Ruqyah

Ruqyah
Hari pertama


__ADS_3

Empat hari sudah mereka menginap di hotel yang masih ada di kota yang sama. Kini waktunya mereka kembali ke rumah.


"Umiii."


Kedatangan mereka disambut oleh Hanifah yang langsung berlari memeluk Khadijah.


"Oh, jadi sekarang Abi di nomor duakan nih?"


Hanifah tidak memperdulikan Farid dan asik berbicara dengan Khadijah.


"Sayang, Abi nanya." Khadijah mengingatkan.


Hanifah menoleh, lalu mencium tangan Farid. Setelah itu dia kembali fokus pada Khadijah.


"Alhamdulillah kalian akhirnya datang. Ayo, istirahat dulu. Kalian pasti cape." Ibu datang menyambut mereka disusul oleh bapak dan Hasan.


"Selamat datang di rumah kami, Khadijah."


"Terimakasih, Bang."


"Istirahat dulu sana," ucap bapak.


"Istirahat apa, Pak. Kami di sana sudah lelah karena tidak melakukan apa-apa. Masa di sini mau istirahat lagi. Emmm, ibu mau ngapain sekarang?" tanya Khadijah. Ibu menengok kesana kesini.


"Ibu mau buat teh untuk bapak. Jam segini biasanya Bapak minum teh sambil makan gorengannya atau kue."


"Ya sudah, Dijah ke kamar dulu setelah itu mau bantu ibu di dapur."


"Gak usah, kamu sama Farid naik saja ke atas ke kamar kalian."


"Ibuuu, aku bosen di kamar terus. Ya, Bu, ya, aku mau bantu di dapur aja." Khadijah bergelayut manja di lengan ibu sambil merengek.


"Ya sudah kalau kamu keukeuh."


Khadijah terlihat senang.


"Ayo, kita bawa dulu tas ke kamar." Farid mengajak Khadijah masuk ke kamar.



"Ini kamar kita, Sayang."


"Waaah, rapi banget kamarnya."


"Kamu suka?"


Khadijah mengangguk.


"Kalau mau dirubah ... entah itu cat, warnanya, atau furnitur yang lainnya, bilang aja nanti mas ganti sesuai yang kamu inginkan."


"Jangan buang-buang uang. Ini juga udah nyaman banget, Mas."


"Beneran?"


"Iya, Mas. Aku suka, kok. Yang terpenting itu bukan tempatnya, tapi dengan siapa kita tinggal di dalamnya," ucap Khadijah sambil melihat-lihat isi kamar Farid.


"Seperti ini?" tanya Farid sambil memeluk Khadijah dari belakang. Khadijah terlihat cuek dan masih berjalan melihat-lihat detail kamar Farid, dan Farid pun enggan melepaskan pelukannya.


Farid yang fokus menikmati kenyamanan saat memeluk istrinya, dia tidak tahu jika Khadijah menghentikan langkahnya saat dia melihat sesuatu.


"Ternyata cantik banget, ya, Mas."


"Iya, kamu memang cantik."


"Bukan aku, tapi uminya Hanifa."


Mendengar ucapan Khadijah, Farid segera membuka matanya yang semula terpejam. Mendongakkan kepala dan melihat benda yang sedang dipegang Khadijah.

__ADS_1


Foto istri Farid yang sudah tidak ada.


"Ah, itu. Sepertinya mas lupa dan masih menyimpan fotonya. Maaf, ya. Sini, mas mau simpan."


"Jangan."


"Tapi, Sayang."


"Jangan melupakan dia, Mas. Jangan juga menyingkirkan benda-benda yang berhubungan dengannya. Aku tahu, posisinya tidak akan pernah terganti meski fotonya disimpan di tempat yang tersembunyi sekalipun."


"Maaf."


"Untuk apa? Mas tidak salah. Aku tidak marah dan tidak cemburu kok."


Farid menatap wajah Khadijah.


"Oh, iya. Aku kan mau bantu ibu di dapur. Mas, aku tinggal dulu ya."


Khadijah menyimpan foto itu kembali ke tempat semula, lalu segera meninggalkan Farid yang masih mematung.


Farid merasa sangat bersalah meski Khadijah tidak marah padanya.


"Ada apa denganku? Istri pertama hatinya aku sakiti saat terakhir dia hidup denganku. Lalu sekarang? Istri keduaku aku sakiti di saat awal hidup denganku di sini." Farid menyalakan dirinya.


"Bu."


"Eh, udah beres-beresnya? kok cepet."


"Nanti aja, Bu. Aku mau bantu ibu dulu."


"Kamu ini, padahal ibu gak apa-apa sendirian. Udah biasa."


"Itu kan dulu sebelum ada Dijah, Bu. Sekarang pokoknya ibu harus banyak istirahat. Biar Dijah uang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ibu bisa pergi ke pengajian di mesjid atau di musholla bareng ibu-ibu lainnya."


Ibu menoleh sambil tersenyum.


"Loh, kenapa ngiris pisangnya terlalu tipis, Nak?"


