Ruqyah

Ruqyah
Operasi


__ADS_3

"Apa, dok?"


"Iya, Pak. Jadi ibu ini mengatakan kalau dia minum air rendaman rumput fatima. Itu pun setelah kami memaksa dia untuk jujur. Masalahnya kontraksinya terlalu kuat, selain itu umur kehamilannya juga belum cukup untuk melahirkan."


"Maksudnya kenapa dia minum air rumput fatimah?" tanya Farid pada diri sendiri.


"Kami tidak tahu alasannya, Pak. Coba bapak tanya saja sama yang bersangkutan. Pak, air rendaman ini tidak bisa diminum sembarangan apalagi kondisinya belum mau melahirkan. Si ibu bilang dia merasa mulas, dia pikir hendak melahirkan makanya minum air ini. Tapi setelah saya tanya dan menurut cerita pasien, pasien hanya mengalami kontraksi palsu. Kontraksi diakibatkan penyebab lain, bukan karena akan melahirkan."


"Terus ... apa yang harus dilakukan, Dok?"


"Jika kontraksinya terus berlanjut, saya khawatir bayinya akan stres dan kehilangan nyawanya."


"Dok, lakukan apa saja agar mereka berdua selamat. Kalau harus dilakukan operasi, lakukan saja. Saya yang tanggung jawab."


"Baik, Pak. Nanti bapak isi surat keterangan dulu untuk kami melakukan tindakan."


"Baik, Dok."


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Farid segera menelpon Hasan dan memberitahu kondisi yang terjadi.


"Jepit kamu benar. Abang titip mereka sama kamu. Lakukan apa saja agar mereka berdua selamat."


"Iya, Bang."


Operasi tidak dilakukan saat itu juga. Dokter memastikan kondisi Anita stabil. Tekanan darah, Hb dan hasil lab lainnya diperiksa.


Anita masuk ke ruang operasi saat azan subuh berkumandang. Farid dan ibu menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Mereka saling berpegangan, menguatkan satu sama lain.


"Bu, siapa dulu yang masuk salat? Farid atau Ibu? Kita gak mungkin salat barengan."


"Ibu saja dulu."


"Ya sudah, hati-hati ya."


Ibu mengangguk.


Farid memperhatikan ibunya berjalan. Wanita itu berjalan pelan, selain karena usianya yang sudah tidak muda lagi, ibu juga terlihat lelah dan pasti stres dengan kondisi Anita.


Farid merasa sedih melihat kondisi ibunya. Diusianya saat ini, ibu seharusnya istirahat di rumah. Bukan menjaga menantunya yang akan melahirkan di rumah sakit.


Aku harus segera meminang Khadijah. Harus ada yang mengambil alih tugas ibu di rumah.


Bip!


Ponsel Farid berbunyi. Ada chat baru masuk. Saat melihat siapa yang menghubungi, senyum Farid kembali merekah.


"*Mas, gimana keadaan di sana? Bayinya sudah lahir belum?"


"Belum. Ternyata harus dilakukan tindakan operasi."


"Astaghfirullah. Suaminya ada kan? Mas sama siapa di sana?"


"Suaminya di luar kota. Mungkin nanti siang baru sampai sini. Mas sama ibu."


"Oh, begitu. Ya udah, Mas. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar ya. Aku bantu doa dari sini. Salam untuk Ibu."


"Iya. Akan mas sampaikan*."

__ADS_1


Chat berakhir.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, suster keluar membawa bayi. Itu anak Hasan dan Anita.


Ibu dan Farid segera berdiri.


"Pak, Bu, ini bayinya mau kami bawa ke ruangan bayi. Soalnya kecil, harus ditindaklanjuti. Kalau mau ikut, silakan. Tapi hanya bisa melihat di luar jendela itupun nanti siang."


"Bawa saja suster."


"Tapi Farid, ibu mau lihat. Ibu mau ikut ke sana."


"Gak apa-apa, Bu. Tapi harus cepat karena bayinya harus segera ditangani."


Ibu mengangguk, lalu berusaha berjalan cepat mengikuti suster itu. Meski akhirnya ibu tertinggal jauh.


Sementara Anita belum juga keluar.


Sudah hampir satu jam, akhirnya Anita keluar didorong di atas ranjang kecil oleh petugas. Nampaknya dia belum sadarkan diri.


"Ini mau dibawa ke mana?" tanya Farid.


"Ke ruang observasi dulu, Pak. Setelah sadar nanti kita bawa ke ruang perawatan. Sudah dapat kamar belum? Tadi langsung dari UGD bukan?"


"Iya, sudah. Kami dapat kamar VIP 2."


"Oh, iya. Mari, Pak. Ikut ke ruang observasi dulu."


Menunggu. Sesuatu yang membuat sebagian besar orang tidak suka. Waktu yang berjalan pun terasa lebih lambat dari biasanya. Semua menjadi lebih membosankan, terutama di rumah sakit.


