
Meski tubuh sudah terlentang, mata berusaha untuk terpejam, tetap saja Farid masih terjaga sampai detik ini. Berkali-kali dia melirik jam dinding, setelahnya dia menghela nafas, lalu kembali berusaha untuk tertidur.
Nihil.
Lelah berjuang untuk tidur tidak menghasilkan apa-apa, Farid keluar dari kamarnya menuju dapur. Dia memanaskan air untuk menyeduh kopi. Kadung tidak bisa tidur, mending gak perlu tidur sekalian, pikirnya.
Mendengar teko siul berbunyi, ibu Farid pun terbangun. Dia penasaran siapa yang ada di dapur tengah malam seperti ini.
"Nak?"
Farid yang sedang mengaduk kopi pun menoleh.
"Bu, maaf. Aku berisik ya sampai ibu bangun."
"Tidak. Ibu penasaran saja siapa yang malam-malam begini masak air. Loh, kenapa nyeduh kopi? Ini sudah larut."
Farid tersenyum. Kemudian dia duduk di meja makan diikuti ibunya yang duduk berhadapan.
"Gak bisa tidur, Bu."
"Ada masalah apa?"
"Gak ada apa-apa, Bu. Aku hanya tidak bisa tidur."
Ibunya tersenyum, lalu merapikan kerudung yang asal menempel di kepalanya.
"Tidak bicara pun, seorang ibu tau apa yang terjadi pada anaknya. Apa dia sakit? atau dia ada masalah? atau dia sedang bahagia, semua ibu merasakannya. Mereka diam karena menunggu anaknya bicara. Ibu juga sama, Farid."
Farid yang sejak tadi melihat kopi yang masih berasap, menoleh. Dia sengaja menghindari bertatapan mata dengan ibunya.
"Menurut ibu, aku kenapa memangnya?"
"Siapa dia?"
Farid menatap heran. Berusaha pura-pura tidak mengerti.
"Siapa wanita itu, Nak? Apa dia baik? Apa dia cantik?"
Farid menghela nafas.
__ADS_1
"Baik dan cantik pun rasanya percuma, Bu. Dia tidak akan bisa Farid gapai."
"Kenapa? Apa kamu malu? Atau kamu masih teringat pada ...."
"Karena dia istri seseorang ... Ibu." Farid menundukkan kepala. Air matanya jatuh begitu deras. Seperti air yang sudah lama dibendung dengan paksa.
"Astaghfirullah, Farid. Istighfar, Nak. Kamu--"
"Kau mohon, Ibu. Jangan marah, selama ini aku sudah berusaha untuk tetap diam. Memohon setiap malam agar Allah membalikkan hatiku. Rasanya sama. Setiap hari, perasaan ini semakin kuat. Ibu, aku harus bagaimana? Tolong ...."
Farid menjelaskan perasaannya pada sang ibu dengan terbata-bata.
Sakit? Sudah pasti. Tidak ada seorang ibu yang tidak ikut menderita saat melihat anaknya menderita. Wanita paruh baya itu tau jika anaknya sudah berusaha dengan kuat agar tetap berada di jalan Allah. Tidak melanggar dan tidak melakukan kesalahan, dan itulah yang menyebabkan anaknya pun harus menderita di saat yang bersamaan.
Haruskah dia marah?
Di sinilah kebijaksanaan seorang ibu diuji.
"Nak, kita tau bahwa semua yang kita terima, kita rasakan, kita lalui dan kita jalani di dunia ini adalah kehendak Allah. Semua terjadi atas izin Allah. Ibu bangga sama kamu karena meski sakit, kamu mempertahankan iman kamu dengan kuat. Nak, tetaplah Istiqomah di jalan Allah. Siapa tau ini merupakan ujian untuk iman kamu."
Farid menatap ibunya.
"Bu, almarhum istriku pun tahu tentang perasaan ini."
"Dia tau aku mencintai wanita lain, tapi dia bilang dia ikhlas. Dia mengatakan hal itu sebelum dia dijemput Allah."
"Astaghfirullah, Allahuakbar."
"Bu ...."
Farid menghampiri ibunya. Bersimpuh dan menangis sejadinya di kaki sang ibu. Mereka sama-sama menangis. Sementara di balik pintu sebuah kamar, ada seorang ayah yang ikut terluka hatinya.
