Ruqyah

Ruqyah
Rasa yang belum usai


__ADS_3

Usai mengambil air wudhu, Farid kemudian berdoa meminta diteguhkan hati dan dijauhkan dari segala godaan syaitan.


Mencoba fokus, Farid memegang kepala Khadijah sambil mengucap ayat illahi. Khadijah bereaksi. Dia mulai menggeliat seperti orang kepanasan. Iwan dan suami Khadijah memegangi tangannya karena Khadijah berusaha untuk menyingkirkan tangan Farid dari kepalanya.


"Berhenti!" Suara Khadijah terdengar lebih berat. Tahu bahwa itu bukan lagi Khadijah, Farid menarik tangannya.


Khadijah tidak lagi menggeliat.


"Assalamualaikum."


Salam Farid tidak dijawab, itu artinya jin yang ada di dalam tubuh Khadijah adalah jin kafir.


"Sedang apa kamu di situ?" pertanyaan Farid dijawab dengan gelengan kepala. Khadijah kemudian memijat kepalanya.


"Kenapa? Sakit?"


Khadijah mengangguk.


"Mau saya sembuhkan? Asal ikut saya dulu masuk Islam."


Khadijah menggelengkan kepala.


"Keluar, yuk."


Lagi-lagi menggelengkan kepala.


Farid melakukan negosiasi yang alot dengan Khadijah karena yang di dalam tubuhnya tidak mau keluar atau pun membaca syahadat. Dengan terpaksa Farid menyiksanya dengan bacaan doa dan ayat Alqur'an. Dia berteriak sambil meronta kesakitan.


Meski begitu, rupanya 'dia' tidak menyerah. Keukeuh ingin bertahan di dalam tubuh Khadijah.


"Tobat atau musnah?"


"Berhenti! Saya cuma disuruh. Jangan siksa saya, tolooong."


"Katakan siapa yang menyuruh kamu?"


Khadijah menggelengkan kepala meski sedang disiksa. Lama semakin lama, rasa sakit itu semakin menjadi seiring dengan doa yang Farid panjatkan. Hingga di menit ke 35, dia yang ada di dalam tubuh Khadijah pun menyerah.


Khadijah terkulai lemah sambil menangis karena kesakitan. Tentu saja itu bukan Khadijah yang asli.


"Ikut saya baca syahadat, ya."


"Iya," ucapnya lemah.


Dengan dituntun oleh Farid, akhirnya 'dia' ikut membaca syahadat.


"Mau keluar lewat mana? Atas atau mulut?"


"Atas saja karena saya ada di kepala."


"Baiklah. Kamu ikutin tangan saya, ya."


Farid memegang kepala bagian belakang Khadijah untuk menuntun 'dia' keluar.


"Tunggu, Ustad." Suami Khadijah menghentikan Farid.


"Kenapa, Pak?" tanya Farid.


"Saya mau tanya dulu siapa yang membuat Khadijah seperti ini. Tanyakan sama dia."


"Kalau mau, bapak bisa tanya sendiri. Silakan."

__ADS_1


Suami Khadijah menarik nafas dalam-dalam.


"Heh, kamu. Siapa yang mengirim kamu ke sini?"


Khadijah yang semula menundukkan kepala, kini tengadah menatap tajam suaminya.


"Kamu gak tau atau pura-pura tidak tahu?"


Suami Khadijah mengerutkan kening.


"Bukankah dia yang selama ini kamu ajak untuk kembali tapi menolak? Dia membenci wanita ini karena mengambil kamu darinya."


Semua orang terdiam. Farid dan Iwan jelas mengerti apa maksud dan siapa yang mengirim guna-guna pada Khadijah.


Tidak disangka. Suami Khadijah tertawa terbahak-bahak. Dia bahkan sampai terbatuk-batuk karena tawanya sendiri, membuat Iwan dan Farid saling menatap tidak percaya.


Yang mengejutkan lagi adalah saat Wawan pergi dan menelpon seseorang. Meski samar Farid mendengar apa yang Wawan katakan di telpon. Yang jelas dia seperti sedang berbicara dengan wanita.


"Ya sudah, kamu keluar sekarang. Saya bantu."


"Manusia ternyata bisa lebih kejam dari bangsaku."


"Yuk, kita keluar."


"Wanita ini memiliki suami yang salah. Andai saja suaminya seperti kamu."


"Yuk, keluar sekarang. Kasian wanita ini sudah terlalu kesakitan."


Khadijah mengangguk.


Tubuhnya terlihat lemas. Kepalanya menunduk begitu dalam meski begitu terlihat jelas jika Khadijah yang sudah kembali pada pemilik aslinya sedang menangis.


"Ada apa? Apa yang ibu lihat?"


Farid meminta Iwan mengambil air untuk diberikan pada Khadijah.


"Minum dulu, Bu." Iwan memberikan segelas air.


Wawan suami Khadijah masih asik berbicara di telpon tanpa mempedulikan istrinya yang sudah sadar dan sedang kelelahan.


"Silakan duduk dulu, Pak. Saya ke kamar ganti mukena dulu. Sebelum pulang, makan dulu di sini. Saya udah masak."


Iwan dan Farid mengangguk.


