Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 35: Hukuman Kupu-Kupu Petir


__ADS_3

*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


 


“Pendekar Gendut suami Rambati datang! Pendekar Gendut suami Rambati datang!” teriak satu orang warga Kampung Ular yang datang berlari dari luar kampung yang penuh ukiran itu.


Teriakan itu membuat warga Kampung Ular terkejut dan segera berkeluaran bagi mereka yang di dalam dan segera berkumpul bagi mereka yang bercerai.


Sebagian dari mereka ada yang dalam kondisi masih sakit, sisa luka yang mereka derita saat mengeroyok Rugi Sabuntel.


Gamak Pera keluar dengan memapah dirinya menggunakan dua tongkat kayu di ketiaknya. Sementara Ronggolate berjalan terpincang dengan satu tongkat pendek.


Kin Anti yang juga masih terluka ikut keluar dengan dibantu suaminya yang berondong mengkel. Waktu pergi menyerbu Rugi Sabuntel, suaminya tidak ikut dengan dalih masa perawatan kulit wajah.


Berbeda dengan Toreh yang segar bugar. Dia kini adalah Ketua Kelompok Ular Pembunuh.


Sepulang dari pertarungan dan setelah memakamkan Gurat Satria dan rekan-rekan yang tewas, warga Kampung Ular wajib memilih pemimpin baru karena mereka harus terpimpin.


Tidak berapa lama setelah mereka berkeluaran, dari arah luar yang menuju ke gerbang kampung muncul seekor kuda yang menarik sebuah pedati. Saisnya tidak lain adalah Rugi Sabuntel, pengantin baru yang sudah menduda sebelum malam pertama bersama istri. Maksudnya, dia menduda setelah menikah, bukan duda baru pengantin baru. Semoga tidak salah paham.


Belum juga Rugi dan pedatinya melewati gapura gerbang kampung, tiba-tiba ada yang berteriak keras.


“Rambati mati, Ketua! Rambati mati!” teriak seorang lelaki yang nangkring di atas pohon tinggi di luar batas kampung. Posisinya yang di atas pohon bisa melihat dengan jelas muatan pedati Rugi Sabuntel.


“Apa?!” pekik Toreh terkejut bukan main. Seketika wajahnya pias dan tanpa senyum.


Toreh buru-buru berlari kencang menuju gapura kampung. Para warga Kampung Ular yang sehat segera ikut berlari di belakang Toreh.


Belasan orang jadi menghadang laju pedati tepat di depan gapura.


“Rambati anakkuuu!” teriak Toreh begitu kencang dan serak saat melihat jelas ke bak pedati. Di sana tergeletak mayat Rambati dan satu wanita lain yang juga mereka sangat kenal.


Lelaki bertubuh tinggi besar itu langsung meraih jasad putrinya dan memeluknya kencang tanpa takut dengan noda darah yang sebagian sudah kering.


“Aaakkrr...!” teriak Toreh keras dan panjang, seiring tangisnya pecah. “Rambatiii!”


Terdiam semua orang, membiarkan Toreh eksis sendiri. Tangis sang mertua membuat Rugi Sabuntel ikut menangis lagi. Tangisnya kalem dengan bahu yang terguncang pelan.


“Rugi! Apa yang kau perbuat kepada putriku?!” teriak Toreh marah kepada Rugi Sabuntel.


Sing!


Toreh bergerak cepat melepaskan jasad putrinya dan mencabut pedang kecilnya. Dia langsung menyerang Rugi Sabuntel.

__ADS_1


Karena Toreh sudah berteriak sebelum menyerang, Rugi Sabuntel bisa cepat melompat dari posisi kusirnya menghindari tebasan pedang.


Jleg!


Ketika kedua kaki Rugi Sabuntel mendarat di tanah, sebagian besar warga Kampung Ular ramai-ramai loncat di tempat. Mereka takut. Mereka menduga Rugi Sabuntel mengeluarkan ilmu Pendaratan Dewa Goyang.


“Menantu keparat! Tega-teganya kau membunuh istrimu sendiri!” maki Toreh lalu berkelebat menyerang menantunya dengan tendangan bertenaga dalam tinggi.


Dak dak!


Dengan tangkas tangan besar Rugi menangkis dua tendangan keras Toreh.


“Hentikan, Ayah Mertua! Bukan aku yang membuat istriku mati! Aku juga kehilangan! Aku lebih sedih! Aku ditinggal mati saat aku belum malam pertama! Perasaanku lebih hancur! Huuu...! Kenapa Ayah Mertua justru menuduhku! Huuu...!” teriak Rugi Sabuntel penuh emosional yang berujung dia menangis seperti anak kecil, tapi tidak turun duduk di tanah.


“Rambati anakku satu-satunya. Anakku itu perempuan dan cantik. Kenapa tiba-tiba sudah mati?” kata Toreh sambil menunjuk Rugi dengan ujung pedangnya.


“Aku juga sangat mencintai istriku yang cantik seperti bayi itu. Aku juga tidak mau istriku mati. Jangankan melalui malam pertama, menciumnya saja belum pernah. Ciuman pertamaku justru saat istriku jadi mayat. Huuu!” kata Rugi Sabuntel lalu menangis tersedu-sedu.


Mendengar pengakuan Rugi Sabuntel, ditambah irama tangisnya, sejumlah hati dari warga Kampung Ular tersentuh dan terenyuh. Demikian pula dengan Toreh.


Lelaki besar itu harus mengakui, dia terlalu cepat langsung menuduh Rugi. Kemarin, dia melihat putrinya dan Rugi sangat mesra. Mereka berdua terlihat saling mencintai sebelum kemudian berpisah. Tidak disangka, ternyata perpisahan di pinggir jurang itu berlanjut ke dalam perpisahan selamanya.


