Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 23: Mengeroyok Rugi


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


Di saat para anggota Kelompok Ular Pembunuh berjatuhan, Rugi Sabuntel cepat melesat menyongsong turunnya tubuh Gurat Satria dari udara. Belum lagi Rugi Sabuntel melompat menyerang, dari posisi masih di udara itu Gurat Satria menghentakkan kedua tangannya.


Swerss!


Sekelompok sinar merah-merah kecil melesat menyerang Rugi yang berlari mendekat.


Blar blar blar...!


Ledakan-ledakan beruntun yang menghancurkan tanah tercipta setelah Rugi Sabuntel dengan lihainya melompat menghindar.


Karena sebelumnya Gurat Satria sudah pernah bertarung melawan Rugi Sabuntel, jadi dia harus hati-hati dan tidak pandang remeh.


Jleg!


Semendaratnya Rugi Sabuntel di tanah berumput, dia langsung mendapat serangan tangan kosong yang bertenaga dalam tinggi. Rugi Sabuntel cekatan menangkis dengan tangan bertenaga dalam tinggi pula.


Sebagai orang yang sebelumnya sudah pernah melawan Gurat Satria, Rugi merasakan kekuatan serangan tangan kosong Gurat telah meningkat, padahal baru beberapa hari saja mereka tidak melepas rindu.


Buk!


Pada satu ketika, tendangan keras Gurat Satria berhasil masuk ke perut gendut Rugi Sabuntel, membuat murid Ki Robek itu termundur dua tindak.


Sruk!


Tiba-tiba Rugi Sabuntel oleng karena satu kakinya masuk ke dalam lubang jebakan yang dia buat sendiri. Seperti jebakan makan tuan sendiri.


Melihat itu, Gurat Satria cepat manfaatkan momentum di saat kaki lawan terperosok ke dalam lubang yang pas banget.


Dak!


Satu tendangan berasap mengibas berkelebat cepat dari samping mengincar kepala Rugi Sabuntel yang posisi kuda-kudanya tidak oke. Terpaksa Rugi melindungi kepalanya dengan batang tangan kanannya yang kokoh.


Tangkisan itu membuat Rugi mengerenyit sambil tubuhnya terbanting ke samping karena terlalu kuatnya daya hantam tendangan berasap Gurat Satria.


Dak!


Sukses menjatuhkan si badan besar, Gurat Satria semakin semangat melancarkan tendangannya lagi. Kali ini kaki itu asapnya kian tebal, datang dari depan. Posisi yang tidak siap membuat Rugi hanya menangkis dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Itu membuat Rugi agak terlempar ke belakang, juga membuatnya otomatis berdiri tanpa kakinya tertinggal di lubang.


Semakin bersemangat Gurat Satria untuk mendesak lawannya. Kembali dia tingkatkan tenaga saktinya ke dalam tendangan, membuat asap di kaki itu kian menjadi-jadi. Dia melompat menerjang dengan kecepatan luncur yang kencang.


Begg!


Kali ini Rugi Sabuntel mengadu terjangan lawannya dengan tinju perkasanya yang bisa membunuh kuda.


Hasil dari pertemuan itu membuat Rugi Sabuntel terjajar dua tindak dan Gurat Satria terlempar balik dalam jarak dua tombak. Cukup jauh. Sepertinya Rugi Sabuntel telah kembali perkasa.


Baru saja Rugi Sabuntel mau maju balas memburu Gurat Satria, dari beberapa arah berlompatan beberapa anggota Kelompok Ular Pembunuh yang datang bersusulan, termasuk Gamak Pera.


Dari arah belakang datang dua lelaki yang kompak membacokkan pedangnnya ke arah kepala dan bahu Rugi.


Setelah menengok dan melirik, Rugi Sabuntel mundur dengan gerakan cepat sambil merunduk. Ia pun bergeser tepat ke bawah tubuh kedua penyerangnya dengan kedua tangan melakukan penangkapan terhadap kaki lawannya.


Sementara kedua anak buah Gurat Satria itu membacok angin, Rugi Sabuntel menarik kaki mereka dengan kuat.


Blugk!


Keduanya terlempar ke belakang dan jatuh tengkurap serperti siluman buaya.


Serangan tidak berhenti. Dari samping berkelebat seorang lelaki botak dengan dua pedang disabet dengan cara menyilang-nyilang seperti gunting. Mungkin maksudnya ingin menyunat Rugi Sabuntel. Namun, yang ditarget adalah leher Rugi.


Dak!


Satu gerakan akrobatik tari breakdance dipertunjukkan oleh Rugi Sabuntel. Dia menghindarkan kepalanya dengan turun menapak tanah, sedangkan kedua kakinya naik ke atas menendang tubuh lawan yang lewat melintas. Lelaki botak itupun jatuh imut di tanah berumput.


