
Seperti hari sebelumnya, kesibukan Khadijah diawali dengan bangun untuk salat tahajud, subuh, lalu menyibukkan diri dengan perannya sebagai istri dan ibu.
"Sayang."
"Iya, Mas."
Khadijah hanya menyahut tanpa menoleh ataupun melihat Farid. Dia sibuk mencari kaos kaki dan sabuk suaminya.
Melihat istrinya sibuk dengan kegiatan sendiri, Farid menghampiri. Lalu membalikkan badan Khadijah dengan lembut.
"Kenapa?" tanyanya heran dengan satu tangan memegang kaos kaki, dan satunya memegang sabuk.
"Lain kali gak usah nunggu sampai larut, ya. Kalau ngantuk, tidur saja. Jangan sendirian di ruang televisi."
"Kenapa?" tanyanya sambil menundukkan badan, dia duduk di lantai lalu memakaikan kaos kaki ke kaki Farid.
Farid hanya diam, menunggu istrinya selesai memasangkan kaos kaki dan sabuk.
"Kenapa memangnya? Aku kan khawatir, Mas. Masa gak ngasih kabar."
"Ya mana bisa pegang hp kalau lagi ngerukiyah orang. Mas kan harus fokus."
"Hehehe."
"Dengar, pokoknya jangan menunggu di bawah sendirian. Jangan menunggu, dan tidurlah berdua dengan Hanifah."
"Ih, kenapa, sih, Mas? Aku jadi takut liat mas serius banget."
"Gak usah takut, ada Allah yang menjaga. Hanya saja waspada dan jaga diri itu perlu."
"Jaga diri dari apa? Bang Hasan ada, bapak juga ada. Kenapa harus takut?"
"Karena mereka tidak bisa melawan jin seperti mas."
"Hah?"
Farid menghela nafas.
"Yang kamu lihat tadi malam, itu bukan manusia. Dia makhluk lain yang penasaran dengan mas. Sepertinya jin yang masa lawan tadi malam, masih penasaran. Salahnya karena dia tidak mas masukin Islam dulu dan langsung mengeluarkannya."
"Mas ...." Khadijah ketakutan.
"Makanya, setelah salat isya, lebih baik tidur jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Itu sunah nabi. Tidurlah selepas isya. Ajak Hanifah juga."
"Ih, Mas."
"Gak usah takut gitu, mas kan gak setiap malam perginya."
"Tetep aja aku parno jadinya."
"Burnonya ada gak?"
__ADS_1
"Iiiih, malah bencada."
Farid tertawa lalu memeluk Khadijah dengan erat.
"Dia tidak akan bisa mengusik kamu, sayang. Sering baca zikir pagi petangnya, ya."
Khadijah mengangguk dalam dekapan Farid.
Sarapan kali ini Khadijah membuat nasi uduk, orek tempe, sambal dan mie goreng. Serta telor dadar sebagai penambah.
"Tadi malam kenapa larut banget pulangnya?" tanya Anita saat mereka sedang sarapan.
"Memangnya siapa yang sedang dirukyah?" tanyanya lagi.
"Pak wawan."
"Hah?" Khadijah kaget. "Kok mas gak bilang kalau kemarin pergi ngobatin dia?"
"Memangnya kenapa? Kalau mas mau ngobatin dia kamu mau ikut?" tanya Farid dengan nada menyindir.
"I-iy ...." Khadijah tidak melanjutkan ucapannya saat melihat raut wajah Farid. Dia juga melihat suaminya menyuapkan nasi dengan penuh tenaga ke dalam mulutnya.
"Ya, enggak juga, sih. Penasaran aja, apa dia benar-benar sakit karena hal lain atau bukan."
"Memangnya siapa Wawan itu?" tanya Hasan.
"MANTAN SUAMI," ucap Farid penuh tekanan sambil melirik Khadijah.
"Iiiih, mas kenapa coba?" tanya Khadijah merajuk.
"Ini sambalnya kenapa pedes banget sih? Katanya cabe sedang mahal, kenapa masaknya sepedes ini?"
"Masaaa? Kok Hanifah suka yaaaa ...." Khadijah tidak mau kalah dan dia balik menyindir Farid.
