
"Siapa yang menyuruh kamu datang ke sini?" tanya Farid.
Khadijah yang sedang dirasuki makhluk lain hanya diam dengan mata menatap penuh amarah. Bukan pada Farid tapi pada Iwan.
Iwan yang kesal berbalik melototi 'dia'. Tidak ada suami yang rela istrinya diganggu apalagi disakiti oleh orang lain.
"Kamu, kalau berani datang sama saya bukan pada istri saya. Kenapa? Kamu jin abal-abal sampai gak bisa masuk dan menyerang saya?" tanya Iwan penuh emosi.
Farid berusaha menenangkan.
"Jangan salahkan saya, salahkan diri kamu karena terlalu sombong dengan mulut besarmu itu! Aku datang karena diminta. Menyerang siapa saja yang paling lemah di rumah ini. Tidak peduli itu kamu atau istri kamu."
"Kurang ajar. Kamu, keluar sekarang atau akan teman saya musnahkan."
"Coba saja kalau bisa."
Farid hanya diam mendengar Iwan dan 'dia' berdebat.
"Pak."
"Hmm."
"Ayo, Pak. Lawan dia, Pak. Jangan lihat cangkangnya, Pak. Bagaimanapun juga yang ada di dala bukan teh Khadijah," ucap Iwan memelas dan ketakutan.
"Lihat saja, mulut besar mu itu tidak sesuai dengan sikapmu. Jika memang tidak bisa melakukan apa-apa, jangan sok hebat."
"Aku punya Allah, aku juga punya teman yang bisa menghancurkan kamu!"
"Tidak malu hidup bergantung pada orang lain? Dasar laki-laki payah!"
"Eh, kurang ajar." Iwan menghampiri Khadijah dan akan memukulnya karena kesal mendengar ucapannya.
"Eeeh, mau ngapain?" tanya Farid sambil menahan tubuh Iwan.
"Jangan sentuh sedikit tubuh itu, Pak Iwan. Ingat, tubuhnya milik Khadijah. Hati-hati."
Iwan diajak kembali ke pinggir oleh ayah mertuanya agar tidak menganggu prose penyembuhan anaknya.
"Saya orangnya tidak mau debat, tidak suka juga bertele-tele. Sekarang begin saja, kamu mau keluar atau saya musnahkan. Pilih mana?"
"Saya tidak akan memilih yang manapun juga. Saya hanya bertugas seusai perintah majikan saya."
"Saya bisa memusnahkan majikan kamu sekaligus. Mau bukti?"
Khadijah yang semula nampak bos besar dengan segala keangkuhannya, mulai terlihat gundah.
"Baik, akan saya bawa ke sini majikan kamu itu. Akan saya hancurkan semua ilmu yang dia miliki. Dia dan kamu akan musnah dari bumi Allah."
"Jangan ... jangan musnahkan saya."
"Kalau begitu, ikut saya baca syahadat. Masuk Islam dan kamu akan selamat. Bagaimana?"
"Tidak. Saya tidak mau masuk Islam, keluarkan saja saya dari tubuh wanita ini."
__ADS_1
"Eh, istri saya pingsan saat kamu masuk, kenapa wanita itu tidak?" tanya Iwan pada 'dia' yang ada di dalam tubuh Khadijah.
"Karena dia tidak selemah istri kamu!"
"Baca syahadat atau saya panggil penghuni gunung salak agar kamu dibawa sama dia ke sana. Bagiamana?"
Khadijah langsung menggelengkan kepala cepat dan mantap.
"Kenapa? Takut?"
Khadijah mengangguk.
"Makanya ayo ikut saya baca syahadat."
Khadijah menundukkan kepala. Dia seperti sedang berpikir keras, menimang tawaran yang diberikan oleh Farid.
Lama menunggu akhirnya 'dia' membuat keputusan bahwa dia akan membaca syahadat. Dengan dituntun oleh Farid, dia pun membaca syahadat.
"Alhamdulillah kamu sekarang sudah menjadi jin Islam. Sekarang, saya mau tanya sama kamu. Siapa yang mengirim kamu ke sini?"
"Paman dia." Khadijah menunjuk Iwan.
"Kenapa? Dia kan pamannya, kenapa malah mencoba menyakiti keluar ini?"
"Tersinggung karena ucapan dia. Dia kalau ngomong selalu tinggi. Merendahkan orang lain seenaknya sendiri."
"Bukan merendahkan, Pak Iwan itu memang begitu orangnya. Dia ceplas-ceplos dan apa adanya. Maksudnya juga becanda karena dia memang humoris."
"Tujuannya apa kamu dikirim ke sini?"
"Biar si mulut besar itu diam."
"Maksudnya?"
"Tidak semua selalu berada di atas, ada kalanya di tengah atau bahkan di bawah, saat kita di atas kita dilarang untuk menginjak yang di bawah, apalagi dia yang tidak memiliki apa-apa kenapa harus bermulut besar?"
