
"Biar ibu yang menyelesaikan sisanya, kamu jemput Hanifa aja."
"Oh, iya. Sebentar lagi dia pulang. Ya udah, Bu, Dijah pamit ya. Ibu gak apa-apa kan ditinggal sebentar?"
Ibu tertawa. "Ibu ini bukan anak kecil, Nak."
"Hehe. Ya sudah, Dijah pergi, Bu. Assalamu'alaikum."
ibu menjawab salam Khadijah seraya tersenyum. Ibu menatap Khadijah hingga wanita itu pergi.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau berikan anakku jodoh yang terbaik."
"Baik menurut kita, belum tentu menurut Allah, kan, Bu?" tiba-tiba Anita datang sambil membawa gelas.
"Insya Allah dia baik karena kiai tidak mungkin memilih istri yang sembarangan untuk Farid."
"Kiai juga manusia, Bu. Belum tentu semua benar."
Ibu yang sedang membersihkan kangkung, langsung terdiam. Dia membalikkan badannya lalu menatap Anita.
"Nita ... sikapmu ini jangan sampai membuat orang lain tahu terutama Hasan."
"Maksud ibu?"
"Ibu dan Khadijah tau kalau kamu memiliki perasaan yang tidak seharusnya untuk Farid. Selama ini ibu diam karena tidak ingin membuat keributan. Tapi jika sikapmu seperti ini terus, orang lain bisa curiga. Satu hal lagi ... jika Hasan sampai tau dan dia terluka, maka ibu tidak akan memaafkan kamu."
Dengan nada yang lembut tapi menusuk, ibu berhasil membuat Anita terdiam seribu bahasa. Wanita itu bahkan kesulitan meski hanya meneguk air putih.
Ibu kembali mencuci kangkung dan merapikan sayurannya di wadah sesuai petunjuk Khadijah. Niat ingin menyiapkan bahan untuk makan siang pun ibu tunda karena hatinya sedang tidak baik-baik saja. moodnya hilang seketika saat mengingat Hasan anaknya. Ibu merasa cemas dan takut suatu saat Hasan tau bagaimana istrinya membuat ibu memilih kembali ke kamar.
"Nenek mana ya? Kok gak keliatan?" Hanif mencari neneknya saat pulang sekolah.
"Di dapur, tadi nenek sedang merapikan sayuran."
Hanifah pergi, dari dalam dapur dia berteriak mengatakan bahwa neneknya tidak ada di sana. Penasaran, Khadijah pun menyusul anaknya.
Saat melihat sayuran dan bahan makanan lain masih ada di meja, Khadijah merasa heran dan khawatir.
"Ibu di mana, ya?" gumamnya.
Khadijah menggandeng tangan Hanifah lalu pergi menuju kamar. Perlahan dia mengetuk pintu sambil memanggil ibu.
Pintu terbuka dan yang ada di sana adalah bapak.
"Ibu sedang tidak sehat, dia sedang istirahat."
"Hah? Tadi pagi ibu baik-baik aja kok. Kenapa jadi sakit? Ibu sakit apa, Pak? Dijah boleh lihat? Tau gitu tadi Dijah jangan ngajak ibu ke pasar, pasti kecapean."
"Biarkan saja ibu istirahat."
"Ya sudah, Pak. Tapi kalau butuh apa-apa segera panggil Dijah, ya."
"Iya, Nak."
Khadijah membawa Hanifah menuju kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai, dia mengajak anaknya ke dapur dan menemani dia memasak. Sesekali Hanifah membantu Khadijah meski hanya sekedar mengupas bawang merah dan putih.
Drrrttttttt
"Umi ponselnya bunyi."
"Tolong ambil, sayang."
"Ini Abi nelpon."
"Angkat saja, umi tangganya kotor lagi nyuci ayam."
"Assalamualaikum, Abi ... oh, umi lagi masak ... ya udah iya."
Hanifah mendekati Khadijah. Lalu menempelkan ponselnya di telinga Khadijah.
__ADS_1
"Pencet tombol itu aja, Nak. Biar gak usah ditempat ditelinga Umi."
Loud speaker.
"Gimana, Mas?"
"Lagi apa, Sayang?"
