Ruqyah

Ruqyah
Doa yang dijawab


__ADS_3

"Insyaallah Pak Kiai." Akhirnya Farid menjawab.


"Kenapa? Ada apa, Farid?" tanya Kiai yang melihat ada raut sedih di wajah Farid.


"Tidak ada apa-apa, Kiai."


"Abi, itu mau jadi umi aku?" tanya Ifah. "Kenapa bukan Tante yang waktu itu?" tanya Ifah kemudian. Mendengar ucapan Hanifa, pak Kiai akhirnya mengerti dengan raut sedih di wajah Farid.


"Kenapa tidak bilang kalau ada wanita yang kamu suka, Rid? Aku tidak akan memaksa jika kamu sudah memilki wanita yang kamu cintai."


"Bukan begitu, Pak Kiai. Saya menerima siapapun pilihan pak Kiai."


"Sungguh? Jangan sampai kamu menyesal kemudian hari, Farid. Farid, menikah itu untuk selamanya. Pastikan dulu dari awal tentang semaunya. Mantapkan dulu, jika masih ragu lebih baik jangan."


"Saya siap, Kiai."


"Nak, jangan hanya karena memikirkan ibu yang sudah tua ini, kamu mengorbankan hidupmu. Ibu masih sanggup mengurus Ifah."


"Tidak, Bu. Farid tidak ingin membebani ibu di usia yang sekarang ini."


"Tapi, Nak."


"Assalamualaikum." suara nyaring dan cempreng membuat suasana menjadi berbeda. Ucapan ibu yang belum selesai pun terhenti.


"Sssst, Laras. Pelan-pelan. Kalau baca salam itu yang lembut. Jangan bikin orang kaget," ucap Hasan mengingatkan Laras, adik angkatnya yang kebetulan santri di pondok itu juga.


Gadis itu cengengesan.


"Pak Kiai, udah mulai acaranya?" tanya Laras.


"Belum, masih pemanasan."


"Mau saya panasin sekalian gak, biar cepet mateng."


"Boleh, awas gosong."


"Siap!"


Laras dan Kiai memang sangat dekat, mereka bahkan sering bersenda gurau. Ibu dan Bapak merasa tidak enak hati melihat anak perempuan mereka seperti itu. Namun, pak Kiai memberikan isyarat bahwa itu bukanlah hal yang salah.


"Oke, kalian siap-siap ya. Jeng jeng jeng! Silakan masuk."


Orang-orang terlihat heran dengan sikap Laras. Pun dengan Farid. Pintu rumah Pak Kiai terbuka. Ada dua santriwati yang menggandeng seseorang masuk ke dalam.


"Nah, Farid. Itu dia calon istri kamu."


"Apa?" Farid terkejut.

__ADS_1


"Haura itu bukan calon kamu, dia calon ponakan istriku. Ha ha ha." Kiai tertawa.


"Tante!" Ifah yang sedang duduk di kursi langsung berlari. Dia yang selama ini ingin bertemu kembali segera memeluk Khadijah.


Ibu menutup mulutnya yang terbuka sambil menangis. Tangisan yang sedari tadi dia bendung kini tercurahkan. Namun, air mata yang semula kesedihan menetes karena kebahagiaan.


Farid mengucapkan Alhamdulillah sambil mengucap wajahnya. Matanya berkaca-kaca.


"Ada apa? Kenapa Ibu menangis? Kenapa bisa Ifah kenal dengan wanita itu?" tanya Anita.


Tidak ada yang menjawab.


Anita kesal.


"Dia ini Khadijah. Dia bukan seorang gadis, dia pernah bersuami sebelumnya. Ya, apa boleh buat, pernikahan dia tidak berjalan dengan baik. Tapi aku pastikan kalau dia wanita baik. Jadi, kamu harus setuju." Kiai menepuk paha bapak.


Bapak mengangguk mantap.


