
"Mas ...." Risma memanggil suaminya saat tengah menahan sakit karena kontraksi. Farid yang saat itu sedang mengambil air minum segera mendekati istrinya.
"Ada apa, Sayang? Sakit? Yang mana yang sakit?"
Risma menggeleng pelan.
"Mas, apa kamu sering menangis tengah malam karena wanita yang membuat kamu jadi suka sama terong balado?"
Genggaman Farid melonggar dari tangan Risma. Dia terkejut mendengar pertanyaan itu dari istrinya, terlebih saat ini Risma hendak melahirkan anak pertama mereka. Jika dia jujur, takutnya hanya akan membuat Risma down. Jika dia berbohong, itu adalah sebuah dosa.
"Aku enggak marah, Mas. Jangan menutupinya apalagi berbohong padaku."
Farid masih terdiam.
"Kita tidak bisa mengendalikan perasaan kita, Mas karena hanya Allah lah yang bisa. Entah itu ujian atau memang anugerah dari Allah sampai kamu memiliki perasaan untuk orang lain. Aku enggak marah sama sekali. Aku tahu kamu juga sebenarnya tidak ingin rasa itu datang bukan?"
"Tentu saja. Aku bahkan menangis karena ingin Allah segera membalikkan hatiku, Sayang. Aku sedang berusaha sekuat mungkin saat ini. Jadi, kita sama-sama berjuang ya. Kamu berjuang untuk melahirkan anak kita dan aku ... aku berjuang agar lulus dalam ujian kali ini."
"Cinta bisa datang pada siapa saja, dan aku tidak akan menyalahkan kamu. Yang salah itu jika rasa itu datang dan kita menyalurkannya padahal kita tau itu salah. Contohnya kamu mencintai perempuan itu di mana kamu dan dia sudah menjadi pasangan orang lain." Risma menghentikan ucapannya saat kontraksi yang dia rasakan semakin signifikan.
Farid segera memanggil bidan. Saat diperiksa, Risma sudah pembukaan lengkap. Kepala bayinya sudah ada di pintu jalan lahir. Bidan dan dua asistennya membimbing Risma untuk melahirkan. Wanita salihah itu mengejan sesuai instruksi bidan. Air mata Risma bercucuran sambil terus membaca istighfar disela mengejannya.
Apa karena sakit melahirkan? Tentu saja bukan. Meski Risma salihah, dia juga mengatakan bahwa dia tidak marah, bukankah dia tidak mengatakan jika dia tidak sedih dan sakit hati?
Istri sayidna Ali bin Abi Thalib pun bahkan mengatakan ikhlas saat suaminya meminta izin untuk poligami, tapi ternyata pohon pisang yang menjadi sandaran saat dia sedih sampai terbakar karena panasnya dalam hati.
Ikhlas itu bukan berarti tidak sedih, hanya berusaha menerima meski terpaksa. Kita manusia, memiliki hati tempatnya lupa dan salah.
Seorang bayi perempuan telah lahir dengan berat dan panjang normal. Fisiknya sehat dan tidak kurang satu apapun. Ibunya pun terlihat normal seperti wanita lainnya.
Farid pun bersyukur tak hentinya sambil memeluk dan mencium kening Risma. Membaca doa di ubun-ubun istrinya.
"Mas, semoga kamu selalu ridho atas apa yang aku lakukan selama ini. Aku memang banyak kurangnya dalam menemani kamu, mendampingi kamu. Aku juga belum bisa melayani kamu dengan baik."
"Aku benar-benar ridho, sayang. Jika aku bisa mengambil surga, aku akan mengambilnya sebagai hadiah betapa bahagianya aku memiliki istri salihah seperti kamu."
"Alhamdulillah."
"Istirahat, ya. Anak kita sedang diurus sama bidan dulu. Aku mau lihat dia sebentar."
__ADS_1
"Mas, tunggu."
Langkah Farid terhenti. Dia yang sudah berjalan tiga langkah, kembali mendekat pada Risma.
"Andai wanita itu tidak bersuami, aku akan melamar dia untuk kamu," ucap Risma sambil tersenyum.
"Astaghfirullah!" Farid segera bangun dari tidurnya. Saat melihat sekeliling, ternyata dia tertidur di atas sajadah selepas membaca Qur'an tadi.
"Allahuakbar." Farid mengusap wajahnya dengan kasar. Mimpi tentang pertemuan terakhirnya dengan Risma sering muncul beberapa malam terakhir ini.
Ingat belum melaksanakan salat isya, Farid pergi mengambil air wudhu lalu segera menunaikan salat.