"Ini mau masak. Habis jemput Hanifah sekolah."
"Oh ... Sayang, seperti mas gak bisa pulang cepet. Mas harus pergi ke suatu tempat. Ada yang butuh bantuan mas. Gak apa-apa, kan?"
"Oh, iya mas. Sampai jam berapa?"
"Gak bisa diprediksi, Sayang. Bisa cepet, bisa juga sampai malam."
"Oh, gitu. Iya gak apa-apa. Nanti kasih kabar aja sampai jam berapanya."
"Iya, Sayang, pasti."
"Ya udah ya, Mas. Aku mau masak dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Hanifah menyimpan ponsel Khadijah kembali di atas meja. Mereka berdua kembali sibuk dengan urusan masak memasaknya.
Azan berkumandang, masakan Khadijah sudah hampir selesai, tinggal menunggu sayu lodehnya matang.
Pukul 12.30, masakan sudah siap tersaji. Hanifah dan Khadijah pergi ke kamar untuk mandi dan solat. Setelah itu, mereka memanggil ibu, bapak, dan Anita untuk makan siang bersama. Tentu saja, Anita tidak keluar.
"Farid belum pulang?" tanya bapak.
"Mau merukiyah, Pak."
"Yang sabar, ya, Dijah. Farid terkadang pulangnya tengah malam. Kadang juga subuh."
"Iya, Bu. Dijah gak akan menghalangi niat mas Farid untuk membantu orang. Selama itu baik, Dijah akan mendukungnya."
Sayur lodeh, ayam goreng Kalasan, tempe mendoan, sambal dan lalapan menjadi menu makan siang hari ini.
Hanifah makan dengan lahap karena disuapi oleh Khadijah. Mereka makan satu piring bersama. Satu suap untuk Khadijah, lalu suapan berikutnya untuk Hanifah.
Pukul 15.30, selesai salat ashar Khadijah mengantar Hanifah pergi mengaji. Hanya tiga puluh menit saja. Setelah itu, Khadijah kembali memasak untuk makan alam selepas magrib nanti.
Ada urap, sambal ikan teri pakai kacang, ada tahu bacem dan telor dadar.
Makan malam usai, isya pun telah berlalu lama. Farid belum juga memberikan kabar kapan dia akan pulang.
Khadijah menunggu di ruang tamu, ditemani ibu dan bapak, Hasan dan juga Hanifah.
"Umi, aku ngantuk. Temenin bobo."
"Oh, sayangnya umi ngantuk? Ayo, umi bacain dongen ya."
Dengan lemahnya karena ngantuk, Hanifah mengangguk. Khadijah menggendong dan memeluk nya erat.
Setelah dibacakan kisah para nabi, akhirnya Hanifah tertidur. Khadijah keluar dan kembali ke ruang tamu. Rupanya yang lain pun sudah masuk ke kamarnya masing-masing.
Khadijah merapikan meja, ada cangkir teh, dan piring bekas makanan. Mencucinya hingga bersih. Merapikan meja makan, lalu kembali duduk di sofa sambil menonton televisi.
Khadijah melihat jam dindin, tidak lama kemudian dia melihat jam tangannya, masih sama.
Semakin lama Khadijah merasa matanya semakin berat, rasa kantuk itu sudah tidak bisa dia tahan. Namun, baru saja dia hendak tidur, dia kembali terbangun saat mendengar suara benda jatuh di depan rumah. Khadijah terperanjat kaget. Dia celingukan ke sana ke mari.
Wanita itu bangun dari tempat duduk, berjalan mendekati jendela. Menyingkap gorden lalu menyisir halaman. Tidak ada apa-apa.
Khadijah kembali menutup gorden. Saat gorden itu belum tertutup sempurna, Khadijah melihat sekelebat bayangan. Karena penasaran, dia kembali membuka gorden, namun tidak melihat apa-apa. Dia kembali menutup gorden dan pergi menuju sofa.
Dibukanya ponsel, melihat jam menunjukkan pukul 23.45,. dia membuka chat untuk menanyakan kabar suaminya.
__ADS_1
"Mas, masih lama? Hati-hati pulangnya, ya."
Chat terkirim. Masih centang dua berwarna hitam.
