Ruqyah

Ruqyah
Lisan


__ADS_3

Makan malam sudah siap, dilakukan selepas salat isya karena malam Jum'at biasanya mengaji Yaasin dulu. Farid, Hasan dan bapak pun melakukan hal yang sama di masjid. Mereka pulang selepas isya. Pun dengan Khadijah dan keluarga.


Khadijah masih berdzikir saat Farid datang.


"Eh, Mas. Udah pulang." Dia bangun dari duduknya di atas sajadah, menghampiri Farid lalu mencium punggung tangannya dan dibalas kecupan kening oleh Farid.


"Aku buka mukena dulu, ya. Habis itu kita makan malam ke bawah."


"Mas gak lapar."


Khadijah menghentikan langkahnya untuk menyimpan mukena di atas nakas kecil.


"Kenapa? Udah makan?"


"Enggak, Mas belum makan. Mas lelah ingin tidur."


"Oh, ya sudah. Aku temenin Hanifah makan dulu, ya."


"Jangan. Ada ibu dan bapak yang nemenin."


Khadijah mengerutkan keningnya.


"Terus?"


"Temani mas tidur, ya."


Khadijah mengangguk dengan tatapan heran. Tidak biasanya Farid minta tidur selepas isya, biasanya dia akan zikir dulu. Apa mungkin karena dia sudah ngaji di Mushola? Pikir Khadijah.


Wanita itu mengganti pakaiannya dengan baju tidur berbahan satin lembur. Mini dress yang tidak terlalu pendek tapi terlihat seksi ditubuhnya.


Farid berbaring terlebih dahulu saat Khadijah berganti pakaian. Lalu menghampiri suaminya dan tidur di lengan Farid sebagian pengganti bantal.


"Eh, kamu laper gak? Kalau laper makan aja dulu."


"Enggak, ah. Aku juga ngantuk mau tidur aja. Ternyata menjadi ibu rumah tangga itu cukup menguras tenaga. Meski begitu aku senang. Bangga juga, sih, sama ibu. Berapa puluh tahu dia mengurus rumah ini. Sabar juga."


Farid tersenyum. Jari tangan yang lengannya dipakai bantal oleh Khadijah, mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Ada sebuah kitab yang mengatakan, kalau anak terlahir dari hasil di malam Jum'at, dia akan menjadi anak yang cerdas dan baik."


"Masa? Emang ngaruh, ya? Berarti anak-anak pintar di dunia lahirnya di malam Jum'at semua?"


"Bukan lahirnya, sayang."


"Terus?"


"Produksinya."


"Loh, emang kita tahu kalau kita melakukan itu di malam Jum'at, pasti jadi anak? Belum tentu kan? Bisa aja dia lahir dari hasil produksi di malam minggu atau malam senin. Iya kan?"


"Makanya usahakan produksinya di malam-malam yang baik."


"Ohh, gitu. Kirain."

__ADS_1


Farid memejamkan mata karena gemas oada istrinya yang tidak mengerti maksud ucapan Farid.


"Terus yang gak boleh di malam apa, Mas?"


"Lupa."


"Kok lupa? Harusnya tau dong, Mas tau malam yang baik, harusnya malam yang tidak baik pun mas tahu. Kalau kita melakukannya di malam yang tidak baik, gimana?"


"Makanya lakukannya di malam yang baik."


"Eh, iya. Kenapa harus ribet, ya. He he he."


Farid mengatur nafasnya agar bisa menahan kesabaran atas sikap istrinya yang terlalu polos.


"Sayang, tadi ngaji apa?"


"Al Qur'an."


"Mas tau, cantik. Surat apa?"


"Yaasin."


"Oh, kenapa? Karena malam ini malam Jum'at?"


"Iya. Ya, meski kadang aku ngaji Yaasin di lain hari juga, tapi katanya malam Jum'at itu spesial. Hari spesial di mana kita harus berzikir dan beribadah lebih lagi karena dia dan pahalanya lebih besar."


"Oh, pinter ya istri mas." Farid berbicara dengan nada menyindir karena kesal.


Khadijah kembali bercerita bagaimana dia menjalani hari tadi, bagaimana dia mengantar Hanifah ke sekolah, bertemu dengan ibu-ibu dan mengajak dia ikut arisan, ada juga yang menawarkan pakaian gamis, dan ada juga yang ngajak pengajian.


