Ruqyah

Ruqyah
Sosok bayangan


__ADS_3

"Sayang, hari ini mas pulang telat, tapi insyaallah gak akan terlalu malam. Jangan tunggu mas, tidur duluan saja."


Chat masuk saat Khadijah sedang menemani Hanifah tidur siang. Rencananya dia akan masak untuk makan siang nanti. Ada rasa sedikit kecewa dalam hati Khadijah karena suaminya tidak akan pulang cepat, itu artinya dia tidak akan makan siang di rumah.


Begitu Hanifah tidur, Khadijah segera pergi ke dapur untuk memasak. Rumah terasa sepi, entah ada orang atau tidak.


"Bi, orang-orang pada ke mana? Kok sepi?"


"Itu Teh, Ibu sama bapak pergi ke acara hajatan. Tadi mau nyamper ke kamar takut ganggu katanya."


"Ibrahim? Kok gak kedengaran, tidur kali ya?"


"Lagi ke rumahnya. Katanya besok mereka baru balik lagi ke sini."


"Oh, terus kita masak gimana? Maksudnya jangan banyak-banyak kali ya, semua orang pergi kecuali kita."


"Iya, Teh. Teh, berhubungan di rumah gak ada orang dan kerjaan juga udah gak ada, saya boleh minta izin gak?"


"Ke mana?"


"Temen sakit di rawat di Puskesmas. Saya mau nengokin."


"Oh, iya boleh."


"Iya, Teh. Terimakasih."


"Eh, mau ngapain? Gak usah masak kalau bibi juga pergi. Nanti saya sama Hanifah makannya beli aja."


"Oh, kalau begitu saya boleh pergi sekarang?"


"Boleh, Bi."


"Makasih, Teh."


"Bi."


"Ya."


"Ini, beli sedikit makanan untuk temen Bibi ya." Khadijah memberikan uang kertas satu lembar berwarna merah. Dari wajahnya bibi terlihatnya begitu senang, dia beberapa kali mengucapkan terimakasih.


"Huhh. Semua orang pergi, Ifah bobo. Aku ngapain coba di sini?"


Khadijah melihat sekelilingku rumah, mencari ide agar dia tidak diam bengong sendiri. Matanya tertuju pada lemari penyimpanan bahan makanan. Dia berjalan ke sana, lalu melihat beberapa bahan kue. Akhirnya dia memutar untuk membantu kue kering untuk teman minum teh.


Khadijah membuka ponsel untuk mencari resep di internet. Akhirnya dia menemukan cara membuat nastar.


"Teh, saya pergi ya. Waaah, sedang apa?"

__ADS_1


"Mau bikin kue, Bi. Ketimbang bengong gak ada kerjaan."


"Oh, ya sudah. Bibi permisi. Teteh hati-hati di rumah ya. Kalau bisa, sih, ajak Hanif main aja di luar."


"Yang harus hati-hati itu Bibi, saya kan aman ada di rumah."


Bibi tersenyum penuh arti, seolah ingin mengatakan sesuatu namun dia tahan. Akhirnya bibi pergi meninggalkan Khadijah dengan perasaan tidak tenang.


Khadijah masih anteng meracik bahan-bahan untuk membuat kue, perlahan dan sangat hati-hati agar kuenya tidak gagal.


Selesai. Adonan sudah siap, tinggal dicetak. Dia tersenyum melihat adonan yang dia buat sama persis dengan yang ada di internet, tidak memperhatikan sekeliling sama sekali.


Begitu dia menoleh untuk mengambil loyang, Khadijah terowongan kaget. Dadanya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


"Astaghfirullah, tadi apa?" tanyanya dalam hati. Khadijah melihat bayangan yang begitu dengan dengan dirinya, namun hilang dalam sekejap.


Untuk menenangkan diri sendiri, Khadijah berusaha berpikir positif. Dia berpikir bahwa itu hanya halusinasi dia saja.


Meski tangannya masih bergetar karena terkejut, Khadijah tetap berusaha tenang dan mengambil loyang.


Untuk sesaat dia duduk, mengambil minum lalu mulai menyetak kue.


Satu loyang sudah masuk oven. Satu loyang hampir penuh. Saat loyang kedua benar-benar terisi, Khadijah kembali dikagetkan lagi dengan suara benda mirip kaleng, jatuh. Bunyi yang nyaring itu membuat Khadijah beristigfar berkali-kali.


