
"Kenapa kita gak ngopi di sana aja, Pak? Kan gratis," seloroh Iwan saat mereka mampir di kedai kopi jadul. Kopi jadul adalah kedai kopi yang ramai dikunjungi karena mereka menyediakan makanan tradisional dengan cara masak yang tradisional juga, yaitu memakai tungku api dengan kayu bakar dan alat makan yang juga masih tradisional.
Tidak hanya itu, tempatnya pun berada di pinggir sawah dengan bangunan seperti gubuk atau saung para petani.
Semilir angin yang sejuk menerpa wajah Farid yang sejak tadi menatap luasnya hamparan sawah yang padinya sedang menguning. Burung-burung kecil berterbangan di atasnya.
Iwan dan Morgan saling menatap, mereka heran dengan sikap sahabat sekaligus guru bagi mereka. Meski sebenarnya umur Farid berada di bawah mereka.
"Sebentar lagi para petani akan berbahagia karena akan segera panen. Andai saja mereka ikhlas padinya dimakan burung-burung itu, maka meski hasil panennya sedikit berkurang insyaallah akan berkah. Memberi manfaat pada makhluk selain manusia pun dicatat sebagai kebaikan oleh Allah."
Sekalinya bicara, Farid memberikan ceramah pada Iwan dan Morgan. Mereka berdua hanya mengangguk. Entah karena mengerti atau hanya sekedar basa-basi.
"Tadi anak gadis Bu Asih cantik ya."
Farid melirik sekilas, lalu dia kembali menatap hamparan sawah di depannya.
"Cantik mana sama sodaranya?" tanya Morgan.
"Sodara yang mana?"
"Itu yang tadi hampir kena tabok Mas Ilham. Untung bisa diselamatkan Pak Farid. Baru kali ini ngobatin pasien berasa sedang syuting sinetron. Ada adegan romantisnya."
Iwan cengengesan karena dia tahu jika Morgan sedang menyindir Farid.
Farid menghela nafas sambil menundukkan kepalanya.
"Sayang ya dia istri orang," ucap Morgan.
"Yang lebih sayang lagi karena memiliki suami agak-agak. Waktu kemarin kita ke rumahnya, itu suaminya malah ketawa pas tau siapa yang guna-guna Teh Khadijah. Stres kan?"
"Memangnya siapa?"
"Mantan istrinya. Yang lebih gila lagi adalah ...."
"Jangan membicarakan keburukan orang lain. Kasian kalau dia denger pasti merasa sedih dan malu dengan nasib yang dialaminya saat ini."
Iwan langsung terdiam sementara Morgan yang di mulutnya sudah tergigit pisang goreng, ikut terdiam. Dia yakin jika temannya tidak hanya kasian pada wanita itu tapi karena ada hal yang lain.
"Andai Bu Risma masih ada, kira-kira apa yang akan dia katakan tentang Teh Khadijah?" tanya Morgan.
"Dia pasti akan bilang jika Khadijah wanita baik. Risma memang selalu memandang baik pada semua orang. Tidak pernah sekalipun dia berburuk sangka pada manusia lainnya."
"Maksudnya gini, Pak."
__ADS_1
"Khadijah!"
Mendengar seseorang berteriak memanggil nama Khadijah, Farid langsung menoleh pada sumbernya suara.
Dia melihat beberapa anak ABG sedang melambaikan tangan pada temennya yang baru datang. Wajah Farid terlihat kecewa saat mengetahui hal itu.
Morgan semakin yakin jika Farid memang memiliki perasaan lain untuk wanita bernama Khadijah.
"Bu Risma pasti akan ridho kok, Pak."
"Dia memang akan ridho, tapi bagaimana dengan suaminya? Tidak akan ada suami yang meridhoi istrinya disukai laki-laki lain," ucap Farid masih dengan tatapan hampanya ke arah sawah.
"Suami siapa memang, Pak?" tanya Morgan lagi. Dia sengaja mancing Farid agar temannya bisa terus terang. Farid yang sadar dirinya sedang dijebak, langsung menoleh pada Morgan dan menatapnya tajam meski sebenarnya dia berusaha mati-matian mengubur rasa malunya.
Sementara itu Iwan yang pura-pura tida mendengar, asik makan pisang goreng tanpa menoleh pada siapapun. Iwan sudah curiga sejak melihat Farid pertama kali bertemu dengan Khadijah.
