
"Uwa gak habis pikir, apa yang terjadi sama Ilham. Dulu dia bukan anak yang pembangkangan. Apa saja yang uwa katakan pasti dia turuti. Tapi sekarang ... uwa minta uang buat berobat bapaknya saja dia gak kasih. Padahal uwa tau gaji dia itu besar. Sangat besar malah." Bu Asih terus menangis karena merasa disakiti oleh anak laki-lakinya.
Suami yang disayangi kini terbaring lemah tak berdaya karena sakit. Dia jatuh dari pohon kelapa dan mengakibatkan tulang pinggulnya patah. Sudah dioperasi tapi lukanya semakin parah. Belakang suami Bu asih mengalami gula darah. Luka yang belum sembuh menjadi luka bernanah yang parah.
Curiga pada perbedaan anaknya, Bu Asih meminta keponakannya mencarikan dukun. Dia takut anaknya diguna-guna hingga menjadi sangat pelit. Tidak seperti dulu.
"Kita ke dukun itu musyrik uwa. Allah gak akan memberi ampun. Kalau memang mau ikhtiar, mending ruqyah saja."
"Terserah! Mau dukun, mau ustad, mau rukyah mau jampi-jampi pun bodo amat. Uwa mau anak uwa kembali menjadi anak yang berbakti. Nurut sama orang tua, bukan sama istrinya."
Keesokan harinya, tepat setelah salat ashar, Farid, Iwan dan Morgan pun datang.
Begitu mereka masuk, istri Ilham sudah terlihat tidak suka. Selain memperlihatkan sikap yang tidak welcome, dia juga terlihat gelisah.
Melihat sikap istrinya, Farid dan kawan-kawan sudah bisa menebak. Jika Ilham memang terkena guna-guna, maka istri Ilham lah yang patut dicurigai.
Ilham duduk di atas kasur tipis untuk dirukyah oleh Farid. Seperti biasa, Farid akan membacakan ayat Alqur'an untuk melihat reaksi yang ditujukan oleh tubuh Ilham Tidak lama kemudian Ilham merasa matanya panas, perutnya kesakitan hingga di guling-guling dengan mata tertutup. Lidahnya menjulur panjang.
Seisi rumah histeris melihat tingkah Ilham Mereka menjauh karena takut.
Sementara istrinya hanya duduk melihat dengan tatapan tidak suka.
Ilham mengamuk. Iwan dan Morgan segera memegangi tangan dan tubuh Ilham yang akan menyerang Farid.
"Ya Allah, atas izinmu lemahkan dia. Ambil kekuatan ya Allah ...." lalu Farid membaca ayat Alqur'an.
Tubuh Ilham yang tadinya gagah perkasa, meronta dan berusaha menyerang Farid, kini terlihat lemah. Perlahan tubuhnya lemas dan turun ke atas kasur. Dia tergeletak begitu saja.
Meski begitu, Ilham terlihat masih berusaha untuk berdiri dan menyerang Farid.
"Jangan berusaha terlalu keras. Kamu sudah tidak memiliki tenaga dan kekuatan. Sudah saatnya kamu keluar. Apa lagi yang mau kamu sombongkan? Tenaga kamu sudah Allah ambil."
"Bukan Allah, tapi kamu yang mengambilnya!" Ilham marah dengan tubuh terkulai lemas.
"Tidak. Saya yang memohon dan Allah yang mengabulkan. Semuanya terjadi atas kehendak Allah, dengan kekuatan Allah."
Ilham masih terus meronta dengan tenaga yang sudah sangat minim.
"Keluar atau saya musnahkan?" Farid mulai membentak. "Ayo, keluar!"
Farid mendekati Ilham. Menutup kedua lubang telinganya sambil membaca ayat Alqur'an. Ilham menjerit kesakitan.
"Keluar atau musnah!?" Farid kembali berteriak.
"Ampuuun, sakiiitt." Ilham menjerit. Dia menggeliat kesakitan.
"Keluar!" Farid membentak dengan nada suara yang tinggi.
Iwan dan Morgan saling melirik, mereka sama-sama merasa heran melihat sikap Farid. Entah karena pasiennya laki-laki atau memang karena Farid sedang tidak baik-baik saja.
"Iya, ampun. Aku keluar tapi berhenti dulu."
Dengan wajah masih terlihat kesal, Farid melepaskan telinga Ilham. Ustad itu diam terlebih dahulu. Bukan untuk membiarkan Ilham istirahat, tapi agar hatinya tenang.
