Ruqyah

Ruqyah
Perdebatan Farid dan Iwan


__ADS_3

"Bapak dengar kamu habis dari rumah Pak Kiai?" tanya bapak saat sedang sarapan. Dua hari kemudian.


"Iya, Pak."


"Ngapain ke sana?"


Farid terdiam.


Bapak, ibu, dan keluarga yang ada di sana menatap Farid. Mereka semua menunggu jawaban dari anak bungsu keluarga itu.


"Seperti yang Farid katakan, kalau Farid akan menikah. Farid ke sana untuk meminta Pak Kiai mencarikan wanita yang akan dinikahi Farid."


Reaksi berbeda dari semua orang. Bapak yang terlihat merasa lega, Bang Hasan yang hanya datar saja, lalu ada dua orang yang terlihat tidak senang.


Tentu saja tidak senang dalam konteks yang berbeda. Ibu merasa tidak senang karena anaknya terlihat tidak bahagia. Bagaimana bisa Farid bahagia jika menikah dengan wanita yang bukan dia cintai.


Sementara satu orang lagi tidak senang karena dia cemburu. Meski sedang mengandung anak dari suaminya, Anita tidak bisa memungkiri selalu ada rasa sakit setiap mendengar Farid akan menikah.


"Siapa?"


Farid menoleh pada Hasan.


"Siapa wanita yang akan Pak Kiai berikan? Santrinya?"


"Entahlah. Siapa saja bisa menjadi kemungkinan. Cemara juga bisa jadi kandidat."


"Cemara?"


Hampir semua orang bertanya dengan kompak. Siapa yang tidak terkejut mendengar nama cemas disebutkan.


"Cemara ... bagiamana bisa dia mengurus Hanifa nantinya?" tanya Hasan.


"Bisa saja. Dia sudah berubah kok. Tidak banyak tapi aku rasa dia bisa menjadi teman baik untuk Hanifah."


"Farid!" tiba-tiba Anita berteriak. Tidak peduli pada tatapan yang lain, Anita terlihat sangat kesal. Dia menatap Farid sambil berbisik dalam hatinya bagaimana dia bisa menjadi istri kamu? Aku jauh lebih baik darinya.


Anita tidak melanjutkan sarapannya dan memilih pergi menuju kamar.


"Siapapun wanita itu, Farid akan segera menikahinya agar Mba Anita tidak merasa tertekan dengan masalah keluarga kita. Agar ibu tidak lelah mengurus Farid dan Hanifah."


Bapak memejamkan mata menahan amarah saat Farid pergi begitu saja.


"Eh, Pak. Baru saja saya mau masuk, bapak udah keluar," ucap Iwan yang sudah ada di depan pintu rumah.


"Pak Iwan?"


"Ini Pak, saya pagi-pagi ke sini mau minta tolong."


"Minta tolong?"


"Istri saya pingsan sejak subuh tadi, sudah saya periksa tapi kata dokter istri saya cuma kelelahan."


"Sekarang ada di mana?"


"Di rumah, Pak. Tadi pas dibawa ke puskesmas, dia langsung sadar dan saya bawa pulang lagi."


"Ya sudah, ayo kita ke sana."

__ADS_1


Iwan meminta Farid menaiki motornya saja supaya cepat dan bisa melewati jalan pintas melalui gang-gang kecil.


"Astaghfirullah!"


"Kenapa, Pak?" tanya Iwan kaget saat Farid hendak masuk ke dalam rumah Iwan, Farid seperti terhalangi sesuatu.


"Kenapa baru mengabari saya sekarang, Pak Iwan?"


"Saya gak enak ganggu pagi-pagi."


"Sepertinya ada yang mengirim sihir pada istri Pak Iwan."


Melihat siapa yang datang, istri Iwan terlihat senang. Dia seperti orang yang tersesat lalu menemukan jalan keluar. Dia yang sedang duduk berusaha berdiri untuk menghampiri Farid. Tangannya bergerak seperti ingin meraih Farid.


Namun, belum sempat dia berdiri tegap, istri Iwan kembali pingsan. Beruntung Iwan cekatan menahan tubuh istrinya yang hampir menghantam meja kaca.


"Istri saya kenapa, Pak?" tanya Iwan cemas setelah menidurkan istrinya di atas kasur busa tipis di ruang tv.


