Ruqyah

Ruqyah
Cemara


__ADS_3

Bang Hasan masih duduk di kursi yang ada di teras depan saat Farid tiba di rumah. Seperti biasa, Hasan tersenyum menyambut adiknya yang baru saja tiba.


"Kenapa belum tidur, Bang?" tanyanya setelah mencium punggung tangan Hasan.


"Belum ngantuk. Tuh ...." Hasan menunjuk cangkir kopi yang sudah tinggal ampasnya saja. Farid tersenyum sambil menundukkan kepala. Dia tau bahwa Hasan sengaja minum kopi agar bisa terjaga hingga dia datang.


Mereka berdua pun duduk. Terdiam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Siapa wanita itu, Rid?"


Farid terdiam. Matanya lurus memandang ke depan. Entah apa yang sedang dia lihat di dinding tembok itu, atau mungkin dia memang sedang melihat hal lain.


"Mungkin imanku sedang lemah. Berdoa setiap malam pun Allah tetap tidak merubah hatiku, Bang. Setiap berusaha melupakan, takdir selalu mempertemukan kami kembali. Bagaimana aku bisa lupa jika selalu seperti itu."


"Mungkin Allah ingin kalian berjodoh." Hasan menggoda adiknya.


"Ck! Mustahil, Bang. Dia istri orang."


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Rid."


"Aku kadang merasa malu pada diriku sendiri. Rasanya aneh. Kenapa harus aku? Tidak bisakah aku mencintai wanita lain saja yang memang tidak punya suami. Kenapa harus dia?"


"Tanya dong sama Allah, kenapa tanya sama aku? Ya Allah, kenapa harus dia?"


Farid menoleh pada Hasan. Si Abang hanya tersenyum tipis. Dia beranjak lalu masuk ke rumah setelah menepuk pundak adiknya.


"Curhat sama dia memang menyesatkan," bisik Farid. Kemudian dia segera mengikuti abangnya masuk ke rumah.


Esok hari setelah Farid siap berangkat kerja, dia melihat kakak iparnya yang sedang menyiapkan sarapan. Wanita itu bernama Anita, seseorang yang pernah mencintai Farid di masa lalu, saat mereka sama-sama kuliah.


Selalu ada kecanggungan di antara keduanya, terlebih karena Anita masih sering memberi Farid perhatian lebih. Itulah yang membuat Farid tidak tinggal di rumah ini saat bersama mendiang istrinya. Terlebih saat itu Hasan dan Anita pun tinggal di rumah ini.


"Mau teh atau kopi?"


"Aku gak sarapan. Ibu mana?"


"Di kamarnya. Dia sedang kurang sehat. Aku sudah buatkan bubur tadi setelah subuh, sekarang sama bapak sedang disuapin."


Tidak ditanya pun Anita selalu menjelaskan apa yang dia lakukan untuk ibunya Farid. Tidak lebih tidak kurang itu karena dia ingin Farid tau bahwa dia memang menantu yang baik. Itu semua dia lakukan agar Farid tau bahwa dia pun adalah wanita yang baik.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan apa-apa, Farid membalikkan badan dan segera masuk ke kamar ibunya. Benar, ada bapak yang sedang menyuapi ibunya.


"Bu." Farid dengan cemas mendekati sang ibu. Dia duduk di samping ibunya.


"Ibu gak apa-apa. Kamu jangan cemas, Nak." Suaranya lirih.


"Anita sedang hamil, ibu kamu sudah tua sering sakit-sakitan. Siapa yang akan mengurus anak kamu nantinya?" tanya bapak. Farid terdiam.? Dia tidak bisa membantah atau menolak ucapan benar bapaknya.


Farid sadar, anaknya selama ini baik-baik saja karena diasuh ibu dan Anita. Tapi kini kedua wanita itu memiliki kondisi yang sama. Sama-sama harus mengurus diri sendiri.


"Ibu mau Farid bagaimana? Menikah? Iya, Farid akan menikah. Tapi Farid tidak tau dengan siapa akan menikahnya. Untuk itu, silakan ibu dan bapak carikan wanita untuk Farid nikahi. Farid akan terima. Assalamualaikum."


