
Selalu tentang cinta. Kata yang seharusnya bisa membuat suatu hubungan membaik, tapi malah sebaliknya. Adanya ketidaksesuaian dengan keinginan, harapan tentang rasa cinta membuat mereka terkadang salah mengambil jalan.
Adanya rasa sakit, kecewa dan tidak adanya balasan dari cinta, membuat rasa itu menjadi berubah sedemikian rupa.
Iri dan dengki menjadi pendorong kuat untuk manusia melakukan kejahatan yang bahkan bisa membuat mereka menggadaikan imannya.
Meminta bantuan selain kepada Allah untuk menyakiti seseorang adalah dua dosa yang begitu besar.
Tidak terima sodara tirinya mendapatkan suami yang juga dia sukai, membuat banyak kebencian yang menumpuk dalam hati. Dan kini kebencian itu tertuju pada Khadijah.
Mendengar ucapan Khadijah, Farid merasakan sakit di kepalanya yang luar biasa. Sebagai manusia biasa dia ingin membalaskan kejahatan yang diterima istrinya. Hanya saja, hati nurani dan iman dia membuat dia hanya bisa diam dalam sabar.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Sayang?"
"Datang dan minta maaf. Kita bicara baik-baik sama dia. Siapa tau dia mau mendengar."
"Diajak bicara? Dia sudah bersekutu dengan iblis, mana bisa diajak bicara oleh manusia seperti kita."
"Mas, kadang orang itu hanya butuh kata maaf meski bukan kita yang salah."
"Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa mereka sampai begitu tega dan berani menyekutukan Allah."
"Manusia dan setan adalah ciptaan Allah yang diciptakan dengan tujuannya masing-masing. Kita hidup di dunia hanya mengikuti kehendak takdir yang sudah diciptakan. Mungkin sudah takdirku seperti ini."
Farid menatap istrinya. Rasa bersalah itu menyelimuti hati nya, jika tidak menikah Khadijah, mungkin wanita itu tidak aka berada di posisi saat ini, pikirnya.
"Tapi ... menjadi istrimu adalah takdir yang benar-benar aku syukuri. Berkat mas, kau bisa merasakan menjadi seorang ibu dan juga anak yang disayangi orang tuanya. Mas, ibu baik banget sama aku dan aku bahagia."
Khadijah seolah bisa mengerti apa yang ada di benak suaminya.
"Maaf."
"Sssst. Bukan salahmu, Mas. Kita hanya sedang berada di ujian yang Allah siapkan. Yuk, kita jalani bersama tanpa merasa bersalah."
Farid menarik tubuh istrinya. Mendekap Khadijah begitu erat.
Kadang, sebaik apapun kita bersikap. Jika hati seseorang sudah menaman kebencian, maka apapun yang kita lakukan tetaplah salah di mata mereka.
Tidak pernah mengusik, tapi hidup kita dianggap mengganggu.
__ADS_1
Farid tetap hanya manusia biasa, dia bukanlah Allah yang menentukan segalanya. Hanya berusaha tanpa tau hasilnya akan seperti apa.
Sebisa mungkin Farid mendampingi Khadijah karena tidak ingin sesuatu terjadi padanya saat Farid pergi. Beberapa kali ada orang yang datang meminta bantuannya, Farid lempar pada temannya. Semua dia lakukan karena ingin menjaga Khadijah. Selama itu pula Khadijah baik-baik saja.
"Pak, bisa minta tolong gak?" tanya Iwan di dalam telepon.
"Ada apa?"
"Saya dan Pak Morgan sedang di rumah pasien, tapi kami kewalahan. Dia marah dan merusak isi rumah. Cuma bapak yang bisa melemahkan iblis itu, kita gak bisa, Pak. Masalahnya ini anaknya kecil dibawa ke rumah sakit terkena lemparan kaca."
Tidak ingin pergi tapi Farid tahu orang-orang di sana memerlukan bantuannya.
"Bagaimana?" tanya Farid setelah mendiskusikan masalah ini dengan Khadijah dan orang tuanya.
"Pergilah, Mas. Aku baik-baik saja di sini. Ada ibu dan juga bapak. Yang penting jangan lewat magrib pulangnya."
