RUMOR PERMAISURI SANG IBLIS PERANG

RUMOR PERMAISURI SANG IBLIS PERANG
44


__ADS_3


hari baru yang indah terasa nyaman dan sangat tenang, sinar mentari yang bercahaya menghangatkan setiap makhluk yang ada, sepoyan pelan angin secara perlahan melewati apapun yang ada di hadapan nya meninggalkan kesan sejuk nan damai.


perasaan lega, tenang dan bahagia sedang menyelimuti hati ara lie, akhirnya semuanya telah selesai, tidak ada lagi ketidak adilan yang terlepas dari hukum nya, secercah harapan muncul dari dalam lubuk hati ara lie


"sayang" ucap juan xi memeluk tubuh istrinya dari belakang


"iya sayang" jawab ara lie melihat wajah tampan suami nya


"kau sedang apa duduk termenung di sini?" tanya juan xi


"aku sedang menikmati suasana yang indah dan nyaman hari ini sayang, aku sangat bahagia akhirnya semuanya telah selesai" jelas ara lie


"ada satu hal yang belum selesai sayang" ujar juan xi


"apa itu sayang, bukan kah semua orang telah mendapatkan hukuman atas apa yang telah mereka perbuat" kata ara lie tak mengerti


"kita belum menemukan solusi untuk yang ada di sini" ucap juan xi sambil mengelus perut rata ara lie, ara lie terdiam


"sampai kapan kediaman kita ini sunyi sayang, aku merasa kediaman kita justru terlalu tenang alangkah baik nya jika kita segera memberikan cahaya untuk kediaman kita ini" ucap juan xi dengan mata memohon


"kau tau suami ku, sejujurnya aku masih mengingat tentang anak kita, namun aku juga ingin memikirkan tentang permintaan mu itu" kata ara lie lembut


"maaf kan aku" juan xi sedih mengingat apa yang terjadi kepada anak nya dulu


"sudah lah, bukan maksud ku mengingat kan, mari kita berusaha agar akan ada lagi juan xi kecil di sini" bujuk ara lie sambil memegang perut rata milik nya


"terimakasih permaisuri ku, aku berjanji tidak akan ada lagi kejadian seperti dulu" ucap juan xi mantap


"terimakasih juga untuk suami ku"


juan xi dan ara lie sangat bahagia dengan kehidupan mereka saat ini, walaupun begitu juan xi tetap tidak akan menyepelekan tentang masalah keselamatan ara lie, karena juan xi adalah calon raja tentu masih banyak musuh musuh nya yang lain yang akan terus mengawasi kehidupan milik nya, apa lagi semua orang tahu bahwa ara lie adalah kelemahan terbesar milik nya.


jendral pang sangat bersyukur setelah mengetahui siapa dalang di balik kematian mendiang istri nya, walau pun jendral pang juga bersedih untuk putri sie sie yang harus kehilangan ibu nya juga.


"putra ku bagaimana keadaan adik mu saat ini?" tanya jendral pang yang khawatir kepada putri kecil nya yang sedang sangat terpukul atas kematian ibu kandung nya


"jie jie sudah lebih baik ayah" jelas panglima min

__ADS_1


"mari kita melihat keadaan nya" ajak jendral pang


"baik ayah" jendral pang dan panglima min pergi ke kediaman putri sie sie


"ayah" sapa putri sie sie saat melihat ayahnya datang berkunjung


"putri ku, bagaimana kabar mu?" tanya jendral pang memeluk putri nya


"aku sangat baik ayah, terimakasih karena sudah mau mengunjungi diriku" ucap putri sie sie


"kau bicara apa nak, tentu ayah akan datang berkunjung kau putri kandung ayah" ucap jendral pang


"aku takut ayah akan membenci diriku, karena aku tahu, aku di lahirkan atas dasar kesalahan ibu yang ingin masuk kedalam rumah tangga ayah dan juga permaisuri secara paksa" jelas putri sie sie sedih


"tidak nak, ayah tidak akan pernah membenci dirimu, walaupun ayah tahu tentang kesalahan yang di lakukan ibu mu namun itu salahnya bukan kesalahan mu,jadi kau tidak perlu takut putri ku, sampai kapan pun dirimu akan selalu menjadi putri ku" kata jendral pang tulus


"terimakasih ayah, dan gege tolong maafkan atas kesalahan ibu ku terhadap permaisuri dulu" ucap putri sie sie kepada kakaknya


"aku sudah memaafkan nya, mari kita mulai hidup baru jie jie dan lupakan semua yang telah terlewatkan" senyum panglima min kepada adik kecilnya.


