Ruqyah

Ruqyah
Amarah Farid


__ADS_3

Hanifah yang kesakitan juga ketakutan melihat Khadijah tidak sadarkan diri, juga karena jidat uminya yang berdarah, membuat anak itu menangis histeris.


"Umiii ... umi ... bangun."


Anak kecil itu terus berusaha membangunkan Khadijah, namun tidak bergerak sama sekali. Hanifah terus meraung memanggil Khadijah.


Suara tangisan itu mengundang perhatian beberapa orang yang kebetulan lewat, juga para tetangga.


"Itu Hanifah kenapa, Bu?"


"Kurang tau, coba kita cek."


Dua ibu, dan disusul ibu-ibu lainnya mendekati rumah. Mereka tidak berani masuk karena mengira Hanifah menangis karena sedang dimarahi.


"Tapi mana mungkin istri baru Pak ustad galak."


"Coba saja dengar, Hanifah menangis kayak ketakutan gitu."


"Ada apa ibu-ibu?" tanya imam mushola dekat rumah Farid.


"Ini, Hanifah nangis. gak biasanya dia kayak gitu."


"Coba di cek aja, Bu."


"Takut, Pak. Kalau ...."


"Tolooong, umi berdarah. Tolooooong."


Teriakan Hanifah membuat orang-orang yang sedang berdiskusi di luar pagar, terkejut. Tanpa aba-aba mereka langsung berlari, membuka pintu gerbang dan masuk ke rumah.


"Ya Allah."


"Astaghfirullah, Hanifah. Umi kenapa?"


Salah satu dari mereka menggendong Hanifah yang sesenggukan. Sementara imam mushola, dan yang lainnya berusaha mengangkat tubuh Khadijah ke kursi.


"Cari kain, apa saja. Itu keningnya di tutup terus ditekan pakai kain biar darahnya gak keluar terus."


"Tolong minta bantuan Pak Burhan buat bawa istri Pak ustad ke rumah sakit."


Semua sibuk dengan peran masing-masing. Tidak lama kemudian, Pak Burhan datang dengan mobilnya. Khadijah dibopong masuk ke dalam, beserta Hanifah.


"Tolong yang punya nomor telpon salah satu anggota keluarga, beritahu mereka."


"Iya, Pak."


Imam mushola dan salah satu ibu-ibu ikut mendampingi Khadijah dan Hanifah ke rumah sakit, sementara yang lainnya menutup pintu rumah dan pagar.


"Assalamualaikum, Bu Mae. Ini saya Indri."


"Waalaikumsalam, iya kenapa Neng?"


"Ibu di mana? Maaf saya mau kasih kabar kalau menantu ibu dibawa ke rumah sakit?"


"Menantu saya? Siapa?" tanya Ibu mulai cemas.


"Istrinya Pak ustad."


"Ya Allah, kenapa? Kenapa Dijah dibawa ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Gak tau, Bu. Tadi kami mendengar Hanifah menangis sambil teriak minta tolong, pas kami masuk menantu ibu sudah pingsan, kepalanya berdarah."


"Astaghfirullah." Ibu kemas. Ponselnya terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang ikut jatuh ke lantai. Para tamu undangan terkejut, mereka ramai-ramai mendekati.


"Ibu, ada apa? Kenapa?" tanya bapak panik.


"Pak, di bawa ke dalam saja. Ayo."


Mereka mengangkat tubuh ibu masuk ke dalam rumah salah satu keluarga yang punya hajat. Ibu terus beristigfar meski tidak bisa bicara saat ditanya. Nafasnya tidak menentu.


Bapak mengambil ponsel dan melihat siapa yang menelpon, lalu menelpon balik. Meski terkejut, bapak berusaha tetap kuat. Dia segera menelpon Farid. Satu kali, dua kali, hingga tuju kali. Tidak diangkat.


"Hasan, ada di mana?"


"Di rumah, Pak. Baru aja nyampe."


"Dijah, Dijah dibawa ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Kenapa?"


"Bapak gak tau, Farid bapak telpon tapi tidak diangkat. Ibumu pingsan, kamu cepat lah ke rumah sakit. Hanifah ada di sana juga.".


"Iya, Pak."


"Kenapa, Bang?" tanya Anita.


"Dijah dibawa ke rumah sakit."


"Kenapa?"


"Gak tau, tapi Ifah juga di sana. Ibu pingsan dan Farid tidak bisa dihubungi."