Farid kembali diam memikirkan yang terbaik yang akan dia ambil. Akhirnya dengan berat hati Farid pergi meninggalkan istrinya.
Sesampainya di rumah pasien, Farid begitu terkejut. Dia merasakan hawa negatif yang begitu besar. Untuk pertama kalinya dia merasakan sedikit sesak nafas saat mendekati pasien.
"Gimana, Pak?" tanya Morgan.
"Berat."
"Bismillah aja. Insya Allah kita bisa mengatasinya. Mereka juga sama ciptaan Allah juga. Tidak ada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan Allah."
Kali pertama bagi Farid merukiyah hingga dia merasa lelah. Dia memang tidak memakai tenaga, tapi hatinya yang lelah. Jin yang ada di dalam tubuh pasiennya begitu ngeyel.
Dia berdiri bahkan menyerang Farid hingga tangan Farid terluka karena digigit.
Beberapa orang yang berusaha membantu memegang pun kalah. Niat Farid hanya sebentar, nyatanya membutuhkan waktu yang begitu lama.
"Apa sebenarnya yang orang ini lakukan?" tanya Farid heran.
Seorang wanita paruh baya mendekati dan berbicara dengan malu-malu.
"Dia itu tadinya dukun."
"Astaghfirullah, pantas saja begitu banyak jin yang ada di dalam tubuhnya."
__ADS_1
"Bagaimana, Pak?" tanya Iwan.
"Lanjutkan saja, mau gimana lagi. Kita udah jalan setengah. Kalau tidak dikeluarkan, maka takutnya malah akan berbalik menyerang dirinya sendiri."
"Sudah pukul sembilan, Pak. Udah malam."
"Tak apa, nanti saya hubungi orang rumah dan memberi kabar."
"Aaarrrghhhh, tolooong."
Farid, Iwan dan Morgan yang sedang istirahat dibuat kaget karena teriakan seseorang. Sontak mereka langsung menuju sumber suara dan terkejut begitu melihat apa yang sedang terjadi.
Orang itu mencekik sodaranya sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim ...." Farid membaca doa. "Allahuakbar!"
Farid menarik tubuh orang itu, menekan pundaknya dengan kuat. Tangannya bergerak seolah sedang menarik sesuatu dari dalam tubuh orang itu.
Dia seperti orang sekarat, mata melotot, mulut menganga. Dia tergelak di lantai dengan gerakan tubuh seperti orang kena setrum listrik.
"Pa ustad, itu kenapa? Ada apa dengannya?"
"Biarkan saja, dia ngeyel tidak ingin keluar karena pemilik tubuhnya sendiri tidak ikhlas melepas. Makanya dia akan bertarung sendiri. Sakit itu rasanya. Lihat saja raut wajahnya."
"Kayak orang sekaratul maut."
"Iya, tapi beda. Jika pemilik tubuhnya ikhlas, maka akan cepat proses keluarnya. Tapi beda cerita jika sebaiknya."
Sudah cukup lama, pasien Farid masih tidak sadar. Menggelepar di bawah dengan keadaan yang mengenaskan.
"Ya Allah, hanya kepadamu hamba meminta. Bantu hamba mengeluarkan jin yang ada di dalam tubu orang itu. Bismillahirrahmanirrahim."
"Aaaaarrrggggg." Suara lengkingan itu membuat semua orang merinding, ketakutan melihat apa yang terjadi.
Pukul 11 malam, Farid dan teman-temannya akhirnya bisa pulang setelah orang tadi sadar dalam keadaan yang lemah. Dia juga marah karena Farid menarik jin serta ilmu yang dia miliki.
Sesampainya di rumah, Farid segera menemui istrinya yang sedang tertidur. Melihat Khadijah terlelap, Farid tidak tega untuk membangunkannya. Dia hanya bisa menatap lalu mencium pipi istrinya sebelum dia pergi mandi.
"Alhamdulillah," lirih Farid. Dia membaringkan tubuhnya di samping Khadijah.
__ADS_1
"Aku senang akhirnya kita bisa tidur bersama, Farid."
Apa?