
*Darah Pngantin Pendekar (DPP)*
Dugg!
Tinju maut Rugi Sabuntel bertemu dengan tinju Pelangi Perkasa, saat Gurat Satria tertarik terbang oleh tenaga kuat Rugi yang sedang tersengat kesakitan.
Hasilnya, Rugi Sabuntel terlempar terjengkang dan bergulingan seperti badut. Sementara Gurat Satria terdorong mundur dan mendarat dengan sempoyongan, tapi tidak sampai terjatuh.
Kondisi itu terjadi karena Rugi Sabuntel beradu tenaga dalam kondisi kesakitan, sehingga kekuatannya kalah oleh kekuatan tinju Pelangi Perkasa.
Rugi Sabuntel tidak langsung bangkit, karena dia merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Namun, dengan lepasnya tali-tali sinar hijau milik Gurat Satria, rasa sakitnya berangsur berkurang. Karena kondisinya sedang tidak bagus, Rugi Sabuntel menyelipkan tangan kananya ke pinggang kirinya, menggenggam gagang Keris Ratu Bintang. Itu sebagai wujud siaganya jika Gurat Satria menyerang kembali lebih dulu.
Ctas!
Ternyata benar. Gurat Satria telah menyerang lebih dulu dengan cara yang sama, yaitu melesatkan tiga tali sinar hijau.
Sless!
Karena belum bisa menghindar, Rugi Sabuntel memangkas serangan itu dengan sabetan Keris Ratu Bintang.
Terkejut Gurat Satria melihat tiga tali sinar hijaunya sirna setelah ditebas oleh keris pusaka Rugi Sabuntel.
Sreeetss!
Melihat musuhnya sudah mengeluarkan senjata hebat, Gurat Satria tidak punya pilihan lain selain mencabut Pedang Petir Naga.
Kini Gurat Satria mengangkat tinggi-tinggi pedangnya yang bersinar hijau dan dihiasi gerakan liar listrik kuning, sehingga terlihat menyeramkan.
Rugi Sabuntel telah berdiri dengan kuda-kuda siap tarung. Dia baru mengeluarkan satu keris pusakanya. Dia masih menyimpan Keris Raja Bintang.
Zerzzz!
Gurat Satria menusukkan pedangnya ke arah Rugi Sabuntel dari jarak jauh. Maka melesatlah sinar hijau panjang tanpa putus yang dihiasi oleh listrik warna kuning. Suaranya pun mendesis seperti omelan listrik tegangan tinggi.
Rugi Sabuntel yang sudah kembali bugar meski belum sembilan puluh persen, cepat menghindar satu langkah ke samping. Setelah itu dia melompat.
Jleg! Zerzzz!
Satu gelombang energi penyengat menjalar di atas bumi ke segala arah, membuat rerumputan rebah ke satu arah.
“Aaak...!”
Yang menjerit bukan Gurat Satria, tetapi Kin Anti dan keempat rekannya yang tergeletak di rerumputan. Mereka kembali tersengat untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Sementara Gurat Satria kembali bisa menghindar dengan mudah sambil menusukkan kembali pedangnya dari jarak jauh.
Zerzzz!
Lagi-lagi segaris sinar hijau tanpa putus dari Pedang Petir Naga bisa dihindari oleh Rugi Sabuntel.
Melihat dua kali serangan jarak jauhnya dibuat mentah oleh Rugi, maka cara terbaiknya adalah maju menyerang lebih dekat.
Bacokan pedang bersinar hijau itu kali ini ditangkis oleh Rugi Sabuntel. Pendekar gendut itu bertaruh saat menangkis tebasan pedang karena sebelumnya kedua pusaka belum pernah saling sentuh, apalagi saling adu kehormatan.
Ting! Zerzzz!
“Aaak!” jerit Rugi Sabuntel.
“Aaakk!” jerit Gurat Satria.
Keris Ratu Bintang dan Pedang Petir Naga beradu sisi tajam. Hasilnya, energi listrik dan petir bertemu saling menyengat. Bedanya, jika Pedang Petir Naga mengeluarkan petir sinar kuning yang menyengat seluruh tubuh Rugi Sabuntel, maka aliran listrik dari Keris Ratu Bintang menjalar tanpa warna menyengat tubuh Gurat Satria.
Intinya, kedua petarung itu lomba kesetrum dengan tubuh mengejang dalam posisi berdiri. Yang lebih repot lagi, kedua senjata seperti magnet yang sulit untuk ditarik lepas kembali.
Namun, urusan disengat, Rugi Sabuntel masih jagonya. Faktor yang membuat dia lebih tahan sengatan adalah karena dia memiliki ilmu Pendaratan Dewa Goyang level dua yang jenis energinya adalah listrik.
Bukti lain yang menunjukkan bahwa Rugi Sabuntel tahan sengatan adalah ketika dia dan istrinya belum menikah, tetapi sebagai lawan tanding di final Duel Pendekar Butogilo. Dalam pertarungan itu, Rambati menyetrum Rugi Sabuntel dengan ilmu Kupu-Kupu Petir. Namun, Rugi Sabuntel bisa tahan dan tidak mati.