Entah kursus di mana Rugi Sabuntel sehingga bisa membuat gerakan tarung seperti itu, padahal dia itu gemuk gendut.


Belum sempat Rugi Sabuntel bernapas untuk rileks, putaran tubuh Gamak Pera yang memegang dua pedang terhunus seperti baling-baling pesawat dengan dua kepang juga seperti baling-baling.


Sulit bagi Rugi Sabuntel untuk mengelak, jadi dia hanya menangkis dengan Telapak Lahar. Telapak tangan kanan Rugi Sabuntel menyala kuning seperti lahar yang sangat panas.


Tang! Set!


“Akh!” keluh Rugi Sabuntel.


Pedang Gamak Pera yang ditangkis oleh telapak tangan Rugi langsung patah dan ujungnya menancap di tanah. Namun, pada saat yang sama, pedang kedua Gamak Pera berhasil menggores dada kekar Rugi. Awalnya Rugi mengira Gamak Pera hanya menggunakan satu pedang, eh ternyata dua pedang.


Robekan pada dada Rugi Sabuntel cukup besar. Darah langsung mengalir keluar.

__ADS_1


Satu orang masih ada yang menyusulkan serangan dari arah lain. Karena telah terluka, amarah Rugi Sabuntel terpantik. Dengan gesit dia menghindari sabetan pedang itu dan menyarangkan tinju mautnya.


Begk!


“Hukr!” pekik si penyerang dengan mulut menyemburkan darah saat dadanya remuk dihantam tinju Rugi Sabuntel.


Melihat keganasan Rugi Sabuntel, Gamak Pera yang juga baru mendarat, kembali menyerang Rugi dengan dua pedang bergantian. Salah satu pedangnya sudah buntung.


Jezz!


Rugi Sabuntel menantang tusukan pedang Gamak Pera dengan tangkisan telapak tangan yang menyala kuning. Gamak Pera terkejut melihat ujung pedangnya meleleh dengan cepat di telapak tangan Rugi.


Bugk!


“Hukrr!” keluh Gamak Pera.


Keterkejutan Gamak Pera membuatnya lengah seperkian detik. Tinju maut Rugi Sabuntel masuk menghantam dadanya.


Gamak Pera terdorong dan terjengkang dengan mulut menyemburkan darah. Namun, ternyata itu belum cukup untuk membunuhnya. Sebagai salah satu pendekar utama Kelompok Ular Pembunuh, Gamak Pera memiliki daya tahan yang lebih kuat. Terbukti, tulang dadanya tidak sampai berpatahan di dalam daging.


“Gamaaak!” teriak Gurat Satria. “Heaat!”


Gurat Satria berteriak sambil berlari dengan kedua tangan menyala warna-warni pelangi, seperti pendukung LGBT.


Sluk! Blug!


“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel melihat Gurat Satria yang garang tahu-tahu tersungkur karena kakinya terjeblos lubang. Untung wajahnya tidak jatuh di kotoran kuda, karena memang tidak ada.


Bagi Gurat Satria, dibilang malu yang memang malu. Apalagi jatuh tanpa gaya di depan musuh paling dibenci.


Selagi Gurat Satria bergerak bangkit, dari separuh arah berdatangan para anak buahnya yang hendak menghakimi Rugi Sabuntel.


Tidak mungkin Rugi Sabuntel menghadapi para pendekar itu sekaligus, terlebih mereka berpedang semua. Satu musuh saja sudah bisa melukainya, apalagi sampai belasan orang.


Rugi Sabuntel cepat melompat bersalto di udara. Dia siap mengerahkan ilmu Pendaratan Dewa Goyang level dua.


Jleg! Zerzzz!


Ketika sepasang kaki Rugi Sabuntel mendarat di tanah berumput, gelombang energi langsung menyebar dari bawah telapak kaki Rugi ke segala arah. Namun, ada yang berbeda dari ilmu Pendaratan Dewa Goyang level satu. Kali ini ada suara mendesis seperti suara listrik bernyanyi, meski energi itu terlihat hanya dengan rebahan rumput ke satu arah.


“Aaak! Aakk! Akrrr...!”

__ADS_1


Para anggota Kelompok Ular Pembunuh tiba-tiba berhenti berlari karena dilanda sengatan tegangan tinggi yang membuat mereka mengejang hebat, ketika gelombang energi milik Rugi mengenai kaki mereka. Ada yang kejang dengan pose berdiri dan ada yang mengejang dengan gaya tengkurap seperti penderita epilepsi.


Namun, ada juga yang selamat dari sengatan gelombang energi itu. Mereka belajar dari serangan sebelumnya yang membuat kuda-kuda mereka tersungkur. Termasuk Gurat Satria. Dia cepat melompat mengudara ketika gelombang energi datang, seperti melompati tali karet saat main lompat tali. (RH)


__ADS_2