Ruqyah

Ruqyah
Dendam


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Farid pada Khadijah setelah dia pulang ke rumah. Khadijah tidak bicara, dia hanya tersenyum dengan tatapan yang jelas masih menyiratkan rasa takut.


"Kenapa?"


Khadijah menggelengkan kepala.


"Ya sudah, kalau gak mau cerita juga gak apa-apa. Sekarang istirahat saja dulu. Kebetulan besok kan hari libur, jadi mas bisa selalu di rumah nemenin kamu," ucap Farid sambil memeluk istrinya dengan erat.


"Aku mau tidur, Mas."


"Ya, tidurlah."


Khadijah tidur dalam dekapan suaminya. Bayangan yang membuat dia pingsan waktu itu hilang seketika begitu dia memejamkan mata dalam dekapan suaminya. Bayangan yang selalu terlihat begitu nyata di matanya.


Kenapa? Apa seseorang mengirim guna-guna ke sini? Tapi kenapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya di sini?


Farid yakin, Khadijah melihat sesuatu hingga istrinya seperti sekarang. Dia merasa putus asa karena tidak bisa membantu apa-apa.


"Mas, jangan memikirkan hal lain. Biarkan saja semuanya berlalu dengan sendirinya. Aku rasa mereka sudah tidak ada di sini sekarang. Mungkin mereka takut karena ada mas di sisiku."


"Belum tidur?"


"Gak ngantuk. Tapi biarkan saja dulu begini untuk beberapa saat. Dengan memeluk tubuh Mas, aku merasa tenang dan damai. Jangan pergi dan tetaplah seperti ini, ya."


"Hmm. Mas gak akan ke mana-mana."


Khadijah memeluk Farid dengan begitu erat.


"Mas ...." Khadijah berbisik di telinga Farid. Bagaimana pun juga, Farid adalah manusia normal yang merasakan jantung berdebar saat dipancing oleh wanita. Terlebih itu adalah istrinya.


"Apa, Sayang?"


Tangan Khadijah mulai menyisir tubuh Farid. Laki-laki itu jelas saja tergugah. Dia merespon istrinya dengan balasan yang sama. Namun, Khadijah tiba-tiba bangun, dia membuka pakaiannya dengan cepat. Khadijah seperti harimau yang bersiap memangsa anak rusa yang ada di genggaman.


"Sayang?"


"Ayo, Mas. Ayo kita lakukan karena aku sudah tidak tahan."


Wajah bringas yang seperti siap meledak karena menahan sesuatu. Di waktu yang bersamaan, Farid melihat tatapan sedih di mata istrinya.


"Astaghfirullah!"


Farid segera bangkit, dia membanting tubuh Khadijah ke atas ranjang. Farid segera mengambil selimut untuk membungkus tubuh istrinya yang hanya memakai underwear.


Farid segera membaca doa untuk melemahkan kekuatan yang ada di dalam tubuh Khadijah.


"Baaang!"


Orang-orang yang kebetulan ada di bawah merasa terkejut mendengar teriakkan Farid. Bapak, Hasan dan Ibu segera berlari menghampiri.


Brakkkk!


"Astaghfirullah!"


"Ya Allah, kamu ngapain, Farid?"


"Jangan mendekat, Bu. Ibu dan bapak turun saja. Bang, tolong ambilkan tali atau tambang atau apa saja untuk mengikat."


"I-iya."


Hasan segera berlari menuruni tangga.

__ADS_1


"Bang ada apa?" tanya Anita yang ikut panik.


"Khadijah, sepertinya dia kerasukan."


"Apa?"


Anita yang kebetulan sedang menggendong Ibrahim, langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Ini."


"Ikat bang, tapi jangan terlalu kencang. Ikat saja agar selimut ini tidak lepas."


"Kenapa pakai selimut, sih? Buka aja selimutnya bi ...."


Hasan tidak melanjutkan ucapannya saat melihat pakaian Khadijah tergeletak di lantai.


"Jangan mikir yang macem-macem. Udah, ayo ikat yang bener."


"Iya, iya. Ini juga lagi diiket. Sekalian sama kamu juga gak?"


"Ck!"


Khadijah berusaha berontak.


"Gak usah berontak, tenaga kamu sudah saya ambil. Diam!"


Farid terlihat begitu kesal.


"Huuuu, mas ini aku."


"Ssssst, jangan berisik atau saya sumpal mulut kamu."


