Ruqyah

Ruqyah
Yang lebih bahaya dari dedemit


__ADS_3

"Akhirnya go publik juga siapa sebenarnya Pak Farid ini. Wuihhh, kenapa, Pak? Biar doi terkesan, ya?" Morgan menggoda.


"Nah, ini. Kenapa saya tidak mau memakai fasilitas dari orang tua saya. Selain karena itu bukan milik saya, saya juga gak mau orang menuduh saya yang macem-macem."


"Eeitt, jangan marah dulu, Pak. Kita cuma becanda kok. Jangan dimasukkan ke dalam hati."


"Masukan ke dalam ginjal aja pak biar langsung kebawa sama air kencing," timpal Iwan.


Mereka pun tertawa sambil menikmati sarapan bubur di depan alun-alun.


"Rumah bapak yang lama sama rumah Abah kan lumayan jauh, ya."


"Kenapa memangnya?"


"Gak apa-apa, sih. Oh, iya. Dulu kenapa milih ngontrak daripada tinggal bareng Abah?" tanya Morgan.


"Itu karena Abang saya masih tinggal bareng juga."


"Kenapa memangnya? Bukannya kalau tinggal bareng itu malah rame, ya?" tanya Morgan lagi.


"Secara, kakak iparnya pernah naksir bapak ya 'kan?" Iwan menjawab pertanyaan Morgan.


"Masa?" Morgan tidak percaya.


"Sudahlah. Ayo kita sarapan lagi. Ini kenapa berasa subuh terus ya?"


"Mau hujan kali, Pak."


Awan pagi itu memang gelap sama seperti saat subuh tadi. Angin pun terasa lebih dingin dari biasanya.


"Kalau begitu ayo kita pulang sebelum turun hujan."


"Pak, saya dan Pak Morgan pulang bareng soalnya masih ada perlu. Saya titip motor ya, Pak."


"Oh, begitu? Ya sudah. Hati-hati, ya, kalian."


Iwan dan Morgan segera pergi karena mereka takut hujan akan turun. Farid meminum teh hangat yang masih tersisa sedikit. Dia bangun lalu menghampiri penjual bubur untuk membayar.


"Berapa, Pak?"


"Sama sate juga, ya?"


"Iya, Pak. Bubur tiga. Satenya 12 tusuk. Satenya harganya sama kan?"


"Sama, Pak. Jadi sekian 54 ribu."


Baru saja Farid menerima kembalian dan hendak pulang, dia terpaksa menghentikan langkahnya saat sebuah motor berhenti di depannya dan menghalangi jalan.


"Aduh, basah kan. Hujannya kenapa gak bilang-bilang dulu coba. Duuuh."


Farid menatap wanita itu dengan hati yang tidak menentu dan juga geli mendengar ucapannya.


"Bagaimana caranya hujan bilang kalau dia mau turun?"


Wanita yang sedang mengibaskan bajunya yang basah pun menoleh. Dia pun sama terkejutnya dengan Farid saat melihat siapa yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Eh, Pak. Ada di sini?"


"Enggak, saya di rumah."


"Ini siapa? Jin, ya?" tanyanya polos.


Farid tertawa.


"Mau beli bubur?" tanya Farid.


"Bukan, saya mau beli bensin, Pak. Motor saya lapar. Eh, enggak maksudnya itu dia yang bawa motor."


"Siapa?" tanya Farid sambil menunjuk dengan dagunya.


"Dia adik suaminya saya. Imam namanya. Tenang, Pak. Dia bukan siapa-siapa, kok."


"Gak ada urusannya sama saya."


"Ya, enggak, sih. Tadi bapak nanya gini ...." Khadijah memperagakan sikap Farid saat bertanya tentang laki-laki yang membonceng Khadijah. Menunjuk dengan dagu dan ekspresinya terlihat seperti kekasih yang sedang cemburu.


"Oh, maaf. Tadi saya tidak sopan."


"Bukan gak sopan, tapi keliatan cemburu, Pak."


Farid membelalakan mata sambil menunjuk dirinya sendiri seolah berkata "Aku?"


"Neng, mau beli bubur?"


"Iya, Pak."


"Hah?"


Farid tersenyum. Khadijah melirik dengan kesal.


"Gara-gara ngobrol aja, sih. Udah, ah. Aku balik ke rumah ibu. Males nanti kena omel Abang."


Imam yang membonceng Khadijah pun pergi meninggalkan Khadijah. Marah? Tidak. Mengejar? Tidak. Khadijah hanya diam dengan senyuman yang dilaksanakan. Entah sedang menutupi rasa sedihnya atau menutupi rasa malunya pada Farid karena diperlukan seperti itu oleh adik iparnya sendiri.