"terimakasih"


keluarga jendral pang sangat bahagia saat ini, jendral pang meminta putri sie sie untuk kembali ke kediaman jendral bersama dengan suami nya, namun putri sie sie tidak mau, karena dia ingin hidup sederhana bersama suami nya dan menikmati hidup layak nya rakyat biasa.


hari demi hari terlewat begitu saja, kehidupan yang di jalani ara lie terasa jauh lebih baik, setiap hari ara lie hanya akan di sibukkan dengan berkas berkas laporan tentang kerajaan dan beberapa bisnis bisnisnya saja


bisnis yang di jalankan ara lie sudah mulai berkembang pesat, bahkan saat ini sudah memiliki banyak restoran dan beberapa toko barang lain nya, bisnis yang di jalankan ara lie sukses menjadi tren di setiap tahun nya, bukan hanya dari kalangan bangsawan namun juga kalangan rakyat biasa juga.


ara lie yang sedang asik membaca isi berkas laporan di meja nya tiba tiba merasa kan sesak di dalam dadanya


"ada apa ini? mengapa terasa sangat sesak" lirih ara lie.


uhuk! ara lie batuk


"darah" ara lie sangat terkejut melihat dia batuk darah


"apa yang terjadi" gumam ara lie sangat bingung


"yang mulia, yang mulia kenapa?" tanya san san yang datang menghampiri ara lie yang terlihat bengong

__ADS_1


"tidak apa apa san san aku hanya sedikit lelah, bisa tolong ambilkan aku air hangat" ucap ara lie


"baik yang mulia" san san berlalu pergi meninggalkan ara lie


ara lie berfikir mungkin dia terlalu lelah jadi tidak harus memusingkan apa yang terjadi barusan.


di ruang makan, ara lie sedang makan malam bersama dengan juan xi, sesekali mereka bercanda di tengah tengah makan mereka.


"uhuk" ara lie batuk kembali dan melihat ada darah di tangan nya lagi, langsung saja ara lie menyembunyikan nya dari juan xi


"kau tidak apa apa sayang ku" ucap juan xi sambil memberikan minum kepada ara lie


"tidak sayang, terimakasih" ucap ara lie


"pelan pelan kalau makan agar tidak tersedak dan batuk lagi" tutur juan xi lembut. mereka melanjutkan makan mereka setelah selesai ara lie meminta untuk kembali kekediaman terlebih dahulu kepada juan xi karena merasa tubuhnya sangat lemas jadi memutuskan untuk beristirahat


tidur ara lie terganggu dengan kilauan sinar putih yang sangat terang menyilaukan matanya, ara lie membuka mata melihat banyak kabut putih di sekeliling nya saat ini


"zahra" ucap ara lie


"ara lie, aku di mana?" tanya zahra bingung melihat sekeliling nya


"kau berada di tempat mu, zahra maaf tubuh ku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi" ucap ara lie sedih


"jadi batuk darah yang aku alami hari ini?" tanya zahra menebak


"benar, tubuh ku setiap hari akan terus melemah zahra" ucap ara lie membenarkan


"apakah boleh kasih aku waktu lebih lama lagi" kata zahra memohon


"waktu mu hanya sampai sejauh mana tubuh ku dapat bertahan zahra, aku tidak bisa berbuat apa apa terhadap hal itu, karena sudah ada yang sedang menunggumu di dalam dunia mu" jelas ara lie lalu menghilang.


juan xi yang melihat tidur ara lie tidak nyaman langsung berusaha membangunkan nya


"sayang ada apa?" tanya juan xi saat ara lie sudah membuka mata nya


"sayang tolong peluk aku" lirih ara lie memeluk erat suami nya


"kau mengalami mimpi buruk sayang?" tanya juan xi memeluk erat istri nya, ara lie tidak menjawab hanya ingin juan xi memeluk dirinya saat ini

__ADS_1


"tenang lah itu hanya sebuah mimpi tidak perlu kau risau kan, jadi sekarang lebih baik peluk aku dan kita kembali tidur, aku merasa sangat lelah hari ini" ucap juan xi menenangkan ara lie.


ara lie sangat berharap jika semua itu hanya mimpi, namun sayang mimpi itu adalah fakta yang sebenar nya, ara lie memandang wajah juan xi yang sudah tertidur karena kelelahan dengan segala pekerjaan yang memenuhi waktu nya seharian. juan xi terlihat sangat damai dan tenang saat tertidur, setetes air mata jatuh di pipi ara lie, ara lie sangat berharap masih memiliki waktu lebih lama lagi agar dapat bersama dengan juan xi.


__ADS_2