"Udah, udah. Kalian itu kayak anak kecil aja. Berantem sambil makan itu gak baik," ucap Ibu.
"Siapa yang berantem?" Farid dan Khadijah kompak. Mata semua orang tertuju pada mereka. Khadijah dan Farid saling menatap lalu setelahnya mereka tertawa.
"Jangan cuci piring dulu, antar suami kamu ke depan," titah ibu saat Khadijah hendak mencuci piring bekas mereka makan. Khadijah tersenyum, lalu dia mencuci tangan sebelum menemui suaminya.
"Malem ini pergi lagi enggak? Kalau pergi, aku ikut ya, Mas." Khadijah merengek.
"Kenapa? Mau ketemu sama mantan?"
"Ishhhh." Khadijah mencubit pinggang Farid.
"Kenapa, Sayang?" tanya Farid sambil menarik pinggang Khadijah. Sementara Khadijah melingkarkan tangannya di leher Farid.
"Takut," ucapnya manja.
"Takut apa? Ada Allah yang menjaga kita, sela kita berlindung padanya, tidak akan ada yang bisa menyakiti kita. Apapun makhluknya."
__ADS_1
Khadijah cemberut.
"Mas gak ke mana-mana. Ini kan malam Jumat."
"Memangnya kenapa kalau malam Jum'at? Jin nya keluar semua ya?" tanya Khadijah polos. Sontak Farid tertawa sejadinya. Air matanya sampai berair.
"iiiih, kenapa ketawa, sih? Kenapaaaa, Mas?" Khadijah melepaskan tangannya, lalu menaruhnya di depan dada secara bersilang.
"Bukan apa-apa," ucap Farid sambil menyisakan tawanya.
"Jangan cemberut, mas gemes jadinya. Bisa-bisa mas gak berangkat kerja."
"Kenapa lagi? Apa di jalan juga banyak jin berkeliarannya karena ini malam Jum'at?"
Farid memegang perutnya yang sakit karena lelah tertawa.
"Ah, udah. Aku masuk aja. Salim dulu."
"Eeeh, tunggu."
"Apa lagi?"
Khadijah masih cemberut karena ulah Farid. Sementara Farid menatap penuh cinta. Perlahan Farid menarik kepala istrinya, mengecup kening Khadijah dengan mesra.
"Hati-hati di jalan, ya, Mas." Kali ini Khadijah memasang wajah cantik penuh senyuman manja.
"Tunggu mas di rumah, ya."
Khadijah mengangguk, mengambil tangan Farid lalu mencium punggung tangannya takdim.
"Dah, mas. Dadah." Khadijah melambaikan tangan dengan riang seperti seorang anak.
"Dijah, kamu harus sadar diri. Lihat situasi dan kondisi sekitar kalau mau bermesraan."
Khadijah melihat kanan-kiri.
"Tidak ada siapa-siapa di sini," ucapnya.
Anita menatap Khadijah tajam.
"Aaaah, iya. Ternyata ada mba Anita di sini. Maaf, ya, Mba. Dijah gak liat, lagi pula Dijah pikir gak apa-apa lah ya. Toh kalau mba mau, bisa praktikan langsung. Mba kan punya suami juga, iya, kan?"
Ucapan Khadijah membuat Anita kesal dan sangat marah, padahal Khadijah mengucapkannya dengan wajah yang polos dan tidak memiliki niat apa-apa.
"Kamu jaga ucapan kamu, Dijah. Jangan mentang-mentang kamu disayangi seluruh keluarga, kamu bertingkah dan bicara seenaknya padaku."
"Mba ... Dijah tidak bicara sembarangan. Kalau Dijah bicara ngasal dan tidak dijaga, mungkin rahasia hati mba tentang suami Dijah sudah sampai ke telinga bapak dan bang Hasan."
Raut wajah Anita berubah seketika. Amarah itu berubah menjadi kecemasan dan rasa takut.
"Permisi, Mba. Dijah mau mengantarkan Hanifah sekolah dulu."
__ADS_1
Khadijah berlalu begitu saja meninggalkan Anita yang sedang menggendong Ibrahim anaknya. Matanya berkaca-kaca, dan tangannya mengepal kuat.