
"Kamu kenapa seneng banget dandan, sih? Maksudnya ya dandan kalau mau kondangan aja napa? Gak ribet apa selalu tampil sempurna setiap waktu?" tanya Dewi pada Maya. Mereka adalah teman satu kosan yang kuliah di jurusan kebidanan.
Kaya, wanita cantik yang selalu ingin tampil sempurna meski tanpa make up pun dia sudah terlihat begitu menawan.
Memang tidak menor, tapi dia hampir setiap hari dandan meski tidak akan pergi jauh dari koran. Baju yang bagus dan rapi, parfum yang semerbak, dan wajah yang selalu touch up.
Jangankan pria, wanita saja banyak yang menyukai Maya karena kecantikannya. Tidak hanya itu, selain cantik Maya juga baik dan sopan.
Kepintaran Maya pun menjadi nilai tersendiri untuk menyandang predikat mahasiswi sempurna di kampusnya. Kukunya yang selalu bersinar dan bersih karena meski tidak perawatan di salon, Maya selalu menjaganya dengan baik.
Dia ingat apa kata dosennya jika seorang bidan itu harus memiliki kuku yang pendek dan bersih agar tidak melukai atau menularkan kuman pada pasien.
Sebagai mahasiswi kebidanan yang baru menginjak semester dua, Maya dan kawan-kawan akan melakukan praktek ke rumah sakit. Meski mereka siswi kebidanan, biasanya praktek pertama tidak langsung ditempatkan di ruang kebidanan seperti: ruang persalinan atau nifas. Mereka masih mengharap ilmu dasar. Praktek nya pun disebarkan ke semua ruang perawatan.
Maya mendapatkan rumah sakit tentara di ruang perawatan umum. Hari pertama adalah masa orientasi, di mana semua siswa dibawa berkeliling untuk mengenali ruangan-ruangan yang ada di sana. Setelah selesai mereka barulah masuk ke ruangan masing-masing.
Perkenalan, lalu orientasi kedua di masing-masing tempat praktek. Mereka juga dibawa visit ke semua kamar untuk diperkenalkan pada pasien yang ada. Menjelaskan siapa saja yang ada di sana dan apa saja diagnosis yang mereka terima.
Hari kedua, Maya dan teman-temannya ditugaskan untuk mengecek tanda-tanda vital pasien seperti: tekanan darah, nadi, suhu dan keluhan seluruh pasien.
Tibalah Maya dan dua temannya ke sebuah ruangan.
"Selamat pagi, Mas. Gimana keadaannya pagi ini?" tanya Maya dengan senyuman manis dan ramahnya.
Dia yang Maya panggil Mas itu adalah pasien seorang TNI muda yang kena tipes. Dia ditemani seorang wanita yang duduk di kursi tepat disebelahnya.
"Baik, Sus."
"Alhamdulillah kalau sudah mendingan. Maaf, ya, saya mau cek suhu dulu."
Sikap Maya yang baik dan ramah itu membuat TNI yang sedang tergolek, tersenyum. Kecantikan Maya membuat mata laki-laki tegap itu curi-curi pandang. Kekaguman pada wanita cantik tidak bisa disembunyikan oleh ekspresi wajahnya. Sesekali senyuman itu terukir di wajah? TNI muda.
Dia bahkan tidak menyadari wanita yang menunggunya sejak kemarin, merasa tersinggung dan menatap Maya dengan kesal.
Dua Minggu lamanya Maya dan teman-temannya praktek, kini tiba bagi mereka untuk beristirahat. Kampus memberikan libur selama satu Minggu. Mungkin jika teman-teman Maya berlibur dengan bahagia, tidak dengan Maya yang sejak hari pertama di rumah merasa tersiksa.
Dia selalu menjerit karena merasa kepanasan di bagian wajahnya. Maya berteriak sambil sesekali membenamkan wajahnya di air yang sudah dicampur es batu.
__ADS_1
Keluarga merasa cemas dan takut pada apa yang menimpa anaknya. Terlebih karena dokter tidak menemukan hal yang aneh pada wajah Maya.
"Assalamualaikum, paket."
Salah satu keluarga keluar untuk menemui tukang paket. Mengambil dengan buru-buru, membayar lalu tanda tangan.
