
*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*
“Putraku sudah membuat aku marah semarah-marahnya. Kini, kalian pulang dengan kekalahan sekalah-kalahnya. Bagaimana aku tidak mati berdiri, hah?!” teriak Adipati Bawel Semara kepada puluhan prajuritnya yang berjongkok penuh di halaman rumahnya.
Para prajurit yang duduk berkumpul itu adalah prajurit yang pulang dengan membawa nyawa dan luka, termasuk Panglima Muda Arit Batik. Dia duduk bersandar pada seorang prajurit anak buahnya sambil menahan sakit karena luka-lukanya.
Para prajurit yang terluka harus ekstra sabar. Alih-alih dipanggilkan tabib, mereka justru harus mendapat amarah dulu dari sang adipati.
“Apa gunanya kalian aku suapi dengan upah setiap bulan, jika hanya menghasilkan kencing dan kue basah? Apa gunanya jumlah kalian puluhan, jika hanya menangkap dua perempuan saja tidak gagah? Dasar prajurit itik mandul!” maki Adipati Bawel Semara yang ujung-ujungnya dia mencopot kasut kaki kanannya dan melemparkannya.
Dak!
“Aduh!” keluh Arit Batik yang tidak bisa menghindarkan wajahnya dari kasut Adipati.
“Kenapa kalian tidak mati sekalian di sana, hah?! Daripada membuat repot di sini. Biar istri-istri kalian bisa menikah lagi dengan tenang, tidak perlu mengurusi lelaki tidak berguna seperti kalian!” bentak Adipati lagi kepada prajurit secara umum.
“Pasti Gusti Adipati yang mau menikahi istri-istri kita kalau kita mati,” bisik seorang prajurit kepada rekan sebelahnya di posisi paling belakang.
“Iya. Dikira Gusti Adipati yang paling ganteng, padahal kalau main ranjang, setengah putaran saja napasnya sudah seperti tersumbat upil,” kata rekannya pula yang punya perasaan seragam, sama-sama kesal, benci tidak pakai rindu.
“Dasar prajurit buta! Tidak dengar aku sedang marah?” teriak Adipati Bawel Semara melotot kepada dua prajurit yang sedang berbisik ria di deretan belakang.
Dak!
“Anbing!” maki salah satu prajurit yang berbisik tadi, ketika kasut Adipati menghantam tepat di telinganya. Untung makiannya blur, jadi Adipati tidak merasa disebuti anjing atau kambing.
Namun, ujung-ujungnya tetap saja prajurit itu menciut seperti kucing dijepit tengkuknya.
“Mo-mo-mohon ampun, Gusti!” ucap prajurit itu jadi tergagap, kontras ketika kasut Adipati menghajarnya.
“Sekarang siapa yang bisa aku andalkan untuk membunuh para pendekar itu jika bukan kalian?” tanya Adipati Bawel Semara.
Tidak ada prajurit yang berani menjawab.
“Ayo jawaaab! Aku bertanyaaa!” teriak Adipati kesal bukan main.
“Kamu nenye? Kamu bertenye-tenye?” Tidak ada prajurit yang menyahut seperti itu karena mereka masih sayang nyawa, bukan sayang istri.
__ADS_1
“Hamba bantu jawab, Gusti!” sahut salah satu centeng Adipati yang tidak termasuk tim penyerang ke kediaman Nyai Demang.
“Jawab!” perintah Adipati Bawel Semara.
“Jika Gusti mengerahkan semua prajurit dan centeng, pasti mereka akan kewalahan, Gusti,” kata centeng yang terlihat lebih cerdas karena dahinya yang lebar menonjol.
“Siapa namamu?” tanya Adipati Bawel.
“Loh, Gusti lupa nama hamba? Nama hamba Kepirit, yang selalu mengawal Gusti jika pergi berak tengah malam,” kata centeng itu sok akrab, membuat para prajurit melirik sinis.
“Oh ya, kau Kepirit. Aku terlalu marah kepada para prajurit tolol itu, jadi aku lupa namamu,” kilah Adipati Bawel lebih tenang. Lalu perintahnya, “Kau gantikan Arit Batik tolol itu, pimpin semua pasukan kadipaten dan centeng untuk menyerbu rumah Demang Segara Gara!”
“Hah!” kejut Kepirit. Ekspresi wajahnya seketika berubah ciut. “Jangan hamba Gusti. Hamba tidak lebih hebat dari Panglima Muda.”
“Sama saja bohong!” bentak Adipati Bawel marah lagi.
Terdiamlah Kepirit.
“Ayo, siapa yang bisa memberi usulan cerdas, aku beri hadiah kepeng!” seru Adipati memberi sayembara.