Sama pula dengan saat ini, ketika kekuatan Pedang Petir Naga menyengat dirinya, dia bisa bertahan di dalam kesakitan.
Berbeda dengan Gurat Satria. Kekuatan Keris Ratu Bintang memakan energinya yang membuatnya lemas dengan mulut yang masih mencong, bahkan terlihat jelas bibirnya gemetar hebat dan rambutnya berdiri.
“Heaaat!” teriak Rugi Sabuntel keras dan panjang, sampai-sampai terdengar oleh Karani yang sedang memanjat pohon kelapa demi mengambil buntalan kain di atas pohon. Padahal jaraknya dari jurang tidak terlihat oleh mata.
Ting!
Dalam kondisi tersengat seperti itu, Rugi Sabuntel dengan gerakan berat mencabut Keris Raja Bintang. Keris lurus lancip itu dihantamkan ke bilah Pedang Petir Naga.
“Aaakk!”
Gurat Satria yang sudah terkuras energi raganya, seketika terpental jauh dengan Pedang Petir Naga terlempar dari tangan.
Blugk!
Tubuh Gurat Satria jatuh keras.
“Ketuaaa!” teriak para anggota Kelompok Ular Pembunuh yang hanya bisa menyaksikan pertarungan itu.
__ADS_1
“Kematian Demang Segara Gara akan aku balaskan!” teriak Rugi Sabuntel menggelegar lalu berlari kencang seperti anak beruang menuju ke posisi tubuh Gurat Satria.
Semua orang yang melihat kondisi itu sudah yakin bahwa Gurat Satria tidak akan selamat dari kematian karena tidak ada yang bisa menolongnya.
Di pinggir jurang, Toreh berdiri dengan memanggul peti kayu berisi harta yang telah berhasil dia selamatkan.
Slok! Bdak!
Ternyata Gurat Satria terselamatkan oleh lubang. Kaki Rugi tepat masuk ke dalam lubangnya sendiri di tanah yang tertutup oleh rumput. Seperti nasib Gurat Satria sebelumnya, Rugi langsung jatuh tengkurap ke tanah. Sama beruntungnya seperti Gurat Satria saat jatuh seperti itu, wajahnya tidak jatuh di kotoran kuda, karena memang tidak ada kotorannya.
Ingin rasanya para anggota Kelompok Ular Pembunuh itu tertawa, tetapi waktunya kurang tepat, karena mereka sendiri dan ketua mereka dalam kondisi yang mungkin perlu ditertawakan juga.
Rugi Sabuntel buru-buru bangun untuk menutupi malunya. Kedua keris pusakanya masih tergenggam di kedua tangannya.
Di sisi lain, Gurat Satria bangkit menggeliat dengan gestur tubuh yang sangat lemah.
Rugi Sabuntel berlari dengan terpincang, sepertinya ada masalah pada kakinya yang tadi terperosok di lubang.
“Ketua awaaas!” teriak Ronggolate dari tempatnya duduk.
Mendengar teriakan itu, Gurat Satria celingukan memandang ke atas, seolah-olah serangan atau teriakan tadi datang dari sisi atas.
Padahal, Rugi Sabuntel sudah menggelindingkan tubuhnya seperti drum di tanah mendekati kedua kaki Gurat Satria yang gemetar.
Sekk!
“Hekr!” erang Gurat Satria dengan mata melotot dan mulut mencong seperti zombi, saat dia merasakan perutnya sangat sakit ditusuk oleh sesuatu yang lancip.
Sebelumnya, Rugi Sabuntel berhenti berguling di depan kaki Gurat Satria dan langsung menusukkan Keris Ratu Bintang ke perut lawannya itu.
Gurat Satria berdiri gemetar hebat dengan darah hitam keluar dari mulut, hidung, telinga, mata, terutama pada perut yang ditusuk.
Rugi Sabuntel kembali berguling menjauh sambil menarik kerisnya dari perut Gurat Satria. Darah hitam deras mengucur keluar dari lubang di perut.
Duk! Blek!
Gurat Satria jatuh terlutut, lalu wajahnya ambruk merumput, tapi tidak bangun lagi.
Semua anggota Kelompok Ular Pembunuh hanya diam berduka menyaksikan kematian ketua mereka.
Rugi Sabuntel lalu bangkit berdiri. Dia berjalan untuk memungut Pedang Petir Naga yang tergeletak di rumput. Rugi Sabuntel berjalan terpincang.
Drap drap drap!
__ADS_1
Terdengar suara lari kaki kuda yang kencang. Rugi Sabuntel dan mereka yang masih bernyawa, melemparkan pandangan ke arah sumber suara lari kuda yang hanya seekor. Ternyata itu kuda yang ditunggangi oleh Nyi Unyu.
Melihat siapa yang datang, tersenyumlah Rugi Sabuntel. Seolah-olah dia lupa dengan istrinya. (RH)