
"Panaaaaa .... sakit! Lepaskan!"
Wanita itu terus meronta. Berusaha melepaskan tangan Farid yang menutupi kedua telinganya.
Sakit yang mendengung dan panas yang menusuk gendang telinga membuat wanita muda itu meronta-ronta.
"Masih mau saya siksa? Ayo, sampai kapan? Sampai kamu terbakar habis kah?"
"Ampuuun ...."
Farid mengabaikan ucapan wanita itu, dia terus membaca ayat Alqur'an sambil menutupi hidung pasiennya dengan jari telunjuknya.
"Iya, iya. Aku ampun. Aku akan jujur siapa yang mengirimku ke sini. Tolong, lepaskan," ucapnya sambil menangis lemah karena lelah disiksa oleh Farid.
Farid sedikit menjauh, wanita itu duduk bersila sambil menghadap Farid.
"Ayo, tadi bilang kamu akan jujur dan mengatakan semuanya. Katakan jika tidak ...."
"Iya, aku mau jujur. Istirahat sebentar, aku lelah."
Farid masih diam dan berusaha sabar. Sudah hampir satu jam dia bergelut dengan kemungkiran jin yang ada di dalam tubuh Elin.
"Ini semua gara-gara wanita ini mencet klakson."
Farid dan yang lainnya bingung.
"Iya, dia mencet klakson sama orang. Orang itu gak terima."
"Maksudnya orang yang mengirim kamu ke sini?"
Elin mengangguk.
"Dia gak terima disalip oleh wanita ini. Dia kesal karena menganggap wanita itu sombong bawa mobil klakson segala."
Farid mengangguk pelan. Dia mengerti apa yang jin di dalam tubuh Elin maksud.
"Siapa yang mengirim kamu ke sini?"
"Aku gak akan bilang, aku akan kasih penglihatan pada wanita ini saja."
"Ya, silakan. Tapi setelah itu kamu segera pergi dari tubuh ini. Mau saya bantu keluar atau saya panggil raja jin dari gunung Ciremai? Biar dia yang narik kamu keluar, gimana?"
"Jangan, jangan." Jin yang ada di dalam tubuh elin ketakutan begitu mendengar nama gunung Ciremai.
"Kenapa? Kamu takut?"
Elin memasang wajah memelas sambil mengangguk kecil.
__ADS_1
"Ayo baca syahadat dan keluar dari sana, akan saya bantu."
"Ya udah, iya."
Farid menuntun 'dia' membaca syahadat, lalu mengeluarkannya dari tubuh Elin.
Iri, dengki, hasad, dan penyakit hati manusia memang sangat berbahaya. Dia bisa membenci apa yang tidak seharusnya dibenci. Melihat dengan mata yang penuh amarah saat melihat orang bahagia. Merasa bahagia saat melihat orang sengsara.
Hanya perkara klakson saja, seseorang bisa menggadaikan iman demi memuaskan nafsu amarah.
Sedih? Sudah pasti. Tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan orang itu hanya karena tersinggung oleh suara klakson.
Niat hati pengendara hanya ingin memberitahu bahwa dia mau menyalip. Mungkin jika manusia ingin berkata 'permisi'. Apa salahnya?
Tidak ada yang salah memang. Yang salah adalah hati nya yang sedang tidak 'sehat'.
Elin sering merasa sakit kepala. Setiap kepalanya terasa sakit, dia seperti orang yang di dalam kepalanya ada bom yang siap meledak. MRI dan pemeriksaan dokter mengatakan jika tidak ada yang salah dengan kepala Elin. Dokter hanya mengatakan jika Elin migrain biasa.
Apa sesakit itu?
tentu saja tidak. Elin memang sering migrain, hanya saja ada hal lain yang ikut menumpangi rasa sakit itu hingga menjadi rasa yang luar biasa melebihi sakit yang orang lain alami.
"Lalu saya harus bagaimana, ustad?" tanya Elin.
"Bismillah. Selalu ucapkan kata itu setiap kita melakukan sesuatu. Niatkan dalam hati kita untuk setiap kegiatan yang kita lakukan adalah ibadah. Perkara orang menilai kita seperti apa, itu urusan mereka dengan Allah."
"Perbaiki ibadah. Minta pertolongan pada Allah. Baca selalu zikir pagi dan petang. Zikir itu seperti baju besi. Semakin sering dibaca, maka baju itu semakin tebal. Ibarat sihir adalah anak panah, maka dia tidak akan tembus. Berbalik, bisa."
