
"Maaf, kami baru datang karena perjalanan cukup jauh." Orang tua Anita meminta maaf pada ibu karena mereka baru sampai. Bukan karena mereka tidak peduli tapi orang tua Anita tinggal di luar kota.
"Apa ini calon istri Farid?" tanya ibu Anita sambil melihat Khadijah. Khadijah mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, dia calon istri saya. Mungkin setelah bayi dan ibunya pulang ke rumah, kami akan segera melangsungkan pernikahan."
Khadijah menoleh dan menatap Farid terkejut.
"Tidak baik juga lama-lama menunda pernikahan, takut ada fitnah. Selain itu, ibu juga harus sudah istirahat di rumah."
"Iya, benar. Apalagi nanti akan ada Anita dan bayinya. Pasti akan tambah repot. Maaf, ya, Nak. Nanti kamu akan kerepotan mengurus rumah, anak dan cucu saya," ucap ibunya Anita.
"Setelah sehat, Bang Hasan akan membawa keluarganya ke rumah mereka sendiri. Lagi pula istri saya hanya akan mengurus saya dan Hanifah."
Khadijah semakin terkejut mendengar ucapan Farid. Benar-benar tidak sopan dan terdengar kasar meski dengan bahasa yang halus. Ibu hanya terdiam.
Orang tua Anita jelas tidak senang dengan sikap Farid.
"Assalamualaikum." Farid merangkul ibu dan menarik tangan Khadijah agar keluar dari kamar perawatan itu. Membalikkan badan tanpa berpamitan terlebih dahulu.
Saat di luar, Khadijah segera menarik tangannya. Farid menoleh. Dia menatap Khadijah dengan penyesalan karena menyentuhnya tanpa izin.
"Dijah, kamu ke sini naik apa?" tanya ibu.
"Dijah dianterin orang pondok bawa mobil pondok, Bu."
"Ya sudah, ikut ke rumah saja ya."
"Tapi, Bu."
"Hanifah pasi senang kamu main ke rumah kami, yuk."
Khadijah masih ragu hendak ikut atau pulang ke rumahnya saja. Namun, ibu menariknya dan mengajaknya naik mobil.
"Makasih, loh, kamu udah bawakan kami sarapan," ucap ibu sambil menggenggam tangan Khadijah. Mereka duduk di bangku tengah sementara Farid menyetir.
"Sama-sama, Ibu."
"Sebenarnya ibu sudah tau sejak dulu. Meski tidak ada yang bicara, tapi ibu bisa melihat jika Anita itu menyukai Farid."
Farid begitu terkejut mendengar ucapan ibunya. Tidak beda dengan Khadijah.
__ADS_1
"Sebelum memulai suatu hubungan, alangkah lebih baik lagi jika kalian harus saling jujur mengatakan segalanya. Ibu tidak tau persisnya seperti apa? Tapi mendiang istri Farid pun terpaksa keluar rumah karena tidak nyaman dengan Anita. Ibu faham karena ibu wanita. Tau kenapa Anita terlihat tidak suka pada istri Farid."
"Bu ...."
"Farid, maaf ibu lancang berbicara lebih dulu pada Khadijah. Ibu hanya tidak ingin setelah kalian menikah, kamu keluar lagi dari rumah. Ibu berharap Khadijah bisa menyikapi Anita dan mengabaikan sikap buruk dia."
"Wah, ternyata calon suami Dijah keren, ya, Bu."
"Hmm?"
"Iya, keren. Apa jangan-jangan masih banyak wanita yang suka sama mas Farid selain Mba Anita. Apa itu artinya Dijah termasuk orang yang beruntung, Bu? Wuiiih, bangga dong ya, dari banyaknya wanita, mendiang dan Dijah adalah wanita pilihan yang beruntung." Khadijah tertawa. Tidak ada sedikit pun raut wajah takut atau kesal di wajahnya.
Ibu dan Farid sama-sama heran. Namun, jauh di dalam lubuk hati ibu, ibu merasa bangga dan lega.
"Tanteee." Ifah langsung berlari begitu melihat Khadijah. Khadijah menyambut anak itu dan langsung memeluknya.
"Uuuuh, gumus banget sih ini pipinya. Anak baik sekolah enggak hari ini?"
Ifah menggelengkan kepala.
"Oalaah, kenapa, Nak?"
"Kakek gak bisa pakein baju. Kakek juga gak tau Ifah harus bawa apa aja."
