
"Sayang, mau ke mana kita?" tanya Farid kepada istri tercinta.
"Emmm, mau ke sana boleh, Mas?"
"Ke sana ke mana?" tanya Farid menoleh sekilas.
"Tapi jangan marah, ya."
"Kenapa harus marah? Memangnya mau ke mana?"
"Aku ingin menjenguk mantan suami."
Farid menoleh, lalu tersenyum.
"Oke, ayo kita ke sana."
"Mas gak marah kan?" tanya Khadijah khawatir Farid tidak suka jika dia ingin bertemu dengan mantan suaminya.
"Enggak, dong, sayang. Kamu ke sana untuk menjenguk orang sakit. Kecuali kalau kamu ke sana karena ingin melepas kangen."
"Ih, amit-amit. Ya enggak lah, Mas. Ngaco aja mas ini. Masa aku melepaskan kangen, bersyukur banget lepas dari dia tuh. Gak ada ya sedikitpun niatan lain di hati."
"Iya, iya. Jangan ngambek gitu." Farid mencubit pipi istrinya.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol banyak hal hingga tujuan mereka pun sampai.
Mereka ke sini setelah mendapatkan nama rumah sakit dan ruangan tempat Wawan dirawat dari pak Kiai.
Saat di depan pintu kamar, Khadijah yang biasanya malu-malu, meraih jadi Farid lalu menggenggamnya dengan erat. Farid sempat terkejut karenanya. Dia menatap wajahnya istrinya yang terlihat gelisah.
"Sayang ...."
Khadijah menoleh.
"Tenang, ya. Ada mas di sini." Farid mengusap pipi istrinya dengan lembut. Khadijah mengangguk.
"Assalamualaikum." Farid memberikan salam saat pintu kamar terbuka.
Di jawab oleh istri Wawan.
Dia berdiri sambil menatap heran melihat Farid dan Khadijah berpegangan tangan.
"Loh, ini bukannya ustad yang waktu itu ya ... ke-kenapa ....?" tanyanya heran melihat tangan Khadijah dan Farid berpegang.
"Ini suami saya, Mba."
Istri Wawan semakin terkejut mendengar penuturan Khadijah.
"Ka-kalian suami istri? Jadi, kamu menikah dengan ustad ini?" tanya istri Wawan masih tidak percaya.
"Aku pikir kamu menikah dengan siapa gitu. Eh, Khadijah tapi kamu yakin menikah dengan ustad ini? Memangnya dia mampu? Enggak, maksudnya kamu kan sebelumnya menikah dengan suamiku yang kaya raya, terus dia?"
Khadijah mengerjapkan mata bener kali mendengar ucapan istri Wawan. Sementara Farid tersenyum sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Dia juga ternyata kaya loh, Mba."
Farid menoleh.
"Aku aja kaget. Aku pikir dia ustad biasa aja gitu, lah ternyata rumahnya bagus, mobilnya juga bagus. kakaknya pengusaha juga," ujar Khadijah polos.
"Benarkah? Syukurlah kalau gitu. Aku takut kamu menikah dengan laki-laki biasa. Kasian aja aku sama kamu."
"Enggak, Mba. Tenang aja. Harta yang suami Mba berikan pun cukup banyak, aku tidak akan sengsara."
"Aku merasa bersalah ata sikap aku selama ini, makanya ingin memastikan kamu hidup baik setelah lepas dari kami."
Khadijah tersenyum.
"Bagaimana kondisi Pak Wawan sekarang?" tanya Farid mengalihkan pembicaraan.
"Ya bisa dilihat sendiri, ustad."
Mereka menatap Wawan yang tertidur lemah di ranjang rumah sakit. Mereka berjalan menghampiri Wawan.
"Pah, bangun."
Wawan perlahan membuka matanya. Dia melihat istrinya.
"Itu, ada Khadijah dan suaminya."
Dengan sangat perlahan, Wawan menoleh ke arah sebelahnya lagi.
"Pak, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Farid.
