Ruqyah

Ruqyah
Manusia serakah


__ADS_3

"Makan dulu, Bu. Sudah dua hari ibu gak makan nasi."


Dengan lemah lembut Pak Rian membawakan nasi beserta lauk dan minuman ke kamar istrinya. Sudah dua hari ini Bu Adah tidak mau makan dan hanya makan buah.


Meski Bu Adah mengatakan dia tidak apa-apa, tapi Rian sebagai suami merasa khawatir. Pasalnya, Adah adalah orang yang hobi makan. Namun, tiba-tiba dia menjadi kehilangan nafsu makannya.


"Assalamualaikum."


Seseorang memberi salam dari luar rumah Rian. Laki-laki menjawab, lalu meletakkan piring dan gelas di meja kecil yang ada di kamar. Kemudian keluar menemui seseorang yang ada di depan rumah.


"Eh, Pak RT."


"Maaf, Pak. Ganggu enggak ya?"


"Ah, enggak. Sama sekali gak ganggu kok."


"Ini, Pak. Saya mau ngasih kartu iuran. Nanti ada yang nagih setiap tanggal lima awal bulan. Uangnya dipakai untuk keamanan dan pengolahan sampah."


"Oh, baik. Siapa, Pak RT."


"Sepi, Pak?" tanya Pak RT sambil melongok ke dalam rumah.


"Iya. Maklum, saya belum punya anak. Istri saya juga sedang tidak enak badan."


"Kenapa, Pak? Mau dibawa ke dokter gak? Kami punya ambulan desa kalau mau. Nanti saya telpon orangnya."


"Gak perlu Pak RT, terimakasih. Istri saya hanya masuk angin saja sepertinya. Dia gak mau makan udah dua hari."


"Jangan-jangan hamil, Pak. Siapa tau kan?"


"Maunya, sih, gitu. Tapi sudah di cek... garisnya masih satu."


Pak RT merasa tidak enak hati mendengar jawaban Rian, anggota baru di RT 05 yang dikelola Pak RT. Baru seminggu ini mereka menempati rumah.


"Ya mudah-mudahan nanti segera dikasih, Pak."


"Aamiin. Masuk dulu, Pak. Ngopi dulu."


"Enggak, terimakasih. Saya mau ke desa dulu. Ada rapat."


"Iya, Pak. Hati-hati di jalan."


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Hati berikutnya Adah memaksakan diri untuk makan. Dia kasian pada suaminya yang sudah susah payah membujuk dan membuatkan makanan untuk dirinya.


Namun, Adah merasa perutnya begah dan kembung. Dia merasa sesak meski tidak begitu berat.


Dengan sepeda motor, Rian segera membawa istrinya ke klinik terdekat. Diagnosa yang berasal dari keluhan pasien sudah jelas jika Adah hanya masuk angin dan maag. Obatnya pun standar untuk mengobati penyakit sesuai dengan diagnosa.


Mengkonsumsi obat tidak lantas membuat Adah sembuh. Keinginannya untuk makan masih tidak muncul. Rasa begah itu hilang setelah dia kembali tidak makan esok harinya.


"Aneh, begah aku hilang. Apa karena aku gak makan ya? Kayak kekenyangan gitu kemarin sih. Ya udah lah aku gak makan lagi daripada begah lagi."


Adah memutuskan untuk tidak makan. Hampir satu Minggu dia gak makan nasi. Hanya makan buah dan minum. Jelas saja itu membuat tubuhnya lemas. Adah pingsan saat dia selesai menjemur pakaian.


Suaminya dibantu warga segera membawa Adah ke rumah sakit terdekat. Dokter mengatakan jika Adah kelaparan. Sudah pasti karena dia tidak pernah makan.


Keadaan Adah membaik setelah dirawat. Dia pun kembali di bawa pulang ke rumah. Namun, baru saja dia menginjakkan kaki, Adah merasa mual yang begitu hebat. Dia meraung seperti kesakitan.


Warga sekitar langsung berdatangan menghampiri. Ada yang penasaran hanya ingin sekedar melihat untuk dijadikan bahan gosip, ada yang ikut-ikutan dan ada yang memang benar-benar ingin menolong.


"Panggil ustad Komar aja." Seseorang memberi saran.


"Ya sudah, saya panggil dulu."


Adah masih menjerit kesakitan. Sementara orang-orang masih berkerumun sambil menduga-duga apa yang sedang terjadi.


Tidak lama kemudian ustad Komar datang. Saat masuk ke kamar, Ustad Komar meminta segelas air. Dia mengambil wudhu lalu membaca Al Qur'an.


"Tolong ini diminumkan pelan-pelan. Baca syahadat dulu tiga kali."


Prankkkk!


Gelas itu dilempar oleh Adah ke tembok.


"Sepertinya harus mencari orang yang memang bisa mengobati, Pak. Kalau saya hanya sekedar guru ngaji."


"Tapi siapa, Pak?"