"Tante, Tante kapan sih jadi umi ifah? Ifah kan gak ada yang jagain." Ifah merengek manja.
"Kalau itu tanya sama Abi aja."
"Abi, kapan Tante jadi umi aku?" tanyanya sambil menatap Farid dengan mengiba.
"Abi sudah berbicara dengan kiai. Katanya Ifah akan mendapatkan umi dua Minggu lagi."
Khadijah menaikan kedua alisnya.
"Itu bapak yang minta. Habisnya bapak bingung kalau diminta jagain Ifah."
Farid dan Khadijah saling menatap. Sementara ibu yang mendengar dari kamar, tersenyum bahagia.
"Yeaaay." Ifah berjingkrak kegirangan.
Keadaan rumah memang sudah rapi dan bersih karena ada Mba. Hanya saja tidak ada apa-apa di atas meja makan. Ibu pergi ke dapur, melihat isi kulkas, lalu berpikir hendak memasak apa dengan bahan makanan yang ada di dalam sana.
__ADS_1
Setelah menemani Ifah bermain, Khadijah menghampiri ibu yang terlihat sibuk di dapur.
"Bu, mau masak? Dijah bantu, ya?"
Ibu menoleh sambil tersenyum.
Dijah mulai membersihkan ayam, memarut kelapa karena akan membuat ayam goreng serundeng. Sementara ibu memotong sayuran sebagai bahan sayur asem.
Saat ayam sedang direbus bersama bumbu, Khadijah memotong tempe untuk dia goreng. Tidak lupa juga kedua wanita itu menyiapkan bahan sambal.
Dua jam sudah. Makanan pun tersaji di meja, makan ala Sunda. Ayam, tempe, sambal, ikan asin, lalapan dan sayur asem.
"Emmmm, pasti enak." Ifah terlihat antusias karena akan memakan masakan Khadijah.
"Mau makan sama apa, Sayang?" tanya Khadijah.
"Itu, umi. Eh, ooopsss!"
A
Khadijah tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah gadis mungil itu.
"Ifah mau makan apa, nanti umi ambilkan."
Mendengar ucapan q Hanifa tersenyum lebar. Meski begitu, gadis kecil itu terlihat basah di bagian matanya.
Khadijah memeluk erat Hanifah.
Umi akan menjadi ibu yang paling baik di dunia untuk kamu, Nak. Umi tahu bagaimana rasanya tidak memiliki seorang ibu. Rasanya menyakitkan. Umi tidak akan membiarkan itu terjadi padamu.
Ya, Khadijah adalah anak yatim piatu. Dia hidup bersama adik dari ibunya. Hidup sebatang kara dengan bibi yang tidak memiliki hati yang baik merupakan penjara untuknya.
Meninggalkan hutang cukup banyak membuat Khadijah harus membayar kesalahan orang tuanya. Bekerja di umur yang masih kecil tidaklah mudah. Saat anak-anak sebayanya asik bermain, dia harus berkeliling berjualan.
Semakin dewasa, Khadijah mendapatkan tuntutan lebih besar lagi. Selain harus menanggung hutang orang tuanya, dia diwajibkan menafkahi bibi dan pamannya yang sudah tidak muda lagi.
Karena menginginkan jalan pintas, bibi memaksa Khadijah menikah dengan mantan suaminya agar hutang bisa dilunasi, dan hidup bibinya tercukupi.
Menikah dengan Wawan bukanlah perkara mudah. Selain tempramen, dia juga masih mencintai mantan istrinya. Meski sudah berstatus suami orang, Wawan kerap menemui sang mantan. Tidak peduli mantan istrinya sudah bersuami sekalipun.
Sakit? Sudah pasti. Tapi apa yang bisa dilakukan Khadijah hanyalah diam dan bersabar. Hingga akhirnya dia bertemu Farid, dan kini menjadi seseorang yang diharapkan oleh satu keluarga kecil. Disayangi dan dikasihi wanita yang belum lama dia kenal yaitu ibu. Dibutuhkan oleh malaikat kecil seperti Hanifah, dan dicintai begitu dalam oleh ustad muda, farid.
__ADS_1
Kesabaran yang ditempuh selama bertahun-tahun akhirnya terjawab sudah. Allah berikan kebahagiaan yang nyata pada Khadijah.
Namun, apakah kebahagiaan itu akan berjalan mulus? Wallahu alam. Bukankah semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin besar juga ujian yang akan dia terima?