"Semua bisa diselesaikan dengan baik-baik kenapa harus melakukan sihir yang sangat dilarang oleh Allah SWT. Kamu dikasih apa sama majikan kamu? Sampai mau disuruh menyakiti manusia? Sekarang keluar atau saya paksa?"
Jin yang ada di dalam tubuh Khadijah begitu ngeyel. Dia terus saja mengalahkan Iwan yang selalu bicara sembarangan dan arogan. Farid mendekat, kemudian dia memegang pundak Khadijah. Saat ayat Alqur'an dilantunkan, Khadijah berteriak.
"Aaarrgh, hentikan! Panaaaaas."
"Keluar atau saya bakar sekarang juga."
Khadijah berontak. Dia berusaha menyingkirkan tangan Farid. Bukan hanya itu, Khadijah juga berusaha melawan dan memukul Farid.
"Tidak perlu, biarkan saja." Farid melarang Iwan dan sepupunya yang laki-laki untuk memegang Khadijah. Tentu saja itu karena Farid tidak ingin ada yang menyentuh tubuh wanita itu. Bagaimana pun juga, tubuh itu tetap milik Khadijah.
Karena kesal, Farid pun akhirnya memaksa jin yang ada di dalam tubuh Khadijah keluar. Akibatnya, Khadijah langsung tidak sadarkan diri. Dia kehilangan keseimbangan dan tubuhnya hampir terjatuh ke belakang. Melihat hal itu, Farid segera melangkah dengan cepat lalu meraih tubuh Khadijah.
Mereka berdua terjatuh ke lantai dengan posisi Farid memeluk Khadijah.
"Tolong ambilkan bantal," pinta Farid. Mertua Iwan segera mengambil apa yang Farid minta. Dengan perlahan Farid menyimpan kepala Khadijah di atas bantal. Dia juga menutupi tubuh Khadijah dengan jaket yang dia bawa dari rumah.
__ADS_1
Semua orang kini bingung karena ada dua wanita yang sama-sama tidak sadarkan diri.
"Sekarang kita harus bagaimana, Pak? Dua-duanya malah pingsan."
"Jin yang dia kirim terlalu kuat. Baik Khadijah maupun istri pak Iwan tidak sanggup menahan energi negatifnya."
"Lalu, kita harus apa sekarang?" tanya mertua Iwan yang sama-sama panik dan cemas melihat keadaan anaknya.
"Saya tidak bisa melakukan rukiyah pada orang yang tidak sadar, Pak. Sebaiknya kita tunggu mereka berdua sadar dulu. Pengobatan pada anak bapak akan saya lanjutkan nanti. Ini tidak mudah, butuh proses lebih lama. Kita harus sabar."
Iwan dan mertuanya sama-sama terdiam. Suasana saat itu benar-benar tegang, baik istri Iwan maupun Khadijah tidak ada yang kunjung sadar.
Farid mendekati Khadijah, dia membaca beberapa ayat Alqur'an untuk mengecek apakah tidak sadarnya Khadijah karena gangguan jin atau bukan.
Khadijah bereaksi. Dia menggeliat seperti seekor ular.
Farid membuang nafas dalam-dalam karena tau jika Khadijah ternyata masih diganggu oleh jin.
Khadijah sadar, dia bangun dan duduk seperti orang kelelahan.
"Siapa kamu?" tanya Farid.
"Sebentar, saya lelah."
"Lelah kenapa?"
"Saya dipaksa untuk tetap berada di tubuh ini ... eh, bukan."
Khadijah terlihat kebingungan.
"Tubuh itu?" tanya Farid menunjuk istri Iwan yang masih belum sadar.
"Iya, harusnya saya di sana. Kenapa ada di tubuh ini?" tanyanya bingung.
"Karena kamu saya pindahkan ke tubuh ini. Tubuh wanita itu tidak mampu menahan energi jahat kamu dan teman-teman kamu."
"Oh begitu."
"Kamu dipaksa untuk apa di dalam tubuh wanita itu?"
"Biar gak mau melayani suaminya. Saya harus membuat rumah tangga mereka berantakan."
"Kenapa?"
Khadijah menarik nafas dalam, bersiap untuk bercerita. Namun, dia kembali pingsan. Farid segera menahan kepalanya agar dia tidak terbentur lantai.
Tidak lama kemudian mata Khadijah terbuka sangat lebar. Dia juga mendorong tubuh Farid begitu kuat hingga Farid terjengkang.
"Siapa kamu? Beraninya kamu mengganggu rencanaku! Kurang ajar."
Farid berusaha bangun, mengikuti Khadijah yang berdiri dengan tegak. Tangannya berada di pinggang seperti orang yang sedang menantang untuk berkelahi.
Aku harus hati-hati, bagaimanapun juga tubuh itu milik Khadijah. Jangan sampai dia terluka.
__ADS_1