"Mau hujan, saya antar pulang."


"Jangan, Pak. Nanti takut ada fitnah. Bagaimanapun juga saya istri orang, dan bapak suami orang."


"Kamu memang istri orang tapi saya bukan suami siapa-siapa."


Khadijah menoleh dengan cepat.


"Maksudnya?"


"Istri saya sudah meninggal sesaat setelah melahirkan putri kami."


Khadijah menutup mulutnya yang terbuka. Matanya pun ikut membulat.


"Ma-maaf, Pak. Saya tidak tahu. Innalilahi wa ini illaihi rojiun."


"Gak apa-apa. Ayo saya antar pulang. Jika takut ada fitnah, kamu duduk saja di belakang."

__ADS_1


"Di belakang? Ya iya lah, Pak. Masa saya dibonceng naik motor duduknya di depan."


Farid ingin tertawa tapi dia tahan. Betapa geli saat terbayang bagaimana dia membonceng Khadijah di depan dengan menggunakan motor besar miliknya.


Khadijah terdiam saat Farid membuka pintu mobil untuknya. Dia tidak menyangka sama sekali jika ini adalah mobil milik ustad yang selalu memakai baju sederhana dan motor butut miliknya.


"Mau masuk atau gimana?"


"Eh, iya."


Khadijah segera masuk dan duduk di bangku belakang, sementara Farid menyetir.


Di dalam perjalanan mereka saling diam untuk beberapa lama. Hanya terdengar bunyi nafas yang dibuang dengan begitu berat dan Khadijah.


"Ada apa dari tadi buang nafas terus? Sesek?"


"Sedang membayangkan bagaimana nanti sampai rumah."


"Kenapa memangnya?"


"Saya pasti akan dimarahi."


"Sama suami?"


"Istri pertamanya."


Farid mengurangi kecepatan mobilnya begitu mendengar apa yang baru saja Khadijah katakan. Dia melirik Khadijah sekilas meski tidak terlihat sama sekali.


"Mereka sudah resmi menikah lagi dan tinggal bersama kami. Emmm, lebih tepatnya saya yang nebeng di rumah mereka."


Tidak ada yang bisa Farid katakan meski dia ingin sekali bertanya, kenapa tidak cerai.


"Jika bukan karena uang, saya tidak mau menikah dengan Mas Wawan. Waktu itu saya butuh uang buat bayar hutang bapak saya. Lucu sebenarnya, jika dulu saya hanya melihat di sinetron dan membaca di novel, tapi saya mengalami sendiri. Menikah demi membantu orang tua membayar hutang. Hutang pada juragan rentenir. Ngeri banget kan?"


Hari Farid merasa panas mendengar curhatan Khadijah. Logika, hati dan imannya beradu pendapat. Ditambah bisikan setan yang mungkin saat ini sedang gencar menggoda Farid untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas. Seperti berkata, minta cerai saja darinya, aku yang akan menanggung hidupmu.


Ada satu rasa bangga dalam hati Farid terhadap Khadijah, dia bercerita seperti tidak ada beban berat yang menimpanya. Tidak ada air mata sama sekali. Namun, tangannya bergetar.


Terlihat kecemasan yang besar dari wajah Khadijah saat dia turun dari mobil Farid dan berdiri di depan gerbang pagar rumah suaminya.


"Makasih, Pak. Maaf saya tidak bisa mengajak Bapak mampir, soalnya bukan saya nyonya rumah ini."


Aku akan memberikan rumah di mana kamu adalah satu-satunya nyonya di rumah itu, Khadijah.


"Astaghfirullah!" Farid mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kenapa, Pak? Bapak lihat jin di rumah ini, ya?" tanya Khadijah sambil melihat ke belakang tubuhnya, melihat sekeliling dengan polos dan rasa takutnya.


"Lebih menakutkan dari jin, Khadijah."


"Masa?" Khadijah semakin terlihat ketakutan.


"Makanya, segera masuk dan tutup pintunya rapat-rapat. Kalau bisa tutup juga wajah kamu biar gak ada SETAN dan IBLIS yang tergoda," ucap Farid sambil menekan suaranya saat mengatakan setan dan iblis.


Khadijah mengangguk, lalu segera masuk ke dalam.

__ADS_1


Farid tertawa melihat sikap wanita itu. Sejenak kemudian dia terdiam sambil terus meminta ampun pada Allah SWT.


__ADS_2