Ruqyah

Ruqyah
Cinta tak sampai


__ADS_3

"Bagaimana pak ustad? Apa bapak saya sudah sembuh?" tanya ika anak pada Dadang.


"Sementara ini belum, Mba. Kasus pak Dadang ini tidak bisa saya sembuhkan hanya dalam sekali pertemuan. Pak Dadang terlalu sering berguru dan mengamalkan wirid yang melanggar syariat."


"Iya, Pak ustad. Bapak saya sering pergi ke sana ke sini sama temennya. Katanya ziarah ke kubur, zikir tiap malem tapi gak tau apa yang dibacanya."


"Bukan masalah apa yang dibaca. Meski kalimat Allah yang dibaca, tapi untuk niat yang salah, tetap saja salah. Jadi, mungkin nanti akan ada pertemuan selanjutnya."


"Iya, Pak ustad. Terimakasih banyak."


"Punten pak ustad. Ponselnya dari tadi bunyi," ucap dudin suami Bu Ika.


Farid mengambil tas, lalu mengambil ponselnya. Begitu membuka chat dari istrinya dia begitu terkejut terlebih melihat foto yang Khadijah kirim.


"Maaf, semuanya tapi saya harus segera pulang. istri saya sedang tidak sehat."


"Ah, iya. Silakan pak ustad. Ini ada sedikit buat nambahin uang bensin."


"Alhamdulillah. Jazakallah Khairan. Saya permisi, ya. Assalamualaikum."


Farid segera pulang menemui istrinya dengan tergesa-gesa.


Sesampainya di halam rumah, Farid sudah bisa mengira apa yang terjadi pada istrinya setelah mendengar Khadijah menangis histeris.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Kamu kenapa lama banget? Itu istri kamu kerasukan lagi."


Farid mengabaikan kakak iparnya dan segera berlari menuju kamarnya untuk menemui istrinya. Ada bapak, Ibu dan Bang Hasan sedang mengaji sambil memegang Khadijah.


"Alhamdulillah, kamu kenapa lama banget, Nak?"


"Maaf, Bu. Sejak kapan dia seperti ini?"


"Sudah sejak tadi. Ayo, sekarang kamu bantu saja dia dan tanya nanti aja."


Tidak ingin berlama-lama, Farid membaca doa dan menarik 'dia' dengan paksa agar keluar dari tubuh Khadijah.


Khadijah terlihat kesakitan, matanya terbuka pun dengan mulutnya.


"Dijah kenapa, Farid?" tanya ibu cemas.


Farid segera menghampiri istrinya. Membacakan kembali doa hingga Khadijah perlahan lemas, dan tertidur.


"Begini reaksinya jika kita mengeluarkan jin dengan paksa dari tubuh manusia. Kita akan merasakan sakit dan sesak yang luar biasa."


"Tapi Dijah baik-baik aja kan?" Ibu masih cemas.


"Gak apa-apa, Bu. Dia hanya lemas."

__ADS_1


Ibu dan yang lainnya mengangguk pelan, tanda mengerti apa yang Farid jelaskan.


Wajah Khadijah terlihat begitu kelelahan. Keinginannya berkeringat, dan tubuhnya lemas.


Farid mengusap lembut wajah istrinya, lalu memeluknya erat.


Ibu memberikan aba-aba pada anak dan suaminya agar mereka pergi meninggalkan Farid dan Khadijah.


Pintu tertutup.


Air mata Farid mulai menetes. Dia merasa kasian, takut dan juga merasa bersalah kepada Khadijah.


Farid membaringkan Khadijah di atas kasur, menyelimuti tubuh istrinya lalu dia ikut berbaring di samping Khadijah.


Mata Farid tidak berpaling sedetikpun dari wajah Khadijah. Sesekali dia mengecup pipi istrinya, dan mendekap tubuh Khadijah dengan lembut dan penuh kehangatan.


Ibu, bapak, Hasan dan istrinya duduk sama diam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Ada apa? Kenapa jadi seperti ini? Apa ini sihir? Apa ada yang begitu membenci Khadijah?"


"Sssst." Hasan memperingatkan istrinya agar tidak berbicara sembarangan.


"Apa sebaiknya Farid tidak dulu mengobati orang lain dan fokus menjaga isterinya?"


"Gak bisa begitu, Bu. Orang lain juga butuh ilmu yang Allah titipkan pada anak kita."


"Setidaknya dibatasi lah, Pak. Bagaimana kalau Khadijah seperti ini lagi saat Farid tidak ada di rumah?"


"Kayaknya gak mungkin, deh."


"Sayang." Hasan kembali memperingati istrinya.


"Ibu tidak ingin Dijah kenapa-kenapa, Pa."


"Sama, Bu. Bapak juga cemas memikirkan kondisi Khadijah. Farid pernah bilang, kalau manusia yang habis kerasukan itu akan merasa sangat lelah dan kesakitan. Khadijah juga pasti seperti itu saat ini."


Ibu mulai menangis.


"Sudah, Bu. Lebih baik kita tidur, sudah malam. Lagi pula sekarang Farid sudah datang. Ayo. Kalian juga segera tidur. Ibrahim jangan ditinggal sendirian."


Mereka pun pergi ke kamarnya masing-masing.


Farid masih tidak bisa memejamkan matanya. Dia masih terjaga menjaga Khadijah.


Wanita itu perlahan membuka matanya. Sesekali dia mengerjap karena silau.


"Sayang."


"Mas ...."

__ADS_1


"Apa? Apa yang kamu rasakan? Sakit? Mana yang sakit?"


"Mas, peluk."


Farid segera memeluk kembali tubuh Khadijah.


"Jangan pergi. Jangan jauh-jauh, ya. Aku takut."


"Iya, Sayang. Mas gak akan pergi kemana-mana. Mas akan menjaga kamu di sini."


"Haus ...."


"Haus?"


Khadijah mengangguk. Farid melepas pelukannya dan segera mengambil air.


"Ini, sayang."


Dengan hati-hati, Farid membantu istrinya bangun untuk minum.


Khadijah duduk sambil berusaha mengembalikan kesadaran.


"Mas percaya kan sekarang?" tanya Khadijah.


Farid mengerti apa yang Khadijah maksud.


"Lalu harus bagaimana?"


"Gak gimana-gimana, Mas. Aku hanya sering melihat hal-hal yang entahlah. Aku juga bingung menjelaskannya."


"Mas ngerti. Kamu jangan menjelaskan apa-apa karena mas lebih faham."


"Kenapa dia setega itu sama aku, Mas?"


"Mas juga bingung. Dia sodara almarhumah, tapi kenapa dia melakukan hal ini sama kamu, mas gak ngerti."


"Tidak mengerti apa tidak mau mengerti?"


"Kenapa? Apa karena dia tahu jika mas mencintai kamu bahkan saat istri mas masih hidup? Apa harus sejauh ini? Istri mas saja ridho, kenapa dia enggak?"


"Karena hati dia yang gak ridho, Mas."


"Loh, urusannya apa? Kenapa dia tidak ridho? Karena dia sodaranya? Ah, mereka tidak sedekat itu kok untuk membenci kamu karena alasan ini. Bahkan almarhumah dan dia tidak memiliki hubungan yang baik."


"itu karena hati mereka sama, Mas."


"Sama gimana?"


"Sama-sama mencintai kamu."

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2