Ustad Komar hanya diam karena diapun tidak tahu harus minta tolong pada siapa.


"Ini kenapa ribut-ribut?"


"Eh, bos. Ini ada yang kerasukan."


"Kerasukan?"


"Iya. Penghuni baru. Mereka baru tinggal di sini. Rumah ini sudah lama gak ditempati."


"Oh, begitu. Telpon saja orang ini, dia bisa menyembuhkan penyakit begituan. Istri saya aja dulu diobatin sama dia. Iya, kan, Khadijah?"

__ADS_1


Khadijah mengangguk.


"Biar aku aja yang telpon."


Akhirnya Khadijah punya alasan untuk menghubungi Farid.


Melihat siapa pemilik nomor yang menelpon, Farid tidak lantas mengangkat. Dia bukan tidak ingin berbicara atau mendengar suaranya. Dia hanya bingung harus menyapa seperti apa?


Datang ke alamat ini. Ada yang membutuhkan pertolongan Bapak. Terimakasih dan maaf kalau menganggu


Sebuah chat masuk.


Farid sedikit menyesal karena dia tidak mengangkat telpon dari Khadijah. Meski pada akhirnya dia berkali-kali membaca istighfar karena ingat bahwa wanita itu adalah istri laki-laki lain.


Tidak lama setelah sekolah bubar, Farid segera bergegas menuju alamat yang dikirim oleh Khadijah.


Sesampainya di tempat, rasa kecewa itu kembali datang saat dia tidak melihat sosok yang diam-diam diharapkan hadir.


Farid mengehla nafas kemudian dia menitikkan air mata. Rasa sedih muncul menggebu karena ingat akan dosa yang sedang dia jalankan saat ini.


Ya Allah, engkau yang maha membolak-balikkan hati manusia. Kembalikan hatiku agar selalu taat padamu. Aamiin.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Langkah Farid terhenti sejenak saat yang menjawab salam datang dari arah dapur. Membawa nampan dengan gelas berisi air teh di atasnya.


Mereka saling menatap, lalu segera berpaling karena tidak ingin berlanjut menjadi maksiat mata.


Entah kenapa, kesedihan Farid menghilang. Rasa gundah itu menjadi rasa yang berbeda seketika. Semangat nya pun meningkat, dan senyuman perlahan merekah di wajahnya. Menyapa suami dari Ibu Adah dengan sopan serta wajah yang merona.


Farid membacakan ayat Alqur'an dan Bu Adah langsung histeris. Dia berontak meski dipegang oleh empat orang laki-laki sekaligus.


Tengkuk Bu Adah ditekan serta tidak henti Farid melapalkan ayat-ayat Allah. Bu Adah menjadi lebih tenang.


"Kamu dari mana? Sedang apa di dalam tubuh manusia? Kamu tau kan kalau itu pelanggaran."


Beberapa kali Farid bertanya, tapi Adah diam saja.


"Kenapa diam? Mau jawab jujur atau mau saya siksa dulu?"


Adah masih diam.


Farid kembali membaca ayat-ayat Allah. Adah menjerit kesakitan.


"Panaaaas.". Dia berusaha menarik tangan Farid dari atas kepalanya. Namun, suami Adah segera menarik tangan istrinya seusai perintah Farid.


"Ampun, ampun. Aku jujur, aku mau bilang. Tolong hentikan."


"Kamu ngapain di dalam tubuh wanita ini?"


"Lewat aja."


"Lewat?"


"Aku ikut tinggal."


"Ikut tinggal? di tubuh manusia? Itu gak boleh."


"Kenapa? Mereka juga menghancurkan rumah kamu begitu saja. Kenapa aku gak boleh tinggal di dalam tubuh mereka?" tanya Adah marah.


"Siapa yang merusak rumah kamu? Memangnya di mana rumah kamu?"


"Di sana." Adah menunjuk entah ke mana.


"Di mana di sana itu?"


"Mereka merusak rumah kami untuk dijadikan rumah manusia," ucap Adah sambil menangis.


"Kalian bangsa manusia benar-benar serakah! Mengambil apa saja, milik siapa saja untuk kepentingan mereka sendiri. Aku atau pun kalian sama-sama menumpang di dunia ini, kenapa begitu tamak?"


"Kami tidak bisa melihat kamu, itulah sebabnya."


"Setidaknya pakai etika kalian. Permisi aja bilang. Buat apa punya mulut tapi gak bisa baca doa atau salam pada kami. Jika kalian sopan, kami pun akan berusaha mengerti."


Farid menghela nafas.


"Yang salah bukan wanita ini, kenapa kamu masuk? Kalau begitu kamu juga salah."


"Dia juga salah. Kenapa buang air panas sembarangan?"


"Air panas?"


"Dia menyiram air panas di belakang pas aku lagi lewat. Kurang ajar."


"Itu karena dia gak tahu kamu ada di sana. Oke, sekarang aku akan kasih kamu rumah yang sama seperti dulu. Kamu mau?"


