
"Ya Allah, aku berlindung hanya kepadamu. Wahai dzat yang maha kasih, jika memang ini adalah keputusan dan takdir yang engkau berikan untuk hamba, maka ikhlaskan hati hamba untuk menerimanya. Wahai yang maha membolak-balikkan hati, jagalah hati ini, hamba titipkan hati ini agar teguh dan ikhlas menerima apapun yang engkau berikan."
Farid bersujud dengan deraian air mata yang membasahi sajadahnya.
Sejak seperempat malam dia bangun, salat dan dzikir, hingga salat subuh usai, Farid tidak beranjak sedikitpun dari atas sajadahnya. Dia berusaha menguatkan hatinya dengan menyebut nama Allah. Mencoba ikhlas menerima takdir yang akan Allah berikan.
Di luar sana, ibu, bapak, Mba, bibi, dan bang Hasan sedang sibuk menyiapkan hantaran yang akan di bawa ke pondok pesantren.
Bapak, sosok yang tidak pernah mau ikut campur urusan seperti ini, hari ini adalah orang yang paling sibuk. Wajahnya berbinar, memancarkan suasana hati yang tengah bersuka cita.
Ibu menengok ke sana sini, dia mencari anak bungsunya yang tidak terlihat batang hidungnya sejak tadi.
"Nak, Farid. Ibu boleh masuk?" tanyanya setelah mengetuk pintu. Mendapat izin dari anaknya, ibu masuk.
"Ada apa?" tanyanya yang duduk di samping Farid. Ustad itu tidak menjawab dan hanya berdzikir sambil menundukkan kepala.
"Nak ...."
"Ibu," lirihnya sambil memeluk sang ibu. Air matanya tumpah di pundak sang ibu.
Hatinya merasa sakit. Kesedihan yang selama ini dia bendung dengan berbagai alasan dan akibat, tumpah ruah dalam pelukan sang ibu.
"Allah tidak akan memberikan takdir yang buruk untuk hambanya. Jika kita tidak suka, bisa jadi bagi Allah adalah yang terbaik untuk kita."
"Farid tidak bisa melupakan Khadijah meski berusaha keras. Sekian lama Farid meminta agar Allah membalikkan hati ini, Khadijah tetap tidak bisa dilupakan, Bu. Sekarang Farid harus gimana?" tanyanya disela isak tangis.
"Nak," Ibu melepaskan pelukannya. Mantap anak kesayangannya sambil menghapus air mata di pipi Farid.
"Bismillah, ya. Kita percayakan semuanya pada Allah. Ya?"
Farid mengangguk, lalu kembali memeluk sang ibu. Cukup lama mereka saling menguatkan, hingga Farid tenang.
Ya Allah, bahagiakan anak hamba. Doa sang ibu dalam hati.
"Kamu mandi dan siap-siap, ya. Ibu mau ke bawah lagi. Takut bapak nyari. Masih banyak yang harus ibu urus."
Farid mengangguk pelan. Ibu kembali ke bawah untuk mengurus segalanya.
"Mba, tolong yang itu masukkan ke dalam kotak ya. Yang rapi."
"Ini, Bu?"
"Iya, itu untuk para santri. Nah, kalau yang ini untuk keluarga kiai."
"Memangnya harus sebanyak ini, ya, Bu? Kita bukan mau lamaran 'kan?" tanya Anita ketus.
"Bapak yang pesan ini semua."
"Bapak?" tanya Anita heran.
Ibu tersenyum.
__ADS_1
"Cokelatnya mana, Bu? Itu sama kacang juga." tanya Bapak.
"Ini, Pak." Mba menjawab sambil membaca cokelat dari ruang makan menuju ruang depan, diikuti bibi yang tidak lain adik bapak.
"Ada cokelat juga?" Anita semakin heran dan juga kesal.
"Katanya calon istri Farid suka sekali coklat. Kalau kacang untuk kiai." Bapak menjawab dengan antusias dan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Melihat hal itu Hasan hanya tersenyum. Sesekali dia saling melirik dengan ibunya.
Pukul 07.30
Tiga mobil siap berangkat menuju pesantren untuk menemui calon keluarga baru.
Dalam perjalanan, Ibu dan Farid selalu berpegang tangan. Mereka berdua saling menguatkan satu sama lain. Hati Farid dan sang ibu sama-sama sudah terlanjur suka pada Khadijah, namun mereka tidak bisa menghindari hari ini. Siap tidak siap, Farid sudah terlanjur berjanji pada kiai.
"Siapapun wanita itu nanti, kamu harus berjanji akan menikahinya. Tenang saja, aku tidak akan memberikan wanita sembarangan untukmu. Baik akhlak maupun paras akan aku pastikan sesuai dengan dirimu, Farid."
"Insya Allah, Pak Kiai. Saya siap menerima siapapun wanita itu nanti."
Janji yang sudah telanjur diucap, tidak bisa diingkari apalagi janji itu dibuat dengan sang kiai besar. Guru Farid sendiri.