"Oh, ini. Dijah mau bikin pisang kriuk. Nanti setelah digoreng atasnya kita kasih susu kental sama ceres atau parutan keju."


"Oh, begitu."


"Eh, maaf ya. Dijah lupa bilang atau nanya sama ibu. Aduuuh, kalau nanti orang rumah gak suka, gimana?" tanya Khadijah khawatir.


"Nanti kita habiskan berdua," bisik ibu di telinga Khadijah. Keduanya pun tertawa. Anita yang kebetulan ada di belakang mereka melihat keakraban mertuanya dengan penuh kebencian. Dia yang hendak mengambil air minum pun diurungkannya.


"Teh buat bapak gulanya segini aja."


Khadijah memperhatikan dengan seksama.


"Kalau Farid cukup segini."


Khadijah mengangguk. Setelah menyiapkan dua cangkir teh, Khadijah merasa heran.


"Bu, kenapa cuma dua. Buat ibunya mana?"


"Nanti ibu bisa buat sendiri."


"Dijah juga mau tau selera ibu kalau minum teh."


Ibu tersenyum.


"Ibu gak pakai gula, jadi gak repot ngasih tau selera ibu, Nak."


"Sama dong. Dijah juga kalau minum teh gak suka manis."


"Itu karena kamu memang sudah manis."

__ADS_1


"Naah itu dia. Emmmm, kok ibu pinter banget sih."


Ibu tertawa sambil membawa nampan berisikan dua cangkir teh, sementara Khadijah ikut di belakang membawa piring pisang goreng.



Bapak sudah duduk di kursi di dalam gazebo belakang rumah, saat pisang goreng dan teh sudah tersaji, Hanifah dan Farid datang menyusul.


"Bu, buat bang Hasan belum dibuat teh nya."


"Dia punya istri." Farid menjawab.


"Tapi kan istrinya baru melahirkan. Dijah ambil sebentar, sekalian mau buat susu untuk Hanifah. Duh, ketimbang ribet, Dijah ambil teko teh nya aja deh sekalian gulanya juga."


Khadijah menggandeng tangan Hanifa kembali ke rumah untuk mengambil minum. Saat sedang di dapur, Khadijah mendengar Ibrahim menangis tak henti-henti. Merasa penasaran dan kasian, Khadijah berjalan menghampiri kamar Anita.


"Jangan." Farid menarik tangan Khadijah yang hendak membuka pintu.


"Mas?"


"Tidak semua orang suka dengan kebaikan kita."


"Tapi, Mas."


"Jangan lakukan apapun yang berkaitan dengan Anita saat ini."


Khadijah tau jika Anita pernah menyukai suaminya, namun baginya sekarang Anita adalah sodaranya.


Tidak ingin berdebat, Khadijah pun menurutinya dan ikut Farid kembali ke belakang.


"Enak, Pak?" tanya Khadijah.


"Sepertinya kita yang tidak akan kebagian pisangnya," ucap ibu. Mereka berdua cekikikan.


"Ada apa dengan kalian berdua," tanya bapak.


"Ih, kepo bapak."


"Kepo? Kue apa itu?"


Khadijah tertawa.


"Bukan kue, Pak. Itu artinya pengen tau aja."


"Oh, bahasa apa itu kepo?"


"Bahasa Upin Ipin," kata Hanifa.


Bapak mengangguk-angguk sambil makan pisang kriuk buatan Khadijah.


"Ini enak, Umi." Hanifah memuji.


"Makan banyak pun tidak berasa karena tipis seperti silet," ledek bapak. Khadijah tersenyum malu.


"Umi pinter masak, ya?" tanya Hanifah.


"Sukur kalau begitu. Ibumu sudah tua kalau harus terus mengurung kebutuhan keluarga. Mulai hari ini, Ibu ... berikan tugas ibu pada anak kita. Biarkan dia yang pegang semuanya. Dia yang mengurus kebutuhan keluarga. Kita ini sudah tua, lebih baik kita pergi menghabiskan waktu untuk beribadah."


Ibu tersenyum. "Iya, Pak. Nanti ibu ajari dia dulu sedikit-sedikit. Kasian kalau harus langsung semua tanggung jawab diberikan padanya."


"Bapak benar, Bu. Nanti biar Farid yang ikut membantu Khadijah."


Ibu menatap Khadijah, memastikan apakah dia mau menerima atau tidak. Khadijah mengangguk.


"Ya sudah, nanti kamu akan mengurus segalanya mulai besok. Ibu akan ajarkan segalanya."


Khadijah mengangguk mantap. Hatinya merasa sangat senang karena akhirnya dia merasa dibutuhkan dan dianggap sebagai keluarga. Sesuatu yang tidak pernah dia miliki sebelumnya.

__ADS_1


Di benak Khadijah, mengurus rumah, anak, orang tua adalah hal yang sangat menyenangkan. Dia tersenyum membayangkan akan menjadi wanita sibuk sebagai ibu rumah tangga yang sesungguhnya.


__ADS_2