Setelah mencium tangan kedua orang tuanya, Farid segera keluar dari kamar.


"Pak ...."


"Bapak bener kan? Dia memang harus segera menikah. Lupakan saja wanita bersuami itu, dosa. Mungkin jika kita mengenalkan dia pada wanita lain, dia akan teralihkan dan lupa pada wanita bersuami itu."


Hati seorang ibu sedang diuji. Bagaimana pun juga seorang ibu hanya bisa bahagia saat melihat anaknya bahagia. Tapi Farid saat ini tidak bahagia sama sekali. Hati ibu pun merasa sakit.


Lama setelah pembicara hari itu, baik ibu atau bapak tidak ada lagi yang membahas soal pernikahan Farid.


Ibu yang terkadang lupa, membuat Hanifah salah kostum pergi ke sekolah PAUD. Belum lagi dengan urusan bapak yang harus ibu yang melayani.


Kondisi rumah terlihat berantakan. Bukan rumahnya tapi situasi di dalamnya.


Bapak yang sudah sepuh pun lebih sering marah saat ibu telat menyediakan teh nya di pagi hari. Kerepotan ibu bertambah saat Hanifah menangis.


Mendengar tangisan anaknya, Farid segera menghampiri.


"Ada apa, sayang? Sini sama ayah dulu. Mau mandi ya, ayo ayah mandiin."


"Gak mau, aku mau sama nenek. Gak mau sama ayah. Nenekkk."


"Nenek sedang bikin teh buat kakek. Hanifah sama ayah dulu ya."


Anak itu berontak dan terus menangis memanggil neneknya. Tidak lama kemudian ibu datang dengan tergopoh-gopoh. Dia yang sudah tidak bisa bergerak cepat terlihat sangat kelelahan saat berusaha secepat mungkin menghampiri cucunya.


Tubuh tua itu dipaksa harus tetap merawat anak kecil setelah dia lelah merawat masa kecil Farid.

__ADS_1


Hati Farid sakit.


Bersiap dengan pakaian kerja, tapi buka sekolah yang dia tuju. Dia meminta izin pada Iwan untuk tidak masuk hari ini.


Perjalanan Farid cukup jauh. Melewati tol dan beberapa kota lainnya. Menuju tempat paling baik yang sudah tidak pernah dia kunjungi setelah istrinya meninggal.


Farid merasa butuh sosok yang selalu bisa membuat dia tenang dan memberikan solusi saat dia sedang menghadapi kondisi yang rumit.


"Tunggu di sini aja, Mas. Pak Kiai masih mengajar anak santri," ucap salah seorang pegawai di pondok pesantren Darussalam itu. Farid mengangguk, kemudian dia duduk di kursi di teras samping rumah pemilik pondok.


Farid melihat sekeliling. Suasananya masih sama meski dengan kondisi yang berbeda. Kini, pondok pesantren itu terlihat megah dengan bangunannya. Asrama santri kini sudah ada tiga lantai dengan dua gedung yang berbeda, pun dengan asrama santri putri.


Fasilitasnya pun tidak seperti dulu. Kini sudah sangat lengkap. Farid mengangguk bangga.


"Mas Farid."


Farid menoleh pada suara seorang wanita yang mengagetkannya. Farid mengerutkan dahi.


"Ini aku, Mara."


"Mara?"


Wanita cantik itu mengangguk dengan ceria. Senyuman manisnya bisa membuat siapa saja terpana.


"Oh, Cemara? Astaghfirullah, kirain siapa? Aku pikir bidadari, eh, ternyata."


"Iiiih, ternyata apa?" Wanita itu cemberut.


"Ternyata emang bidadari. Ckck. Kenapa bentukan kamu jadi begini, sih?"


Dukkk!


Cemara menendang meja.


"Wwooo, ternyata masih sama. Bajunya doang yang berbeda."


Cemara. Anak bungsu pemilik pondok yang dulu terkenal tomboi. Jika orang yang baru kenal, maka akan mengira jika Cemara ini adalah anak laki-laki. Namun, kini dia menjelma bagai bidadari.


__ADS_1


Cemara Hasna Firdaus.


__ADS_2