"Cieeee, ada yang salting nih." Laras menggoda Farid. Memang, Farid yang semula sedih, kini terlihat sangat bahagia. Dia berusaha menahan senyum, namun tidak sanggup. Akhirnya senyuman itu keluar sesekali.


"Pak Kiai, Nyai. Khadijah adalah wanita yang selama ini Farid cintai. Setiap malam dia selalu gelisah dengan perasaannya. Ingin melamar tapi banyak sekali perimbangannya. Tapi Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan mereka di tempat yang baik ini. Saya bahagia," ucap ibu sambil terbata-bata karena diiringi Isak tangis.


Pak Kiai manggut-manggut.


"Farid, bagaimana? Kamu sudah berjanji akan menerima siapa saja bukan pilihan wanita yang aku berikan."


"Waduh, mantap banget jawabannya. Beda ya, sama tadi. Pas ditanya Haura cantik atau enggak, jawabnya lesu."


Orang-orang tertawa. Tentu saja tidak dengan Anita.


Farid melirik Khadijah yang sedang berbincang dengan Ifah. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Setelah semuanya berjalan dengan lancar, selepas salat ashar, keluarga Farid pamit untuk pulang.


Mereka semua masuk ke dalam mobil. Hanya Farid yang tersisa. Dia masih ingin tinggal sejenak lebih lama, ditemani Hanifa.


"Kenapa bisa kenal dengan Kiai?" tanya Farid pada Khadijah. Wanita itu terlihat berpikir sambil tersenyum.


"Eemm, masih ada ikatan sodara sih sebenernya. Tapi jauh."


"Begitu rupanya."


"Sekarang apa boleh aku panggil mas? Masa bapak terus." tanya Khadijah.


"Boleh. Panggil apa saja yang membuat kamu bahagia," jawab Farid lembut.


"Oke ... M-mas."

__ADS_1


Mereka berdua tersenyum malu-malu.


"Aku pamit pulang dulu."


"Tolong kasih kabar kalau sudah sampai."


Farid tersenyum lalu mengangguk.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Mas."


"Ya."


"Tante, kapan main lagi ke rumahku? Tante kapan jadi umi? Aku mau kayak temen-temen, dianterin sekolah sama ibunya bukan sama neneknya."


Khadijah menyamakan tinggi dengan tinggi Hanifa. Dia mengelus kedua pipi chubby dan lembut anak itu.


"Sebentar lagi, Sayang. Tentu saja, nanti Tante akan anterin kamu ke sekolah setiap hari. Nemenin kamu ngaji, ngerjain PR, emmm terus apa lagi ya?"


"Mandiin aku juga."


"Nah, iya. Mandiin juga, bajuin juga, nyiapin juga, main bareng."


"Bobo bareng juga."


"Eeiittt, kalau itu gak bisa. Kamu harus bisa bobo sendiri. Kan udah gede," ucap Farid.


"Terus Tante bobo sama siapa?" tanyanya sedih.


"Sama Abi," jawab Farid.


"Ihhh, aku gak boleh ditemani bobo katanya udah gede. Abi kan udah gede juga, kenapa ditemenin Bobonya sama tante?"


Farid langsung terdiam mendengar pertanyaan dari anaknya. Khadijah tertawa.


"Uuuuu, gumush banget sih anaknya Abi ini. Pinter lagi." Khadijah mencubit pipi Hanifah.


"Ya udah, nanti kita bobo bareng aja. Sekarang, pulang dulu sama Abi, nanti keburu malem."


"Tante kapan main ke rumah?" tanya Ifah lagi.


"Kapan yaaaa ... emmm, Tante akan main kalau ada yang jemput," ucap Khadijah sambil melirik ke atas, menatap Matta Farid.


Farid tersenyum.


"Ya sudah, lusa Abi akan jemput tantenya. Maunya sih besok, tapi Abi ada janji. Jadi baru bisa lusa ke sininya. Gak apa-apa kan, Ifah?" tanya Farid, namun matanya menatap Khadijah.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum sambil mengangguk samar.


__ADS_2