"Emang bisa?"


"Bisa. Coba lihat ya."


Farid kembali membaca ayat-ayat Allah.

__ADS_1


"Ya Allah, atas izinmu aku meminta agar rumah dia dikembalikan. La Haula wala kuata Illa Billah."


Mata ada membuka lebih lebar dari sebelumnya.


"Itu kan? Sekarang kamu ikut saya baca syahadat. Baru kamu bisa masuk ke dalam rumah kamu."


"Mau. Saya mau."


Farid mengajak 'dia' membaca syahadat.


"Sekarang saya bantu kamu keluar dari tubuh kamu, ya. Ikuti arah tangan saya."


Farid mengusap tulang ekor Adah, mengusapnya hingga ke atas kepala, lalu ...Bruukkk!


Adah pingsan.


"Pak?"


"Gak apa-apa. Nanti juga sadar. Bangunkan saja pelan-pelan."


"Sayang, bangun." Suami Bu Adah menepuk pipi istrinya pelan-pelan.


Adah mendesah. Perlahan dia membuka matanya. Terlihat bingung saat banyak wajah asing mengelilinginya.


"Aku kenapa?"


Suami Bu Adah memapah istrinya ke sofa ruang tamu.


"Mau minum apa, Pak?" tanya Khadijah pada Farid.


"Air putih saja." Farid menjawab sambil pura-pura memainkan ponselnya.


Khadijah mengangguk.


"Gimana perasaan ibu sekarang?" tanya Farid.


"Saya kok laper banget, ya."


Farid tersenyum. "Makan aja gak apa-apa."


Adah masuk ke dalam menyusul Khadijah. Adah mengambil piring, nasi dan lauk. Lalu kembali ke ruang tamu dan duduk bersama mereka.


"Bapak siapa, ya? Maaf, ya saya sambil makan. Gak tau kenapa tapi saya lapar banget."


"Gak apa-apa, Bu. Gak usah sungkan." Khadijah menjawab.


"Ibu istrinya bapak ini?" tanya Adah pada Khadijah sambil menunjuk Farid.


"Eeeh, bukan. Itu mah Bu Khadijah. Istrinya Bos Wawan. Bos yang suka ngasih sumbangan ke desa kita."


"Oh, saya kira istrinya bapak ini. Padahal mah keliatan serasi banget."


Farid salah tingkah. Dia hendak mengambil gelas minumnya, tapi malah dijatuhkan.


"Biar saya ambil, Pak." Khadijah segera mengambil gelas yang jatuh. Pergi ke dapur mengambil gelas yang baru.


"Saya kasian sama Bu Khadijah. Dia itu baik banget tapi suaminya ya ... ck, kurang baik lah."


Khadijah datang. Semua langsung terdiam.


"Jadi begini ibu. Tadi ibu itu ketempelan kalau bahasa kitanya, sih. Dia adalah jin berupa ular. Makanya ibu gak merasa lapar karena ular memang makanya gak setiap hari. Dia bilang rumahnya digusur oleh pemilik perumahan ini dan dijadikan rumah. Dia terusir, mungkin tidak sengaja lewat kesiram air sama ibu. Air panas katanya."


Farid mengalihkan pembicaraan, sekaligus menjelaskan apa yang terjadi pada Adah.


"Air panas?"


"Iya, di belakang."


"Oh, iya. Di belakang rumah kami memang belum di bangun, Pak. Masih tanah kosong dan kebetulan banyak banget rumput liar. Saya kalau buang air langsung ke sana aja."


"Nah, iya. Mungkin disitulah Ibu tidak sengaja menyiram dia."


"Adduuuh." Adah menutup mulutnya.


"Lain kali jangan pernah membuang apa pun sembarangan apalagi di tempat yang keliatannya rimbun, semak-semak, atau hutan. Takutnya ada yang gak keliatan sama kita."


Mereka yang hadir menganggukkan kepala.


Lama mereka berbincang, akhirnya Farid meminta izin mengundurkan diri. Pun dengan yang lainnya termasuk Khadijah.


"Pak, Bu. Maaf saya lancang berani masuk dapur. Soalnya tadi yang lainnya diem aja, gak ada yang buatin minuman."


"Gak apa-apa, Bu. Saya malah terimakasih karena kalau saya kan tadi gak ngeh ke sana. Makasih malah udah mau direpotkan," ucap suami Adah.


"Saya permisi." Khadijah pamit. Dia mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya. Khusyuk pada ponsel sampai tidak menyadari keberadaan orang lain.


"Nunggu dijemput?"


Khadijah menoleh.


"Eh, Pak. Iya, nih. Tapi belum dibalas."


"Memangnya suaminya pergi ke mana?"

__ADS_1


"Pengadilan agama."


Farid mengerut dahinya. Sementara Khadijah menatap Farid tanpa berkedip.


__ADS_2