Ruqyah

Ruqyah
Bertemu


__ADS_3

Taukah kamu, jika sebangsa jin, setan, iblis dan lainnya adalah makhluk yang licik. Mereka menggoda dan menjebak manusia. Namun, jika jin sudah masuk Islam, kemungkinan untuk berbohong itu kecil apalagi setelah dia diancam dan disiksa.


Meski demikian, Farid tetap berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan jin yang masuk ke dalam tubuh istrinya. Dia tidak ingin menjadi berburuk sangka yang akhirnya jatuh menjadi fitnah.


Lagi pula, jin itu tidak mengatakan siapa yang mengirim dia. Farid tidak ingin menduga-duga dan memutuskan untuk merahasiakan semuanya. Yang terpenting baginya adalah Khadijah sudah baik-baik saja.


Lama setelah kejadian itu, saat Khadijah dan Farid duduk di balkon, menikmati secangkir teh dan pemandangan yang begitu indah. Meski tidak banyak, tapi bintang di langit berhasil membuat mata Khadijah begitu terkagum-kagum pada ciptaan-Nya.


"Mas ...."


"Hmmm. Apa, Sayang?"


"Apa mas punya sodara dengan rambut keriting? Dia terlihat tinggi dan kulitnya eksotis. Cantik, sih."


"Enggak, kenapa memangnya?"


"Aku pernah melihat dia sekilas. Emmm, tidak sekilas, sih. Cukup jelas meski hany sebentar. Dia tersenyum tapi matanya terlihat kesal."


"Mungkin hanya mimpi."


"Bukan mimpi, tapi gak sadar juga."


"Maksudnya?"


Khadijah menatap wajah suaminya.


"Terkahir aku di rukiyah, aku mendapatkan penglihatan itu. Jin yang ada di dalam tubuhku memperlihatkan sosok itu."


Farid mengerutkan keningnya.


"Entah kenapa, dan aku juga tidak tahu siapa. Tapi wanita itu muncul cukup jelas."

__ADS_1


Farid menghela nafas. Dia mencoba menyatukan ucapan jin dan ucapan Khadijah,. hingga akhirnya Farid menyadari sesuatu.


Wanita itu? Kenapa? Apa dia dendam karena tahu aku mencintai Khadijah saat masih berstatus suami kakak tirinya?


"Jangan terlalu percaya pada jin, Sayang. Mereka itu sering menipu dan picik. Lupakan saja takutnya jadi suudzon."


Khadijah mengangguk.


Meski begitu, Khadijah tetap penasaran dengan sosok wanita yang dilihatnya begitu cepat, tapi terasa begitu nyata.


Astagfirullah, aku harus lupa biar jadi gak nuduh yang tidak-tidak.


Waktu berjalan seperti biasanya. Damai, tenang, dan tidak ada lagi tanda-tanda bahwa di rumah ini ada jin atau sihir. Pun dengan Khadijah yang tidak menunjukkan gejala apapun.


Tentu saja karena Farid membuat penjagaan untuk Khadijah dan rumahnya agar tidak bisa ditembus oleh sihir ataupun mereka yang berniat buruk pada keluarganya dengan cara meminta bantuan pada jin Islam.


"Umi, aku mau beli es krim."


"Umi anterin, ya."


"Mau ke mana Bu ustad?" tanya mamanya alvino, temen Hanifah.


"Nganter beli es krim, Bu."


"Oh, nanti gabung ke sini, ya. Ini kami bawa rujak kangkung sama bihun. Kita makan bareng-bareng."


Khadijah mengangguk sembari senyum merekah.


"Mau pakai cone atau cup?"


"Ini, yang bentuk ikan." Hanifah menunjuk cone berbentuk ikan berwarna hijau.

__ADS_1


"Berapa, Mang?"


"Tiga ribu, Bu."


Khadijah mengambil dompet, mengeluarkan uang sepuluh ribu.


"Ini kembalinya, Bu."


"Makasih, ya, Mang."


Khadijah dan Hanifah pun membalikkan badan.


"Khadijah?"


Langkah wanita itu terhenti, lalu menoleh ke belakang ke sumber suara.


"Ya?"


Wanita itu tersenyum. Reaksi wanita itu berbanding terbalik dengan raut wajah Khadijah.


...***...


"Sudah lama gak main ke rumah."


"Iya, Bu. Saya sibuk ngurus orang tua. Mereka masih belum bisa melupakan risma," ucapnya sambil melirik Khadijah.


"Oh, iya. Mau makan enggak?" tanya ibu mengalihkan pembicaraan karena dia tau situasi saat ini tidak nyaman.


Khadijah asik dengan ponselnya dan sama sekali tidak perduli dengan apa tujuan orang itu.


"Mas, cepat pulang."

__ADS_1


Berkali-kali Khadijah mengirimkan chat, tidak juga mendapat balasan dari suaminya.


"Mas, aku merasa gak nyaman. Cepatlah pulang. Aku merasa dadaku sesak dan punggungku panas."


__ADS_2