
"Sayang, bangun. Mau tahajud gak?"
Belaian lembut di pipi Khadijah membuat wanita perlahan membuka matanya. Samar-samar dia melihat sosok wajah yang sudah terlihat fresh.
"Mas ...," ucapnya lirih sambil berusaha bangun.
"Mau tahajud?"
"Hmm, aku mau mandi dulu."
Khadijah turun dari ranjang, mengambil pakaian ganti, lalu menuju kamar mandi. Tidak lama setelah itu dia keluar dalam keadaan suci karena telah selesai wudhu.
Berdua dalam keheningan malam, bermunajat kepada sang pemilik alam. Berserah diri kepada takdirnya. Memohon ampunan atas segala yang telah diperbuat.
Mengaji dan berzikir hingga azan berkumandang.
"Mas ke mushola dulu, ya." Farid berpamitan sebelum iqomah terdengar.
Selesai salat subuh, Khadijah segera memakai jilbabnya dan keluar menuju dapur. Ternyata ibu sudah ada di sana sedang memasak air untuk membuat teh.
"Ibu, Dijah terlambat ya?"
"Ibu dengar kamu dan Farid mengaji tadi. Gak apa-apa lah. Ibu juga belum ngapa-ngapain, baru mau masak air aja."
"Biasanya orang rumah sarapan makanan berat atau apa, Bu?"
"Apa saja yang kita hidangkan, mereka pasti akan menghabiskannya. Jadi, terserah kita mau memberikan apa pada mereka."
"Sepertinya masih ada nasi, Dijah buat nasi goreng aja kali, ya."
"Boleh, tapi telurnya jangan dicampur, Hanifa tidak suka. Lebih baik telurnya kita buat ceplok aja atau didadar."
"Oh, iya deh."
Khadijah mulai mengulek bumbu dasarnya. Mengiris sayuran, lalu mulai menggorengnya. Makanan harus sudah siap saat pada pria pulang dari mushola, juga karena Hanifah harus ke sekolah.
Setelah menyiapkan segalanya, Khadijah pergi ke kamar Hanifah untuk membangunkannya.
"Iya, Umi." Anak itu segera bangun dengan semangat karena hari ini dia akan pergi ke sekolah bersama Khadijah.
Setelah selesai dengan seragamnya, Khadijah segera ke kamarnya karena mendengar Farid sudah datang.
"Mas ...."
"Hei, dari mana, Sayang?"
"Habis bantuin Ifah siap-siap. Mas pakai baju apa hari ini? Biar aku siapkan."
"Ada di lemari. Warna baju sudah sesuai dengan urutannya. Sesuai dengan hari."
__ADS_1
"Oh, oke." Khadijah membuka lemari suaminya, mengambil pakaian dan segala sesuatunya.
"Ayo kita sarapan, Mas."
Farid mengangguk. Dia menggenggam erat tangan Khadijah saat berjalan menuju meja makan.
"Uluuuh, pengantin baru mah beda, ya. Maunya gandengan terus." Hasan menggoda. Khadijah yang merasa malu berusaha melepaskan, namun Farid menahannya.
Sebelum makan mereka berdoa bersama.
"Nah, ayo kita makan. Masakan pertama dari anggota keluarga baru kita."
"Semoga cocok, ya, Bang."
"Kalau dari tampilannya, sih, menggoda. Semoga masakan kamu emang enak."
Khadijah tersenyum sambil harap-harap cemas.
"Alhamdulillah, bapak suka."
Mendengar ucapan bapak, Khadijah tersenyum sumringah. Dia merasa bahagia karena bapak menyukai nasi goreng buatannya. Pun dengan Ifah yang memuji masakan uminya.
"Makanan kamu tidak pernah gagal," bisik Farid. Khadijah semakin bahagia karena suaminya pun menyukai masakannya.
Saat sedang makan, Anita datang dengan wajah masam.
"Aku tidak suka nasi goreng pakai kecap," ucapnya dengan nada mengejek.
Dia bahkan tidak tahu hati Anita hampir meledak karena kesal. Lantas dia pergi menuju dapur dan mulai masak untuk diri sendiri. Dia selesai masak saat semua orang hampir selesai makan. Tentu saja hanya Hasan yang sengaja menunggu istrinya.
"Mas berangkat dulu, ya. Kamu hati-hati bawa motornya."
"Iya, Mas."
"Pamit, ya. Assalamualaikum."
Khadijah menjawab salah Farid setelah Farid selesai mengecup kening istrinya. Khadijah mengantar Farid hingga ke gerbang, menatap mobil suaminya hingga tidak terjangkau oleh mata.
"Ibu, Dijah anter Hanifah ke sekolah dulu, ya. Nanti balik lagi jemput ibu buat ke pasar. Hanifah sekolahnya ditinggal apa ditunggu?"
"Tinggal aja. Gurunya melarang wali murid menunggu. Katanya biar mandiri."
"Oh ya sudah, kalau begitu Dijah anter Ifah dulu."
"Iya, hati-hati."
Setelah selesai bersalaman, Khadijah dan udah pun berangkat ke sekolah menggunakan motor. Ifah berdiri di depan sambil menundukkan arah jalan.
"Oh, ini istri barunya pak Farid, ya?"
"Wah, Ifah punya umi deh sekarang."
__ADS_1
"Cantik banget ya istrinya ustad Farid."
Dan masih banyak lagi ucapan yang terlontar dari ibu-ibu yang mengantar anak mereka. Khadijah merasa senang karena mereka ramah dan sangat baik. Menyapa dengan sopan meski baru pertama bertemu.
Setelah memastikan Hanifah masuk ke kelas, Khadijah segera kembali untuk menjemput ibu dan pergi ke pasar.
"Kita beli untuk satu Minggu aja, Bu. Simpan di kulkas biar tetep seger."
"Ibu biasanya cuma stok buat tiga hari, sih."
"Nanti Dijah yang nyimpen makanannya di kulkas biar tahan lama. Dijah tau caranya."
"Masa?"
"Iya. Makanya kita belanjanya langsung aja, biar nanti pas masak udah siap semua. Gimana?"
"Ibu ikut baiknya aja gimana. Semuanya ibu serahkan sama kamu."
Khadijah tersenyum. "Makasih, ya, Bu. Dijah seneng banget loh pergi berdua sama ibu belanja kayak gini. Ini pertama kalinya dalam hidup Dijah pergi ke pasar sama sosok seorang ibu."
"Kalau begitu, nanti kita ke pasar berdua lagi, ya."
Khadijah tersenyum dan mengangguk penuh semangat.
Bip
Sebuah chat masuk.
"Sayang, sedang apa?"
Khadijah tidak membalasnya, dia mengambil foto berdua dengan ibu lalu mengirimkannya pada Farid.
"*Masya Allah, cantik-cantik banget bidadariku ini."
"Masa bidadari ada di pasar."
"Ya gak apa-apa. Judulnya tetap bidadari*."
"Siapa?" tanya Ibu. "Farid?"
"Iya, Bu."
"*Mas, aku nemenin ibu dulu, ya. pulangnya jangan lama-lama."
"Kenapa? Kangen, ya?"
"Enggak, aku mau minta bantuan masangin paku di kamar*."
Farid sedikit kecewa pada balasan yang diberikan oleh Khadijah. Lama dia mendiamkan chat itu.
"Aku ingin cepat-cepat melihat wajah kamu, Mas. Ingin mencium bau suami yang baru saja bekerja untuk keluarga."
__ADS_1
Balasan susulan dari Khadijah membuat Farid tersenyum sendiri.