Manusia memang tidak bisa menyalahkan hati yang memiliki rasa karena pemiliknya adalah Allah swt. Perasaan itu datang entah memang sebuah anugerah, ataukah rasa yang akan menghadirkan musibah. Ujian untuk keimanan manusia yang sudah berumah tangga.
Tidak ada yang menyalahkan Farid, terutama karena Farid sendiri sudah berusaha menahan diri semampunya. Hanya saja, rasa itu semakin hari semakin membuat dirinya menderita.
Pengadilan agama, entah siapa yang akan berpisah, atau entah siapa yang akan memulai kembali sebuah mahligai cinta.
Khadijah tidak berkata apa yang akan dia lakukan di pengadilan agama saat itu, dia hanya berkata bahwa tujuannya adalah pengadilan agama dengan derai air mata.
__ADS_1
Setelahnya, Farid hanya bisa menangis di tengah malam. Menangisi kesedihan yang dipancarkan mata Khadijah saat itu.
"Apa dia akan bercerai? Atau dia akan menyaksikan suaminya menikah lagi dengan sang mantan istri?" Begitulah praduga Farid.
Farid sudah bersiap dengan baju seragam dan tas kerjanya. Pergi menuju meja makan untuk sarapan. Meski ada pembantu di rumah ini, ibunya Farid tetap yang menyiapkan makanan untuk keluarganya. Tubuh yang sudah tidak muda itu terlihat sangat kelelahan. Selain makanan, Ibunya Farid juga tidak membiarkan pakaian suaminya dicuci atau diurus oleh pembantu.
"Bu, kenapa terlihat pucat? Ibu sakit?"
Wanita itu hanya tersenyum sambil membuatkan Farid teh manis.
"Ibu agak capek aja. Gak sakit, kok."
"Istirahat, Bu. Kan ada Bi Munah. Biarkan Bi Munah yang bekerja. Ibu istirahat saja."
"Seharusnya... di rumah ini ada penerus ibu kamu, Farid. Tidak semua pekerjaan rumah harus dikerjakan oleh pembantu. Ada beberapa hal yang memang harus istri yang mengurus. Kamu, sampai kapan mau dilayani ibumu yang sudah sepuh ini?"
Menelan roti selai cokelat seperti menelan lempengan baja panas. Sakit.
"Hanifah juga tidak mungkin terus dititipkan pada abangmu dan istrinya. Yaaa, meski mereka ikhlas dan senang, tapi bukankah itu hanya akan membuat kamu jauh dengan anakmu sendiri."
"Farid harus apa, Yah?"
"Menikah lagi. Ini sudah lama sejak istrimu meninggal. Hanifah sudah mau sekolah, dia perlu seseorang untuk mengurusnya dan itu tidak mungkin ibu kamu."
"Farid belum bisa untuk saat ini, jika Farid di sini merepotkan, Farid bisa kos atau ngontrak."
Ayah Farid menghela nafas berat karena tanggapan anaknya yang salah faham.
"Belum siap melupakan mendiang istri kamu, atau karena kamu sudah menjatuhkan hati pada wanita lain?"
Farid menatap ayahnya.
"Ayah tau perbicangan kamu dan ibu waktu itu. Ayah dengar. Nak, jangan siksa dan jangan menambah dosa. Salah satu cara agar kamu melupakan keduanya adalah menikah dengan wanita ketiga. Wanita lain. Jangan biarkan ibumu hidup kelelahan di masa tuanya tanpa ada menantu yang menjaga."
"Ada istrinya Abang. Suruh mereka kembali ke rumah ini saja."
Ayah Farid mengerutkan keningnya. Dia merasa heran karena Farid terus saja menimpali ucapannya. Tidak seperti dulu.
"Nak, maksud ayah baik. Ayah ingin kamu ada yang mengurus, ada yang menjaga. Ibu dan ayah ini sudah tua, kami hanya sedang menunggu panggilan dari Allah, menunggu malaikat menjemput. Jangan sampai saat kami pergi, kamu belum ada istri yang akan menemani kamu dan menjaga anak kamu. Itu maksud ayahmu, Nak."
__ADS_1
Farid semakin menundukkan kepala. Perasaannya campur aduk. Kesal, marah, sedih dan juga putus asa.
Ya Allah, tolong hamba.