
"Ada apa? Apa Abang membuat kesalahan lagi?" tanya Hasan lembut pada istrinya yang entah kenapa tiba-tiba menangis setelah menyusui Ibrahim, anaknya.
Anita diam. Dia memilih berbaring bersama anaknya dengan membelakangi Hasan. Laki-laki mengelus dada sambil beristigfar. Dia tahu jika istrinya sedang mengalami perubahan hormon pasca melahirkan.
Hasan keluar kamar. Dia menghampiri ibunya dan Farid yang sedang menonton televisi, menemani Hanifah menonton kartun kesayangannya, Tom and Jerry.
"Ada apa?" tanya ibu saat mendengar Hasan menghembuskan nafas berat. Dia menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Sabar, namanya juga ibu menyusui. Mereka lelah secara lahir dan batin. Istirahat tidak teratur, makan juga gak tepat waktu. Orang lain tidur dia terjaga karena mengurus anaknya. Kamu harus lihat perjuangan itu, Nak."
"Iya, Bu." Hasan memeluk ibunya erat, seakan menumpahkan beban dalam dadanya pada sang ibu.
Farid melirik Hasan dengan berbagai perasaan yang campur aduk. Kasian, kesal dan juga marah. Farid tau betul jika Anita hanya mengada-ada karena tidak ingin tinggal di rumah mereka dan ingin lebih lama di rumah ibunya.
Kalau begini terus, apa Khadijah akan seperti mendiang? Memilih pisah rumah. Lalu bagaimana dengan ibu? Siapa yang akan menjaga mereka kalau aku tidak tinggal bersama?
Farid berdiskusi sendiri dengan hati dan otaknya.
"Rid, bagaimana dengan persiapan pernikahan kamu? Lima hari lagi bukan? Kenapa terlihat begitu santai?" tanya Hasan pada adiknya.
"Khadijah ingin pernikahan yang sederhana saja, San. Dia tidak ingin hantaran yang wah, tidak ingin mengundang banyak tamu apalagi pesta. Katanya hanya ingin disaksikan oleh keluarga dan santri. Kiai mau pernikahan ini digelar di pesantren," jawab ibu.
"Wah, ternyata dia begitu baik. Tidak memberatkan pihak laki-laki. Kamu benar-benar beruntung, Rid. Selain cantik, ternyata adik iparku wanita salihah."
"Maksudnya aku gak, gitu?" tiba-tiba Anita berteriak dari belakang. Sontak Hasan terkejut, pun dengan ibu dan Farid.
"Sayang, bukan begitu maksud Abang." Hasan berdiri lalu segera menghampiri istrinya. Dia berusaha menyentuh, namun segera ditepis oleh Anita.
__ADS_1
"Kamu juga cantik dan salihah, Abang hanya merasa beruntung karena Farid memiliki pendamping yang tepat."
"Tepat? Memangnya kamu tahu dia sejauh mana? Memangnya kalian semua tahu dia seperti apa nantinya? Tidakkah kalian curiga kalau dia hanya baik karena sedang merayu keluarga kita agar bisa diterima."
"Nak, bukan begitu. Kamu ataupun Khadijah sama-sama baik dan salihah, tapi tentu saja kalian orang yang berbeda. Tapi ...."
"Cukup!" Anita membentak ibu. Farid yang sedari tadi diam, tersulut emosinya. Dia segera menghampiri ibunya yang terkejut karena suara Anita.
"Apa? Kamu marah karena aku membentak ibu?" tanya Anita pada Farid dengan suara yang tidak kalah tinggi.
Melihat pemilik rumah sedang bertengkar, Mba segera membawa Hanifah masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, sudah. Jangan bersikap seperti ini sama ibu." Hasan masih berusaha sabar dan lembut pada istrinya.
"Tenangkan dirimu, Nita. Istighfar, Nak. Jangan seperti ini. Eling, nak, eling."
"Anita ...."
"Jangan sentuh!"
Anita menepis tangan ibu yang sudah tua itu hingga ibu hampir terjatuh.
"Cukup!" Farid berteriak sambil memeluk ibunya yang hampir jatuh.
"Baby blues? Apa kamu yakin ini sebatas baby blues? Jangan ngarang! Dalam Islam tidak ada yang namanya baby blues karena wanita salihah tau ada Allah yang selalu menemani mereka. Dzikir! jangan selalu memuaskan nafsu hatimu yang sesat itu!"
"Farid, hentikan."
__ADS_1
"Diam, Bang. Selama ini aku diam karena menghargai Abang sebagai anak tertua di keluarga ini, tapi apa? Abang malah dinistakan istri sendir. Bukankah kita semua tahu, bahkan Rasulullah saja memerintahkan istri agar taat dan patuh pada suaminya. Jika saja boleh, Rasulullah ingin semua istri bersujud pada suaminya, saking apanya? Saking mulianya kedudukan seorang suami karena beban suami itu berat di akhirat nanti. Dosa istri saja kita yang harus mempertanggung jawabkan! Abang tidak tahu itu?"
Panjang lebar Farid berbicara dengan nada suara yang tinggi dan ngos-ngosan karena berusaha menahan emosi.
"Jangan pernah membentak ibuku, ingat itu!" ucap Farid penuh tekanan pada Anita dengan telunjuk mengarah tepat di depan hidungnya.
Anita hanya bisa diam dengan air mata yang terus menetes. Dia terkejut dan juga takut karena baru kali ini melihat Farid semarah itu.
Tidak hanya Anita, Hasan pun hanya bisa diam karena untuk kali pertamanya adiknya murka hingga meninggikan nada suaranya. Mungkin suara Farid bisa didengar oleh tetangga. Akan tetapi Farid tidak peduli. Jangankan Anita, bapaknya pun akan dia bentak jika sudah berani menyakiti ibunya.
"Ayo, Bu. Kita masuk ke kamar." Suara Farid jauh berbanding terbalik dengan sebelumnya. Dia berbicara pada ibunya dengan suara yang sangat lembut. Merangkul sang ibu dan mengajaknya istirahat di kamar.
"Sayang, lebih baik kamu lakukan apa yang Farid sarankan. Banyak-banyaklah dzikir agar hatimu tenang."
Hasan mengambil jaket dan kunci motor gede milik Farid. Dia pergi meninggalkan Anita yang masih terlihat syok. Pergi berkunjung ke panti asuhan milik sahabatnya, Yusuf.
Anita masuk ke dalam kamar, dia duduk di tepi ranjang dengan tangisan yang semakin pecah.
Sekuat apapun dia berusaha untuk tetap berada di sisi Farid, segala macam cara yang dia lakukan pun tidak akan merubah apa-apa. Dia tetaplah kakak ipar yang tidak mungkin menjadi istri laki-laki yang dia cintai.
Dari mulai dia mengatakan tidak merasa nyaman tinggal sendiri di rumah dan meminta Hasan mengajaknya tinggal di rumah ibu selama hamil hingga melahirkan.
Lalu meminum air rumput fatimah pas suami tidak ada dengan tujuan ingin melahirkan didampingi Farid, nyatanya hanya membuat dia menderita dan tersakiti jauh lebih dalam.
Kini, dia yang memakai baby blue sebagai alasan agar dia tetap lebih lama di rumah ini malah membuat Farid semakin murka.
Anita menangis meratapi hatinya yang kini terluka lebih lebar.
__ADS_1
Keinginannya untuk tetap berada di sisi Farid membuat dia semakin dibenci oleh Farid.