"Hi hi hi hi. Khadijah tertawa nyaring yang membuat bulu kuduk merinding."


"Kenapa bisa begini?" tanya Hasan.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu dia dari mana? Kiriman atau memang penunggu rumah ini."


"Penunggu? Bukannya kamu bilang rumah kita udah bersih, masa masih ada penunggunya?"


"Aku juga bingung."


Khadijah terus tertawa, sesekali dia menangis. Merengek meminta Farid melepaskannya dengan dalih dia adalah Khadijah.


"Bagaimana sekarang?" tanya Hasan.


"Biarkan kami berdua di dalam kamar, Bang."


"Kamu yakin?"


"Ya. Bagaimanapun juga tubuhnya milik istriku. Dia dalam keadaan yang tidak seharusnya dilihat oleh orang lain."


"Ya sudah, aku tinggal keluar. Kalau ada apa-apa, segera minta bantuan."


Farid mengangguk sementara matanya terus menatap Khadijah, menatap jauh ke dalam matanya. Mata sendu milik Khadijah.


"Dari mana kamu?" tanya Farid geram. Belum sempat menjawab, Farid memegang kepala Khadijah dan membuat dia menjerit kesakitan. Dia berontak di dalam selimut yang diikat tali.


"Ampuuun, lepaskan."


Farid tidak menggubris, dia terus membaca doa dan membuat 'dia' yang ada di dalam tubu Khadijah kesakitan.

__ADS_1


"Aku akan memusnahkan kamu saat ini juga karena berani menggangguku dan keluargaku."


"Apa kau lupa? Aku juga makhluk tuhan!"


"Kamu berani menyakiti manusia dan itu melanggar aturan dunia. Untuk itu aku akan menghancurkan kamu!"


"Jangaaaaan ... ampun, aku minta ampun. Aku hanya menuruti perintah."


Farid melepaskan tangannya.


"Katakan! Siapa yang mengirim kamu ke sini dan mengganggu istriku!"


"Biarkan aku duduk dan biarkan aku bernafas sejenak."


Kali ini Farid begitu kesal, dia tidak mendengar apapun alasan jin yang ada di dalam tubuh Khadijah, dan kembali menyiksanya.


"Ampuuun, lepasss. Arrrghhhhhh!"


Farid semakin keras membaca ayat Alqur'an hingga Khadijah terlihat kelelahan.


"Dia ... sodaramu yang memintaku datang ke sini."


Farid terdiam.


"Yaa, sodara istrimu yang memintaku datang."


"Jangan berbohong!"


"Dia kesal karena kamu mencintai wanita ini saat kalian masih bersama. Itu alasannya," ucap Khadijah terengah-engah karena kelelahan.


"Kamu mau aku hancurkan atau ikut aku masuk Islam."


"Masuk Islam."


Rupanya jin itu tidak ingin kembali disiksa oleh Farid dan memilih untuk mengikuti Farid membaca syahadat.


"Coba katakan yang sebenarnya."


Jin itu akhirnya mengatakan yang sebenarnya, ucapannya yang pertama sebelum dia masuk Islam dan sekarang, masih sama.


Farid tertunduk.


"Ayo, ikuti aku keluar dari tubuh ini."


"Tunggu sebentar, kalau pun aku pergi, belum tentu istrimu aman. Luka seseorang tidak bisa sembuh begitu saja dengan hanya kata maaf. Aku berharap, kamu bisa lebih menjaga istrimu dengan baik. Jangan tunggu dia sendiri."


Farid terdiam.


"Apa aku boleh meminta nama? Selama ini aku tidak memiliki nama yang bagus."


"Nama apa yang kamu inginkan?"


"Nama istrimu. Aku ingin memakai nama Khadijah."


Farid mengangguk.


"Jika ingin memakai nama istriku, jadilah makhluk yang baik dan taat. Sama seperti pemilik nama itu."


"Ya."


Farid melepaskan selimut dan ikatan tali yang melilit tubuh Khadijah. Lalu, dia mengusap tulang ekor, naik ke atas hingga berhenti di ubun-ubun. Farid terus melakukan itu hingga Khadijah muntah.

__ADS_1


Tubuhnya melemah dan terjatuh ke belakang, Farid langsung memeluk istrinya yang tidak sadarkan diri dan terlihat begitu kelelahan.


Farid menatap wajah Khadijah dengan perasaan bersalah dan sedih.


__ADS_2