Saat Farid menundukkan kepala, siapa sangka Ilham kembali berulah. Farid segera berdiri karena dia mengira Ilham akan menyerangnya. Ternyata bukan. Ilham bergerak ke arah kiri Farid untuk menyerang seseorang.
"Awas!" Iwan berteriak.
Farid segera berdiri lalu menarik perempuan yang entah sejak kapan ada di sana.
Bugh!
Prankkkk!
__ADS_1
Sebuah kaca lemari pecah terkena hantaman Ilham. Tidak hanya kaca, tapi kemari kayu itu pun retak nyaris patah.
Dengan tangan kiri yang masih merangkul perempuan tadi, Farid berdoa hanya dengan satu tangan, yaitu tangan kanan.
"Allahuakbar!" Farid meniup Ilham dari kejauhan. Ilham pun kembali lemas.
Farid, Iwan dan Morgan masih fokus pada Ilham. Mereka takut Ilham akan kembali berulah hingga Farid lupa ada perempuan yang berada dalam rangkulannya. Perempuan itu yang seharusnya syok berat karena hendak dihantam Ilham sedang menatap lekat wajah Farid nyaris tanpa berkedip.
Selang berapa menit, Farid pun sadar dengan posisinya saat ini. Dia menoleh pada orang yang ada di tangannya. Sejenak dia terdiam saat mengetahui siapa orang itu.
"Eeeeh, jangan nakal!" ucap seseorang yang bernama Desi. Desi adalah adik Ilham yang juga berarti sodara dari Khadijah.
Farid segera memalingkan wajah. Dia menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.
Ya, Khadijah adalah keponakan Bu Asih. Dari Khadijah lah Bu Asih mendapatkan nomor Farid.
Morgan dan Iwan terkekeh melihat sikap Farid.
Ilham kembali meminta ampun saat Farid menyiksanya seperti tadi. Hanya saja kali ini Farid tidak berteriak seperti di awal.
"Katakan apa yang sedang kamu lakukan di sana? Bagaimana cara kamu masuk?"
Masih dengan keadaan lemas, Ilham menjawab.
"Minum."
"Minum? Minum air apa? Siapa yang menyuruh kamu?"
Ilham menengadahkan wajah lalu dia menatap istrinya sambil menyeringai. Semua orang mengikuti arah Ilham memandang.
"Kamu? Jadi kamu yang menyuruh iblis itu masuk ke tubuh anakku?" Bu Asih murka. Dia mendekati menantunya dan mulai menjambaknya.
"Eh, eh. Udah, jangan berantem."
Sementara Farid masih menatap tajam Ilham yang sedang tertawa puas.
"Bagaimana cara kamu masuk?" tanya Farid serius hingga membuat Ilham terlihat takut.
"Minum kopi. Airnya dari perasaan darah haid."
Farid mengangguk.
"Sudah lelah atau masih mau adu tenaga dengan saya?"
"Saya nyerah. Keluarkan saja dari tubuh ini."
Farid membimbing 'dia' membaca syahadat. Setelah itu 'dia' keluar melalui mulut, dan itu membuat Ilham muntah luar biasa. Farid mengeluarkan sisa-sisa mantra kotor yang ada di perut Ilham hingga bersih.
Tubuh Ilham lemas. Dia tergeletak tak berdaya meski masih sadar penuh. Farid meminta keluarganya untuk memberi Ilham air minum.
Ilham pun duduk bersila sambil berhadapan dengan Farid.
"Bagaimana, Mas?"
"Lemes, Ustad."
Farid mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah sekarang sudah membaik. Mas tau itu siapa?" Farid menunjuk Bu Asih.
"Ibu saya, Ustad."
"Tau kalau bapak mas sedang sakit?"
__ADS_1
Ilham terlihat bingung.
"Bapak kamu sakit, Ilham. Dia terkena diabetes dan lukanya makin parah." Bu Asih yang penampilannya acak-acakan menangis tersedu-sedu di hadapan anaknya.
"Ibu, kenapa ibu berantakan banget?"
"Ini semua gara-gara istri kamu! Dia menjambak ibu. Ini lihat, lihat leher ibu juga dicakar sama dia."
Mendapat pengaduan dengan bukti yang jelas dari ibunya, Ilham terlihat sangat kesal. Dia hendak berdiri untuk menghampiri istrinya. Namun, Farid menarik tangannya dan meminta Ilham untuk duduk kembali.
"Tunggu, Mas. Duduk saja dulu. Lagi pula istri mas juga terluka. Ibu Mas yang mencakar dan menjambak istri Mas terlebih dulu."