Dia mencoba mengecek ke belakang, tempat penyimpanan barang-barang. Rapi, tidak ada yang jatuh sama sekali. Melihat ke atas, ke bahwa, ke samping. Fiks, tidak ada satupun benda yang terjatuh.


"Umi."


"Astaghfirullah!" Khadijah kembali dikejutkan dengan suara Hanifah yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Sayang, bikin umi kaget aja. Udah bangun?"


Hanifah mengangguk pelan.


"Ya udah, ayo temani umi bikin kue."


Khadijah menggandeng tangan mungil anaknya.


"Tangan kamu kenapa dingin banget? Ah, iya. Umi lupa mengatur suhu AC kamu, pasti kedinginan kan tadi bobonya."


Hanifah hanya diam.


"Nah, lihat. Umi sedang buat kue, mau bantuin cetak gak?"


Hanifah menggelengkan kepala. Khadijah cemberut.


"Anak umi kenapa, ciiii. Masih ngantuk ya? Jangan-jangan denger bunyi benda jatuh tadi ya sampai kamu kebangun."

__ADS_1


"Hmmm."


Khadijah mengerutkan kening, lagi dan lagi dia mendengar suara yang ternyata bukan hanya dia yang mendengar, tapi kenapa tidak ada satupun benda yang benar-benar jatuh.


"Ahhh, iya. Umi mau lihat kue yang di dalam oven, udah matang belum ya."


Khadijah berbalik, dia mengecek kue yang sedang dipanggang, sementara Hanifa duduk di kursi sambil melihat Khadijah.


"Jangan heran, di rumah ini sudah biasa kayak gini."


Khadijah terdiam mendengar suara Hanifa yang ... bersuara lain. Jantungnya berdetak begitu cepat, ingin menoleh tapi dia merasa takut. Akhirnya Khadijah mengintip dari kaca oven, dan ....


Khadijah segera berbalik, dia tidak melihat siapapun di belakangnya. Khadijah melihat ke setiap sudut ruangan, tidak ada siapa-siapa.


Dia mematikan oven, dan segera berlari menuju kamar Hanifah. Anak itu masih tertidur pulas, meringkuk di bawah selimut hangatnya.


Deg!


Dengan lutut yang gemetar, Khadijah berjalan perlahan mendekati ranjang anaknya. Itu Hanifah. Dia merunduk, mengusap wajahnya yang imut, hangat.


"Sayang, bangun. Ifah, ayo bangun. Nak, bangun."


"Emmmm," Hanifah bergumam.


"Sayang, ayo bangun. Emmm, kita beli bakso di luar, yuk."


"Umi aku ngantuk."


"Tidur saja lain kali. Ayo kita pergi."


Khadijah menggendong anaknya yang masih sangat mengantuk. Dia bahkan lupa memakaikan Hanifah kerudung. Meraih kunci motor, kali berjalan cepat keluar rumah. Namun, langkah kakinya terhenti saat secara tidak sengaja matanya melihat sesuatu.


Takut, tapi penasaran.


Khadijah memberanikan diri melihat sesuatu yang dia liat di kaca lemari hias.


Jantung Khadijah seakan berhenti saat melihat sosok itu begitu jelas. Tangannya memeluk erat Hanifah, selain dia sendiri merasa takut, Khadijah juga takut sosok itu menyakiti anaknya.


Ingin melangkah tapi tidak bisa, kakinya teras berat. Bahkan untuk bernafas pun dia merasa kesulitan. Keringat mengucur di wajahnya.


Tubuh Khadijah bergetar saat sosok itu terlihat begitu nyata, perlahan mendekat dan semakin dekat lagi.


Gaun putih yang terlihat lusuh dan kotor, rambut terurai panjang dan hampir menutupi sebagian wajahnya. Matanya tajam dan terlihat besar dan bulat sempurna. Memandang penuh kebencian pada Khadijah.


Wushhhh!


Dia menghilang bagaikan asap tepat di hadapan Khadijah, bersamaan dengan itu tubuh Khadijah ambruk ke lantai bersama Hanifah.

__ADS_1


Dia tidak sadarkan diri.


__ADS_2