Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 30: Penjelasan Rambati


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


Mandi susu dan madu dilakoni Rambati dini hari. Berendam di dalam air dingin di tengah cuaca pagi yang dingin sungguh menyegarkan.


Rambati mengagumi ruang mandi milik Nyai Demang yang super komplit perlengkapan mandinya. Sabunnya saja berjenis aneh yang Rambati baru kali ini lihat modelnya, maklum beli di negeri seberang lautan. Alat gosok badannya pun tidak sekasar sabut kelapa atau sekeras batu apung. Pengharum airnya saja ada lima aroma. Bahkan ada cairan khusus pengharum kewanitaan. Sebelumnya Nyai Demang sudah memberi tahu kegunaan cairan dalam botol tersebut.


Pokoknya sangat memanjakan seorang perempuan untuk betah berlama-lama mandi atau berendam.


“Pantas saja Nyai Demang selalu wangi,” ucap Rambati saat menikmati mandinya.


Tidak perlu dijelaskan apakah Rambati mandi dengan berbaju atau tidak.


Menjelang waktu subuh, Rambati datang menemui Nyai Demang, Ki Robek dan lainnya, yang sudah menunggu sejak tadi.


Kemunculan Rambati yang menggunakan pakaian warna kuning pisang milik Nyai Demang yang diberikan, bukan dipinjami atau dikrediti, membuat Bendong dan Blikik ternganga terpesona. Hati dan otak kedua pemuda itu langsung bernyanyi “terpesonaaa, aku terpesonaaa.”


Karena memakai pakaian milik Nyai Demang, tentu area sekwilda cukup open for eyes, terbuka bagi mata siapa saja.


Ageng yang turut dalam pertemuan dadakan tersebut segera mencolek Bendong. Dia memberi isyarat bahwa “Rambati istri sahabatmu sendiri” atau “kamu sudah punya aku.”


Bendong segera sadar diri. Tidak seperti Blikik yang tidak sadar-sadar.


Tuk!


Blikik terkejut dan sontak menutup bibirnya yang ternganga. Dia langsung menengok memandang Nyai Demang yang baru saja menimpuki wajahnya dengan sekulit kacang rebus.


“Kau sudah mau punya istri dua, jangan coba-coba cari yang ketiga!” kecam Nyai Demang.


“Hahaha!” tawa mereka yang hadir, termasuk Rambati.


“Hehehe!” Blikik hanya cengengesan.


Mereka yang hadir di pendapa sederhana itu antara lain: Nyai Demang, Campani, Ki Robek, Bendong, Ageng, dan Blikik.


“Maaf lama menunggu, Nyai, Ki,” ucap Rambati sebelum duduk di sisi kiri Nyai Demang.


Ketika dia bergerak turun untuk duduk, aroma wangi semerbak memberi salam kedamaian kepada penciuaman mereka semua.

__ADS_1


Nyai Demang mau tidak mau harus menerima pesaing berat di kediamannya. Untuk sementara tentunya. Jelas dia tidak menginginkan jika Rugi Sabuntel dan istrinya tinggal di kediamannya.


“Sepertinya aku tidak cocok ikut dalam pertemuan ini,” kata Ki Robek tiba-tiba.


“Kenapa, Guru?” tanya Blikik cepat.


“Harum Rambati mengingatkan aku masa muda,” jawab Ki Robek, orang tertua di tempat itu.


“Bukankah masa muda Guru adalah masa kelam?” kata Blikik.


“Iya masa kelam, tapi tidak semuanya kelam!” jawab Ki Robek dengan menghardik.


“Hehehe!” Blikik hanya tertawa cengengesan.


“Jadi bagaimana?” tanya Nyai Demang.


“Yang menjadi korban terbesar adalah Nyai Demang. Jadi, Nyai yang memutuskan. Aku akan mencoba membantu dengan cara yang terbaik. Ingat, orang yang kita hadapi adalah seorang penguasa dan dia memiliki pasukan kadipaten,” kata Ki Robek.


“Selama ini aku sangat mengandalkan Rugi. Jadi aku tidak bisa berpikir dengan baik jika tidak ada Rugi,” jawab Nyai Demang blak-blakan.


Mendengar perkataan itu, Rambati jadi memandang kepada Nyai Demang di sisinya.


“Aku tidak akan cemburu,” kata Rambati kepada Blikik.


“Jika kau cemburu, katakan padaku. Aku siap jadi pengganti Rugi,” kata Blikik yang sudah tidak takut akan siapa yang sedang dia gombali.


Plak!


“Aduh, Guru!” keluh Blikik setelah kepalanya ditepak oleh Ki Robek.