Seperti lelaki hidung belang yang mendengar cekikikan perawan, seketika sebagian prajurit menegakkan wajahnya. “Kepeng” menjadi kata kunci yang membangkitkan semangat hidup.
“Katakan!” perintah Adipati Bawel Semara.
“Kita minta bantuan kepada Kerajaan, Gusti,” kata prajurit itu lebih percaya diri.
“Aku sudah mengirim surat ke Istana melaporkan kejahatan Demang Segara Gara,” kata Adipati.
“Setahu hamba, jika hanya berkirim surat, apalagi itu hanya laporan, Kerajaan tidak akan mengirim pasukan bantuan. Usul hamba, lebih baik Gusti datang langsung ke Istana untuk minta bantuan pasukan Kerajaan,” kata prajurit itu.
“Benar juga. Kenapa aku jadi sebodoh ini?” ucap Adipati Bawel Semara kepada dirinya sendiri. Dia lalu memarahi semua prajuritnya, “Ini gara-gara kalian yang semuanya tidak berguna, membuat aku jadi bodoh juga sebodoh kalian!”
“Masih syukur Gusti Adipati mengaku bodoh,” kata prajurit yang tadi ditimpuk kasut, berbisik lagi kepada rekannya.
“Coba kalau tidak mengaku bodoh, aku sikut nanti terong tuanya,” bisik rekannya, membuat mereka tersenyum sambil menunduk.
“Kau!” teriak Adipati Bawel Semara kencang.
Teriakan itu nyaris membuat jantung kedua prajurit itu copot. Saat mereka melihat ke arah majikannya, ternyata Adipati menunjuk prajurit yang berusul tadi.
__ADS_1
“Siapa namamu?” tanya Adipati Bawel.
“Hamba bernama Cenggong, Gusti,” jawab prajurit yang usianya sudah beranjak tua.
“Selama Arit Batik sakit, kau gantikan posisinya!” perintah Adipati.
“Baik, Gusti!” jawab Cenggong bersemangat sambil bangkit berdiri, sehingga kepalanya lebih tinggi daripada kepala rekan-rekannya sesama prajurit.
“Bubar kalian semua. Obati luka-luka kalian!” perintah Adipati.
“Mohon ampun, Gusti!” seru Cenggong agak keras sebelum kumpulan prajurit itu bubar.
“Apa lagi?” tanya Adipati dengan tatapan yang tajam.
“Hadiah kepengnya, Gusti?” kata Cenggong.
“Nanti kau minta saja kepada Rono Kepok lima kepeng!” perintah Adipati Bawel, menyebut nama bendahara kadipaten. Dia lalu berbalik pergi tanpa berkasut lagi.
Cenggong hanya terdiam mendengar jumlah hadiah usulan cerdasnya.
“Hahaha!” tawa sejumlah prajurit menertawakan Cenggong.
“Hanya lima kepeng? Hanya cukup untuk beli makanan itik sepekan,” ucap Cenggong kepada dirinya sendiri sembari mengerenyit.
Pasukan terluka itupun membubarkan diri.
“Siapa orang itu?” tanya Adipati Bawel Semara terkejut kepada dirinya sendiri, saat tiba-tiba ada orang asing yang duduk di kursi di teras rumahnya.
Orang asing itu seorang nenek gemuk berambut serba putih, panjang terurai seperti anak perawan. Meski di kepalanya ada satu tusuk konde tanpa konde, nenek itu bertampang natural tanpa make-up. Wajahnya terlihat cukup seram karena ada bekas luka senjata tajam yang sudah lama. Namun, masih tidak seseram wajah Ki Robek. Nenek itu membawa sebatang tongkat hitam yang pada kepalanya berbentuk kepala buaya perempuan.
Nenek itu jelas seorang pendekar. Kemunculannya yang tanpa terlihat kapan datangnya itu membuat Adipati deg-degan. Debaran itu bukan efek jatuh cinta, tapi karena takut. Para prajurit jaga pun tidak ada yang berani mengusik si nenek.
Mau tidak mau, Adipati harus mendatangi si nenek.
“Si-si-siapa kau, Nek?” tanya Adipati yang belum apa-apa sudah tergagap.
Itu karena kharisma kependekaran si nenek begitu tinggi. Tatapan tajamnya saja belum apa-apa sudah menguras keberanian orang yang dipandangi.
“Aku dikenal di dunia persilatan dengan nama Nenek Codet. Aku datang ke sini untuk membunuhmu,” jawab si nenek dingin, meski suasananya tidak dingin.
__ADS_1
Mendengar itu, seketika terkejut dan takutlah Adipati Bawel Semara. Dahinya langsung berkeringat. (RH)