Elin dan keluarganya terdiam. Entah meresapi atau ada pikiran lain. Entahlah.
Berpamitan setelah tugas selesai. Kembali dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Segan. Farid merasa segan untuk pulang dan bertemu dengan orang tuanya. Dia tidak ingin lagi berdebat dengan mereka untuk masalah pernikahan dan istri baru.
Satu tangan memegang stri, dan satunya mengepal dan dia pakai sebagai penutup hidung. Berdiam diri sambil menunggu lampu lalulintas menjadi hijau.
Pikiran Farid melayang sejenak, lalu dia kembali tersadar saat mendengar pintu kaca diketuk. Ada seorang anak kecil menawarkan tisu. Meski tidak butuh, tapi Farid tau anak itu butuh uangnya.
"Makasih, Pak." Anak itu berucap dengan wajah sumringah. Farid tersenyum.
Secara tidak sengaja matanya melirik ke arah belakang. Dia melihat seseorang yang sedang menatapnya.
Deg!
Tidiiiiiiid.
Farid yang seperti terhipnotis, tersadar bahwa kendaraan dibelakangnya kesal karena mobil Farid tidak melaju saat lampu sudah berubah hijau.
__ADS_1
Dia segera melajukan mobilnya sambil sesekali melihat spion. Berusaha mencari pengendara motor yang tadi dia lihat.
Hatinya berharap-harap cemas sambil melajukan mobil dengan perlahan. Hal itu membuat dia kembali mendapat peringatan dari kendaraan lain, jika Farid mengganggu mereka.
Dengan perasaan kecewa, akhirnya Farid terpaksa menancap gas, lalu pergi.
Sebelum mampir ke kedai kopi, Farid singgah dulu ke mushola yang ada. Menunggu hingga waktu isya tiba.
Hingga pukul sebelas malam, Farid masih asik menyendiri dengan gelas kopi yang sudah tidak bersisa.
Sesekali dia melihat ponselnya. Membuka daftar kontak. Melihat namanya, lalu kembali mematikan ponselnya. Kembali menyalakan dan melihat kontaknya. Ingin menghubungi tapi ragu.
"Tidak baik menghubungi istri orang. Ya Allah."
Farid mengusap wajahnya dengan kasar.
Kembali asik dengan pikirannya, Farid merasa terkejut saat ponselnya berbunyi. Melihat siapa yang menelpon, Farid merasa kecewa.
"Memangnya siapa yang aku tunggu?" tanyanya pada diri sendiri.
"Halo, Bang. Ada apa?"
"Waalaikumsalam."
Farid tersenyum malu mendapat sindiran halus dari kakaknya.
"Di mana, Rid? Sudah jam berapa ini? Kenapa gak pulang juga?"
"Kok tau aku gak pulang? Ibu ngadu?"
"Abang ada di rumah."
"Oh, syukurlah kalau Abang ada di sana. Setidaknya rumah tidak sepi saat ini."
"Pulang dulu sebentar. Segala sesuatu bisa dibicarakan bukan?"
"Justru itu, Bang. Aku sedang tidak ingin bicara tentang apapun."
Bang Hasan terdengar menghela nafas dalam. Pun dengan Farid.
"Baiklah. Pulang kalau sudah merasa tenang. Jika sudah tau tidak ada tempat yang nyaman selain rumah ibu, kami masih menunggu kok. Oke. Kamu hati-hati di jalan."
Bang Hasan membuat Farid sadar, jika di dunia ini tidak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah. Terlepas apapun masalah yang ada di dalamnya, nyatanya rumah orang tua bagi anaknya adalah perlindungan terbaik selain Allah.
Farid bukan sedang mencari tempat nyaman, dia hanya ingin sendiri. Menenangkan pikiran setelah pikirannya melambung entah ke mana setelah melihat Khadijah di lampu merah tadi.
...Ya Allah, hanya kepadamu hamba meminta, hanya kepadamu hamba memohon pertolongan. Wahai dzat yang maha segalanya, bantulah hamba mendapatkan petunjuk untuk apa yang sedang hamba rasakan dan hamba hadapi. Aamiin. Seuntai doa sebelum memulai perjalanan menuju rumah....
__ADS_1