"Sihir yang dikirim terlalu kuat. Tubuhnya tidak mampu menahan makanya dia pingsan."


"Terus ... kalau istri saya pingsan bagaimana kita bisa mengobati dia, Pak?"


"Nanti kita lakukan mediasi saja."


"Mediasi?"


"Kita ambil sihir yang dikirim ke tubuh istri Pak Iwan, lalu kita pindahkan ke tubuh lain. Hanya itu caranya."


"Pindahkan ke tubuh saya saja, Pak."


"Jangan. Pak Iwan belum pernah kerasukan atau berhubungan langsung dengan makhluk gaib. Lebih baik jangan. Kalau ada, cari orang yang pernah saja."


"Saya tau." Iwan seperti mendapatkan petunjuk. Dia meminjam ponsel Farid untuk menelpon seseorang.


"Mau menelpon siapa?"


Pertanyaan Farid pun dia abaikan.


Iwan keluar rumah saat orang yang di telpon mengangkat panggilan darinya. Saat Iwan sedang di luar, Farid memperhatikan istri Iwan yang tergolek tidak sadarkan diri.


"Pak."


Farid menoleh saat Iwan memanggil. Dia mengembalikan ponsel miliknya.


"Nelpon siapa? Pak Iwan gak punya pulsa."


"Bukan pulsa, Pak. Tapi gak punya nomornya."


"Nomornya? Nomor siapa memangnya?"


"Teh Khadijah, Pak."


"Ya?" Farid begitu terkejut mendengar Iwan menyebutkan nama seseorang.


"Soalnya saya bingung haru memanggil siapa, Pak. Saya tiba-tiba inget sama teh Khadijah. Ya sudah saya telpon saja." Iwan menjelaskan panjang lebar tanpa merasa bersalah sama sekali. Sementara Farid masih terdiam dalam perasaan yang tidak menentu.


"Tapi sayangnya teh Khadijah Katanya dia sedang ada di luar kota."

__ADS_1


"Oh."


"Kenapa, Pak? Bapak kecewa ya teh Khadijah tidak bisa datang?"


"Maksudnya?"


"Itu ... muka bapak keliatan kecewa banget."


"Pak Iwan, istri bapak sedang disihir orang. Kenapa malah memperhatikan saya?"


"Eh, iya. Saya lupa, Pak"


Farid memijat pangkal hidungnya melihat sikap temannya.


"Tidak ada jalan lain selain menunggu istri bapak sadar, atau ada orang yang bisa menjadi sarana mediasi."


"Kita tunggu saja, Pak."


"Coba bangunkan istrinya, Pak."


Plak plak


Iwan mencoba membangunkan istrinya dengan cara menepuk-nepuk pipis sang istri.


"Pak Iwan, pak Iwan. Jangan begitu. Bangunkan dengan lembut, jangan seperti sedang memukul nyamuk yang menggigit pipi istri bapak. Sakit itu."


"Kan biar cepet bangun, Pak."


"Ya tapi gak begitu juga, Pak. Ya Allah ...."


Iwan tersenyum.


"Ya sudah kita tunggu orangnya datang saja, Pak."


"Siapa?"


"Teh Khadijah."


"Katanya dia sedang di luar kota."


"Iya, diluar kota. Tapi perbatasan, Pak."


"Maksudnya?"


"Dia ada di Desa Wangkelang, Pak. Itu kan perbatasan kabupaten kita dengan kabupaten sebelah."


"Astaghfirullah, Pak Iwan. Itu kan masih deket sama kita."


"Tapi kan memang di luar kota. Salah saya di mana, Pak?"


"Enggak salah, cuma ...."


"Assalamualaikum."


Pertengkaran antara Iwan dan Farid terhenti saat seseorang mengucapkan salam. Iwan yang memang sedang menunggu, segera bangun dan menyambut Khadijah.


Sementara Farid beberapa kali mengambil nafas dalam-dalam. Berusaha menenangkan hatinya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Bergemuruh seperti air bah yang tiba-tiba saja datang.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawabnya setelah beberapa saat. Dia bangun lalu berusaha tenang saat berpaling dan menatap kembali wajah wanita yang tidak bisa hilang dari benaknya.


__ADS_2