"Lagi ngerukiyah mungkin."


"Ikut ah, takut sendiri di rumah."


Hasan dan Anita segera pergi ke rumah sakit yang bapak maksud.


"Coba kamu telpon Farid," ucap Hasan saat dalam perjalanan.


Anita mengambil ponsel suaminya karena dia tahu jika memakai ponsel miliknya, kemungkinan besar Farid tidak akan mau mengangkatnya.


Di panggilan yang ke 12, Farid pun berhasil dihubungi.


"Assalamualaikum, Bang."


"Farid, Khadijah masuk rumah sakit. Aku dan Bang Hasan sedang menuju ke sana karena dia hanya berdua dengan Ifah. Ibu pingsan, jadi kalau kamu sudah selesai, segera ke rumah sakit."


"T-tunggu, maksudnya?"


"Istri kamu hanya berdua di rumah, aku di rumahku, ibu dan bapak pergi ke undangan. Entah bagaimana, Ifah dan Khadijah di bawa ke rumah sakit sama tetangga."


Farid segera menyimpan ponselnya.


"Maaf, Pak. Saya harus segera pergi, istri saya masuk rumah sakit."


"Minum dulu, Pak,biar tenang."


Farid menolak dengan halus, amplop yang diberikan pun dia tolak dan segera pergi. Beruntung karena Farid selesai merukiyah pasiennya.

__ADS_1


Di rumah sakit.


Hanifah masih menangis saat digendong oleh Hasan. Dia terus meronta ingin bertemu dengan Khadijah. Namun, anak kecil dilarang masuk ke dalam UGD.


Tidak lama kemudian, Farid datang.


"Abiiii." Hanifah segera turun dari gendongan Hasan, anak itu berlari menghampiri Farid.


"Abi, umi. Umi berdarah. Ifah mau ketemu umi."


"Sayang, anak kecil gak bisa masuk. Ifah sama wawa dulu. Abi mau masuk, kasian umi sendiri."


"Ifah mau ketemu juga," ucapnya sambil menangis.


"Nanti, ya. Anak Abi kan salihah. Sayang kan sama umi?"


Ifah mengangguk.


"Kalau begitu, Ifah harus jadi anak yang baik. Biarkan umi dirawat dokter, dan biarkan Abi menemani umi, oke?"


Ifah mengangguk. Hasan segera menghampiri lalu kembali menggendong Hanifa.


Farid segera masuk ke UGD, dia mencari istrinya.


"Bapak cari siapa?" tanya satpam.


"Tadi ada pasien yang datang dengan kepala berdarah."


"Pak ustad." Imam mushola melambaikan tangan. Farid segera menghampiri.


Khadijah belum sadar. Hati Farid hancur saat melihat kepala istrinya diperban. Kerudungnya yang berwarna cokelat susu terlihat kotor karena banyaknya darah. Bahkan, ada beberapa darah kering yang tertinggal di wajah istrinya setelah dibersihkan petugas rumah sakit.


Farid menangis sambil memeluk Khadijah.


"Sabar, Pak. Istri bapak baik-baik saja kata dokter, dia hanya terkejut atau mungkin kesakitan. Tapi lukanya sudah dijahit."


Farid mengatur nafasnya, lalu kembali berdiri dan meminta keterangan dari imam itu. Mendengar penjelasan imam, Farid merasa sangat bersalah karena meninggal istrinya.


"Saya permisi pulang, ya, Pak ustad." Imam itu berpamitan. Farid sangat berterimakasih karena istrinya telah dibawa ke sini.


Farid menggenggam kedua tangan Khadijah, membela wajahnya lalu kembali memeluk Khadijah dengan lembut.


"Mas ...."


Khadijah sadar.


"Sayang ...."


"Mas ...." Khadijah mencari suaminya.


"Iya, Sayang. Ini mas." Farid mendekatkan wajahnya.


Saat melihat Farid, Khadijah menangis. Dia memeluk suaminya begitu erat dengan tubuh dan tangan yang bergetar.


"Cup cup cup. Tenang, Sayang. Mas ada di sini."


"aku takut, Mas. Aku takut. Dia ... dia ..."


Kembali menayangkan sosok itu, Khadijah tidak bisa berkata-kata selain menangis.

__ADS_1


Meski tidak mengatakan apa-apa, Farid tahu kenapa istrinya ketakutan seperti ini.


Aku benar-benar tidak akan memaafkan kamu! Lihat saja nanti.


__ADS_2