Farid mengusap wajahnya dengan kasar. Khadijah mengerutkan kening karena merasa heran dengan sikap suaminya.


Farid membalikkan badan, menghadap pada Khadijah. Menatap matanya instens hingga membuat Khadijah merasa salah tingkah karenanya.


"Bismillahi allahumma jannibna assyathana wa jannibi assyathana maa razaqtana."


Mendengar doa yang Farid ucapakan, seketika wajah Khadijah memerah. Dia tersipu malu, lalu tersenyum sebelum lampu kamar mati.


Khadijah bangun lebih awal, pun dengan Farid karena mereka harus mandi wajib terlebih dahulu sebelum salat tahajud.


Waktu terus bergulir, hingga azan subuh berkumandang. Salat, lalu melakukan aktifitas seperti biasanya.


"Tadi malam suara bersisik apa, sih? Kayak mesin gitu," tanya Bapak.


"Mesin?" tanya Khadijah.


"Iya, mirip blender gitu kalau ibu sedang buat jus. Samar, sih. Mungkin tetangga kali ya."


Khadijah nampak sedang berpikir.


"Oh, itu. Itu bukan blender, Pak. Itu suara hair dryer."


"Apa itu ... em, apa tadi?" tanya Bapak bingung.

__ADS_1


"Hair dryer, Pak. Pengering rambut. Dijah yang pake, bapak terganggu ya. Maaf, ya, Pak."


Kepolosan Khadijah sering kali membuat Farid beristighfar dalam hati. Dia memejamkan matanya menahan kesabaran karena malu.


Ibu menyibukkan diri dengan pura-pura mengambil kerupuk, sementara Hasan berdehem lalu minum sebanyak yang dia bisa.


Bapak yang bertanya pun salah tingkah dibuatnya.


Lalu Khadijah?


Dia asik menyuapi Hanifah sambil bercerita tanpa merasa bersalah sedikitpun. Anita berpura-pura tidak mendengar apapun dan hanya fokus menghabiskan makanannya.


Tidak kuasa menahan tawa, Hasan pun meluapkannya. Dia tertawa terpingkal-pingkal. Matanya sampai berair.


"Kalian kenapa, sih?" tanya Khadijah yang akhirnya sadar ada yang aneh dari keluarganya.


"Kamu benar-benar tidak mengerti?" tanya Anita sinis.


Khadijah menggelengkan kepala.


"Untuk apa kamu memakai hair dryer di tengah malam?"


"Ya mengeringkan rambut lah, Mba. Apa lagi?"


"Kenapa harus malam?"


"Aku habis ke .... " Khadijah tidak melanjutkan ucapannya.. Akhirnya dia sadar bahwa pernyataannya tentang hair dryer secara tidak langsung memberitahukan apa yang sebelumnya dia lakukan.


Malu.


Tantu saja. Seketika wajahnya memanas. Dia melirik Farid, namun suaminya terlihat tidak peduli. Atau mungkin karena dia pun merasa malu dan hanya diam sebagai pengalihan saja.


Wajah Khadijah masih terasa panas saat dia mengantar suaminya ke depan. Dia bahkan menundukkan kepala karena tidak berani menatap mat Farid. Terlebih Farid sejak tadi hanya diam.


"Kenapa?"


Khadijah menggelengkan kepala. Masih dengan posisi menunduk.


"Malu? Kenapa harus malu? Hal yang wajar kok suami istri melakukan hal itu. Apa salahnya?"


"Salahnya karena aku secara tidak langsung memberitahu keluarga."


"Sayang ...." Farid menarik dagu Khadijah perlahan agar wanita itu bisa menatap matanya.


"Jangan berlarut malunya. Jadikan saja ini sebuah pelajaran agar kita bisa menjaga ucapan kita. Emmm, kamu memang tidak salah, ucapan kamu tidak ada yang kasar dan tidak menyakiti orang lain, tapi pada akhirnya kamu sendiri yang meras malu dan tidak nyaman. Mengerti?"


Khadijah mengangguk.


"Sini, peluk dulu biar gak galau lagi."


Khadijah menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Farid. Menumpahkan segala rasa yang dia rasakan saat ini.


Nyaman.

__ADS_1


Selalu perasaan itu yang Khadijah rasakan saat berada dalam pelukan suaminya. Seperti apapun masalahnya, rasanya akan hilang begitu saja. Tidak memiliki kekhawatiran dan ketakutan saat sedang berada dalam dekapan sang suami.


__ADS_2