RUMOR PERMAISURI SANG IBLIS PERANG

RUMOR PERMAISURI SANG IBLIS PERANG
43


__ADS_3


entah mengapa hati jendral pang merasa sangat resah seperti akan ada hal buruk yang akan menimpa ara lie, jendral pang langsung bergegas menuju kamar putri nya, jendral pang tidak ingin ada hal buruk yang akan menimpa putri tersayang nya apa lagi kondisi ara lie saat ini sedang lemah dan pasti banyak musuh yang sedang mengincar dirinya.


saat jendral pang akan membuka pintu kamar ara lie, jendral pang mendengar suara selir bai yang sedang berbicara kepada ara lie, awalnya jendral pang ingin langsung masuk namun saat mendengar selir bai mengucapkan nama mendiang istri nya, jendral pang mengulur waktu untuk membuka pintu terlebih dahulu dan mendengarkan nya dengan seksama


"ayah mertua apa yang sedang anda lakukan di depan pintu? mengapa tidak masuk kedalam?" tanya juan xi melihat jendral pang di depan pintu kamar ara lie


"yang mulia" kaget jendral pang


"iya ayah mertua tadi saya bertanya, mengapa anda tidak masuk kedalam?" tanya juan xi lagi


"di dalam sedang ada selir hamba yang mulia, coba kita dengarkan apa yang akan dia katakan" jelas jendral pang


jendral pang dan juan xi terus mendengarkan ucapan selir bai yang di berikan kepada ara lie, setiap kata yang terucap dari selir bai mampu menusuk tubuh jendral pang, jendral pang bagai tertimpa hujan panah dan hati nya di penuhi dengan amarah yang sangat menggebu gebu ketika tahu bahwa wanita yang dia angkat menjadi selir di kediaman miliknya itu adalah orang yang telah membunuh istri tercintanya, bertahun tahun jendral pang mencari kebenaran di balik kematian istri tercintanya itu, dan ternyata selama ini pelakunya ada di dalam kediaman milik nya lebih parahnya sang pelaku hidup nyaman di dalam kediaman milik nya, dengan segala fasilitas yang jendral pang sediakan.


jendral pang tak sanggup lagi menahan amarah di dadanya, jendral pang membuka kasar pintu kamar ara lie, brak!! melihat selir bai memegang botol racun dan dengan meminumkan nya kepada ara lie.


selir bai sangat terkejut dengan kedatangan jendral pang, belum sempat selir bai menyembunyikan botol racun di tangan nya, jendral pang sudah berada di depan selir bai.


"tu tuan" gagap selir bai melihat suaminya, kemarahan terlihat jelas di wajah jendral pang, amarah jendral pang tidak dapat terbendung lagi, apa lagi melihat apa yang sedang di lakukan selir bai, jendral pang langsung plak!!


"apa yang sedang kau lakukan kepada putri ku!" teriak jendral pang langsung mendaratkan tamparan di pipi mulus selir bai


"ini tidak seperti yang tuan lihat" elak selir bai ketakutan

__ADS_1


"aku mendengar semuanya" ucap jendral pang dengan tatapan membunuh kearah selir bai


"sayang kamu tidak apa apa?" tanya juan xi mencoba membangunkan ara lie dengan perasaan yang di penuhi rasa kekhawatiran kepada ara lie


"aku tidak apa apa suami ku" jawab ara lie membuka mata nya, juan xi sangat bersyukur permaisuri nya dalam keadaan baik baik saja namun tetap tidak bisa menerima niat buruk dari selir bai


"berni beraninya kau berniat mencelakai permaisuri ku!" ucap juan xi menatap tajam selir bai.


"aku sangat membenci wanita jal**g itu" ucap selir bai dengan penuh kebencian melihat ara lie yang di lindungi oleh jendral pang dan juga juan xi, selir bai sudah tidak perduli lagi akan kebenaran yang telah jendral pang ketahui


"lancang, plak!!" jendral pang menampar selir bai lagi.


"aku sangat membenci dia, dia sama seperti ibunya dan aku juga sangat membenci kalian semua!" teriak selir bai


"apa yang sedang terjadi ayah?" tanya putri sie sie yang baru datang bersama dengan yang lain nya mendengar keributan dari dalam kamar ara lie


"ada apa ayah? mengapa ibu menjadi seperti ini?" tanya putri sie sie melihat ke arah ayah nya.


"ibu mu itu yang telah membunuh mendiang permaisuri ku dan dia juga berniat membunuh putri ku" jawab jendral pang geram melihat selir bai


"tidak mungkin ayah, ibu bukan orang seperti itu" ucap putri sie sie tidak percaya mendengar perkataan ayah nya


"tanya kan saja kepada ibu mu" ucap jendral pang


"ibu katakan ,semua itu bohong kan" desak putri sie sie penuh harap

__ADS_1


"semua yang dia katakan benar sie sie, aku sudah sangat muak melihat anak dari wanita itu bahagia, aku sangat membenci dia dan juga ibu nya" ucap selir bai tidak perduli.


jendral pang sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi, jendral pang membawa selir bai menuju penjara kerajaan untuk menunggu hukuman yang akan di berikan kepada selir bai.


hari ini raja akan menetapkan hukuman kepada selir bai, yang telah membunuh permaisuri jendral pang dan juga berniat jahat kepada putri mahkota kerajaan.


semua orang berkumpul di lapangan eksekusi, rakyat dan para bangsawan lain nya menatap sinis selir bai yang berada di tengah tengah mereka, cemoohan demi cemoohan terlontar ke arah selir bai


"selir bai, gelar mu saat ini telah di cabut oleh jendral pang selaku suami mu, dengan kejahatan yang telah kau lakukan, kau akan di jatuhi hukuman penggal" teriak mentri hakim


"ampun yang mulia saya ingin meminta sesuatu" ucap jendral pang kepada raja


"silahkan jendral" kata raja


"hamba ingin mengeksekusi nona bai sendiri" ucap jendral pang


"aku tidak bersalah tuan" ucap selir bai ketakutan melihat jendral pang sudah siap akan mengeksekusi nya


"kau harus membayar perbuatan mu, aku tidak menyangka kau bisa sejahat itu dengan wanita yang telah menganggap diri mu seperti adik kandung nya sendiri" sinis jendral pang menatap selir bai


"dia telah merebut mu dari ku apa itu yang namakan saudara" elak selir bai


"seharusnya kau sadar, kau lah yang telah memaksa masuk kedalam rumah tangga kami" ucap jendral pang muak.


"putri ku tolong ibu nak, percayalah kepada ibu" kata selir bai memohon kepada putri nya saat melihat kearah putri sie sie, namun putri sie sie tidak memalingkan pandangan nya sama sekali ke arah ibu kandung nya itu, putri sie sie sangat kecewa dengan apa yang telah di lakukan oleh ibu kandung nya

__ADS_1


jendral pang langsung menebas leher selir bai hingga kepala nya ter gelinding begitu saja, putri sie sie yang melihat itu langsung menangis histeris, dia sangat menyayangi ibunya tentu putri sie sie sangat sedih saat harus kehilangan selir bai, namun putri sie sie juga tidak bisa membenarkan perbuatan yang telah di lakukan oleh ibu nya itu, putri sie sie hanya bisa memohon agar ayah nya dapat memberi izin untuk bisa memakamkan ibu nya dengan layak di dalam kediaman mereka.


🍁


__ADS_2