Ruqyah

Ruqyah
pelaris


__ADS_3

"Bagaimana yang kemarin subuh itu, Nak?" tanya ayah saat selepas ashar mereka duduk sambil melihat ayam-ayam peliharaan di halaman belakang.


"Alhamdulillah sudah selesai. Jadi, suaminya itu pelayaran. Baru beberapa hari sudah sakit parah. Untungnya belum jauh dari datar katanya. Nah, si suaminya itu pulang ke rumah, diperiksa ternyata cuma masuk angin. Anehnya muntah dia itu gak biasa kayak orang masuk angin pada umumnya."


"Aneh gimana?" tanya ayah sambil sesekali melempar makanan untuk para ayam.


"Suaminya bilang muntah dia itu gak kayak dari dalam perut, tapi panas dari sekujur tubuh. Semacam ada yang dorong tapi ketahan gitu."


"Oh, terus waktu itu kamu ke sana bukan?"


Farid mengangguk." Waktu itu dia memang sedang sakit, jadi Farid hanya meredam sementara. Tadinya memang mau ke sana, eh malah masuk ke tubuh istrinya. Ngamuk lah. Ternyata 'dia' memang ingin keluar tapi gak bisa dan gak tau jalan pulang."


"Iyalah, jauh. Ternyata bangsa kayak gitu juga gak pinter ya. Ayah kira karena dia jin, jadi bisa ke sana ke sini sesuka hati. Kayak di film-film."


"Jin itu tergolong makhluk yang masih bodoh, jahiliah. Dia tidak bisa membedakan mana baik dan benar. Mereka juga sama seperti manusia, bahkan lebih kejam. Ada yang lebih kuat uang berkuasa di bangsanya. Gak bisa seenaknya. Yang paling kuat itu yang di laut sama yang di langit."


"Di langit?"


"Iya, mereka biasanya jin Islam yang memang gak mau ikut campur urusan manusia. Sekalinya mereka dipanggil, takut semua jin penduduk bumi."


"Wah, ternyata begitu. Ngeri-ngeri sedap, ya."


"Makanya sebagai orang seperti Farid, harus hafal Alquran beserta arti dan tafsirnya, biar gak diketawain sama jin yang di atas."


Ayah Farid tertawa.


"Minimal hafal surah Al Baqarah."


Ayah Farid mengangguk-angguk.


"Nak, ngomong-ngomong kapan Hanifah punya ibu? Masa harus ibu kamu atau kakak ipar kamu yang ngurus?"


Farid mulai menunjukkan wajah tidak sukanya.


"Maaf sebelumnya, Nak. Bukankah kita sebagian seorang muslim memang harus menikah dan memiliki banyak anak jika mampu, tujuannya cuma satu. Menjadikan anak salih/salihah agar bisa membantu agama Islam di akhirat kelak. Menjadi pejuang muslim memerangi kemungkaran di bumi ini."


"Farid faham, sangat faham. Hanya saja hati Farid belum menemukan wanita yang pantas untuk Farid nikahi."


"Memangnya kamu mencari wanita seperti apa? Risma? Langka, Nak."


"Seperti Khadijah, Ayah. Namu, Farid sadar betul jika itu tidak mungkin."


Bagaimana bisa aku menikahi wanita yang bersuami, ayah. Farid berbisik di dalam hatinya.

__ADS_1


Ayah Farid tertawa. Sementara Farid menatap dengan kesungguhan. Jelas, Khadijah di mata Farid berbeda dengan yang dipikir oleh ayahnya. Bukan Khadijah seperti istri Baginda Rasulullah yang Farid maksud, dan yang seperti ayahnya kira.


"Ya sudah, ayah. Farid mau ke dalam dulu. Habis magrib ada janji sama pak Iwan. Katanya ada sodaranya yang mau bertemu."


"Baiklah ... baiklah. Hati-hati, Nak." Ayah Farid masih menata dirinya yang selepas tertawa renyah hingga mengeluarkan air mata.


Farid pun pergi.


"Farid, Farid. Yo nda bakalan ada toh wanita di dunia ini yang salihahnya sama seperti Sayidati Khadijah istri Baginda Rasulullah Saw. Nak, nak." Ayah Farid bergumam sendiri sambil kembali memberi pakan ayam-ayam.


Selepas berjamaah di masjid, Farid menjemput Iwan ke rumahnya. Berbanding terbalik dengan yang sebelumnya, jika Iwan lah yang selalu menjemput Farid.


"Wah, saya jadi enak nih pak. Dijemput sama bapak pake mobil bagus pula," ucap Iwan cengengesan. Farid hanya tersenyum.


"Mas Iwan, jauh gak rumahnya dari sini?"


"Deket, Pak. Itu keliatan." Iwan menunjuk rumah berwarna krem dengan warung yang ada di depannya. Lebih tepatnya toko.


"Kalau begitu kenapa kita harus naik mobil segala. Jalan kaki saja kalau begitu."


"Kan biar mereka percaya sama kita. Bawa mobil gagah ini derajat harga diri kita bertambah, Pak."


