tertawa. Tatapan Nyai demang tadi, ditambah lirikan cantiknya yang sungguh jelita membuat perasaannya bahagia. Dia merasa kasihan kepada wanita yang kini hanya memiliki putrinya saja itu, dan dia juga berandai-andai ingin menjadi orang yang menjaga Nyai Demang dari kesulitan dan mara bahaya.


“Buntet, jangan lupa tawanan itu diberi makan. Jika mati, kita nanti tidak punya saksi untuk mengadu di Istana,” kata Nyai Demang.


“Iya, Nyai,” ucap Buntet patuh.


Buntet lalu pergi membawa setusuk talas bakar ke pedati tempat kelima tawanan mereka diikat dengan kuat.


“Rugi, kau mengejutkan aku!” hardik Nyai Demang, tapi tidak keras.


“Maafkan aku, Nyai. Tapi ... apakah aku terlalu tampan sampai-sampai Nyai memandangiku seperti terpesona?” tanya Rugi dengan hati yang bernyanyi “Terpesonaaa, aku terpesonaaa.”


“Kau percaya diri sekali,” kata Nyai Demang dengan tatapan yang tidak jelas maksudnya, tapi ada senyum di bibir merahnya.


“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel. Dia sadar bahwa dirinya memang tidak setampan Bendong atau secantik Campani.

__ADS_1


“Rugi, kau masih ingin menikah?” tanya Nyai Demang tanpa ragu.


“Itu sudah pasti, Nyai,” jawab Rugi.


“Kau ingin menikah dengan janda cantik tapi rasa gadis, atau dengan gadis cantik tapi tidak rasa janda?” tanya Nyai Demang.


“Hahaha!” tawa Rugi. Meski Rugi tergolong bukan bintang kelas yang selalu juara harapan, tapi dia tetap memahami maksud dan arah pertanyaan lucu Nyai Demang. Lalu tanyanya, “Sebenarnya Nyai berharap apa dariku?”


“Seperti yang aku katakan tadi di kereta kuda. Aku berharap kau mau menikah denganku, Rugi,” jawab Nyai Demang, langsung ke titik sasaran, tanpa belok-belok atau berputar-putar seperti komedi.


Rugi Sabuntel tersenyum tenang, setenang ketika dia sedang bertarung di medan laga karena dia sudah mendengar harapan sang nyai sebelumnya. Namun, perasaannya Kembali sangat bahagia. Jangankan seorang Nyai Demang, jika yang menyukainya seorang janda daun kering pun Rugi akan bahagia. Apalagi ini Nyai Demang. Seorang Wanita cantik jelita yang selalu terlihat cantik dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan ketika berjongkok di kakus pun tetap terlihat cantik. Memang pada dasarnya cantik.


“Aku sangat bahagia mendengar keinginan, Nyai. Dulu, aku diam-diam merasa ngeri saat Nyai bersikap terlalu dekat denganku. Aku ngeri jika Gusti Demang memergoki….”


“Tapi sekarang tidak?” terka Nyai Demang memotong.


Rugi tersenyum lebar sampai gigi gerahamnya terlihat.


“Dulu, aku dan kau terhalang oleh mendiang Gusti Demang. Sekarang tidak, Rugi. Jika kau juga menyukaiku, kita sudah tidak memiliki pagar penghalang. Atau … kau lebih jatuh hati kepada Campani? Atau kepada Nyi Unyu?”


Deg!


Pertanyaan Nyai Demang seperti pukulan martil di jantung Rugi. Rugi memang jatuh hati juga kepada Campani dan Nyi Unyu. Hanya lelaki bermata rabun sore yang tidak akan jatuh hati kepada gadis secantik Campani dan Nyi Unyu. Namun, lelaki mana juga yang tidak tergiur dengan janda kembang secantik Nyai Demang. Meski sudah bukan perawan ting-ting, tapi Nyai Demang punya paket lengkap.


“Bukan seperti itu, Nyai,” bantah Rugi seraya tersenyum kuda. “Aku tidak akan menolak mengakui, Nyai Demang lah wanita cantik menggoda yang lebih dulu menghiasi hari-hariku selama di gudang jagung, jauh sebelum aku mengenal Nyi Unyu atau Campani. Selama Nyai masih bersuami, kita memang menganggap kedekatan kita hanya sebatas candaan, sebatas majikan dan pekerja. Aku sangat tidak menyangka jika Nyai ternyata memang jatuh hati kepadaku. Jika dulu memang terhalang, sekarang sudah tidak. Tapi … apakah patut, Nyai dan aku sama-sama baru kehilangan pasangan hidup, tapi sudah bicara menikah lagi? Itu yang aku pertimbangkan, Nyai.”


“Hmmm!” gumam Nyai Demang sambal hempaskan napas masygul.


“Menurutku, sebenarnya tidak pantas, Rugi. Aku berlaku seperti janda genit yang seolah-olah senang suaminya mati, karena aku tidak mau kau tiba-tiba menjadi milik wanita lain lagi. Tiba-tiba kau sudah menikah dengan Rambati. Setelah Rambati mati, ternyata masih ada wanita cantik lain yang dekat denganmu. Sebelum hatimu disambar oleh Campani atau Nyi Unyu, aku memutuskan buru-buru mengungkapkan rasa hatiku yang terpendam. Aku tidak mau mengalah kepada putriku,” tandas Nyai Demang. “Aku utarakan ini, agar hatiku bisa tenteram, Rugi.”


“Terima kasih, Nyai,” ucap Rugi seraya tersenyum. Sepertinya itu senyuman bahagia, bukan senyuman terpaksa.


“Bagaimana, Rugi? Apakah kau mau menikah denganku?” tanya Nyai Demang lagi dengan tatapan penuh harap. Tidak ada senyumnya, sepertinya ada ketegangan di hatinya saat menunggu jawaban dari Rugi.


“Selama ini Nyai selalu lembut kepadaku, selalu baik kepadaku. Nyai yang jauh lebih dulu menggoda perasaanku. Karena memang saat ini tidak ada pagar penghalang di antara kita, sudah semestinya aku memilih Nyai daripada wanita yang belum lama aku kenal. Jika Nyai memang mencintaiku, aku pasti akan mencintai Nyai juga,” jawab Rugi.


Tersenyum bahagialah Nyai Demang mendengar jawaban panjang pemuda gemuk itu. Akhirnya dia dapat dugem (duda gemuk).


“Walaupun aku seorang janda, Rugi?” Nyai Demang masih bertanya, demi menghilangkan sedikit jerawat di hati yang mengganjal.


“Bukankah Nyai Demang sudah mengatakan, janda rasa gadis?” kata Rugi.

__ADS_1


“Hihihi…!” Meledaklah tawa nyaring Nyai Demang mendengar perkataan Rugi.


“Hahaha!” tawa Rugi pula. (RH)


__ADS_2