Ruqyah

Ruqyah
Kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

"Rid, Farid!" Suara teriakan dan juga ketukan pintu yang begitu keras membuat Farid yang sedang tertidur nyenyak untuk pertama kalinya sejak bertemu dengan Khadijah, langsung terbangun. Dia terlonjak kaget. Menyingkap selimut dan berjalan cepat sempoyongan ke arah pintu.


"Ada apa, ada apa?" tanyanya sambil mengusap-usap wajah dengan cepat.


"Itu ... anu ... air."


"Air? Air apa?" Farid tidak mengerti dengan ucapan ibunya.


"Anita, airnya."


"Air Anita? Dia numpahin air? Kenapa sampai heboh begini? Di lap aja kali, Bu."


"Perutnya pecah."


"Apa?" Farid sangat terkejut.


"Ish, bukan." Ibunya yang panik sampai lupa apa yang sebenarnya akan dia sampaikan.


"Bu, Farid. Kenapa lama sekali? Ayo turun. Ini Anita udah kesakitan."


"Sebenarnya ada apa, sih, Bu?" tanya Farid sambil turun menemui bapak. Sesampainya di sana, Farid semakin terkejut saat melihat Anita sedang dipapah bapak dengan kondisi air bercucuran. Air ketuban Anita pecah.


"Mau lahiran?" tanya Farid.


"Terus kamu pikir apa? Panjat pinang?" tanya Bapak kesal.


"Pak, bukain kunci pagar sama mobil Farid aja," pinta Farid. Dia segera mendekati Anita, lalu menggendong wanita yang sedang kesakitan karena kontraksi. Air ketuban Anita membasahi baju farid.


"Ponsel Farid tolong ambil di kamar, Mba."


"Iya, Mas."


Dalam rasa sakit karena kontraksi, Anita sadar jika dia sedang digendong oleh Farid. Dia mengambil kesempatan untuk melingkarkan tangannya di leher Farid.


Sadar? Tentu saja Farid sadar. Namun, apa boleh buat? Dia tidak mungkin melempar Anita saat itu.


Kesal. Itulah yang dirasakan oleh Farid.


Di dampingi ibu, Farid membawa Anita ke rumah sakit terdekat. Sementara bapak menemani Hanifah di rumah.


"Aduuuh, Jabang. Kamu kenapa keluar pas bapakmu keluar kota, sih."

__ADS_1


"Mungkin dia ingin ditemani om nya, Bu." Anita menjawab ucapan ibu. Farid melirik kesal.


Selama ini, perasaan yang pernah dimiliki Anita ditutup rapat oleh Farid baik Anita agar keluarga tidak ada yang tahu. Namun, saat Farid menikah, Anita memperlihatkan kecemburuannya. Tidak ingin keluarga curiga, Farid membawa istrinya keluar dari rumah dan memutuskan untuk ngontrak. Saat itu bapak marah, fasilitas Farid pun diambil.


Sesampainya di depan UGD, Farid sengaja meminta petugas untuk membantu Anita. Dia tidak ingin ada sentuhan fisik lagi dengan wanita itu.


"Bu, Farid tunggu di luar aja, ya. Ibu aja yang masuk. Lagian Farid bukan muhrimnya."


"Ya udah, iya. Kamu telpon Hasan. Beritahu dia kalau istrinya akan melahirkan."


"Iya, Bu."


Farid keluar dari UGD. Duduk di bangku yang ada di bawah pohon. Membuka ponsel untuk menelpon Hasan dan memberitahu kondisi istrinya saat ini.


Selesai menelpon Hasan, Farid kembali teringat bagaimana Anita melingkarkan tangan dilehernya. Dia merasa kesal dan jijik. Untuk mengalihkan perasaannya, Farid mencoba menghubungi Khadijah.


Melihat jam menunjukkan pukul 01.30, Farid mencoba mengetes melalui chat.


"Assalamualaikum."


Farid menatap chat yang dia kirimkan, berharap centang dua hitam berubah biru. Satu menit, dia menit, hingga di menit ke lima centang dua itu menjadi warna biru.


"*Waalaikumsalam. Ya ampun, Mas. Ini jam berapa? Kenapa belum tidur?"


"Maaf, mas ganggu, ya?"


"Enggak, sih. Sebentar lagi aku juga mau bangun, mau salat. Mas kenapa udah bangun? Apa emang belum tidur?"


"Kebangun."


"Kenapa? pasti inget sama aku, ya?"


"Astaghfirullah, jangan terlalu percaya diri ukhti. Tidak baik."


"Ooopsss!"


"Mas sedang di rumah sakit*."


Chat balasan yang ditunggu Farid, berubah menjadi sebuah panggilan telepon dari Khadijah, sepertinya dia cemas mendengar Farid ada di rumah sakit.


"Mas, siapa yang sakit? Kenapa malam-malam begini di rumah sakit? Mas sakit? Sakit apa? Sama siapa di sana? Mas ...."

__ADS_1


"Ssssttt, pelan-pelan ngomongnya nanti kegigit itu lidah."


"Iya, tapi siapa yang sakit?"


"Bukan sakit. Mas lagi nganter kakak ipar. Dia mau melahirkan."


"Oooooh. Ya Allah, Alhamdulillah. Aku pikir siapa yang sakit. Ternyata mau mendapatkan keluarga baru."


"Iya, Alhamdulillah."


Farid senyum-senyum sendiri.


Detik kemudian mereka berdua terdiam. Baik Khadijah maupun Farid sama-sama bingung harus mengatakan apa lagi.


"Mas tutup, ya. Kalau mau salat, salat aja. Mas juga mau meriksa bayinya udah keluar atau belum."


"Iya, Mas."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Mas."


Bahkan saat ponsel itu layarnya sudah berubah hitam, Farid masih menatap dengan senyuman yang merekah di bibirnya.


"Farid!"


Farid menoleh, dia melihat ibu sedang melambaikan tangan. Memintanya untuk mendekat.


Farid segera berlari.


"Ya, ada apa, Bu? Udah lahir?"


Ibu menggelengkan kepala. Wajahnya terlihat sedih, kesal dan juga takut. Air matanya berlinang.


"Bu, ada apa?"


"Kamu temui saja dokternya. Setelah itu telpon Hasan."


"Bu?"


Ibu menangis sesenggukan.

__ADS_1


__ADS_2