Hampir setengah jam Wawan berbicara di telepon. Kini dia datang menghampiri Iwan dan Farid. Masih dengan tawa sumringahnya.


"Habis nelpon siapa, Pak? Bahagia banget kayaknya." Iwan bertanya.


"Mantan istri saya. Dia yang mengirim guna-guna pada Khadijah." Wawan tertawa.


Aneh bukan? Seharusnya dia marah pada mantan istrinya karena telah membuat Khadijah sakit. Tapi sekarang?


"Kok bapak gak marah?"


"Haha. Dari dulu saya minta di rujuk tapi gak mau. Alasannya karena sudah tidak cinta sama saya. Nah, sekarang dia bilang kalau dia kesel sama Khadijah, dia cemburu. Ha ha ha. Itu artinya dia cinta sama saya bukan?" Wawan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.


Iwan membuka mulu hendak mengucapkan sesuatu, namun Farid menahannya.


"Makanan sudah siap, mari makan dulu." Khadijah datang dengan jilbab warna peach. Dia yang memang cantik terlihat begitu manis dengan pipi putih mulus dan kerudung berwarna peach.


Farid segera menundukkan kepala sambil membaca istighfar.

__ADS_1


Jantung Farid berdetak dua kali lebih cepat saat Khadijah menyediakan air minum saat di meja makan. Sebenarnya bukan hanya pada Farid, tapi pada Iwan juga Khadijah menyiapkan air dan piring.


Terong balado, tempe mendoan, ikan lele dan juga perkedel kentang. Farid hanya diam saat melihat terong balado karena dia tidak menyukai makanan yang satu ini.


Namun, mengingat bagaimana wanita itu diperlukan, Farid tidak ingin membuat hati Khadijah terluka lagi karena masakannya diabaikan.


Farid mengambil terong balado itu untuk pertama kalinya setelah dulu dia pernah makan dan muntah-muntah.


Anehnya, suapan pertama, kedua dan seterusnya Farid tidak merasakan mual seperti dulu. Terong itu terasa nikmat di lidahnya. Farid makan dengan lahap.


Seulas senyum bahagia terukir di wajah Khadijah, dan entah kenapa Farid merasa tenang.


Berbincang sambil meminum kopi setelah makan adalah hal yang sering dilakukan para pria. Sementara Khadijah duduk di bangku di depan rumah sambil memberi makan ikan-ikan koi Wawan.


Wawan pamit pergi entah hendak pergi ke mana, dia terlihat buru-buru bahkan sampai mengabaikan Khadijah yang ada di depan dan pergi begitu saja mengendarai mobil.


"Ada ya orang kayak gitu, Pak? Ada tamu tapi malah dia yang pergi meninggalkan kita."


"Sepertinya dia terlalu bahagia karena apa yang dia inginkan akhirnya terkabulkan."


Iwan hanya mengangguk tidak mengerti. Tiba-tiba dia meremas perutnya.


"Ada apa?"


"Saya permisi ke toilet dulu, Pak. Perut saya mules."


"Kebanyakan makan, sih."


"Bapak makan lebih banyak dari saya. Bapak gak sadar? Wah, jangan-jangan bapak kerasukan jin lagi."


"Ishhh! Mana ada."


Iwan terkekeh-kekeh. Dia berlari kecil sambil memegang perutnya yang sakit.


"Ikannya besar-besar, ya, Bu."


"Sepertinya umur saya jauh lebih muda, deh. Aneh dengernya dipanggil ibu."


Farid tersenyum tipis. Dia yang mengumpulkan keberanian untuk mendekati Khadijah, dibuat semakin salah tingkah. Dia bingung harus memanggil apa sekarang pada Khadijah yang tidak ingin dipanggil Ibu.


"Panggil aja Teteh kalau manggil adik terlalu intim."


Adik? Itu panggilan Farid kepada istrinya.


"Suami saya sepertinya pergi menjemput cintanya yang belum usai."


Deg!


Farid merasa jantungnya berhenti berdetak padahal baru saja berdetak begitu cepat. Tidak mendapat respon dari lawan bicara yang sejak tadi berdiri di belakangnya, Khadijah pun bangun dan membalikkan badan dengan gerakan cepat. Farid terdiam karena dia terkejut.


Mata Khadijah yang indah namun terlihat luka begitu dalam, membuat Farid tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ada rasa yang entah apa di dalam hati Farid. Sesak, sedih, dan juga ... suka.


"Pak, mau poligami gak?"


Pertanyaan yang membuat Farid terdiam karena tidak percaya bahwa kata-kata itu keluar dari mulut wanita cantik yang ada di depannya.


"Meski suamimu tidak baik, jangan pernah berpikir untuk menikah dengan laki-laki lain di saat status kamu masih menjadi istri orang."


"Tapi dia tidak membalas kebaikan yang aku lakukan. Jangankan salah, benar saja disalahkan."


"Kamu kecewa karena kamu berharap pada manusia. Lakukan saja seusai dengan perintah agama, berharap hanya pada Allah maka kamu tidak akan kecewa. Jika kita melakukan kebaikan seusai perintah Allah, maka hati akan menjadi tenang."

__ADS_1


Khadijah menatap Farid dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2