Saat melihat jam dinding, jarum jam menunjukkan angka 02.30 pagi. Pantas saja dia mencium aroma wangi masakan. Sudah pasti ibunya sedang masak untuk ayahnya sahur. Farid segera turun ke bawah menuju meja makan.
Di sana sudah ada ayahnya yang sedang duduk sambil membaca buku kajian Islam. Sementara ibunya sedang memasak. Dapur dan ruang makan mereka memang menyatu. khas dapur minimalis modern dengan suasana monokrom.
"Tahajud?" tanya ayahnya saat melihat Farid memakai baju Koko dan peci hitam.
"Isya, Yah."
"Astaghfirullah, Farid."
"Iya, Bu. Farid ketiduran di atas sajadah setelah selesai ngaji."
"Ayah kan sudah bilang sama kamu, kalau pergi apalagi jauh bawalah mobil. Jangan karena alasan takut ada setan dalam hati kamu terus menjadi sombong. Ini semua demi kebaikan kamu juga."
"Iya, Ayah."
"Jangan pakai motor butut itu lagi. Masa motor sama sarung tangan mahal motornya. Apa gak takut sombong itu?"
"Kan kalau sarung tangan gak ada yang tau harganya ayah. Jadi Farid gak bisa sombong sama orang."
Ayah Farid melepaskan kacamata bacanya. Buku yang sedang dia baca pun dia tutup lalu disimpannya di meja.
"Nak, sombong itu bukan perkara kamu memberitahu berapa harga barang yang kamu pakai. Yang lebih bahaya itu kalau rasa sombong itu ada di dalam sini, di hati kita. Tidak masalah orang tau berapa harga baju kita jika hari kita gak sombong sih gak ada masalah."
"Iya, ayah. Besok Farid bawa mobil pemberian ayah. Tapi, apa gak sebaiknya mobil itu ditukar saja dulu. Itu terlalu mewah."
"Tukar sama Abang kamu mau?" tanya Ibu sambil membawa piring lauk ke atas meja.
__ADS_1
"Itu malah tambah mahal, Bu. Gimana ibu ini?"
Ibu pun tersenyum sambil kembali mengambil masakan yang lain.
"Ayo sahur dulu. Habis itu siap-siap ke mesjid buat berjamaah," titah Ibu.
"Sepi, ya, gak ada Hanifa."
Farid melirik ayahnya.
Selepas makan sahur, Farid dan ayahnya siap-siap pergi ke mesjid. Mereka akan melakukan solawat sebelum azan. Membangunkan secara halu manusia-manusia yang terlelap dengan tidur sementaranya. Melepas lelah dari segala aktifitas dan tuntutan hidup. Bahkan kadang melupakan tujuan utama mereka ada di dunia, yaitu mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Sudah bisa diduga. Hanya ada beberapa orang yang datang, dan itupun kebanyakan dari mereka adalah pria sepuh yang sadar jika dirinya akan mendapatkan waktu lebih cepat dijemput malaikat Izrail.
"Pak!" Seseorang dengan suara yang sudah sangat akrab di telinga Farid datang berlari menghampiri.
"Ini masih subuh, loh. Ngapain di sini?" tanya Ayah Farid.
"Maaf, Abah. Ini darurat. Saya dan Pak Morgan sudah sejak waktu salat tahajud pergi ke rumah orang."
"Ngapain?"
"Itu, Pak. Bu Nunung istrinya Pak Dimas kambuh. Dia ngamuk sejak jam dua tadi. Saya dan Pak Morgan coba tangani sendiri, eh Pak Morgan malah jatuh tangannya terkilir."
"Loh, kok bisa?" tanya ayah keheranan. Sementara Farid hanya tersenyum.
"Itu apa?" tanya ayah pada Farid.
"Siluman dari laut. Dia terbawa suaminya dan masuk ke dalam tubuh istrinya. Farid kira kemarin udah reda, ternyata belum."
"Kenapa gak dituntaskan?"
"Kemarin suaminya sakit. Gak mungkin kalau Farid memakasa 'dia' keluar. Bagaimana pun juga, tubuhnya tetap tubuh manusia. Dia bisa sakit saat sudah sadar."
"Ya sudah, sana pergi bantu dulu mereka."
"Iya, Yah."
Setelah Farid mencium tangan ayahnya dengan takzim, dia segera berlari kecil bersama Iwan. Kali ini Farid mengikuti apa kata ayahnya.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Iwan tak lagi ketakutan seperti awal. Kini dia sibuk mengagumi interior mobil milik Farid. Sementara Farid fokus melihat jalan raya agar tidak ada kesalahan sedikitpun dengan cara dia membawa mobil dalam kecepatan cukup tinggi.