Khadijah merebahkan tubuhnya, di saat yang bersamaan suara benda jatuh yang cukup keras kembali terdengar. Saat itu bukan hanya Khadijah yang mendengar, tapi juga Anita yang keluar dari kamar.
"Apa sih berisik banget?" tanyanya kesal.
Khadijah menggelengkan kepala.
Anita berjalan cepat menuju pintu, dia membuka kunci dan membuka pintu lebar-lebar. Dia keluar untuk memeriksa, Khadijah mengikuti.
"Gak ada apa-apa. Apa sih tadi yang jatuh?" tanya masih dengan nada kesal.
"Aku pikir pot jatuh, tapi pot bunga di sini masih rapi. Apa jangan-jangan ...."
Anita menoleh.
"Jangan-jangan apa?" tanyanya kesal dan sedikit takut.
"Ada maling," bisiknya pelan. Raut wajah Anita yang semula terlihat kesal berubah menjadi kecemasan dan ketakutan. Merek saling menatap dengan jantung yang sama-sama berdegup kencang.
Brakkkkk!
"Arrghhhhh!" Anita dan Khadijah berteriak sambil saling berpelukan. Suara mereka membangunkan Hasan dan juga Bapak. Mereka berdua keluar untuk memeriksa apa yang tejadi.
"Ada apa?" tanya Hasan keluar dengan cepat. Hasan terlihat bingung karena dia baru saja bangun tidur.
"Kalian kenapa teriak tengah malam begini?" tanya bapak yang mengucek matanya.
Anita dan Khadijah perlahan saling melepaskan pelukan. Belum sempat mereka menjelaskan, mobil Farid datang. Anita dan Khadijah masih saling berpegangan karena masih syok.
Farid turun dari mobil untuk membuka pintu pagar. Dia melihat semua orang ada di luar, begitu pintu gerbang terbuka, Farid tidak langsung kembali ke mobil, dia menghampiri istrinya.
"Ada apa?" tanya heran. Khadijah melepaskan tangannya dari Anita, menghampiri Farid lalu memeluknya erat.
"Sayang, kenapa? kamu kenapa dingin banget?" tanyanya sambil mengusap punggung Khadijah. Melihat hal itu, Anita berbalik lalu kembali masuk melewati Hasan begitu saja.
"Tadi aku dan mba Anita mendengar suara benda jatuh, tapi setelah diperiksa tidak ada apa-apa. Kami kita itu maling, pas lagi diem ada kucing nabrak itu tuh." Khadijah menunjuk ember berisi air yang jatuh dari atas kotak kayu.
"Kami kaget terus teriak, akhirnya semua orang bangun."
Farid dan Hasan memeriksa halam rumah, tidak ada apa-apa. Mereka menyisir seluruh halaman, sementara bapak dan Khadijah masih berada di tempat yang sama.
"Kalian gak salah denger?" tanya bapak.
"Kalau hanya Dijah, mungkin iya salah denger, tapi ini berdua yang denger, Pak."
"Iya, sih."
Khadijah masih menunggu suami dan kakak iparnya kembali. Saat sedang melihat sekitar, mata Khadijah terdiam di satu titik.
Dia melihat seseorang sedang berdiri dan menatap ke arahnya. Wajahnya tidak jelas, tapi bisa dipastikan kalau dia sedang menatap ke arah rumah, entah siapa yang dia tatap karena ada Khadijah dan bapak di sana.
"Gak ada apa-apa." Farid dan Hasan datang. Khadijah melirik sekilas ke arah suaminya. Namun, saat matanya kembali ke tempat semula, orang tadi sudah tidak ada.
Khadijah merasa heran dan juga takut.
"Ada apa?" tanya Farid.
"Enggak, tadi kayaknya ada seseorang di sana." Khadijah menunjuk pojok pagar, di sana ada pohon rambutan tumbuh cukup besar.
Farid melihat arah yang. ditunjuk oleh istrinya. Dia mengambil nafas dalam-dalam.
"Ayo masuk, mungkin dia penasaran."
"Hmmm?" tanya Khadijah tidak mengerti. Farid menoleh sambil tersenyum.
"Ayo masuk, mas lelah."
__ADS_1
Khadijah mengangguk.