“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Kelompok Ular Pembunuh, Rambati?” tanya Ki Robek.


“Aku bagian dari mereka, Ki,” jawab Rambati.


Mendengar itu, seketika Nyai Demang dan Campani memandang serius kepadanya, karena kedua wanita cantik pemilik rumah itu jelas menaruh dendam.


“Aku putri dari salah satu anggota kawakan di Kelompok Ular Pembunuh. Namun, aku tidak tahu sama sekali tentang rencana pembunuhan mereka terhadap Gusti Demang,” sambung Rambati. “Aku memang bagian dari mereka, tetapi aku tidak suka dengan cara hidup mereka. Waktu mereka menyerang, aku sengaja ikut pulang dengan ayahku dan meninggalkan Kakang Rugi. Selain aku menghormati ayahku, aku juga ingin membuktikan cinta suamiku. Apakah dia akan datang untuk menolongku atau tidak. Aku dipenjara di sana. Ternyata Kakang Rugi datang menolongku dan berhasil membebaskanku.”


“Tapi kau tinggalkan Rugi bertarung sendirian melawan Kelompok Ular Pembunuh yang jumlahnya banyak?” tanya Bendong menyudutkan Rambati.

__ADS_1


“Kakang Rugi yang menyuruhku untuk pergi menyelamatkan diri ke desa ini. Selain aku tidak bisa melawan saudara-saudaraku sendiri, aku sangat yakin dengan kesaktian suamiku,” jawab Rambati gamblang.


“Jadi, nasib Rugi belum jelas, apakah mati ataukah menang?” tanya Ki Robek.


“Rugi setia kepadamu, tetapi kau tidak setia menemaninya di sana,” kata Nyai Demang dengan wajah yang marah. “Bagaimana kalau Rugi mati oleh ayahmu?”


“Tidak. Hubungan Kakang Rugi dan Ayah baik. Mereka sudah bertemu dan berbicara,” kata Rambati. “Aku yakin, Kakang Rugi akan pulang pagi ini dengan membawa kemenangan. Jika sampai matahari naik Kakang Rugi belum juga kembali, aku akan menyusulnya ke sana.”


“Lalu, bagaimana dengan Adipati Bawel, Nyai?” tanya Bendong.


“Entahlah, Bendong,” jawab Nyai Demang dengan ekspresi mengerenyit menunjukkan kesusahan hatinya.


“Kita tidak bisa diam saja, Ibu,” kata Campani. “Jelas-jelas Adipati ingin memusnahkan kita. Ayah sudah mereka bunuh. Kini usaha kita mau dihancurkan. Aku yakin Adipati juga berniat merampas usaha perunggu dan gula milik Ayah. Sepertinya Adipati ingin membuat kita hancur sehingga Ibu tidak memiliki alasan untuk menolak lamaran Adipati kepadaku.”


“Bagaimana jika aku yang pergi membunuh Adipati keparat itu?” usul Rambati.


“Tapi kau akan menghadapi pasukan pemerintah, Rambati,” kata Blikik cepat.


“Benar. Meski kita adalah orang berkesaktian, tetapi tidak mudah jika berurusan dengan pejabat pemerintah. Seperti kasusku di masa lalu yang melawan pejabat. Aku dilaporkan ke raja dengan laporan yang bohong, sehingga aku harus menghadapi kekuatan kerajaan yang tidak bisa aku lawan,” kata Ki Robek.


“Tidak jika Adipati itu dibunuh diam-diam,” kata Rambati.


“Itu bisa dilakukan, tetapi tetap kita harus menunggu kepulangan Rugi,” kata Ki Robek.


“Tapi, Rugi pasti akan meminta pendapat dari Guru,” kata Bendong.


“Jika kita membunuh Adipati, Kerajaan pasti akan melakukan penyelidikan terhadap pelakunya. Jika ditemukan bukti yang mengarah kepada Nyai Demang, itu akan sangat berbahaya,” kata Ki Robek.


“Atau kita laporkan saja kepada Kerajaan,” usul Bendong.


“Berarti Nyai Demang harus membawa kelima tawanan itu ke Kerajaan sebagai saksi,” kata Ki Robek.


“Apakah aku yang harus berangkat?” tanya Nyai Demang dengan ekspresi berat hati.


“Seharusnya, karena Nyai yang menjadi korban,” tandas Ki Robek.


“Aku akan menemani Nyai, karena aku adalah saksi bahwa orang yang membayar Kelompok Ular Pembunuh adalah Adipati Bawel,” kata Rambati.


“Baiklah, tapi kita harus menunggu Rugi pulang,” kata Nyai Demang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2