"Udah selesai? Sebaiknya kita segera pulang karena sudah sangat sore."
"Pak, Pak. Itu lihat." Iwan memanggil Farid, menunjuk sesuatu dengan dagunya. Farid dan Morgan pun menoleh sesuai arahan Iwan.
"Astaghfirullah," lirih Farid
"Siapa itu, Pak?" tanya Morgan pada Farid.
"Sama cewek lain? Itu bukan Khadijah kan, ya?"
"Biarkan saja, itu urusan orang lain bukan kita. Ayo kita pulang saja."
Farid bangkit dari kursinya, dia kemudian bersiap pulang dengan memakai jaket dan peci terlebih dahulu. Tidak lupa sarung tangan kulit berwarna hitam dia pakai untuk melindungi tangannya.
"Baru, Pak?" tanya Iwan sambil menaikkan alis melihat sarung tangan Farid.
"Alhamdulillah."
"Pak ustad."
Farid menghela nafas sebelum dia menoleh pada seseorang yang memanggil namanya. Enggak sebenarnya, atau kesal. Entahlah. Tetapi kesal karena apa?
"Pak Wawan."
"Kebetulan sekali bertemu di sini. Dari mana atau memang sedang ngopi? Oh, iya. Pasti habis mengobati Ilham ya?"
Farid tersenyum. Jelas sangat dipaksakan.
__ADS_1
"Siapa, Pak?" tanya Iwan sambil melihat wanita yang ada di samping Wawan.
"Oh, ini? Ini mantan istri saya," jawab Wawan tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Oh, ini yang ngirim guna-guna sama istri bapak?" tanya Iwan dengan nada suara sedikit lebih tinggi. Sepertinya Iwan sebagai agar ucapannya di dengar bener orang yang ada di sana.
Muka wanita itu terlihat memerah. Antara malu dan marah. Sama merahnya seperti warna rambut yang terlihat bercabang di ujungnya. Kering dan tidak sehat.
Pakaian ketat dengan kaos putih yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, serta celana jeans pendek dengan benang yang tidak rapi di bagian ujungnya. Seperti sengaja digunting tanpa dijahit. Celana khas artis K-Pop.
Memang putih dan mulus, wajar jika dia ingin memamerkan pahanya itu. Namun, jelas jauh dibawah Khadijah jika membandingkan kecantikan wajahnya. Khadijah cantik bahkan tanpa make up menor di wajahnya.
"Saya permisi. Assalamualaikum." Farid segera berpamitan karena merasa tidak nyaman bertemu dengan kedua orang tersebut.
Iwan dan Morgan pun mengikuti.
"Siapa itu, Pah?"
"Ustad yang mengobati Khadijah kemarin."
"Oh, kirain ustad hebat mana. Ternyata cuma tukang ruqyah. Apa mereka bertiga pemburu jin?" wanita itu tertawa terbahak-bahak.
"Hussst, ayo kita duduk. Kamu mau pesen apa?"
"Apa aja. Papah kan tau apa yang aku suka. Mau aku kasih tau lagi? Hmmm?"
"Enggak, dong, Sayang."
Status mantan suami dan istri tapi sikap terlihat seperti pasangan pengantin yang baru saja menikah. Lalu bagaimana dengan istri yang sebenarnya? Sedang apa dia saat ini?
"Bu, Hanifah tolong jangan mendekat dulu. Aku sedang tidak enak badan saat ini."
"Kenapa toh? Kamu pasti cape ya? Yo maklum, setelah dua tahun berhenti jadi tukang ruqyah, kamu pasti harus membiasakan diri lagi."
"Mungkin, Bu. Ya sudah, aku ke kamar dulu ya."
"Iya, lagi pula Hanifah dibawa sama Amira dan Tofan ke rumahnya. Katanya buat mancing. Siapa tau kalau mereka sering ngasih Hanifah, mereka cepet dikaruniai anak."
"Aamiin."
Farid mengambil air wudhu, lalu duduk di atas sajadah sambil menunggu azan selesai. Hari ini dia melaksanakan salat di rumah karena merasa tidak enak badan.
Selepas salat, Farid mengambil Al Qur'an, membuka halaman yang terdapat surat Yaasin di dalamnya.
__ADS_1
Dia haturkan surat itu untuk melepas rindu pada istrinya yang sudah tiada, almarhum Risma.