Ruqyah

Ruqyah
Cerai


__ADS_3

"Siapa yang berani menggangguku!?" 'dia' berteriak.


Melihat sikap yang di tunjukkan oleh Khadijah, Farid tau jika itu bukan wanita itu dan juga bukan jin.


"Kamu dukun yang mengirim sihir ke rumah ini bukan?" tanya Farid.


"Apa urusanmu?" tanyanya dengan lantang.


"Urusanku di sini memusnahkan sihir yang kamu kirim."


"Oh, jadi kamu duku yang mengambil jin-jin yang aku kirim."


"Aku buka dukun. Aku hanya hamba Allah yang membantu mereka yang ditipu oleh dukun-dukun penipu seperti kamu."


"Lancang! Kamu bilang aku penipu? Kamu tidak tahu betapa tinggi ilmu yang aku miliki."


"Benarkah? Bukankah bisa mu hanya menyalakan kemenyan bau busuk itu?"


"Kurang ajar!"


Khadijah bergerak seperti pendekar silat yang bersiap untuk bertarung.


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan membuat kamu muntah darah saat ini juga."


Khadijah membaca mantra dan jampi-jampi. Tangannya bergerak ke atas seolah sedang mengambil sesuatu. Dia menariknya ke samping belakang lalu, wushhhhh!


Farid tertawa melihat sikap dukun itu. Dia seperti seorang aktor laga yang sedang menyerang dengan kekuatan cahaya.


"Hanya ini?" tanya Farid. "Aku bahkan tidak meras geli sedikitpun. Sekarang, giliran ku."


"Bismillahirrahmanirrahim...." Farid membaca ayat Alqur'an.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya dukun yang ada di dalam tubuh Khadijah. Dia terlihat cemas dan gelisah. Farid tidak peduli dan terus membaca ayat-ayat Allah.


"Hentikan! Apa yang kamu lakukan?" Khadijah seperti terkena bara api. Dia mengibaskan tangannya karena kegerahan. Bahkan, Khadijah hampir membuka hijabnya. Beruntung Farid dengan cepat mencegah tangan Khadijah membuka auratnya.


"Kenapa? Kamu terlihat mengkhawatirkan wanita ini?" tanya dukun penuh selidik.


"Jangan membuka apa yang pemilik tubuh ini lindungi."


Khadijah mendorong tubuh Farid. Dia tertawa. Sungguh tidak terduga, Khadijah berlari menuju lemari kaca dan ...


Prankkkkk!


Semua orang terkejut. Terutama Farid saat melihat tangan Khadijah terluka. Emosinya tersulut karena dukun itu berusaha melukai Khadijah.


Dengan keadaan terluka, Khadijah tertawa puas. Namun, matanya memperlihatkan bahwa dia kesakitan dan terlihat sedih.


Khadijah. Bisik Farid dalam hati. Ya, Farid bisa melihat dua tatapan mata seseorang yang jiwanya sedang diambil alih. Dia bisa melihat tatapan Khadijah asli di dalam tubuhnya.


Tidak ingin memberi ampun lagi, Farid dengan lantang membaca ayat Alqur'an. Khadijah berteriak, tentu saja itu adalah dukun keji itu. Dia mengerang kesakitan. Meminta ampun pada Farid, namun diabaikan.


Kemarahan Farid pada dukun itu karena telah melukai Khadijah membuat dia tidak ingin mengampuni dukun itu.


"Apa yang kamu lakukan!"

__ADS_1


"Aku akan melucuti ilmu yang kamu miliki. Aku akan ambil semua jin yang telah kamu kumpulkan selama ini. Jin yang kamu peralat untuk menyakiti manusia."


Mendengar ucapan Farid, dukun itu langsung menghampiri Farid dan bersimpuh di kakinya.


"Aku mohon, jangan lakukan itu. Kalau kamu ambil, aku kerja apa nantinya? Aku mohon jangan. Ampuni aku!"


Sesaat Farid terdiam dan berpikir, namun saat melihat darah yang menetes dari tangan Khadijah, dia kembali marah dan kembali membaca ayat-ayat Allah.


"Allahu Akbar!"


"Aaarghhghhhhh!" Khadijah mengerang kesakitan. Dia menggeliat seperti cacing terkena sinar matahari. Memegang dada dan tenggorokannya. Khadijah kesakitan seperti tercekik. Matanya membelalak dengan mulut terbuka.


Mata Farid memicing, memastikan apa masih ada jin dan dukun itu di dalam atau tidak.


Setelah beberapa saat, Khadijah terlihat lemas. Dia masih terlihat kesakitan.


"Ayo bangun." Farid membantu Khadijah duduk. Dia memegang punggungnya lalu membaca doa. Mengusap punggung Khadijah dari tulang ekor hingga ke ubun-ubun.


"Khadijah, dengarkan saya. Kamu rasakan tangan saya dan ikuti. Khadijah kamu dengar saya? Bismillah Khadijah, ayo kita lakukan bersama agar mereka keluar dari tubuh kamu."


Sekali lagi Farid mengusap punggung Khadijah dari bawah hingga ke atas kepala bagian belakang wanita itu. Sekali, dua kali, hingga lima kali.