"Itu kenapa yang di dalam teriak-teriak, Pak?"
"Oh, itu keponakan saya. Dia kepanasan di wajahnya tapi ya entahlah. Dokter tidak menemukan yang aneh pada ? wajahnya."
"Boleh saya lihat, Pak?"
Paman Maya menatap tukang paket yang tidak lain adalah Morgan.
"Maaf, ya, Mas. Ini aib keluarga dan saya tidak ingin orang luar tau."
"Saya memang tidak ahli, tapi saya bisa menilai mana penyakit medis ataupun non medis. Siapa tahu nanti saya bisa bantu."
Setelah lama diam dan mempertimbangkan banyak hal, paman Maya pun mengizinkan Morgan masuk untuk melihat keponakannya.
"Bagaimana, Mas?" tanya paman Maya.
"Boleh gak kalau saya manggil temen saya ke sini. Kebetulan insyaallah dia bisa membantu."
Keluarga saling melirik.
"Tenang, Pak. Dia bukan dukun, biayanya juga gak akan meminta sesuai keinginan dia. Dia murni membantu. Kalaupun keluarga ingin memberi, itu bisa seikhlasnya."
"Coba, deh. Siapa tau memang ini jalannya."
Menunggu hampir tiga puluh menitan, Farid pun datang. Kini dia membawa motor bututnya karena sedang berada di sekolah.
Tanpa basa-basi, Farid langsung membacakan doa-doa. Dia memegang mata Maya yang sedang terlentang. Maya tidak sadarkan diri.
"Sepertinya Maya terkena ain, Pak, Bu."
"Ain? Apa itu?" tanya Ibu Maya.
__ADS_1
"Ain itu penyakit yang lebih bahaya dari sihir dan lebih cepat dari takdir.? Dia bisa menyebabkan kematian melampaui takdir yang Allah berikan."
Keluarga Maya hanya diam karena syok, sementara ibu Maya histeris nyaris pingsan. Bagaimana tidak, Maya adalah anak tunggal di keluarganya.
"Ain itu bisa datang dari mereka yang terlalu suka, atau dari mata yang terlalu benci. Bukan sihir atau santet tapi murni karena pandangan manusia."
"Tolong sembuhkan anak saya, ustad." Ayah Maya memohon.
"Saya hanya berusaha, Pak. Yang menyembuhkan tetaplah Allah."
Setelah Farid membaca ayat-ayat Al Qur'an, dia meminta keluarga menyiapkan bak air untuk Maya mandi di luar rumah. Air yang sudah dicampur dengan daun bidara dan sereh merah.
Dengan memakai mukena dan duduk di atas kursi, Farid mulai memandikan Maya sambil melantunkan ayat Alqur'an. Maya menangis sambil menggigil kedinginan.
Tangisan Maya begitu menyayat hati.
Mandi pun selesai.
"Jangan dibilas hingga nanti pagi, ya."
Maya mengangguk. Dia masuk ke dalam rumah dengan dipapah oleh ibu dan ayahnya. Setelah mengganti pakaian, Maya diajak ngobrol oleh Farid. Termasuk orang tua Maya.
"Jadi, begini. Khususnya untuk Maya. Jika berpakaian atau berdandan, jangan lupa baca doa. Kalau mau upload foto di media sosial jangan lupa sertakan nama Allah. Misalnya, tabarakllah, Alhamdulillah, subhanallah. Insyaallah akan terhindar dari yang namanya ain."
"Iya, ustad."
"Sebagai wanita muslimah, kita juga tidak boleh dandan berlebihan. Berpakaian berlebih, sederhana saja. Wewangian pun yang penting tidak bau badan lah, ya. Jangan sampai semerbak kemana-mana. Takutnya orang terutama laki-laki malah membayangkan yang bukan-bukan. Takut ada yang tidak suka dan menggerutu dalam hati."
Maya merasa tersindir.
"Bagaimana mukanya sekarang? Masih panas?"
"Sudah mendingan ustadz. Agak sedikit, sih, hanya sedikit anget."
"Gak apa-apa. Sering berwudhu saja. Untuk sementara gak usah upload foto di medsos dulu, ya."
Maya mengangguk.
__ADS_1