"Kalian suami istri? Pak ustad yang menikahi Khadijah?" tanyanya terbata-bata karena struk yang dia derita.
"Iya, Pak. Insya Allah mulai sekarang saya yang akan menjaga Khadijah dan membahagiakannya. Bapak tidak perlu cemas, saya tidak akan menyakiti istri saya meski seujung kuku pun."
Ucapan Farid terdengar manis ditelinga Khadijah, namun terasa seperti sindiran untuk Wawan.
Wawan memejamkan mata sambil menelan ludah.
"Kenapa bisa seperti ini? Bukankah selama ini Bapak selalu menjaga kesehatan?" tanya Khadijah.
"Kami juga tidak mengerti. Waktu itu aku dan suami sedang makan malam, pas mau pulang dia tiba-tiba jatuh. Dibawalah ke rumah sakit, diperiksa ini itu dan ternyata ada pembuluh darah yang pecah. Yaa jadilah begini."
"Boleh saya periksa, Pak?" tanya Farid.
"Periksa gimana?" tanya istri Wawan.
"Bukan apa-apa, bapak minum saja air yang sudah saya doakan, ya."
Istri Wawan menoleh ke sana ke sini, mencari gelas dan air.
"Ini, ustad."
Farid mengambil air itu lalu membacakan doa.
__ADS_1
"Ini, diminum sedikit-sedikit aja. Kalau tidak bisa, pakai sendok aja gak apa-apa."
Istri Wawan mengambil gelas itu kembali, lalu membantu suaminya minum menggunakan sedotan karena tidak ada sendok.
Mereka terdiam sambil menatap Wawan, menunggu reaksi yang akan ditimbun setelah minum air itu.
"Minum lagi, Mah. Haus banget," ucapnya tidak jelas.
Farid mengangguk-angguk pelan.
"Kenapa, Mas?" tanya Khadijah sambil menggandeng tangan suaminya.
"Sepertinya ada sesuatu yang menyebabkan Pak Wawan seperti ini. Tapi tidak mungkin saya merukyah di rumah sakit. Nanti jika dokter mengizinkan pulang, kita rukiyah di rumah saja biar leluasa dan tenang."
"Hah, maksudnya suami saya kena guna-guna?"
"Guna-guna, sihir, atau ketempelan tidak bisa saya ketahui sebelum kita melakukan rukiyah."
"Apa kita pulang paksa aja? Saya juga udah curiga kalau suami saya gak wajar, loh orang sehat tiba-tiba struk."
"Kita tunggu keputusan dokter kapan pak Wawan boleh pulang. Setelah itu hubungi saya dan insyaallah akan saya bantu semampu saya."
"Iya, ustad. Terimakasih banyak."
Farid mengangguk.
"Dijah, kamu bagaimana sekarang?" tanya Wawan.
"Alhamdulillah baik."
"Syukurlah. Saya minta maaf atas segala perbuatan yang saya lakukan. Saya pikir ini adalah balasan atas ras sakit yang kamu alami karena saya."
"Aku sudah memaafkan semuanya dan tidak pernah merasa benci sedikitpun. Jangan mengkhawatirkannya dan fokus saja pada kesembuhan."
Wawan mengangguk pelan.
"Ustad, saya minta tolong. Tolong bahagiakan Dijah. Dia sudah cukup menderita hidup dengan saya. Jangan pernah buat dia menangis."
Farid mengangguk.
"Saya juga minta maaf, Khadijah."
"Iya, Mba."
Khadijah dan Farid pun berpamitan.
"Mas."
Farid menghentikan langkahnya saat dia hendak membuka pintu mobil. Dia melihat Khadijah yang berdiri dengan tatapan entah ke mana.
"Ada apa?" tanyanya lembut sambil mengusap ke dua pipi Khadijah.
Farid terdiam sesaat saat istrinya yang pemalu itu memeluknya di tempat umum seperti saat ini. Tidak bertanya dan tidak ingin menanyakan apa-apa, Farid hanya membalas pelukan istrinya sambil sesekali mengusap kepala Khadijah.
__ADS_1