Ruqyah

Ruqyah
Tatapan lain


__ADS_3

"Sini mas bantu."


Khadijah terlihat kikuk saat Farid menghampirinya ke kamar mandi. Dia mengambil hair dryer dari tangan Khadijah, lalu membantunya mengeringkan rambut.


"Rambut kamu bagus banget, ya."


Khadijah melirik Farid dari cermin.


"Wangi." Farid mencium bau rambut Khadijah yang sudah setengah kering. Khadijah yang kaget langsung menghindari Farid.


Laki-laki itu tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang malu-malu. Khadijah masih kagetan saat disentuh oleh suaminya.


"Ada apa?" Farid sengaja menarik pinggang Khadijah, lalu memeluknya dari belakang. Mereka saling menatap di pantulan cermin.


"Aku masih agak canggung, Mas. Suka kaget aja gitu."


"Ini bukan pernikahan kamu yang pertama bukan?" tanya Farid berbisik di telinga Khadijah.


"Tapi ini pertama kalinya aku satu kamar dengan pria."


Farid terdiam. Dia seperti berusaha mengingat sesuatu. Entah kenapa Farid melepaskan pelukannya dan keluar dari kamar mandi.


Dia terdiam saat dugaannya benar. Bercak darah di atas seprei membuktikan bahwa Khadijah memang masih suci. Meski janda dia masih belum dijamah.


Farid masih terdiam saat Khadijah menatapnya dari samping.


"Kenapa, Mas? Aneh, ya? Maaf aku tidak bilang sebelumnya. Aku memang masih gadis meski statusku sudah janda. Suamiku yang sebelumnya memang tidak pernah memberikan nafkah secara batin. Alasannya karena dia merasa mengkhianati istrinya yang saat itu masih menjadi mantan istrinya."


Farid menundukkan kepala.


"Kenapa, Mas?" tanya Khadijah heran.


"Sayang ...." Farid mendekati Khadijah, memeluk erat dan penuh kasih sayang.


"Mas minta maaf."


"Untuk?" tanya Khadijah semakin bingung.


"Mas minta maaf." Sekali lagi Farid hanya bisa mengatakan kata maaf.


Meski penasaran kenapa, Khadijah memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Dia membalas pelukan suaminya sambil menepuk pelan punggung Farid. Meski tidak bicara, tapi Khadijah merasa jika Farid sedang merasakan sesuatu. Sedihkah? Entahlah.


Hari semakin siang, setelah sarapan mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Namun, saat di parkiran mereka melihat ada seorang wanita dan pria sedang bertengkar.


Dilihat dari cara bicara dan gestur tubuhnya, terlihat si wanita sedang memarahi pria. Dari pembicaraan mereka yang sebenarnya adalah sebuah pertengkaran, kemungkinan besar mereka adalah suami istri.


Khadijah melihat betapa kasarnya wanita itu. Sementara si pria hanya diam dengan sabarnya.

__ADS_1


"Sayang, ayo."


"Mas, apa gak sebaiknya kita samperin aja mereka? Maksudnya berantemnya jangan di tempat umum kaya gini. Dilihat banyak orang tau."


"Bukan urusan kita, Sayang. Itu urusan rumah tangga mereka. Nanti kita salah kalau ikut campur tanpa diminta."


"Tapi, Mas-"


Bugh!


Khadijah semakin terkejut saat melihat wanita itu menendang suaminya hingga membungkuk kesakitan. Tidak cukup sampai situ, wanita itu juga memukul punggung suaminya dengan tas yang dia tenteng.


"Eh, Bu, Bu. Tunggu."


Khadijah yang tidak kuat melihat adegan itu terjadi, langsung menghampiri.


"Ibu jangan begini. Gak baik mukul orang begitu."


"Heh, kamu siapa? Urusannya apa sama kamu?"


"Ya ibu jangan kasar dong. Masa suaminya dipukul dan ditendang, gak sopan ibu."


"Pergi kamu sebelum kamu saya pukul juga."


"Kalau ada masalah selesaikan di rumah, jangan sampai jadi tontonan orang seperti sekarang."


"Duh, kamu itu nambah kepala saya puyeng tau! Minggir!"


"Siapa lagi ini? Kenapa begitu banyak pahlawan kesiangan hari ini."


"Berani anda memukul istri saya, maka anda berurusan dengan saya!"


"Oh jadi kamu suaminya? Baguslah, bawa tuh istri kamu yang jelek itu. Gak usah ikut campur urusan orang."


Farid melihat pandangan lain di mata wanita itu.


"Sayang, kamu masuk ke mobil."


"Kenapa?"


"Masuk saja."


Tanpa banyak bertanya, Khadijah masuk ke dalam mobil setelah menanyakan keadaan suami wanita itu.


"Istri saya sering banget seperti ini. Gak tau tempat tiba-tiba marah gak jelas bahkan sangat kasar."


"Baru apa sudah lama?"

__ADS_1


"Belum lama ini, Pak."


"Sudah saya duga. Sepertinya dia bukan istri bapak yang asli. Ada makhluk lain yang mengendalikan istri bapak."


"Hah? Maksudnya dia kesurupan?"


Farid menggelengkan kepal.


"Siapa yang kesurupan? aku tidak kerasukan apa-apa!" Wanita itu kesal.


Farid membaca ayat Alqur'an. Wanita itu bereaksi, lalu mundur beberapa langkah.


"Hentikan!"


"Kalau ingin aku berhenti, maka diam dan jangan pengaruhi pemilik tubuh ini. Kalau tidak, akan aku hancurkan kamu saat ini juga."


Melihat situasi dan kondisi mereka berada saat ini, Farid tidak mungkin melaksanakan rukyah di tempat umum dan terbuka ini.


"Jangan kendalikan tubuh ini karena bukan milik kamu. Biarkan dia pulang ke rumahnya maka aku akan melepaskan kamu untuk saat ini.''


Wanita itu terdiam untuk sesaat. Dia kemudian pergi dan masuk ke salah satu mobil yang diparkir di sana.


"Pak, jadi istri saya kenapa?" tanya suaminya.


Farid mengambil dompetnya. "Ini kartu nama saya. Hubungi nanti jika dibutuhkan."


"Oh, iya, iya. Makasih sekali, Pak. Nanti akan saya hubungi kalau sudah sampai rumah."


"Sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan."


Pria itu berani lalu menyusul istrinya. Farid menghela nafas panjang.


"Kenapa, Mas?" tanya Khadijah begitu Farid masuk ke dalam mobil.


"Dia kena sihir. Mas bisa melihat pandangan lain dari matanya."


"Mas, mas. Coba lihat mata aku, siapa tau ada tatapan lain juga di mata aku."


"Eummm, coba sini mas lihat." Farid pura-pura memeriksa mata Khadijah dengan serius.


"Gimana?" tanya Khadijah dengan polosnya sambil terus menatap Farid.


Cup.


Farid mencium kening Khadijah sambil berkata, "Cantik."


Khadijah terpaku karena sikap Farid, sementara Farid hanya tertawa kecil melihat keterkejutan istrinya.

__ADS_1


"iiiih, jail banget, sih." Khadijah mencubit pinggang suaminya.


Farid terkekeh.


__ADS_2