"Apalagi tujuan Mas Iwan seperti itu, saya semakin gak mau pergi ke sana dengan mobil ini." Farid mematikan mesin mobil, lalu turun dan berjalan menuju rumah yang Iwan tunjuk.


"Eh, loh. Kenapa saya ditinggal. Pak, tunggu." Iwan segera menyusul Farid yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Maaf, Pak. Saya jadi menganggu. Habisnya saya bingung mau minta tolong pada siapa." Ibu pemilik rumah itu memulai obrolan. Bu Omah namanya. Seorang janda dengan lima orang anak. Memiliki enam cucu dan toko yang setiap hari selalu ramai.


"Belakangan ini warung saya agak sepi, Pak Ustad. Ini semua gara-gara warung baru belakang. Masa, ya, dia jual harga dengan semurah-murahnya. Apa gak rugi? Itu karena dia ingin menjatuhkan saya, Ustad."


"Saya rasa kalau orang jualan sampai rugi sih gak mungkin, Bu. Namanya juga jualan ya pasti karena mencari penghasilan."


"Ya tapi dia jualnya murah banget. Pelanggan saya jadinya pada pindah sama dia."


"Maaf, Bu. Dia yang jual murah apa ibu yang ngambil untung terlalu tinggi?"


Farid bertanya bukan tanpa alasan yang jelas. Iwan sendiri bilang sebelumnya bahwa sodaranya itu menjual dengan harga yang mahal, tapi orang-orang tetap berbelanja ke sana.


Bu Omah terlihat gelisah.


"Berburuk sangka pada keberhasilan orang itu sangat tidak baik, Bu. Apa yang ibu sangkakan belum tentu itu benar dan itu akan menjadi fitnah nantinya. Dosanya besar, Bu."


"Ya makanya saya mau minta bantuan ustad. Tolong beri saya penglaris. Katanya ustad ini pemburu jin, panggil mereka buat bantu dagangan saya laku. Yaaa, suruh mereka buat narik pelanggan ke warung saya lagi."

__ADS_1


Iwan yang sedang makan bakwan dan cabai rawit, tersedak. Antara kaget dan ingin tertawa datang bersamaan. Farid tersenyum.


Sungguh, Allah selalu benar menghadirkan seseorang pada kita. Jika bukan mas Iwan, mungkin saya akan selalu serius dan tidak pernah bisa santai atau pun tertawa. Alhamdulillah. Bisik Farid dalam hatinya.


Setelah Iwan minum dan dia tenang, Farid kembali berbicara.


"Saya gak bisa, Bu."


"Lah, masa? Nih, coba lihat. Dukun aja bisa masa ustad yang katanya Deket sama bangsa jin gak bisa, sih." Bu Omah pergi ke kamarnya. Dia mengambil sesuatu yang ternyata kantong merah berukuran kecil. Ada tali sebagian ikatan di atasnya.


"Itu apa, Bu?" tanya Farid.


"Ini saya dapat dari orang pinter. Katanya disimpan di laci uang biar orang-orang bawaannya ingin ngasih uang sama saya gitu. Mungkin maksudnya biar pada belanja terus ke saya."


Farid mengangguk-angguk kecil.


"Buka, Ceu. Isinya apa eta teh?" tanya Iwan.


Bu Imah membuka kantong kecil itu. Ada beberapa macam benda di dalamnya, seperti: batu akik merah, silet, gulungan rambut, dan juga bunga yang sudah layu.


"Ini batu akik ini biar mendatangkan uang berwarna merah, kalau bunga melati yang kering ini biar orang pada suka belanja di warung saya, wangi gitu lah. Kalau silet katanya biar menangkal orang yang mau berbuat jahat, dan--"


"Siletnya merek Tiger bukan? Katanya buat nangkal orang yang berniat jahat. Kenapa sekarang warungnya sepi gara-gara orang belakang?" Iwan memberikan sindiran. Farid tersenyum.


"Ya makanya saya minta bantuan ustad buat ngasih yang lebih hebat dari ini. Kayaknya dukun ini gak terlalu pintar makanya kalah."


"Bukan dukun yang gak pinter, orang yang datang yang terlalu bodo."


"Ehhh, kamu mah lah!"


"Emak, Mak."


Seseorang memanggil dari dalam kamar.


"Iya, sebentar. Maaf, ustad. Saya tinggal dulu."


Bu Omah pergi.


"Itu anak yang saya ceritakan. Dulu, sih, normal. Pas SMP dia sakit, demam, kejang. Eh, lumpuh. Bapak denger sendiri gimana dia manggil kan? Itu karena mulutnya seperti orang kena struk, Pak."


Farid mengangguk.


"Padahal waktu itu panasnya gak tinggi, Pak. Cuma 36,8. Dokter aja sampai bingung, Pak."

__ADS_1


"Mungkin sudah waktunya 'dia' yang disuruh kerja oleh Bu Omah, meminta upah."


Iwan mengangguk.


__ADS_2