Melihat orang dengan ekspresi berbeda-beda. Namun kebanyakan menunjukkan wajah-wajah yang kelelahan dan sedih. Lalu lalang petugas mendorong tempat tidur yang berisikan orang-orang tidak sehat semua. Ada yang ringan-ringan saja, dan ada juga yang kritis dan diiringi tangisan keluarga.


"Ini sudah pukul tujuh, harusnya ibu sudah sarapan," keluhnya.


Saat sedang melihat Anita yang kesadarannya belum kembali secara utuh, ponsel Farid berdering.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Mas. Mas ada di ruangan apa? Aku di depan."


"Di depan?"


"Iya, di depan rumah sakit. Mas di mana?"


"Oh, ini. Mas di ruang VIP no 2. Tanya aja ke petugasnya kalau bingung."


"Oh, iya. Ibu di situ juga?"


"Enggak, Ibu di ruang bayi."


"Oh, iya. Ya udah, aku tutup dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Jantung Farid berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia merasa bahagia Khadijah datang, namun dia juga gelisah. Lebih tepatnya dia merasa salah tingkah. Bingung harus berbuat apa saat dia datang nanti.


Farid kembali duduk, menanti sang pujaan hari datang.

__ADS_1


Berkali-kali dia melihat jam tangan, jika menurut perhitungan harusnya Anita sudah ada di sini, namun dia tidak kunjung muncul.


Farid membuka ponsel hendak mengirim chat, akan tetapi niat itu tertunda saat pintu kamar diketuk lalu dibuka. Dari luar sana dia melihat ibu masuk, lalu diikuti oleh Khadijah.


Deg!


Jantung Farid kembali berdetak lebih cepat lagi. Dia tersenyum pun terasa kaku karena terlalu grogi.


"Gimana keadaan Anita?"


"Dia kadang sadar, kadang tidur lagi."


"Ini sarapan dulu, tadi Khadijah bawa makanan. Ibu udah sarapan duluan karena Khadijah memaksa."


"Alhamdulillah kalau ibu sudah sarapan, Farid sempat mikirin itu tadi."


"Untungnya Khadijah bawa, ya."


Farid tersenyum.


"Kenapa operasi sesar dibius total ya, biasanya kan kata orang operasi sesar itu masih sadar," tanya Khadijah sambil menyiapkan lontong sayur untuk Farid.


"Dokter bilang ada kondisi tertentu yang mengharuskan pasien dibius total."


"Oh, mungkin juga sih. Ini, Mas." Khadijah menyodorkan mangkuk pada Farid.


"Terimakasih," ucap Farid sambil tersenyum.


Ibu tersenyum senang melihat interaksi Farid dan Khadijah. Hatinya lega karena ternyata Khadijah begitu perhatian. Siapa sangka dia akan datang dan membawakan sarapan untuk mereka berdua.


"Mau pake gula gak, Mas?" tanyanya sambil memegang termos kecil yang sengaja dia bawa. Khadijah membawa teh, dan gula serta. Termasuk cangkir dan sendoknya.


"Sedikit aja. Mas gak terlalu suka manis."


"Iyalah. Nanti takut diabetes, Mas. Aku aja udah manis ini, gak perlu pakai gila lagi." Khadijah bercanda. Ibu tersenyum cukup lebar. Sementara Farid kebingungan harus mengatakan apa.


"Mba," Khadijah mencoba membangun Anita. Siapa sangka yang terjadi berikutnya membuat semua orang terkejut.


Anita yang sudah sadar hampir sepenuhnya sejak tadi mendengar mereka semua berbicara. Saat Khadijah menyentuhnya, dia mendorong Khadijah menjauhi dirinya. Wanita itu mundur beberapa langkah dan hampir menabrak ibu yang berada tepat di belakangnya.


"Eeeeh, kenapa, Nak?" tanya ibu kaget melihat Khadijah dan sikap Anita.


Farid menyimpan mangkuk, dan dia langsung berdiri menghampiri Khadijah.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Farid cemas.


Khadijah menggelengkan kepala. Wajahnya terlihat syok karena dia hampir menabrak dan membuat ibu terjatuh.


"Kak Anita apa masalahmu?" tanya Farid kesal. Kekesalan itu bukan hanya karena kejadian ini tapi juga karena saat dia digendong waktu itu. Juga karena kemarahan Farid atas perasaan Anita padahal dia istri Hasan, abangnya Farid.


"Mas, sudah. Aku gak apa-apa. Tadi aku cuma kaget karena hampir menabrak ibu."


Farid mendengar akan tetapi mengabaikan ucapan Khadijah.


"Sebentar lagi keluarga dia datang, kita lebih baik pulang dan beristirahat," ucap Farid sambil pergi keluar ruangan.


"Bu, Dijah nyusul mas Farid dulu, ya. Ibu gak apa-apa ditinggal di sini sendiri?"

__ADS_1


"Iya, Nak. Kamu tenangkan Farid, ya."


Khadijah mengangguk. Dia lalu keluar setelah mencium punggung tangan ibu.


__ADS_2