Mobil mereka sampai di halaman rumah Kiai. Beberapa santri dengan siap siaga dan badan yang membungkuk langsung menghampiri saat bapak meminta mereka menurunkan barang bawaan.
"Yang itu bawa ke asrama kalian untuk kalian santap bersama," ucap bapak.
"Alhamdulillah, matur suwun, Pak." Salah seorang santri menjawab.
Pak Kiai segera keluar untuk menyambut tamu yang datang.
"Alhamdulillah ya Allah. Sahabat lama akhirnya bisa juga datang kemari." Pak Kiai menyambut bapak dengan hangat. Menjabat tangan lalu memeluk bapak.
"Nyari siapa, Mas?" tanya Anisa. Anak kedua Pak Kiai.
"Cemara mana?" tanya Farid.
"Dia sibuk dandan dari pagi. Katanya Mas Farid mau datang ngasih cincin. Dia kan udah selesai menghafal 30 juz, Mas."
Farid tersenyum bangga.
"Farid, jadi cemara yang akan jadi ibu Ifah?" tanya Anita. Pertanyaan itu membuat semua orang menoleh padanya.
"Memangnya kenapa? Dia juga perempuan. Harusnya Kak Anita merasa heran kalau aku akan menikah dengan Bang Ridwan."
Ridwan adalah anak sulung pak Kiai. Anisa dan yang lainnya tersenyum geli.
Obrolan basa basi tentang kabar karena sekian lama tidak berusa membuat ruangan itu terdengar sangat riuh. Obrolan yang satu dengan yang lainnya.
Bapak dengan kiai, Bu Nyai dengan Ibu, Ridwan dengan Hasan, sementara Farid bercanda dengan Ifah.
"Mas!"
Tiba-tiba suara Cemara membuat semu orang terdiam dan menoleh padanya. Gadis itu terlihat sangat cantik. Senyumnya merekah sambil berjalan riang menghampiri Farid.
"Mana cincinnya?" todongnya.
Farid melirik pada kiai dan ibunya.
__ADS_1
"Nanti, ya. Jangan sekarang."
"Kok gitu? Aku kan udah hafal 30 juz. Kok Mas bohong?" ucapnya. Lalu dia menyimpan kedua tangannya di dada dengan bibir cemberut.
"Ih, ngambek. Jelek tau." Farid mendorong jidat Cemara lembut.
"Manaaaa." Cemara menggoyangkan tubuh Farid. Menarik-narik lengannya.
"Iya, iya. Tunggu dulu. Baju Mas sobek ini."
Cemara pun berhenti.
Farid merogoh sakunya, mengambil kotak putih kecil, lalu memberikannya pada Cemara.
"Buka," titah Farid.
"Suka enggak?"
"Wuaaaah, cantik banget. Abi, Abi ... lihat ini." anak itu berlari mendekat kiai tanpa memperdulikan tamu yang hadir.
"Bagus kan?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Iya, bagus. Cantik kayak kamu."
"Pakein."
"Kok Abi? Mas Farid dong yang pakein."
"Gak mau, Mara mau Abi aja yang pakein."
"Loh, kok gitu. Kan Farid yang ngasih. Kenapa Abi yang pakein."
"Abi aja" Cemara merengek. Pak kian melirik Farid meminta persetujuan. Farid mengangguk mengiyakan.
"Ya udah sini." Pak Kiai mengambil kotak itu, menyematkan cincin pada jari manis putrinya. Cemara begitu senang. Dia memeluk Pak Kiai sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali.
"Aku mau pamer dulu sama santri, dadah."
Cemara pun pergi meninggalkan berjuta tanya di hati dan benak orang-orang di ruangan itu.
"Farid, beneran dia?" tanya Anita. Farid tersenyum tipis.
"Ehmmmm." Pak Kiai berdehem.
"Ayo silakan dicicip dulu makanannya."
Hasan dan keluarganya merasa tidak enak dengan sikap Anita. Mereka pun menuruti apa yang kiai perintahkan. Mencicipi makanan hanya untuk mengalihkan suasana.
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam." Semua orang menjawab hampir bersamaan.
Seorang wanita dengan jilbab lebar masuk ke ruang tamu Pak Kiai. Dia datang dengan menundukkan kepala, tanda kesopanan saat bertemu dengan guru besarnya.
"Duduk, Hanura."
Seusai perintah Kiai, wanita yang bernama Haura itu pun duduk di kursi ujung persisi di samping Fatimah, menantu Kiai.
"Nah, Farid. Ini Fatimah. Dia alumni santriwati di sini. Cantik bukan?" tanya Pak Kiai.
__ADS_1
Farid melirik sekilas pada Haura. Lalu menundukkan kepala. Dia memejamkan mata dengan kuat, menguatkan hati agar berusaha menghilangkan Khadijah dari sana.
Ya Allah ... apa yang harus hamba lakukan?