"Apa? Gak mungkin, Ustad."
Farid mengangguk meyakinkan Ilham.
"Itu karena dia mengguna-guna anak saya Pak ustad."
"Ibu tau kenapa saya melakukan itu? Itu karena saya lelah! Ibu selalu saja ikut campur urusan rumah tangga kami. Bahkan soal uang pun ibu selalu ikut campur. Ibu ingin mengendalikan kehidupan rumah tangga kami iya kan?"
"Salah kamu sendiri. Kenapa tidak bisa mengelola keuangan dengan baik. Penghasilan Ilham selalu kamu hambur-hamburkan. Sekolah anak yang deket aja ada, kamu pilih yang jauh. SD negeri itu gratis, tapi kamu malah masukin anak ke SDIT yang bayarannya mahal."
"Lalu kenapa? Mas Ilham selaku ayahnya sanggup kok membiayai. Apa karena ibu tidak bisa meminta lebih banyak dari Mas Ilham?"
"Kurang ajar kamu ya!"
"Stop, Ibu. Sudah. Malu di depan ustad malah berantem sama menantu," Desi dengan matanya yang berair menghampiri ibunya ditemani Khadijah. Posisi Ilham yang duduk sejak tadi di depan Farid, membuat Khadijah yang menemani Desi duduk persis di samping Farid.
Khadijah mengusap punggung Desi, memberikan ketenangan pada sodaranya yang paling dekat. Meski mereka bersodara karena Wawan adalah anak dari adik Bu Asih.
Farid terdiam. Dia merasa jantungnya kembali bekerja lebih cepat. Berkali-kali dia menghela nafas sambil beristigfar dalam hati.
"Bu, aku udah sering bilang kan sama ibu, jangan terlalu ikut campur dalam urusan Kak Ilham. Dia sudah punya istri dan anak, tapi ibu selalu saja ingin tahu urusan mereka. Ibu padahal punya uang pensiun bapak. Toko juga rame terus, kenapa masih saja minta ini itu sama Kak Ilham?"
"Ilham itu yang melahirkan ibu. Yang membesarkan dan mendidik dia menjadi orang sukses itu kan ibu, bukan istrinya. Lagi pula uang pensiun bapak kamu buat nanti kalau ibu udah tua."
"Udah tua itu bukan lagi memikirkan harta ibu. Harusnya ibu memikirkan bekal untuk akhirat nanti."
"Maaf sebelumnya kalau saya ikut campur, tapi Ibu, membesarkan anak itu sebuah kewajiban dari Allah. Tidak ada balasan untuk sebuah kewajiban."
Bu Asih memalingkan wajahnya kesal pada Farid.
"Bagaimana kalau nanti aku menikah dan mertuaku seperti ibu? Aku tidak bisa menggunakan uang suami dan dikendalikan oleh ibunya. Ibu terima?"
Asih terdiam.
"Ibu!" Desi berteriak. "Gara-gara ibu keluarga kita menjadi seperti ini. Kak Ilham sakit, Mba Reni jadi musyrik. Apa ibu sanggup menanggung dosanya?" Tangisan Desi pecah. Desi memang gadis baik dan salihah, dia jebolan pondok pesantren ternama di daerah Jawa.
Semua orang terdiam dengan pikirannya masing-masing. Ilham mulai menangis, dia beranjak mendekati istrinya. Menangis di pangkuan Reni yang sedang duduk di sofa.
Meminta maaf dengan tulus karena merasa menjadi suami yang gagal. Karena dirinya yang tidak bisa adil, Reni bertindak sampai sejauh ini. Reni menangis. Merasa bersalah dan lebih merasa berdosa karena telah mencelakai suaminya sendiri.
Bu Asih masih pada pendiriannya. Hatinya keras dan tidak merasa bersalah sedikitpun pada apa yang terjadi saat ini. dia memilih untuk pergi ke rumahnya sendiri.
"Saya harus bagaimana menghadapi ibu saya, ustad?" tanya Desi pada Farid saat dia hendak pulang dan duduk di atas motornya.
"Doakan saja agar ibu diberikan kelembutan pada hatinya. Hanya dengan kekuatan doa lah Bu Asih bisa berubah."
"Insya Allah ustad. Terimakasih sudah mau datang."
"Sama-sama."
Farid dan Desi mengobrol dengan santai dan sesekali diselingi tawa. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan dengan mata yang berlinang dari balik gorden jendela rumah.
__ADS_1