Tubuh Khadijah terkulai lemas. Tubuhnya jatuh ke belakang tepat ke tubuh Farid. Beberapa detik kemudian Khadijah sadar.


Dia mengusap wajahnya, dan ....


"Awwww." Khadijah merasakan sakit ditangannya.


"Kemarilah." Farid menarik tangan Khadijah menuju kamar mandi. Dia mencuci tangan Khadijah yang berdarah, setelah bersih Farid melilitnya dengan sapu tangan yang dia kantongi.


"Iya, Pak. Terimakasih."


"Saya yang harusnya minta maaf karena kamu mengalami ini gara-gara pekerjaan saya."


"Berbagai amal dong, Pak. Jangan serakah." Khadijah cengengesan.


Farid menggelengkan kepala pelan.


"Masuk!"


Teriakan dari arah luar membuat Farid dan Khadijah segera menuju sumber suara. Di sana terlihat mertuanya Iwan menyeret seseorang.


"Lihat! Apa ini semua ulah kamu?" tanya mertua Iwan sambil menunjuk anaknya yang kini duduk lemas. Rupanya istri Iwan sudah sadar.


Pria yang diseret itu tertunduk. Bukan tertunduk malu atau merasa bersalah, justru sebaliknya.


"Jangan salahkan saya. Ini semua gara-gara dia!" pria itu menunjuk Iwan.


Melihat situasi yang ada, Farid tau bahwa ini adalah urusan keluarga Iwan. Dia mengajak Khadijah keluar dari rumah setelah meminjam kunci motor milik Iwan.


"Kita mau ke mana?" tanya Khadijah.


"Ke puskesmas dulu. Deket kok dari sini."


"Oh, iya."


Setelah dari puskesmas, Farid kembali membawa Khadijah. Wanita itu tidak bertanya ke mana Farid akan membawanya kali ini. Dia hanya duduk di belakang sambil menikmati angin hari ini. Matahari bersinar cerah tapi tidak menyengat. Angin dari sawah menerpa wajahnya dengan lembut.

__ADS_1


Khadijah menarik nafas dalam-dalam. Menghirup udara yang dirasanya begitu segar.


"Kenapa udaranya begitu nikmat dihirup," gumamnya.


Farid melirik kaca spion. Di sana dia bisa melihat wajah cantik Khadijah yang sedang terpejam.


Niat ingin mengantar Khadijah ke terminal, dia belokan ke arah lain setelah hatinya mengguruh hebat melihat cantiknya paras Khadijah.


"Loh, kenapa di sini? Ini rumah siapa?" tanya Khadijah heran saat Farid berhenti di depan rumah. mata gadis itu melihat ke sana sini. Dia sadar sedang ada di mana saat melihat sebuah mobil yang dirasanya familiar.


"Itu mobil bapak kan?" tanyanya sambil menunjuk mobil yang terparkir di garasi terbuka milik keluarga Farid.


Farid terdiam sambil menatap Khadijah.


"Ini rumah bapak?" tanyanya tidak percaya.


"Abiiii ..." seorang anak kecil berlari dari arah dalam setelah pintu rumah itu terbuka.


"Anak Abi." Farid menggendong Hanifah.


"Ada tamu rupanya?" tanya ibu yang ikut berjalan keluar mengikuti Hanifah.


"Bu." Khadijah menghampiri ibu dan mencium punggung tangannya dengan takdim. Ibu tersenyum. Matanya menelisik setiap inci wajah Khadijah yang begitu cantik.


"Abi, ini siapa? Kenapa cantik banget?" tanya Hanifah yang juga sedang menatap Khadijah.


"Nah, kalau ini siapa? Anak kecil lucu yang cantik ini. Namanya siapa, sih?" tanya Khadijah sambil mencubit pipi Hanifah yang sedang digendong Farid.


"Hanifah, Tante."



"Ayo, masuk." Ibu mengajak Farid dan Khadijah masuk ke dalam rumah.


"Ibu, kenapa tidak bertanya dia siapa?" tanya Farid.


Ibu yang hampir membalikan badan kembali mengarahkan tubuh menghadap anaknya. Dia tersenyum lembut.


"Melihat wajahmu yang terlihat salah tingkah, ibu tau dia siapa tanpa kamu jelaskan."


Farid menatap ibunya dengan mimik antara senang dan sedih. Juga merasa bersalah.


Sementara Khadijah masih asik mengajak Hanifah bercanda. Hanifah membalas candaan Khadijah dengan malu-malu.


"Nak ...." panggil ibu pada Khadijah. Sementara Khadijah masih asik mencubit gemas pipi Hanifah.


"Nak,"


"Khadijah."


"Ya?" Khadijah baru ngeh saat Farid memanggil namanya.


"Suami kamu nanti akan jemput ke sini kan? atau Farid yang akan antar kamu?" tanya ibu.


"Suami?" Khadijah tersenyum. "Saya sudah bercerai, Bu."


Farid dan Ibu menunjukkan reaksi wajah yang sama. Sama-sama terkejut dan juga ... entahlah. Namun, hati Farid semakin tidak karuan dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2