“Wanita itu yang membunuh Rambati. Kakak dari Ketua Kelompok Ular Pembunuh!” tandas Rugi Sabuntel dengan ekspresi lebih kepada marah.


Toreh menengok ke bak pedati. Demikian pula yang lainnya. Mereka memandangi lagi mayat wanita satunya, yang mereka kenal, tetapi belum mereka tanya. Maksudnya bertanya kepada Rugi, bukan kepada mayatnya. Semoga bisa dipahami.


“Istriku dan wanita itu ditemukan oleh warga Desa Buangsial dalam kondisi sudah sama-sama mati,” jelas Rugi yang sudah kembali ganteng setelah berhenti dari tangisan ekstremnya yang pakai teriak-teriak.


“Pedang yang ada tubuh Rambati adalah milik Gura Kawini, Ketua,” kata Kin Anti yang merangsek mendekati bak pedati. “Sepertinya Gura Kawini juga mati oleh Rambati. Dia mati oleh ilmu Kupu-Kupu Petir.”


“Tapi, kenapa mereka bisa saling bunuh?” tanya Toreh dengan suara lirih yang bergetar.


“Saat aku pulang, Rambati sudah tidak ada. Katanya dia pergi menyusulku karena aku telat pulang. Aku cepat menyusul, tetapi istriku sudah mati,” kata Rugi sedih.


“Jadi, Gura Kawini membunuh Rambati karena membalas dendam atas kematian adiknya. Namun, dia seharusnya belum tahu, kecuali....” Toreh memandangi warga Kampung Ular satu per satu, seolah-olah sedang mencari seseorang.


Melihat gestur Toreh, Kin Anti bisa menerka apa yang dimaksud oleh ketua baru mereka.


“Siapa di antara kalian yang pergi memberi tahu kematian Ketua kepada kakaknya?!” teriak Kin Anti kencang dan lantang.


Terdiam semua warga Kampung Ular. Namun, ada satu pemuda yang warna mukanya agak pias dan dahinya mendadak berkeringat halus, padahal cuaca hutan sejuk di senja itu. Perubahan warna muka itu tertangkap oleh Gamak Pera.


“Endet!” panggil Gamak Pera.

__ADS_1


Pemuda yang sedang fokus memandang kepada Toreh, jadi terkejut saat namanya dipanggil. Sontak dia memandang kepada Gamak Pera yang berdiri dengan dua tongkat menopang kedua ketiaknya. Raut wajahnya seketika berubah kian ketakutan. Semua memandang kepada pemuda yang bernama Endet.


“Kau yang memberi kabar kematian Ketua kepada kakaknya?” tanya Gamak Pera dingin, tapi seperti mematikan jantung Endet.


“A-a-aku hanya di-di-diajak Kampi,” jawab Endet tergagap, menyebut nama lain.


Maka pandangan mereka pun tertuju kepada sesosok wanita muda berpedang di punggung. Dia sikapnya lebih tenang dibandingkan Endet.


“Aku yang memerintah mereka untuk memberi kabar kepada Gura Kawini tentang kematian Ketua!” sahut satu orang lelaki tiba-tiba, sebelum Gamak Pera bertanya kepada wanita yang bernama Kampi.


Maka semua orang beralih memandang kepada Ronggolate.


Ronggolate mengaku karena dia yakin namanya sudah pasti akan disebut oleh Endet atau Kampi.


“Keparat kau, Ronggolateee!” teriak keras Toreh tiba-tiba sambil langsung melompat mendatangi Ronggolate yang kondisinya sedang pincang satu kaki.


Tek tek!


Ronggolate terkejut. Dia cepat menangkis serangan pedang Toreh dengan tongkat kayunya. Tongkat itu ditebas putus dua kali.


Kondisinya yang pincang, membuat Ronggolate kelabakan karena kuda-kudanya tidak ada. Dia terdorong ke belakang hendak jatuh. Seiring itu, warga lain kompak bergeser menjauh.


Bak!


Sebelum Ronggolate jatuh, satu tendangan Toreh sudah lebih dulu menghantam dadanya, memaksanya jatuh terjengkang lebih cepat.


Zerzz!


Tiba-tiba warga di sekitar bergerak lebih menjauhi Ronggolate karena di udara telah muncul enam kupu-kupu sinar merah bermuatan listrik sinar kuning. Mereka semua tahu bahwa itu adalah ilmu Kupu-Kupu Petir.


Melihat itu, Ronggolate terbeliak terkejut. Buru-buru dia bangkit dengan susah payah karena hanya satu kakinya yang bisa memijak.


Zerzzz!


“Aaakk!” jerit Ronggolate kencang, ketika keenam kupu-kupu sinar yang melayang di udara melesatkan aliran sinar kuning seperti listrik ke tubuhnya.


Ronggolatge kejang sambil jatuh lagi ke tanah. Durasi sengatan itu tidak sampai setarikan napas, tetapi membuat Ronggolate terkulai lemas dengan tubuh langsung berasap tipis.


Zerzzz!


“Aaakk...!” jerit panjang Ronggolate dengan tubuh kembali kejang hebat.


Namun, setelah itu, Ronggolate berhenti menjerit dan tubuh berhenti bergerak dengan kondisi hangus, bahkan ada api-api kecil yang muncul di pakaiannya. Sepertinya kekuatan Kupu-Kupu Petir milik Toreh lebih besar dibandingkan milik putrinya.

__ADS_1


Ronggolate pun tewas sebagai hukuman atas tindakan besar yang dilakukannya tanpa sepengetahuan Ketua dan Kelompok. (RH)


__ADS_2