
Keinginan Khadijah untuk mengadakan pernikahan secara sedarah, tidak ditanggapi oleh kiai. Sederhana menurutnya berbeda dengan apa yang Khadijah inginkan.
Pun dengan keluarga Farid, meski diminta tidak membawa hantaran yang berlebih, mereka malah sebaliknya. Bukan soal berapa banyak, tapi seberapa berharganya.
Rombongan keluarga Farid pun datang Daan disambut oleh tim rebana solawat oleh para santri putra yang berjejer di dua sisi. Farid dan keluarga berjalan mengikuti jalur yang diarahkan menuju masjid yang ada di pondok.
Di dalam sana sudah ada tempat untuk akad nikah. Sesekali Farid melirik ke sana kemarin, mencari sosok pengantin wanita yang Farid sendiri tahu kalau Khadijah tidak akan keluar sebelum ijab qobul selesai.
Suasana kebahagiaan, harus, khidmat dan kedamaian sangat terasa di sana. Semua santri sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Pernikahan Khadijah seperti pernikahan anak pemilik pondok. Banyak tamu agung dan guru besar yang hadir.
Sholawat bergema terus menerus sebelum acara pernikahan dimulai. Membuat suasana islami sangat kental terasa.
Khadijah mengangguk tertunduk malu, menahan rasa gelisah yang terus saja merasuki raga dan jiwanya. Bahagia dan hari menyelimuti hati wanita cantik itu.
Anisa, dan sodaranya yang lain setia mendampingi Khadijah di kamar rias. Pun dengan Cemara yang terus saja menatap Khadijah dengan senyuman yang tak lekang sejak awal. Dia begitu mengagumi kecantikan pengantin wanita itu.
"Test ... test ... Alhamdulillah." Seseorang dengan memakai jas hitam dan sarung terlihat sedang mengecek sound sistem.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Alhamdulillah sepertinya semua sudah berkumpul. Acara akan segera dimulai karena pihak dari kantor urusan agama sepertinya sudah datang. Supaya tidak terlalu siang, kasian pengantin wanita sudah sejak tadi malam dirias, takut luntur lipstiknya," canda seorang MC.
Acara demi acara, dari sambutan, penyerahan dan penerimaan tamu dan rombongan pun telah selesai. Tiba waktunya untuk Farid mengucapkan janji dai hadapan Allah, menjadikan Khadijah sebagai istrinya.
Dengan memakai bahasa Arab, dalam satu kali tarikan nafas Farid telah sah meminang Khadijah.
"Sah? sah?"
"Sah."
"Alhamdulillah ...."
Seuntai doa untuk mempelai pun dilantunkan oleh kiai. Diaminkan oleh banyak orang salih dan para santri.
"Ayo, ayo. Ijab Qabulnya udah selesai. Khadijah harus ke sana untuk tanda tangan berkas dan surat nikah," Nyai datang ke kamar dan meminta anak-anaknya agar membawa Khadijah.
Tangan Khadijah menjadi dingin. Dia gemetar dan grogi karena akan keluar menghadap Farid yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Beruntung karena ada anak-anak kiai yang menguatkan dan selalu menemani Khadijah.
__ADS_1
Riuh. Orang-orang mengagumi betapa cantiknya paras Khadijah. Bisik-bisik itu terdengar oleh Farid, diapun merasa begitu penasaran ingin melihat istrinya.
Farid menoleh ke belakang, arah di mana Khadijah datang. Dan ... Farid terdiam seketika melihat betapa cantik istrinya.
"Hey, jangan bengong." Hasan mengingatkan. Mereka berdua tertawa kecil. Khadijah duduk di samping Farid. Petugas kantor agama memberikan pulpen dan kertas untuk mereka tanda tangani. Termasuk surat nikah.
"Farid, doakan istrimu agar menjadi istri yang shalihah, dan taat pada suami."
"Iya, Pak Kiai."
Farid menghadap pada Khadijah, sementara wanita itu hanya diam karena malu.
"Pengantin wanitanya terlihat malu-malu. Nanti malam gimana? masih mau malu-malu juga? Apa malu tapi mau?"
Candaan petugas kantor urusan agama membuat orang-orang tertawa.
"Dijah, lihat suamimu. Menghadap lah padanya."
Pelan. Sangat pelan Khadijah menghadap ke arah Farid. Namun, dia terus menunjukkan kepala tidak berani menatap Farid.
Khadijah menangis, pun dengan Farid. Mereka meski tidak bicara satu sama lain, tapi memiliki perasaan yang sama. Bahagia karena akhirnya doa' mereka sampai pada detik ini. Allah mengijabah.
Selesai acara ijab Qabul. Kini mereka melakukan sungkeman pada kedua orang tua. Kiai menjadi perwakilan keluarga Khadijah.
Farid menangis di kaki sang ibu. Meminta restu dan doa untuk pernikahannya. Pun saat di kaki bapak.
Kini, giliran Khadijah.
Ibu memeluk menantunya dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Titip Farid, Nak. Jaga dia baik-baik. Taat dan patuh lah pada suamimu seusai syariat agama karena itulah pintu surga kamu."
"Iya, Bu. Insyaallah."
Pemotretan, makan, acara pemberian selamat pada mempelai pun telah usai dilaksanakan. Kini, setelah menjadi istri Farid, Khadijah memutuskan untuk langsung ikut ke rumah mertuanya.
"Pak Kiai, terimakasih atas segalanya. Terimakasih atas kebaikan yang bapak berikan pada saya. Semoga Allah membalas kebaikan pak Kiai sekeluarga."
"Khadijah, kamu tahu siapa yang membiayai pernikahan kamu ini?"
__ADS_1
Khadijah menatap Farid.
"Memangnya siapa?" tanya Farid ikut penasaran.
"Mantan suami kamu."
"Maaf?" Khadijah terkejut.
"Wawan sakit, Khadijah. Dia sekarang ada di rumah sakit dan dalam keadaan kritis. Istrinya pernah datang dan menyampaikan rasa bersalah sama kamu. Dia bilang jika suatu hari kamu menikah, carikan laki-laki yang baik dan yang mencintai kamu dengan tulus. Makanya ... saat Farid datang dengan alasan yang sama, saya kepikiran untuk menjodohkan kalian. Alhamdulillah terlaksana."
Farid dan Khadijah terdiam.
"Dia ingin menebus segala kesalahan yang pernah dia buat sama kamu. Dan ini." Pak Kiai memberi sebuah amplop berwarna cokelat.
"Ini hadiah pernikahan kalian darinya."
"Apa ini, Pak Kiai?"
"Aku tidak tahu, Dijah. Aku tidak pernah membuka isinya."
Khadijah mengambil dan menyimpan amplop itu ke dalam tasnya.
"Sekarang, kalian pulang lah. Sudah malam. Keluarga kalian sudah pergi lebih dulu. Hati-hati di jalan."
"Iya, Pak Kiai."
Setelah berpamitan pada kiai dan keluarga. Khadijah dan Farid pun pergi.
"Kita enggak pulang ke rumah malam ini."
"Loh, kenapa? Teruus ... kita mau ke mana?" tanya Khadijah penasaran.
"Bang Hasan memberiku hadiah untuk kita."
"Hadiah?"
"Menginap di hotel selama empat hari. Itulah kenapa Hanifah dibawa pulang oleh ibu dan bapak."
"A- ...."
Khadijah menjadi gagap tiba-tiba. Dia tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa memegang pipinya yang terasa panas.
__ADS_1