
Dip dalam perjalanan pulang mengantarkan Khadijah, Farid tidak bicara sama sekali. Dia yang selama ini mencintai wanita itu dalam diam, dalam rasa bersalah dan dalam tekanan yang luar biasa, dibuat tidak berdaya.
Hal berbeda dirasakannya saat ini. Rasa yang menggebu tapi entah harus diperlakukan seperti apa.
Ingin menyapa tapi entah mulai dari mana. Ingin bertanya tapi entah tentang apa.
"Saya merasa lebih bahagia sekarang ini, Pak. Tidak ada beban, tidak ada tekanan, tidak ada tuntutan. Kadang, pernikahan itu jika dilakukan dengan orang yang salah malah menjadi ladang dosa. Iya, sih, saya sabar tapi tidak jarang saya juga mengumpat. He he he."
Farid hanya tersenyum sekedar basa-basi.
"Siapa yang minta cerai?"
"Tentu saja bukan saya."
"Kenapa?"
"Ada kata-kata seseorang yang membuat saya justru terpaku dalam hubungan yang menyakitkan. Untungnya istri pertama suami saya terang-terangan tidak ingin dimadu, akhirnya saya yang diceraikan. Harusnya sedih ya, gak, sih. Tapi saya malah sujud syukur waktu itu. Ha ha ha. Suami saya sampai heran."
"Syukurlah."
"Kenapa? Bapak kok berucap sukur atas perceraian orang lain."
"Karena saya tahu kamu tidak bahagia. Hidup itu singkat, carilah kebahagiaan yang membuat kita bisa masuk surga."
"Contohnya?"
"Yaaa, beribadah. Itu juga membuat kita bahagia jika kita melakukannya dengan ikhlas. Berbuat baik meski sedikit pun akan membuat kita bahagia."
"Menikah juga bisa membuat kita bahagia bukan? Asal dengan orang yang kita cintai. Menyediakan makan untuk suami, melayani kebutuhan dia dengan ikhlas dan hati yang penuh suka cita. Sayangnya ... pernikahan saya malah jadi jurang derita."
"Mungkin Allah punya takdir yang lebih baik."
"Seperti sekarang, contohnya."
Farid menoleh seketika saat mendengar ucapan Khadijah. Beberapa saat mereka saling pandang, lalu Farid kembali fokus pada jalan di depannya.
Mereka kembali diam.
__ADS_1
"Sebagai imbalannya, rumah ini, kendaraan dan beberapa jumlah uang menjadi milik saya dari mantan suami," jelas Khadijah pada Farid saat di depan rumahnya. Rumah yang menjadi tempat pertama kali mereka bertemu.
Farid mengangguk pelan. Dia membiarkan Khadijah turun dari mobil bahkan tanpa menatapnya sedikitpun. Pun dengan Khadijah, dia turun dan membelakangi mobil Farid hingga mobil itu pergi.
Diam-diam Farid mengintip dari kaca spion, sementara Khadijah melihat mobil Farid dari layar ponsel miliknya yang hitam.
Perlahan tangan Khadijah bergetar. Air matanya luruh.
Jika dia bukan jodoh hamba, kenapa engkau selalu mempertemukan kami di saat hati sudah sekuat mungkin berusaha melupakan, ya Allah.
Khadijah pun masuk.
...***...
"Abi, Abi. Tante yang waktu itu siapa? Kok cantik banget. Ifah suka, deh."
Farid melirik anak kesayangannya dengan hati yang berdegup kencang.
Tangan Anita yang sedang membuka kacang rebus pun terhenti seketika. Matanya mulai memanas. Hatinya bergemuruh seakan ada lahar panas yang siap keluar.
"Ya, ibu saja melongo saat pertama melihat wajahnya. Bagiamana laki-laki coba." Ibu cekikikan.
Hasan tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Nek, Ifah mau dia jadi umi Ifah, boleh?"
Ibu tersenyum sambil melirik Farid. Pun dengan Hasan. Tatapan penuh tanda tanya dan penekanan.
"Kalian kenapa?" tanya Farid sambil memakan kacang.
"Farid, ini musim liburan sekolah karena kenaikan kelas. Itu artinya Ifah sebentar lagi masuk TK, ibu udah capek bolak-balik anter dia sekolah. Apalagi TK kan jauh, beda sama paud."
"Nanti Farid carikan pengasuh untuk Ifah, Bu."
Ibu menarik nafas kesal karena Farid pura-pura tidak mengerti maksud ucapan ibunya.
"Gak usah repot-repot nyari yang gak ada dan gak mau. Kiai tadi sudah nelpon, katanya pekan depan kita disuruh ke sana. Calon untuk Farid sudah ada."
__ADS_1
Deg!
Jantung Farid seakan berhenti untuk sesaat. Wajahnya terlihat pucat dan tidak ceria seperti tadi. Sang ibu mengetahui itu.
"Katanya calon untuk Farid ini spesial dan kemungkinan besarnya Farid tidak akan menolak. Bukankah waktu itu kamu menyanggupi akan menikahi siapa saja pilihan kiai?" tanya Bapak.
Farid mengangguk pelan.
"Ya sudah. Bu, kamu siap-siap. Jangan lupa bawa makanan dan buah-buahan untuk kunjungan kita nanti. Bapak sudah tidak sabar ingin melihat calon mantu kita. Aaah, akhirnya rumah ini akan ramai lagi," ucap bapak sambil berlalu ke kamarnya. Meninggalkan Farid dengan perasaan yang hancur berantakan.
Hasan mengusap pundak adiknya, lalu dia mengajak istrinya yang terbakar api cemburu masuk ke dalam kamar. Pun dengan ibunya yang menyusul bapak.
"Abi, sedih ya?" tanya Ifah sambil memeluk Farid.
"Enggak, kan ada Ifah. Untuk apa Abi sedih, nak."
"Abi kenapa gak ngajak Tante itu nikah saja? Ifah juga mau dia jadi umi Ifah."
"Abi gak bisa, Nak."
"Kenapa?"
"Karena Abi sudah berjanji pada kiai. Abi tidak akan mungkin melanggar janji itu."
Hanifah cemberut.
"Loh, kenapa sekarang malah Ifah yang bete?"
"Ifah mau ketemu Tante itu lagi, Abi."
Farid tersenyum getir. Dia memeluk erat tubuh Hanifah degan senyuman getir.
"Umi Ifah dari Pak Kiai pasti cantik juga. Abi yakin itu. Ifah jangan sedih, ya."
"Umi di surga gak akan marah kan kalau Ifah punya umi baru?"
"Enggak, sayang. Umi di surga adalah wanita lembut yang tidak pernah bisa marah. Bahkan, saat dia berada di posisi paling sakit pun, dia tetap tersenyum dengan cantik." Farid membayangkan bagaimana wajah istrinya saat hendak melahirkan. Saat dia tau jika Farid mencintai wanita lain.
__ADS_1